27 Mei 2012

Newlywed Songs

The Love I Found in You. Sekedar menyimak lagu yg dibawakan Jim Brickman ini. Terlalu sayang bila dilewatkan. It's a perfect match for a newlywed couple. Let's look at the lyrics.

"You are the air I need to breathe
The river of life inside of me
You are the half that made me whole
You are the anchor of my soul"

Kau udara untukku bernafas
Aliran darah dalam tubuhku
Kau paruh yang buatku utuh
Kaulah tempat jiwaku berlabuh

Bait pertama begitu romantis ya? Begitulah, ini sebuah lagu yang benar-benar dipersembahkan untuk pasangan hidup yang sah. Yang berani menanggung segalanya bersama. Mengarungi samudra kehidupan berdua. Saling mengisi, tuk meraih impian bersama.

Sekarang, saya berikan juga secuplik lagu Warren Barfield yang beberapa waktu lalu dikirimkan oleh sahabat saya. Judulnya "Love is Not A Fight" silakan disimak.

"Love is not a place
To come n go as we please
It's a house we answer in
Then commit to never leave

Love is a shelter in a raging storm
Love is peace in the middle of the war
And if we try to leave
May God send angels to guard the door
No, love is not a fight
But it's something worth fighting for"

Pernikahan pun tak selamanya manis dan lurus. Masalah diciptakan untuk mengompakkan satu sama lain. Namun jika masalah tak kunjung reda, kadang hubungan yang sudah mencapai usia emas pun bisa bercerai. Karena itu, lagu di atas seperti sebuah reminder supaya maintenance dalam sebuah rumah tetap berjalan indah dan rukun. :)

Kenapa tiba-tiba saya posting cuplikan lagu seperti ini? Karena kebetulan saya mendapatkannya dalam waktu berdekatan dan sepertinya saling mengisi satu sama lain. Seperti pernikahan itu sendiri. :)

Semoga semua pasangan di dunia ini, tidak hanya langgeng sampai kakek nenek, tapi juga di surga di kehidupan kedua nanti. :)

------
Ria R. Ramadan
27.05.2012

Selamat 8 bulan Mas Bryan, moga sampai nikah n kupersembahkan 2 lagu ini buat kalian. :)

17 Mei 2012

Hujan II

Hujan, kuharap engkau datang malam ini. Atau esok pagi. Secepatnya.
Biarlah kawanmu si awan mendung menyamarkan keberadaan kami.

Hujan, datanglah. Deraslah. Sapulah. Sapu semua kedamaian yang ada di dalam diri ini.
Sapu dengan rasa syukur terindah yang pernah ada. Rasa syukur yang membuatku mengerti.
Adanya mereka adalah alasanku di sini. Alasanku untuk berjuang dalam arus globalisasi.
Keluarga, tempatku berasal. Tempatku kembali.

Hujan, Iringilah. Setiap detak yang tak henti. Setiap butir yang bergulir.
Jatuh ke pangkuanku. Menembus pakaian dan menyayat kulit.

Hujan, hujan, hujan. Kupanggil engkau. Sebagai selimut untuknya berlindung.
Gantikan aku. Hibur dia, jagalah ia. Lindungi matanya agar engkau tak berpindah ke bola matanya yang tajam. Bola matanya yang hitam, yang selalu menatap diriku dalam. Menatap diriku dalam malam.

Hujan. Hujan. Hujan.

---
Rimie Ramadan
17.05.2012

16 Mei 2012

Gaga Gagal Gara-Gara Gerakan Radikal

Sori nih, bukan mau offense atau apa. Hanya sedikit tergelitik dengan isu Lady Gaga yang baru ngerti gara-gara nonton teve. Saya sendiri cuma mau berpendapat, bukan berkomplot, apalagi menjelek-jelekkan yang bersangkutan. Saya netral.

Sebenernya gini, beberapa waktu yang lalu saya menonton sebuah video tentang persaudaraan pemuja setan, Illuminati, yang mungkin sebagian besar orang di luar sana terutama USA sudah menjadikannya lifestyle atau gaya hidup. Dimana gaya hidup itu terus terbawa (baca: didistribusikan) salah satunya melalui entertainment alias dunia hiburan, yang secara tidak langsung akan menjadi trademark artis dan akan diikuti terus oleh para penggemarnya. Bagi orang awam, hal itu ya hanya akan diterima sebagai trademark sang artis tanpa menelisik lebih dalam filosofi di dalamnya.

"Beruntungnya", Lady Gaga adalah salah satu tentara, atau bahkan menurut isu yang beredar, sudah diangkat menjadi "putri" di "kerajaan" tersebut. Sehingga setiap style, video, dan gaya yang dilakukannya pastilah menyimpan unsur kesetanan. Misal, erotisme di setiap video dan live perform, hanya memperlihatkan sebelah matanya di setiap foto dan cover album, dan banyak lainnya.

Dan ketika Sang Putri hendak menggelar konser di negeri yang mayoritasnya muslim ini, tidak ada respon pada saat tiket dijual. Entah kenapa, dengan sangat tiba-tiba, FPI bangun ketika konser hanya tinggal hitungan hari. Mengundang begitu banyak kontroversi dan kecaman dari para Monster (fans Lady Gaga, rrr.)

Saya sendiri antara sedih dan senang, juga takut saat menulis post ini. Karena saya pribadi mengagumi lagu dan fashion style Gaga yang "ajaib" tetapi saya sendiri sudah mengetahui latar belakang Lady Gaga yang seperti itu.

Sebagian besar masyarakat negeri ini sendiri rasanya masih terlalu polos dan naif. Menerima dan menyerap apa adanya. Sedangkan FPI sendiri adalah ormas yang anggotanya adalah mantan preman yang insyaf dan justru kepremanannya tersebut jadi benteng kuat untuk mempertahankan agama Islam. Jadinya terkesan frontal dan radikal.

Tapi kalau dipikir-pikir, kalau tidak ada ormas Islam tersebut, saya sendiri akan lupa kalau Gaga adalah Sang Putri Pembawa Misi. But I love her unique style, maksudnya materialnya tuh, unpredictable.

13 Mei 2012

Trap!

Harapan.Semu.Kautanam.Dalam Mimpiku

Remuk.Redam.Patah.Arang

Sengajakah?
Atau
Aku yang melankolis?

Hebat.Kaurancangkan.Skenario Masa Depan

Kauceritakan.Kautunjukkan.Padaku

Sang Pemujamu

Tak kusangka
Kauberikan Peran Utama.pada yang lain

Bukan Aku

Haruskah mengemis?
Meminta kembali manuskrip yang kauceritakan dulu?

Tidak.Aku memang tak berbakat menjadi aktris.
Biarlah keserasian itu menjadi hak milik yang sepantasnya dapat.
Aku bersyukur dan berdoa, semoga manuskrip itu lancar dan berakhir bahagia.

29 Apr 2012

Rain and Life

Just hours ago, the rain passes through the river flow. giving a best day after a clear week. Thanks God, love to hear the drops.

Raindrops, the meaningful piece of water. It could be the joy, the sadness, uncertainty, passion, the best one, or the hardest one.

Just hours ago, i thought, the rain is simply do the cycles. And why do we don't?

Look at the raindrops. It falls, flows to the deepest land, and gathers at the sea. Then it evaporate to the sky, become clouds, then drops again.

Life is about chances which just as simple as rain. It cycles, and back to us some other times.

if Life is a recipe, Time and Chances is the most important seasonings. If you mistaken in 1st try, you can just do better in next-other tries. Mistake is just the goal that you didn't reach. Maybe.

Be happy for everything. Keep your hands open. Pray to Allah n believe in Him. Then Time and Chances will work better each day. :)

RRR.29.04.2012.

Melati

Melati, lain bagimu, lain bagiku
Di tanganmu sekuncup melati dulu berada
Entah untuk apa, tapi bagiku memunculkan satu asa

Melati, kuncupnya membesar
Membuka pertanyaan, "akankah aku mendapatkan mekarnya?"
Sedikit-sedikit mulai kucium wanginya.

Melati, masih dalam genggamanmu
Kuncupnya makin membesar
Sebesar harapanku untuk menerimanya dari tanganmu

Melati, masih dalam angan
Menyimpan sejuta rahasia
terutama, "untuk siapa?"

Ketika kuncupnya mulai terbuka,
mataku semakin berbinar terpesona dengan kilaunya
Kian siap untuk dirangkai menjadi mahkota

Melati, sakaukan aku.
Kini harumnya menyesakkan,
sedang bagimu, wangi yang mendebarkan.

Kelopak itu masih menyimpan rahasia, "Untuk siapa?"
Sementara bagiku dunia melati sudah seperti makam kuburan

25 Apr 2012

Saya dan Bulan Kesembilan

April.

Ada banyak cerita.
Pameran arsitektur.
Riuh rendah ulang tahun.
Insting dan kebetulan.
Langkah masa depan yang masih acak semu.

April.

Dibuka dengan pertambahan usia, pengurangan jatah hidup, dan penyadaran akan keharusan hidup dewasa. Dewasa, berarti keteraturan, kebijaksanaan, kecerdikan berpikir. Yang tak pernah lepas dari kecurigaan, kebohongan, korupsi, alasan, ketidakjelasan dan non-toleransi.
Seringkali, aku tak mau cepat dewasa. Dewasa itu seperti kita tak bisa lagi bebas, kita seperti harus memiliki satu identitas pasti untuk bercampur dalam populasi. Kesempurnaan lah yang dituntut dalam kedewasaan. Jika kau tak sempurna, maka hanya dua pilihan: cari identitas lain atau dibuang.

April.

Dimana aku dan teman-teman sibuk menyiapkan pameran yang baru saja selesai tiga hari yang lalu. Pameran yang kurang tersiapkan namun syukurlah hasilnya sangat memuaskan. Meski harus membelah diri antara panitia dan bazaar, aku sudah lumayan bisa membagi waktu. Poster tim bisnisku tercetak dengan hasil memuaskan. Begitu pula dalam penjelasan proyek kelompok kami, lisanku cukup lancar untuk berbicara.

April.

Belajar melancarkan setir bersama seseorang yang kusayang. Yang biasanya kusetir hatinya dengan puisi-puisi karanganku. 2 minggu lalu dia menyempatkan waktu untuk mengajariku menyetir. Syukurlah, bahkan karenanya aku sanggup membawa mobil dari Jogja ke Magelang tanpa henti! Cukup frontal untuk pembelajar sepertiku. Dengan kehadirannya membuatku tenang dan jalan terus. Barulah sebelum masuk gerbang Borobudur, kami bertukar tempat.

April. Semoga 5 hari ke depan juga menyenangkan. Amin.

Ria R. Ramadan

13 Apr 2012

Cakap Senja

Kamu ksatria Bintang dan aku putri Bulan. Sedangkan malam, adalah cinta kita. Yang memerlukan kita berdua untuk menghiasinya.

Bintang tak pernah tahu bahwa Bulan slalu ingin bersamanya, menjaga dan merawat Bintang. Dan Bulan tak pernah bisa untuk melakukan itu.

Bulan hanya bisa nampak sepotong-sepotong. Hanya ada tiga malam dimana bulan benar-benar utuh menemani Bintang. Bahkan Bulan akan menghilang pada beberapa malam, karena dia tak mau mengganggu keindahan Bintang. Walau mendung, kilau Bintang tetap bisa terlihat setelah awan mendung lewat. Berbeda dengan Bulan yang punya hari terlarang menampakkan diri di langit malam.

Bagi orang awam, mungkin Bulan nampak lebih cantik daripada Bintang. Tapi sedikit yang sadar kalau pesona Bulan baru benar-benar muncul pada tiga malam utama, di pertengahan bulan. Yaitu di saat bulan purnama.

"Dan aku tetap mendampingimu menemani malam terindah itu." sahutmu.

Iya, kamu yang selalu ada di sana. Setiap malam.

---
Ria R. Ramadan
teruntuk Ady Putra Kurniawan

13.04.2012
menyambut kedatangan malam.

Treasure Hunting

"People come and go in our lives, but our family are always there." --Catherine Pulsifer

Hari pertama, Kehangatan di Ufuk Senja

4 jam sudah aku berada di Bandara Internasional Adisucipto sampai akhirnya "diusir" meninggalkan kota Jogja. Burung besi siap menggendong kami menuju Bengkulu. Setelah singgah di Jakarta selama kurang lebih 2 jam dengan maskapai Singa Kesiangan (yg waktu itu -alhamdulillah-bangun pagi), kami menikmati kembali suasana awan putih dan langit membiru. Akhirnya, pukul 2 siang kami tiba di Bengkulu.
Athar, Bude Ida, Ama, Bude Parti @Adisutjipto


Mie n Bude Parti @Soekarno-Hatta

Mba Oka n Mba Marvi @Soekarno-Hatta




Arrival Hall @Fatmawati Soekarno
Keheranan menyapaku begitu sampai di Bandara Nasional Bengkulu. Padatnya aktivitas penerbangan menghilang. Hanya ada satu pesawat yang terparkir di lapangan yang cukup luas. Bahkan bandaranya pun lebih kurang seperti salah satu kantor pemasaran di kota asalku. Mentari juga bersinar cukup terik siang itu.

Syukurlah, kecil dan sedikitnya aktivitas penerbangan justru memudahkan kami dalam penungguan bagasi. Bagasi cepat dan mudah dikenali. Keluar dari bandara, kami pun langsung disambut generasi kedua Pakde Wasool yang semuanya datang menjemput, masing-masing dengan satu mobil.

Mbak Refi, Mbak Dina, Mbak Desi, dan Mas Hendri mengantarkan kami menuju kediaman ayah mereka. Sampai di tempat, sapaan yang pertama datang justru dari rombongan kloter Jakarta yang berangkat lebih awal.


Sore itu dihabiskan untuk menyamankan diri dengan naungan baru, mengobrol dalam suasana yang baru, bertukar kabar dan bergembira dalam games dan lelucon ngawur. Sampai akhirnya masing-masing capek sendiri dan kelipuk atau mengundurkan diri.



Treasure Hunting :)


The bond that links your true family is not one of blood, but of respect and joy in each other's life.
- Richard Bach

Hari Kedua, Mesin Waktu yang Tak Lagi Berdetak

Bangun tidur pertama di kota Tabot ini selayak bangun di saat lebaran. Langsung mendengar obrolan para om, tante, pakde, bude, mbak, mas. Karena jumlah penghuni bertambah nyaris 3x lipat, 4 kamar mandi yang ada terpaksa harus bersabar untuk mendengar guyuran air berturut-turut. Dan kami, harus sabar mengantre.

Rencana awal jam 8 akhirnya juga baru berangkat jam setengah 10. Karena jadwal yang ibuku buat terlalu pagi menurut mbak Dina, yang menjadi tuan rumah. Bahkan tempat yang akan kami kunjungi baru buka pukul 9 pagi. Tahukah tempat apa itu?

Jejak pertama kami adalah menuju kediaman almarhum presiden Soekarno. Bisa dibilang rumah ini merupakan "rumah dinas" beliau sewaktu diasingkan oleh Belanda. Rumah ini pun "diawetkan" dan dijadikan museum untuk melindungi barang-barang milik Bung Karno. Sayangnya, dana perawatan museum yang berasal dari APBD sangatlah minim. Sehingga banyak cacat dan kerusakan yang belum sempat diperbaiki. Tapi saya salut, barang-barang milik beliau masih awet, bahkan sepeda onthel yang pada masa produktifnya dipakai bersama ibu Fatmawati, nampaknya masih kuat untuk ditunggangi. Sayangnya Kumbang itu sudah dibingkai kaca.

Dari rumah Soekarno, kami menuju ke Monumen Hamilton yang sudah direnovasi. Tapi sebelumnya, ibuku yang photo-addicted meminta berhenti di monumen Thomas Parr yang penampilannya sudah tak cantik lagi. Lumut dan Jamur santai bersandar dominan di satu sudut. Sarang laba-laba pun sudah riang bergelantung di sana sini. Yah, setelah mendengar cerita petugas rumah Bung Karno tadi, aku tak heran jika monumen ini tak bisa lagi dikategorikan bangunan heritage. Biaya perawatan APBD Bengkulu minim!

Lalu bagaimana dengan kondisi monumen Hamilton yang jadi destinasi kami berikutnya? Jujur saja, melihat bentuknya sekarang, aku ragu bahwa ini sebuah monumen penanda sejarah. Bentuknya sudah direnovasi dan lebih terlihat seperti Namsan Tower yang setengah niat. Kalau dilihat dari desain renovasinya yang ditempel di gerbangnya, gubahan massa monumen itu nampak seperti bunga Rafflesia yang memang khas Bengkulu. Tapi harus dilihat dari helikopter dulu, baru ngerti.

Setelah kecewa yang agak berat terhadap dua monumen barusan, kami beranjak menuju Benteng Marlborough. Dari Monumen Hamilton, atas inisiatif mas Adi kami melewati rute kampung pecinan Bengkulu untuk menuju ke Benteng Marlborough atau Fort Marlborough. Ada sesuatu yang unik di sini. Bukan kampung pecinan dengan sisa-sisa lampionnya, melainkan sebuah gapura merah dengan atap pagoda dan dua buah naga di kedua sisinya. Pintu gapura ini tepat berada di pertigaan yang merupakan batas kampung pecinan dan depan pintu gerbang Fort Marlborough. Seakan gerbang ini ingin memperjelas akhir cerita kampung pecinan setelah akhirnya Belanda memasuki kawasan mereka dan mendirikan benteng tersebut.

Akhirnya, puncak perjalanan kali ini adalah di Benteng Marlborough. Di sini, bersemayam 3 makam orang Inggris yang salah satunya adalah jendral (maaf saya lupa). Dulunya ini adalah benteng pertahanan dari serangan maritim. Lalu sekarang beralih fungsi menjadi museum, sama seperti rumah Soekarno. Keadaan di sini juga agak tidak terawat, tapi masih lebih mending daripada monumen Thomas Parr. Lumut terdapat di beberapa sudut. Lantainya, saya tak bisa bedakan mana yang warna asli, yang cat hitamkah atau yang beton saja? Tapi keadaan udara di dalam sini cukup  nyaman. Selain banyak ventilasi samping, ternyata di bagian atapnya pun terdapat chimney yang membuang udara panas.

Oya, jalur sirkulasi di sini ada dua, pertama tangga yang sangat sempit, hanya sekitar 60 cm saja, dan sebuah ramps yang cukup lebar namun curam. Mengutip salah seorang guide yang sedang menjelaskan kepada sepasang newlywed dan seorang kakek, ramps yang sangat curam itu dipakai untuk mendorong kereta-kereta meriam ke atas. Yah wajar sih, orang Belanda kan gede gede badannya, kuat lah ya. Oh ya, di setiap podium benteng terdapat cincin besi besar yang fungsinya untuk mengikat tali di depan meriam. Jadi, meriamnya tidak cuma didorong dari bawah, tapi juga dibantu tarikan di atasnya. Oh ya, benteng ini punya view yang super bagus ke arah laut. Makanya di sini malah banyakan foto-foto daripada dengerin guide nya. Parah nih.

Udah deh, abis itu tinggal main-main ke pantai. Trus pulangnya kita dapet musibah mati lampu setelah sempat mati air. Yang akhirnya kaya ikan asin dijemur dan lampu baru nyala jam 10 malem. Fuuh.

12 Apr 2012

Crystal Eye

To be with you
All the things I would do

Tell me please
Do you ever mind to love me?
No words, no sentences
But my eyes would not release
What should I do to make you move?
Move! Move to me please!

The codes I gave to you
And times interacted with you
Make this heart blooms, grows,
filling the emptiness in myself


More greetings I do
More chances to you
'Til the day you say
"I'm ready for you."

May I say,
"And I'm ready to
Die in the crystal eye."?

---
Rimie Ramadan
12.04.2012

a special gift for my bestie, Eka, hope you glad with it.
that's the "code" if you know what i mean. :D

11 Apr 2012

Kurir Hati

Selipkan rindu di ketiak malam agar bintang membisikkannya pada rembulan. Dengan sinarnya yang lembut dan merayu, coba sampaikan pesan kepada hati yang membeku agar ia mencair. Hanyut dalam tenteram cinta.

Setiap kata coba terkuak. Dalam bisik sunyi lembar taklimat. Guratan pena mengukir dan tak akan habis yang ditulis meski awalnya tak tahu harus dimulai dari mana.

4 Apr 2012

Ketika Pejalan Kaki Tak Dihiraukan

Tingtung! Sebuah pesan masuk di ponsel anggurku sore itu. Dengan wajah yang masih rusuh aku membuka kelopak mata. Memaksa retina yang masih merah untuk membaca tiga kata, "kumpul di kampus." Apalah itu, aku tak mengindahkannya. Karena lelah, aku tertidur lagi.
---

Inilah aku akhir-akhir ini. Meski banyak deadline siap menerkam, tapi aku lebih memilih untuk mengerjakan di kos atau tempat dimana aku berada. Ya, akhir-akhir ini aku merasa lelah berjalan. Bukan menjalani waktu dan kegiatan yang bertumpuk, tapi lebih kepada berjalan di atas kakiku sendiri. Denotatif.

Awal pindah, aku merasa kampus dan kosku sekarang sangat dekat. Berjalan kaki pun hanya butuh waktu 15 menit. Maka aku memutuskan berjalan kaki setelah sepedaku lama tercuri dan tak kembali. Hanya sedikit teman-teman kampusku yang tahu kosan tempatku tinggal. Beberapa teman yang baru pertama kali mengantarku atau mendengar alamatku akan bilang, "Wah, jauh ya? Kamu kalau ke kampus naik apa?" dan ketika kujawab, "jalan kaki." Mereka seperti terkesiap. Entah iba atau kagum.

Whatever. Tapi itulah kenyataannya.

Makanya, aku sering merasa kesal dengan janji-janji yang tidak pasti atau malah mendadak. Ya, seperti prolog di atas. Pukul 2 siang aku baru sampai di kos, berbenah dan rehat sejenak. Tiba-tiba sebuah sms datang 1 jam kemudian. Menyuruhku untuk kembali ke kampus sementara aku sedang menyamankan tubuh terutama kaki yang baru saja bekerja.

Dan janji-janji yang tak pasti itu terkadang lebih menyiksa. Apalagi kalau tempatnya nanggung dari lokasi kuberada. Kadang janji jam 3, kutunggu sampai jam 4 lebih gak datang-datang. Lalu ketika kuputuskan untuk meninggalkan tempat, ybs mengirim sms tiga huruf, "OTW"

Belum lagi masalah penyebrangan. Pejalan kaki selalu menjadi prioritas terakhir yang seakan-akan kotoran di mata. Kalau berjalan lamban diteriaki, kalau berjalan cepat malah dibilang kaya kesetanan. Fuh!

Kalau di post 9gag, aku akan sering memakai emoticon profesor yang bilang "I don't wanna live on this planet anymore." Andaikan ada sayap portable atau mesin jet mini, aku pengen deh. Aku gak dibolehin naik motor, mobil juga masih belajar. Dan sejujurnya aku ini penganut Greenism, jadi pengennya ga pake kendaraan bermotor.

Tapi kesadaran lingkungan di Indonesia baru sekedar penanaman pohon dan kebun. Sedangkan untuk peduli terhadap kaum non-engined masih sangat rendah. Zebra Cross aja masih sering dibuat parkir. Gak peduli yang nyebrang nenek-nenek atau anak muda, ga ada yang mau nolongin. Eh, ada ding. Seorang mbak yang sempet bikin salut 1 mobil pas rombongan anak Jakarta pada main ke Jogja. Beliau menolong seorang nenek menyebrang bahkan sampai tak peduli motornya menyala di tengah jalan dan lampu telah hijau. Salut!

1 Apr 2012

H-1 Display Studio Tematik.

Entah apa rezeki atau ujian yang Dia coba limpahkan padaku. Di saat deadline mulai mendekat, dia memberiku kesempatan untuk dunia baru bernama bisnis. Tak tanggung-tanggung 2 tawaran sekaligus. Dua-duanya menjadi Product Designer atau Creative Designer. Inilah jalan baru bagiku untuk merambah dunia.

Sedikit sensitif akhir-akhir ini, kuakui aku agak emosi dan berubah. Sedikit banyak sudah 'terintip' oleh sekitarku. Dua hari-malam yang cerah berlalu begitu saja, tergantikan dua hari-malam yang penuh gumpalan kelabu dan rintik yang menerus. Hujan di kotaku.

Maaf, maaf, maaf. Bagi semua yang merasa kelabu itu hanyut dalam raut hariku. Semua terkumpul menggumpal dan menyatu. Aku suka langit, aku suka hujan. Dan mereka obat terindah bagi semua perasaan yang mengganjal.

Yogya, 01 April 2012
Selamat ulang tahun, Cantik!

27 Mar 2012

Huh..

Terlalu bodoh tuk mengerti. Aku memang bodoh. Terlalu banyak hal yang kulihat namun tak dapat kuserap dengan baik. Banyak hal mengawang, tak ada satu pun yang kutangkap. Penat. Beban rasanya bertumpuk di kala diri merasa sok kuat, sok hebat. Inilah aku.

Otakku kah yang menyusut atau dunia yang makin memuai? Serasa terlalu sempit untukku mengolah lagi liku dunia. Padahal dengan perbandingan manusia, aku baru saja akan memulai puncak kejayaan. Banyak hal yang tak penting, larut kupikirkan. Banyak pula hal yang penting dan malah luput dari pandangan.

Dunia memang berubah. Otak ini tak seencer dulu lagi. Membrannya tak lagi berongga untuk dapat menyerap waktu. Seseorang yang dulu dekat, kini menjauh. Hingga tak nampak jejaknya yang pernah mendampingiku. Janji yang telah menculiknya. Menculiknya dari kubikel waktu yang dulu sebagian besar kami isi bersama. Dia berubah, dari sosok yang dulu kukagumi setengah mati, menjadi sosok yang kupandang sebelah mata, begitu juga di mata umum.

Tahukah kau, tingkah lakumu begitu mencolok? Justru kelenyapanmu yang begitu menumpuk membuat orang tak acuh akan dirimu. Sadarkah? Aku tak tahu mana jalan yang sungguh-sungguh benar, jalanku atau jalanmu. Adakah jalan ini akan menyatu lagi di waktu yang tak pernah kita duga kapan datangnya?

Banyak hal berlalu, banyak hal yang makin tak kutahu. Terpaku dengan mulut membulat sempurna, menatap orang-orang hebat yang tampil di depan maupun yang bicara di belakang. Dan aku berada di antaranya, hanya memandangi tanpa pernah bercampur.
 

Yogya, 27 Maret 2012
Di kerumunan yang mengucilkanku.

18 Mar 2012

Bahagia

Secarik kata yang definisinya terlalu merancah syaraf. Memiliki kekuatan magis luar biasa yang membuat zat tersenyum karenanya. Suatu kata, yang tak bisa diterjemahkan. Hanya dapat dirasakan. Bagai menggapai bintang.

Lalu apa yang bisa menciptakannya?
Terlalu kisruh dan kaku rasanya bila diterangkan di alam teori. Apapun. Hal-hal kecil maupun besar bisa menciptakannya. Bahagia itu sederhana. Begitulah yang sedang tren didengungkan para pecinta dunia maya. Ini nyata. Cobalah ikuti serangkaian cara untuk bahagia berikut ini.

Nyamankan diri anda, bisa bersandar pada kursi yang empuk atau sekalian rebah di tempat tidur.
Tarik napas panjang dan bersamaan dengan itu, tutup mata anda.
Ketika mata anda tertutup sempurna, tarik lagi napas anda sambil rasakan setiap molekul oksigen menelusup saluran hidung anda. Ia berlari secepat mungkin sampai ke paru-paru dan bertukar dengan karbondioksida. Dan ketika anda melepaskannya, saat itulah sang Karbondioksida telah keluar.

Ulangi cara di atas, sambil bayangkan, bersamaan dengan oksigen yang anda hirup, wajah-wajah yang amat anda sayangi muncul dan tersenyum di hadapan anda. Mereka hadir, kemudian bertahan sepersekian detik sebelum lenyap bersama gas yang anda tukarkan.

Bagaimana? bisa mengukur kesederhaan perasaan Bahagia itu? Begitu pula yang orang lain rasakan terhadap anda. Kita tak pernah tahu cobaan seberat apa yang dilalui seseorang. Namun, selama mereka masih bisa bernafas, tersenyumlah pada mereka. Karena bahagia itu juga dapat menular dengan caranya sendiri. Cara yang sangat sederhana.

JANGAN LUPA praktekkan kepada kedua orang tua anda juga. Karena kebahagiaan mereka akan berlipat ganda saat anda bahagia. Terimakasih.

Ria R. Ramadan
18.03.2012

6 Feb 2012

The Diary

catatan sebelumnya: Diary pt 3 | Diary pt 2 | Diary pt 1
12 Juni 2011
Hari ini aku menemani Nisa berbelanja. Sudah lama kami tak bertemu. Aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya lagi. Sayangnya, raut bahagiaku yang kutunjukkan semaksimal mungkin, tetap terbaca aneh olehnya.
“Kamu kenapa sih Ri? Kok mukamu malah sedih gitu? Gak seneng ya, ketemu aku?”
“Ah, bukan. Bukan Begitu Nis. Aku hanya.. “
“Atau kau sedang terlalu lelah, kalau begitu seharusnya kau istirahat. Kan kita bisa belanja lain hari.”
“Hm, mungkin sedikit lelah. Tapi kalau istirahat sekarang nanggung. Kita selesaikan dulu belanja kita.”
“Hm, baiklah kalau itu maumu. Oya, lagipula kau belum menemukan gaun yang pas untuk pesta pernikahan kak Tyo kan?”
Ah, kenapa juga harus kausebut nama itu? “Ya. Baiklah, mari kita lanjut cari gaun.” aku menyeretnya keluar dari kafe bernuansa italia tersebut.
Aku akhirnya tertarik pada salah satu busana yang dipajang di sebuah butik. Setelah masuk, aku menuju kamar pas untuk mencobanya, sedangkan Nisa sibuk memilih aksesoris. Baru aku akan memasuki salah satu bilik yang terbuka, tanganku tiba-tiba ditarik paksa dan diseret ke suatu arah. Dalam sekejap aku sudah berada dalam pelukan seseorang dan nampaknya dia mengunci pintu bilik.
Aku mencoba mengangkat wajah, melihat siapa dia. Walaupun parfumnya sangat kukenal. Dan dugaanku terbukti. Pria ini adalah dia.
Tyo’s diary
12 Juni 2011
Lagi, aku melihatnya melenggang di hadapanku. Seketika perasaan rinduku bertumpuk dan membuncah luar biasa. Hingga tanpa kusadari, aku menarik tangannya dan bersembunyi di bilik tempatku mengepas pakaian tadi.
Kusadari perlahan gerakan di wajahnya. Ia menatapku. Lama, sangat lama. Aku pun menatap dalam kedua bola matanya. Kuselami tanpa menghiraukan waktu. Ada kerapuhan di sana. Sepercik kerinduan, aku tahu. Tapi aku masih tak yakin.
Kueratkan pelukanku dan kubenamkan wajahku di sela lehernya. Menghisap setiap wangi tubuhnya. Ya, wangi ini. Masih sama sejak sebulan lalu. Bahkan enam tahun lalu.
“Kak, lepaskan.” Tubuhnya menggeliat pelan. Aku menahannya dan malah semakin mengeratkan pelukanku padanya. Ia masih juga berusaha berontak.
“Biarkan. Untuk 10 menit saja. Kumohon.”
Perlawanannya melemah. Kurasa ia sebenarnya juga tidak mau berpisah.
Kurasakan nafasnya mulai teratur. Kuendus harum yang semerbak di bahunya. “Kak, jangan. Jangan begini. Ah!”
Tak lagi peduli dengan ocehannya. Aku terus melepaskan rinduku di jenjang lehernya. Hingga tangannya melepas sesuatu yang sedari tadi digenggamnya.
Aku berhenti dan mengambil barang yang jatuh itu. Sebuah gaun sutra warna putih dengan bordir merah di bagian leher dan pinggang. “Ini, untuk kaupakai? Memang mau ada acara apa?”
Ia seperti tersadar langsung menundukkan wajahnya. Perlahan ia berjongkok di ruangan yang cukup sempit ini. Ia memegang bagian bawah gaun itu.
“Kak. Mengapa kemarin kau mencariku? Kalau tahu kau akan menikah, aku takkan menerima undanganmu itu!” suara yang datar, kutahu. Dengan kata-kata yang lugas, itulah khasnya.
Riri’s diary
13 Juni 2011 (dini hari)
Ah, maaf. Aku menangis hingga tertidur. Dan ternyata hari sudah berganti. Entahlah, tangisanku tak kunjung reda tadi malam. Kupikir aku akan mati kehabisan air mata. Haha, mana mungkin air mata bisa habis kan ya? Apalagi hanya untuk manusia semacam kak Tyo.
Ah, iya. Baiklah. Kulanjutkan saja ceritanya. Gaun pilihanku kemarin akhirnya basah oleh airmata dan aku terpaksa harus membelinya. Bahkan aku masih ingat ketika penjaga kasir menanyai mataku yang seperti diperas habis. Aku buru-buru berlari hingga bahkan melupakan Nisa. Biarlah, paling nanti dia mengomeliku lewat sms.
Kupandangi gaun sialan yang kini tergantung di kamarku. AH! Sial. Kenapa juga aku harus membeli warna merah? Kenapa tidak warna biru saja? Kenapa harus merah, warna favorit pemuda sialan itu? Gerutuku menyadari warnanya yang tak kuperhatikan sebelumnya. Jangan-jangan..
Kutarik gaun yang masih agak basah itu. Sejujurnya aku ingin merobeknya langsung. Tapi apa yang kulakukan? Aku berjalan ke depan lemari bajuku yang pintunya terbuat dari kaca cermin. Melepas baju yang kupakai dan menggantikannya dengan gaun merah sebatas dada tersebut. Selamat! Ukurannya pas di tubuhku. Hahh.. syukurlah! Masih kupandangi gaun itu dari cermin. Kuputar-putar tubuh ke berbagai sudut hingga kutemukan sesuatu. Dan airmataku pun meluncur lagi.
Kuusap sesuatu seperti noda merah di leherku itu. Noda yang tak bakal menghilang dalam 3 hari, atau lebih. Aku membuka laci lemari. Mencari syal warna senada. Tak kutemukan. Panik, aku mencari hal lain yang bisa kupadupadankan. Ketemu syal kuning matang, sepatu emas, ikat pinggang emas dan purse marun dengan lacing emas.
“Huaaahh!! Cukup!” Teriakku kesal tak lain kepada diriku sendiri.
~I’m lucky I’m in love with my bestfriend, lucky to have been where I have been..
Segera kusambar ponsel dari seprai hijauku. Setelah melihat nama, dengan mengambil napas panjang 3 kali, kutekan tombol hijau. “Ya, ada apa Piyu?”
Setelah beberapa anggukan dan kata “oke”, kututup gagang telepon dengan lega. “Semoga ini bisa me-refresh otak dan batinku.”

24 Jan 2012

Angel and Prince

Augstova 17, 2039 - Candull Land

   I'm just wasting moments in the garden. When suddenly I see a beautiful white lady crying near the pond. I come to her. "Hey lady, what's wrong?"
   She doesn't answer but points at the sky and keep crying. Not moving except her hands and tears. I pick out my knitted handkerchief and sob her tears. "Ssh.. It'll be alright, It's alright. Stop your tears and tell me what's going on."
   The lady calms down. And in seconds I see her beautiful black eyes. It's framed by her pony black hair and white face. She is gorgeous!
   "Mm-Mister, why do you care so much to me? And your looks, seemed not like a commoner does. I mean who are you?"

   Ooh. So you don't know me? Are you foreigner? "Let me introduce, I am Marzekoni Montovaggio, the Prince of this nation."
   "Ma.. Mar..ze.. what?"
   "Ah, you can call me Zeko if it's too difficult to spell."
   "Ah, Prince Zeko, yeah. It's better. My name is Wati. I come from there." she points up there, to the sky. My eyebrow raised, how come she could..? "It's a long story. I can tell you but could you save me from the people first, please?"
   "Okay, you can follow me, Lady Wati."

   I guide her towards my pavillion. Secretly, as she asked. I told my servants to guestroom and give her cloths. Then I asked her to come for dinner.

   Time runs out, the sun went down. My servants told me that the table is ready. I said ok and order them to call my "guest". Yep the late beautiful young lady. Then I go alone to dining room. Even a prince, I don't feel nice being in the castle. So I beg for this pavillion to my father, and he let me go easily.
   I've been on my chair but waiting her a lil longer. My servants come and lead that lady to sit down. For a while, I stunned by her beautiful faces with the dress and make up. She looks more gorgeous! Is she a goddess?
   "Could you leave us, please?" I order them to back at the kitchen. This is my priceless guest over the year. I should respect her. So they leave the dining room. "Lady Wati, take your first spoon first, please."
   "I'm so pleased, thank you. You too, Prince Zeko."

   "Lady, honestly, you look gorgeous! And more gorgeous tonight." She smiles and her face is blooming. "Are you a Goddess, maybe?" I speaks a while after dinner.
   "An angel exactly." she corrects. I'm stunning. "Do you ever known that heaven has also a kingdom?"
   "Nope." shake my head.
   "Heaven has also a Kingdom. We call it Kahyangan." I nod. "There live also God as a king, and Goddess as the Queen. And we are angels, live to serve them. Like your servants do."
   "Is it? So how about the prince? Are there price or princess who'll be the next God?"
   "No. But there are titles for the angels. Angels got them by work. So here I am."
   "Wh-What? You work?"
   "Yup. I must pick prayers from humans and deliver it to God. I pick about 1 million a day."
   "Wow, work that much and you still look gorgeous!"
   "Yeah, but I lost something. So I can't back to Kahyangan."
   "What is it? Is it that important?"
   "Of course! It's my wings! Without them I can't flew back."
   "Let me help you. and until we find it, you stay here. Okay?"
   "But I have one condition. You must not tell anyone that I'm "different", okay?" I nod and let her drink juice.
   "Understood, young lady!"
#continued tomorrow

13 Jan 2012

Indonesia Itu Surga! eps 1

Sudah lama sebenernya aku pengen bikin sebuah tulisan tentang tanah airku yang sangat kusayangi ini. Namun terhalang oleh beban lain yang semakin bertubi. Baiklah, akhirnya keluangan waktu hari ini kumanfaatkan. Ini dia, sebuah semangat bagi kalian warga Indonesia, juga sebuah undangan pada seluruh manusia di bumi supaya dapat berkunjung ke negaraku.

Pilihan judul ocehan kali ini, "Indonesia Itu Surga!", karena saya ingin membuka mata kita semua, bahwa dibalik berita-berita negatif yang udah kaya sampah di Bantar Gebang, masih tersimpan berjuta harta karun milik Ibu Pertiwi.

Terinspirasi juga oleh seorang Jepang, yang siang ini sedang menyantap masakan Indonesia. Maka pikiran saya langsung terpancing, "Berapa harga makanan ini di sana? Yang di sini hanya sekitar 15 ribu rupiah." Ya, saya sangat mudah terpancing dengan makanan. Tahukah anda, bahwa resolusi Kementerian Pariwisata juga sedang menggalakkan kuliner sebagai potensi pariwisata? Hemm, menarik ya?

eps 1: Indonesia, Surganya Kuliner
Suburnya negara Indonesia. Hampir semua tanaman dapat tumbuh di negeri ini. Sehingga untuk kebutuhan pangan, sandang, dan papan mudah terpenuhi. Memang Indonesia belum secanggih negara-negara maju (ya namanya juga masih berkembang), tapi keuntungannya, dimana pun anda tersesat, anda masih dapat bertahan hidup untuk waktu yang lama.

Coba sebut makanan pokok Indonesia! Pasti anda akan menjawab "Nasi." Padahal masih banyak penduduk Indonesia yang tidak memilih nasi sebagai makanan pokoknya. Ada singkong, ubi jalar, jagung, sagu, kentang yang sama-sama mengandung karbohidrat tinggi, tapi lebih rendah dari nasi. Aneka makanan ini sering dikonsumsi penduduk yang sedang dalam diet, atau petani beras yang jarang makan hasil panen mereka.

Lalu beralih ke sayur. Sekian negara yang pernah saya kunjungi, jarang yang menyuguhkan sayuran hijau selengkap di Indonesia. Bahkan negara tetangga sendiri, selama saya di sana, jarang menemukan sayuran. Kalaupun ada, bumbu yang diracik kurang senendang yang di Indonesia. Indonesia memang surga!

Anda berkunjung ke Indonesia, dan susah mencocokkan lidah? Mungkin anda datang ke tempat makan yang salah! Anda suka masakan apa? Manis? Maka pergilah ke rumah makan masakan Jawa. Jika anda doyan yang pedas dan bersantan, maka pantasnya ke rumah makan masakan Padang atau Manado. Asin? Oh, itu sih dapur Sunda ahlinya. Atau mau yang berkuah? Soto, Bakso, atau Sop banyak tersedia dalam berbagai pilihan. Nikmat ya Indonesia? Iyalah, feels like heaven gituu!

12 Jan 2012

Jendela Hati

samar
bagaikan sebuah bayangan
yang kautemui dalam sebuah bingkai

penuh
bahkan sudah kukunci
pintu hati yang telah terisi

kuncinya telah kubuang
hingga aku lupa tempatnya

tetapi
bayangan itu
yang terus menghantui

masih terseok
melampaui batas akal
membayang
meski menit pun tak mencukupi

kutahu itu masa lalu
namun dalam setiap incinya
terdapat noda yang ia cipratkan

noda yang melampaui jendela
akhirnya membekas
keras

ah! sebuah jendela!
jendela hati yang rupanya memang belum kukunci
ketika semilir angin yang masuk
membangkitkan aroma tersendiri dari noda

maaf sepertinya jendela tak bisa ditutup
berkali kucoba, ia masih saja menyisakan lubang

---

Rimie Ramadan
12.01.2012