20 Jul 2018

Cita-cita Sederhana

Dulu sekali, aku punya sebuah cita-cita. Cita-cita yang dulu aku pikir itu sederhana tapi sulit. Dalam artian parameternya tidak pasti. Cita-cita itu adalah "mengukir sebuah senyuman di wajah kedua orangtuaku, dan adikku."

Senyuman bukan sembarang senyuman. Jika senyum saja adalah hal yang bisa dan biasa mereka lakukan kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Tapi yang aku ingin ukirkan pada mereka ialah senyuman bangga atas sebuah prestasi yang kumiliki. Berhubung kuliahku dilanda banyak masalah, jadi kupikir kelulusanku bukanlah sesuatu yang membanggakan buat mereka. Aku tahu, senyum mereka saat itu ialah senyum "lega" ketimbang "bangga". Ngerti kan maksudku?

Namun di hari ini, beberapa menit yang lalu, aku seperti mendapatkannya. Senyuman bangga itu. Hanya karena seporsi Nachos yang kubeli. Antara sengaja dan tidak sengaja sih belinya. Tapi, aku seperti bersyukur sekali aku membelinya, hanya karena Mama bilang, "Wah, aku seneng ini! Makanan darimana tuh? Itali ya?"dengan mata berbinar meskipun tebakannya tidak benar :P

Babeh pun juga. Dia menyukai green tea latte Dum dum yang kubawa. Well, sebetulnya aku harus berterimakasih sama Nisa, adikku. Karena dia yang nyuruh aku mampir beli Dum dum. And i bought one for each of us! So there i was holding four glass of Dum dum and looking for snacks to take away. Awalnya mau Yoshinoya, tapi ga ada yang lauk doang dan ngenyangin. Lalu aku beralih, kok pengen asin2 yaa. Dan berkat mbak waitress yang bagiin flier buy1get1, mampirlah daku ke Carl's Jr. And I'm not disappointed!

Ini pertama kalinya aku agak mellow denger mama bilang hal sepele. Hahahaa.. Yaa, doakan saja ya Ma, anakmu ini bisa membawa kebahagiaan yang lain dan mengukir kembali senyum itu. Amiin..

RRR, 20 Juli 2018

10 Mei 2018

Sepertinya postingan blog saya memang semua tentang hati. Tentang melancholia.

Kali ini saya dipertemukan dengan seseorang yang dikenalkan kepada saya. Tidak seperti manusia manusia sebelumnya, ia menyentak saya. Satu pernyataan yang awalnya abu-abu, tapi ia mendeskripsikannya seakan membaca apa yang sudah saya tutupi. Dia membaca kepribadian saya, dan boom! Saya tertampar.

Sudah itu saja. Tak ingin terlalu banyak. Saya naif dan polos. Terimakasih.