Sebuah cahaya putih berkilau membuka kelopak mataku. Aku terbangun dalam pangkuan seorang gadis. Gadis manis berambut ikal. Ia tersenyum padaku. Manis sekali.
"Rahma?" aku menegakkan tubuhku dan menghadap sosok sahabatku itu. "Kenapa aku bisa tertidur di pangkuanmu?"
Ia tersenyum, "Entahlah, mungkin kau terlalu lelah bermain tadi. Lihatlah, gitarmu sampai kaupeluk."
Mataku mengikuti arah telunjuknya. Saat ini sang gitar sedang bersandar sembari mengamati kami. Aku tersenyum lalu tertawa kecil. "Ya, saking cintanya aku pada musik."
Rahma ikut tertawa kecil. "Bahkan saat bermain denganku kau pun tak lepas dari gitarmu. Dasar musisi profesional."
"Aam.." belum selesai kalimatku, tangannya mengalung di belakang leherku. Setengah tak percaya, mataku melotot. "Rah..ma?"
Gadis itu diam sejenak. Memeluk hangat diriku. "Rama, capailah impianmu itu. Berusahalah semampumu untuk menggapainya. Aku akan selalu mendukungmu."
Sementara aku merasakan sesuatu yang hangat membasahi bahuku. Aku mendorongnya sedikit, menatap wajah mungilnya. Matanya memerah, dipenuhi kristal paling berharga miliknya.
"Terimakasih Rahma. Tapi kau tidak perlu sampai menangis seperti ini. Kita melangkah bersama. Menggapai cita-cita kita dengan cara kita masing-masing. Aku juga akan selalu mendukungmu. Ya?" Tanyaku meyakinkan. Tapi yang kulihat, Rahma malah menunduk. "Ya?" kuulangi pertanyaanku untuk meyakinkan diri.
Dia menggeleng tipis. Bahkan kalau tak kauperhatikan, dia seperti diam saja. Baju putihnya bahkan tak bergoyang sedikitpun. "Tidak bisa." kalimatnya keluar bersama isak tangis.
"Mengapa tidak?"
"Karena.." ia menutup wajahnya, "karena tempat kita sudah berbeda.."
Dahiku mengernyit. 5 detik berselang, baru kumengerti maksudnya. "Oh iya, kamu pindah ke Korea kan? Tapi kan tidak ada alasan yang menghalangimu untuk menggapai cita-cita kan?"
Isaknya menderas. "Keadaannya sudah berbeda, Rama!" Ia menghapus lagi airmatanya. membiarkan zat bening itu mengalir dari celah jemari. "Sudahlah, kita hentikan saja percakapan ini. Aku tak mau debat denganmu."
Aku membuka tangan yang menutupi wajahnya. Telapak tanganku meraih wajah mungil tersebut. Bibirku menempel, mengecup lembut keningnya. Namun perlahan, sosok itu menghilang sesaat setelah tangisnya berhenti. Belum sempat terjawab keherananku, aku sudah ditarik oleh suara lainnya.
"Den, bangun! Hari ini piket kelas kan, Den?"
Kerjap! Mataku terbuka. Kembali ke kamarku dengan pemandangan kosong. Hanya Bi Inem menyisakan kepalanya di muka pintu. Aku mengacungkan ibu jari, tanda sudah bangun. Bibi mengangguk dan mengeluarkan kepalanya dari kamarku.
Aku bangkit duduk. Di antara sprei putih yang berantakan, kutemukan sebuah kertas yang sudah kucel. Kuambil dan kubaca kembali.
Halo Rama sahabatku,
Sedih untuk menyampaikan hal ini, tapi maaf, aku harus pergi. Ayah dipindahtugaskan ke Seoul 6 bulan ke depan. Aku dan ibu harus ikut, sementara Mbak Sarmi pulang kampung. Aku belum memberitahu siapa-siapa soal ini, kecuali Mio--tau kan? boneka kucing favoritku--yang sudah kuberikan pada keponakan Mbak Sarmi. Jadi kemungkinan besar kau orang pertama yang mengetahui kepergianku. Senang tidak?
Maaf jika kau malah sedih. Sejujurnya, aku juga baru diberitahu ayah saat beliau mengajak makan malam di luar seminggu lalu. Aku bahkan tak siap dengan semua ini. Meninggalkan semuanya dan hidup di negeri orang. Meninggalkanmu, sahabatku.
Oya, perpisahan seminggu lagi, bukan? Kau sudah mempersiapkannya? Cepat persiapkan! Jangan hanya bermain gitar! Secepatnya pilih Prom Queen mu. *Aku tau, kau ingin aku yang menjadi pasanganmu. Tapi mustahil, bukan? Jangan lupa sampaikan salamku untuk teman-teman dan ucapan selamat bagi yang menjadi pasanganmu.
Sudah dulu ya. Aku harus melanjutkan packing. Ingat, kalau mau terjun di dunia musik, lebih baik tenggelam, basah sekalian. Jangan hanya minta cipratannya. Kutunggu kau menjadi musisi profesional. Aku akan selalu ada dalam setiap petikan gitarmu.
Sahabat yang mencintaimu,
Rahma
Aku melipat surat itu. Merapikannya kembali. Memasukkannya ke dalam amplop marun yang diberikan Bi Inem tadi malam. Lalu segera ke kamar mandi untuk mandi dan mencuci wajah yang berairmata.
Sekolah tetap ramai seperti biasa. Walaupun sudah mau perpisahan, mereka tetap sibuk mengoceh, terutama wanita. Kaum berisik itu heboh membicarakan penampilan saat prom nanti. Aku melewatinya dan bertemu Ardi. Ia hendak ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Aku mengikutinya.
Di perpus, Aku dan Ardi mengantri pada loket pengembalian buku. Sambil menerawang, menyapu sudut perpustakaan, aku melihat TV Plasma di tengah ruangan tengah menyiarkan berita. Sepertinya tentang pesawat jatuh. "Akhir-akhir ini sering sekali pesawat jatuh." komentarku lirih.
Aku mendekati televisi itu, tertarik pada pesawatnya yang kali ini cukup besar dan puluhan nyawa bergelimpangan di dalamnya. Lalu, muncullah headline dari berita tersebut,
"Pesawat Garuda Rute Jakarta-Seoul Jatuh Terbakar"
TAMAT
---
Rimie Ramadan
25.11.2011
25 Nov 2011
23 Nov 2011
Happy Birthday Pondok Rimie!
Akhirnya setelah seharian bergentayangan di kota Jogja, aku punya kesempatan untuk merayakan ulang tahunmu Nak. Maafkan bunda ya Nak.
*Merayakan? Tapi.. dengan apa? tak terlihat apa-apa lho, Bunda!*
Yah, mungkin kau tak melihatnya Nak. Namun targetku untuk merayakan hari jadimu ini berhasil kuraih.
*Apa itu, Bunda?*
Sebuah buku. Yang memuat karya-karya yang sebagiannya telah kusimpan padamu.
*Oh, begitu ya Bunda? Wah, selamat ya buat Bunda! Terus, mana dong bukunya?*
Itu, ada di "calon ayah" kamu. kan sekalian..
*Sekalian apa Bun?*
Hehehee.. ada deh. Sesuatu pokoknya.
*Ah si Bunda gitu ah!*
Biarin! Hihii. Mau bunda kasih liat bentuknya gak?
*Mauuu!!!*
Tapi ntar malem ya, jgn sekarang. Bentar lagi calon papamu jemput.
*Pasti mau makan bareng?*
Hm!
*Dan pasti aku ga diajak!*
Gimana ngajaknya? Toh kamu makanannya kan tulisanku. Noh, tambah berisi kan kamu!
Yaudah ya, bunda tinggal dulu. Dadaaahh!!!
*Merayakan? Tapi.. dengan apa? tak terlihat apa-apa lho, Bunda!*
Yah, mungkin kau tak melihatnya Nak. Namun targetku untuk merayakan hari jadimu ini berhasil kuraih.
*Apa itu, Bunda?*
Sebuah buku. Yang memuat karya-karya yang sebagiannya telah kusimpan padamu.
*Oh, begitu ya Bunda? Wah, selamat ya buat Bunda! Terus, mana dong bukunya?*
Itu, ada di "calon ayah" kamu. kan sekalian..
*Sekalian apa Bun?*
Hehehee.. ada deh. Sesuatu pokoknya.
*Ah si Bunda gitu ah!*
Biarin! Hihii. Mau bunda kasih liat bentuknya gak?
*Mauuu!!!*
Tapi ntar malem ya, jgn sekarang. Bentar lagi calon papamu jemput.
*Pasti mau makan bareng?*
Hm!
*Dan pasti aku ga diajak!*
Gimana ngajaknya? Toh kamu makanannya kan tulisanku. Noh, tambah berisi kan kamu!
Yaudah ya, bunda tinggal dulu. Dadaaahh!!!
Label:
happy bday my blog
22 Nov 2011
My endless love
---Rahma "In"
"Hei, berhentilah memujiku! Aku tak mau dengar!" teriakku kepada sahabatku, Rama. Selalu saja begini. Kalau sedang istirahat belajar, dia pasti mengambil gitarku dan memainkan lagu khusus untukku. Yang isinya hanya pujian gombal.
And when you smile, the whole world stops and stared for a while, 'cause girl you're amazing, just the way you are.
Lagi, kuambil sebatang choco roll dan kujejalkan ke mulutnya supaya diam. Lagi, dia menggigitnya dan menyuapkan sisanya padaku. Ah, Tuhan. Kenapa dia selalu seperti ini? Bagaimana kalau aku tak bersamanya lagi? Padahal tinggal beberapa bulan lagi aku pindah dan aku tak tega memberitahunya.
---Rahma "Out", Rama "In"
And when you smile, the whole world stops and stared for a while, 'cause girl you're amazing, just the way you are.
Aku menyanyikannya sampai habis tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganku padanya. Lagi-lagi mukanya memerah. Dia terpesona.
Rahma, dia sahabatku dan aku mencintainya. Aku menyukainya sejak ia duduk sebangku denganku kelas 5 SD. Waktu itu kami sudah lama bertetangga, tapi tak pernah saling mengenal karena individualisme komplek kami sangat tinggi. Bahkan ayah ibu kami mungkin tak pernah bertemu jika bukan karena kami.
Sejak itu kami selalu menghabiskan waktu bersama. Mengerjakan tugas, bermain dan lainnya. Bahkan kami berhasil masuk ke SMP yang sama. Hingga saat ini, status kami bersahabat walaupun aku sering secara tidak langsung mengatakan aku mencintainya. Tapi aku sudah berniat, saat perpisahan nanti akan kuperjelas perasaan ini.
---Rama "Out", Rahma "In"
Aku berhasil mengelabuinya. Dan juga perasaanku sendiri. Sejuta rasa sesal bercampur sedih mewarnai penantianku akan datangnya hari ini.
Kulihat wajah ayah dan ibu yang juga nampak mencemaskanku. Berulang kali kukatakan baik-baik saja meskipun aku selalu menunduk, menyembunyikan airmataku. Perpisahan masih seminggu lagi, tapi bagiku hari inilah perpisahan sesungguhnya. Dari kota ini, dari negeri ini dan dari Rama.
Rama. Hanya ada kata maaf yang bisa kudengungkan tiap mengingat namanya.
Ting-tong! "Kepada penumpang pesawat Garuda Airlines tujuan Jakarta-Seoul dengan nomor penerbangan XXX harap memasuki armada melalui pintu G7."
"Selamat tinggal."
---
Rahma, dimanakah kau berada? Rindu aku ingin jumpa, meski lewat nada..
Aku melepas gitarku. "Hey girl, where are you? Don't you know I miss you so bad?" Aku mengambil sebuah bingkai foto. Di sana, aku dan Rahma berpose bak penyihir. "Can you give a little magic to mend my heart?"
"I don't know why but feel scared right now. Please tell if this just a mistaken." Aku meraba dadaku. Ada rasa takut dan gelisah di sana. Takut, kalau saja ia menghilang. Gelisah, apa benar aku masih dapat mengatakan perasaanku ini?
4 hari kemudian, aku benar-benar mencapai puncak gelisah. Karena seminggu ini Rahma terus saja tak ada kabar. Aku tanya ayah dan ibu pun jawabannya nihil. Aku tanya teman-teman sekelasnya, mereka malah balik bertanya.
Tok, tok!
"Masuk!"
Bi Inem membuka pintu dan masuk dengan sopan. "Den, ini ada titipan surat dari pembantunya Non Rahma."
Surat? Untuk apa Mbak Sarmi--pembantu keluarga Rahma-- mengirimiku surat? "Coba lihat Bi."
Bi Inem menyerahkan sepucuk surat beramplop marun. Kuambil, lalu kuamati. Mataku berhenti pada huruf-huruf yang terangkai sebagai pengirim surat itu. Peganganku mengencang. Dua bola mataku tak mau beranjak sedikitpun. Tersirat pemikiran, "Mengapa hanya sebuah surat?"
"Den?" suara Bi Inem menggeser perhatianku. "Aden nggak papa?"
"Oh, iya Bi. Nggak papa kok. Makasih ya Bi."
Bi Inem mengangguk lalu pamit dengan unggah-ungguh khas orang Jawa.
Tinggallah aku sendiri di kamar ini. Bersama surat itu. Benda yang memuncakkan rinduku pada seorang Rahma. Bidadari yang tiba-tiba menghilang dari muka bumi.
Perlahan kuraih amplop itu, kubuka, dan kutarik isinya.
---
Rimie Ramadan
NB: sebetulnya ini posting udah dari bulan Juni tapi emang terbengkalai.
hari ini baru coba mencari sambungan ide dan kira2 rampung sekitar 1-2 chapter lagi.
jadi, aku gak pasang tanggal ah, malu. hehee.
"Hei, berhentilah memujiku! Aku tak mau dengar!" teriakku kepada sahabatku, Rama. Selalu saja begini. Kalau sedang istirahat belajar, dia pasti mengambil gitarku dan memainkan lagu khusus untukku. Yang isinya hanya pujian gombal.
And when you smile, the whole world stops and stared for a while, 'cause girl you're amazing, just the way you are.
Lagi, kuambil sebatang choco roll dan kujejalkan ke mulutnya supaya diam. Lagi, dia menggigitnya dan menyuapkan sisanya padaku. Ah, Tuhan. Kenapa dia selalu seperti ini? Bagaimana kalau aku tak bersamanya lagi? Padahal tinggal beberapa bulan lagi aku pindah dan aku tak tega memberitahunya.
---Rahma "Out", Rama "In"
And when you smile, the whole world stops and stared for a while, 'cause girl you're amazing, just the way you are.
Aku menyanyikannya sampai habis tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganku padanya. Lagi-lagi mukanya memerah. Dia terpesona.
Rahma, dia sahabatku dan aku mencintainya. Aku menyukainya sejak ia duduk sebangku denganku kelas 5 SD. Waktu itu kami sudah lama bertetangga, tapi tak pernah saling mengenal karena individualisme komplek kami sangat tinggi. Bahkan ayah ibu kami mungkin tak pernah bertemu jika bukan karena kami.
Sejak itu kami selalu menghabiskan waktu bersama. Mengerjakan tugas, bermain dan lainnya. Bahkan kami berhasil masuk ke SMP yang sama. Hingga saat ini, status kami bersahabat walaupun aku sering secara tidak langsung mengatakan aku mencintainya. Tapi aku sudah berniat, saat perpisahan nanti akan kuperjelas perasaan ini.
---Rama "Out", Rahma "In"
Aku berhasil mengelabuinya. Dan juga perasaanku sendiri. Sejuta rasa sesal bercampur sedih mewarnai penantianku akan datangnya hari ini.
Kulihat wajah ayah dan ibu yang juga nampak mencemaskanku. Berulang kali kukatakan baik-baik saja meskipun aku selalu menunduk, menyembunyikan airmataku. Perpisahan masih seminggu lagi, tapi bagiku hari inilah perpisahan sesungguhnya. Dari kota ini, dari negeri ini dan dari Rama.
Rama. Hanya ada kata maaf yang bisa kudengungkan tiap mengingat namanya.
Ting-tong! "Kepada penumpang pesawat Garuda Airlines tujuan Jakarta-Seoul dengan nomor penerbangan XXX harap memasuki armada melalui pintu G7."
"Selamat tinggal."
---
Rahma, dimanakah kau berada? Rindu aku ingin jumpa, meski lewat nada..
Aku melepas gitarku. "Hey girl, where are you? Don't you know I miss you so bad?" Aku mengambil sebuah bingkai foto. Di sana, aku dan Rahma berpose bak penyihir. "Can you give a little magic to mend my heart?"
"I don't know why but feel scared right now. Please tell if this just a mistaken." Aku meraba dadaku. Ada rasa takut dan gelisah di sana. Takut, kalau saja ia menghilang. Gelisah, apa benar aku masih dapat mengatakan perasaanku ini?
4 hari kemudian, aku benar-benar mencapai puncak gelisah. Karena seminggu ini Rahma terus saja tak ada kabar. Aku tanya ayah dan ibu pun jawabannya nihil. Aku tanya teman-teman sekelasnya, mereka malah balik bertanya.
Tok, tok!
"Masuk!"
Bi Inem membuka pintu dan masuk dengan sopan. "Den, ini ada titipan surat dari pembantunya Non Rahma."
Surat? Untuk apa Mbak Sarmi--pembantu keluarga Rahma-- mengirimiku surat? "Coba lihat Bi."
Bi Inem menyerahkan sepucuk surat beramplop marun. Kuambil, lalu kuamati. Mataku berhenti pada huruf-huruf yang terangkai sebagai pengirim surat itu. Peganganku mengencang. Dua bola mataku tak mau beranjak sedikitpun. Tersirat pemikiran, "Mengapa hanya sebuah surat?"
"Den?" suara Bi Inem menggeser perhatianku. "Aden nggak papa?"
"Oh, iya Bi. Nggak papa kok. Makasih ya Bi."
Bi Inem mengangguk lalu pamit dengan unggah-ungguh khas orang Jawa.
Tinggallah aku sendiri di kamar ini. Bersama surat itu. Benda yang memuncakkan rinduku pada seorang Rahma. Bidadari yang tiba-tiba menghilang dari muka bumi.
Perlahan kuraih amplop itu, kubuka, dan kutarik isinya.
---
Rimie Ramadan
NB: sebetulnya ini posting udah dari bulan Juni tapi emang terbengkalai.
hari ini baru coba mencari sambungan ide dan kira2 rampung sekitar 1-2 chapter lagi.
jadi, aku gak pasang tanggal ah, malu. hehee.
Label:
general ficts
Lapis Transparan
Warna itu
Warna menyejukkan
Warna itu selalu kurindu
Warna yang kautunjukkan padaku
Warna itu
Sering kubayangkan
Memiliki ubahan warna yang lain
Gradien, Analog atau bahkan mungkin Komplementer
Namun sering kutepis
Karena kupercaya pada warna itu
Warna ini
Yang aku punyai
Yang sering kutunjukkan
Agaknya memiliki lapisan lain
Dan belum pernah kutunjukkan
Seringkali
ku berharap warna itu dan warnaku menyatu
Membentuk gradasi indah
Tapi ternyata
Aku sendiri bimbang
Warna mana yang akan kuberikan
Apabila ketika bercampur
Seketika warna yang lain melesak
mengobrak-abrik gradasi indah itu
Mengoyak pencampuran yang kadung menyatu
Apa
yang tersisa?
Warna itu
Warna kerapuhan
sekaligus kegigihan
Warna kesetiaan
namun meragukan
Warna sejelas kilat
yang kadang samar
Lalu warnaku
komplementer yang hendak kupilih
mencoba menyatukan diri
Mengoyak lapisannya sendiri
Lapis transparan yang kini menipis
dan menceburkan diri, larut dalam warnanya
Kepercayaan
itulah yang dibutuhkan
Selarut apapun kau
harus percaya
---
Rimie Ramadan
22.11.2011
sehabis membengkakkan mata
Label:
poem
14 Nov 2011
Sudut Pandang
Kukurung semua memori
Batasi semua ambisi
Terpojok dalam ruang isolasi
Engkau di sana
Berdiri dan hampa
Menatap samar
Aku yang bahagia
Perlahan kaca berembun
menyimpan hembusan nafasmu
Tercekat dalam pengikhlasan terpaksa
Label:
poem
Kisah si Serbuk Sari
Tertiup angin dari sebatang bunga induk
Melayang, menjelajah bening udara
Perjalanan mengetengahkan berjuta
putik yang menyembul di tengah kelopak
Aku bergerak berdasar petunjuk Sang Angin
Bertebaran bunga indah nan cerah bagai mentari
Yang menarik untuk dihinggapi
Tapi Sang Angin
Malah mendaratkanku pada
Satu bunga yang nyaris layu
Yang warnanya kusam
lagi keriput batang putiknya
Tak disangka
Kedatanganku membuat Sang Putik tersenyum
Hati pun terkesima
Aku menyatukan diriku padanya
dengan segenap keikhlasan jiwa raga
Kehendak Sang Angin
Memunculkan bakal buah pada
bunga yang hampir mati
Rimie Ramadan
14.11.2011
Label:
poem
TRAX - Blind
Even if you lean your head against me and blankly look at me, you don’t know
I spread my arms and say that it feels so cool but you still don’t know
I spread my arms and say that it feels so cool but you still don’t know
I am invisible but I am standing in front of you
But your eyes look past me
But your eyes look past me
* Just once, just once, please look for me
The more you feel, the more you feel
I become more and more invisible
At the end of my desperate prayers
If only you will find me so that I can have you in my arms
The more you feel, the more you feel
I become more and more invisible
At the end of my desperate prayers
If only you will find me so that I can have you in my arms
In the hazy winter frost, I try to draw my heart but you don’t know
I gather the scattered raindrops and shed them instead of tears but you don’t know
I gather the scattered raindrops and shed them instead of tears but you don’t know
I am cold but I am flowing toward you
I despise myself for being square
I despise myself for being square
* repeat
My heart is cracked, cut and broken
At the end of a rough day
When I am broken into pieces, you would be able to see me
At the end of a rough day
When I am broken into pieces, you would be able to see me
** You can’t see so I love you like this
Even your fingerprints in the corner
I strongly engrave them into me
My blackened and bruised heart-
I take it out and show it to you
But you just say that looks pitch-black outside
Even your fingerprints in the corner
I strongly engrave them into me
My blackened and bruised heart-
I take it out and show it to you
But you just say that looks pitch-black outside
You can’t see so you say that looks pitch-black outside
You just endlessly look outside the window
You just endlessly look outside the window
Translation Credits:
pop!gasa
pop!gasa
TRAX - Like A Dream
I faintly remember it now, our shy confessions
Even unplanned dates made every day so happy
At some point the seasons passed and time went by
The accustomed two eyes with no feeling makes me so sad
Even unplanned dates made every day so happy
At some point the seasons passed and time went by
The accustomed two eyes with no feeling makes me so sad
* Please prevent her lips and my lips from speaking of separation
It’s not just any love – only regret will remain
Please allow her lips and my lips to confess our love again
Let’s go back to our longful dream of that night when we first kissed
It’s not just any love – only regret will remain
Please allow her lips and my lips to confess our love again
Let’s go back to our longful dream of that night when we first kissed
Wordlessly, only sighs increase – yawns come out from the obvious expressions
The streets where we used to hold hands now only have cold wind
The song we listened to on our drunken nights
I tried to sing it as I smiled but in my eyes, tears well up
The streets where we used to hold hands now only have cold wind
The song we listened to on our drunken nights
I tried to sing it as I smiled but in my eyes, tears well up
* repeat
As I walk on the path of time, the world of you and I, which used to shine
Become miserable memories and keeps on faintly erasing
Become miserable memories and keeps on faintly erasing
Please prevent her lips and my lips from speaking of separation
We’re not the type to smile and say goodbye – we’re just going to shed tears
Please allow her lips and my lips to confess our love again
Let’s go back to our longful dream of that night when we first kissed
We’re not the type to smile and say goodbye – we’re just going to shed tears
Please allow her lips and my lips to confess our love again
Let’s go back to our longful dream of that night when we first kissed
Oh- It’s Like A Dream
credits: http://snsdlyrics.wordpress.com
credits: http://snsdlyrics.wordpress.com
12 Nov 2011
Tahukah Kau?
Tahukah kau
di setiap hariku bersamamu
Selalu kupasang wajah ceria tanpa durja
Tak luput senyuman dan lengkung mentari di mataku
Tahukah kau
bahwa di setiap memandang wajahmu
satu hal yang tak ingin kulakukan
ialah membuatmu terluka
Tahukah kau
aku ingin menjadi penghibur bagimu
selalu
karena itu aku akan selalu tersenyum
dengan begitu kau juga tersenyum
melepas segala beban di pundakmu
walau hanya untuk sementara
Tahukah kau
bahwa seringkali
kala kau terlelap
aku merenung
bertanya pada diriku sendiri
Sanggupkah aku menjagamu
Di setiap aku ada ataupun tidak
Sanggupkah aku menghiburmu
Meskipun hatiku sendiri sedang gundah
Bagaimana jika tanpa sadar
aku lengah menjagamu
aku mengecewakanmu
aku mengacuhkanmu
tak bisa tersenyum untukmu
Aku
yang tak pernah tahu cara membereskan kasur
yang tak pernah makan dengan porsi kecil
yang selalu menghabiskan waktu dengan hal yang kusuka
yang tak bisa menjawab permasalahan kantormu
yang tak pernah bisa sebaik wanita-wanita indah lainnya
Namun selalu
kau puji aku
layaknya seorang bidadari surga
yang turun ke bumi dan berlabuh di pelukanmu
kau merasa beruntung
aku telah memilihmu
padahal aku pun belum merasa
mampu menjalaninya
mengemban keanggunan seorang wanita
dalam pribadi yang jauh dari sempurna ini
Tahukah kau
Aku selalu bertanya
Mengapa begini?
Mengapa kau memilihku?
Padahal aku hanyalah seonggok sampah
makhluk busuk yang tak pernah tau cara merengkuh matahari
agar meleburkannya ke dalam abu
Rimie Ramadan
12.11.2011
sambil memandang bintang yang terlelap
di setiap hariku bersamamu
Selalu kupasang wajah ceria tanpa durja
Tak luput senyuman dan lengkung mentari di mataku
Tahukah kau
bahwa di setiap memandang wajahmu
satu hal yang tak ingin kulakukan
ialah membuatmu terluka
Tahukah kau
aku ingin menjadi penghibur bagimu
selalu
karena itu aku akan selalu tersenyum
dengan begitu kau juga tersenyum
melepas segala beban di pundakmu
walau hanya untuk sementara
Tahukah kau
bahwa seringkali
kala kau terlelap
aku merenung
bertanya pada diriku sendiri
Sanggupkah aku menjagamu
Di setiap aku ada ataupun tidak
Sanggupkah aku menghiburmu
Meskipun hatiku sendiri sedang gundah
Bagaimana jika tanpa sadar
aku lengah menjagamu
aku mengecewakanmu
aku mengacuhkanmu
tak bisa tersenyum untukmu
Aku
yang tak pernah tahu cara membereskan kasur
yang tak pernah makan dengan porsi kecil
yang selalu menghabiskan waktu dengan hal yang kusuka
yang tak bisa menjawab permasalahan kantormu
yang tak pernah bisa sebaik wanita-wanita indah lainnya
Namun selalu
kau puji aku
layaknya seorang bidadari surga
yang turun ke bumi dan berlabuh di pelukanmu
kau merasa beruntung
aku telah memilihmu
padahal aku pun belum merasa
mampu menjalaninya
mengemban keanggunan seorang wanita
dalam pribadi yang jauh dari sempurna ini
Tahukah kau
Aku selalu bertanya
Mengapa begini?
Mengapa kau memilihku?
Padahal aku hanyalah seonggok sampah
makhluk busuk yang tak pernah tau cara merengkuh matahari
agar meleburkannya ke dalam abu
Rimie Ramadan
12.11.2011
sambil memandang bintang yang terlelap
31 Okt 2011
22 Okt 2011
Kicau Ketiadaan
Berguru pada ketiadaan
Tentang cinta yang menabur sepi
ketika nyeri bertumbuh lara
Berguru pada ketiadaan
Tentang siang yang ditinggal matahari
dan gulita menghampa
Ketika hening rindu berkicau
Mencicit tanpa habis
Menusuk hati dengan ketiadaan
Matahari
kemanakah sinarnya?
Tentang cinta yang menabur sepi
ketika nyeri bertumbuh lara
Berguru pada ketiadaan
Tentang siang yang ditinggal matahari
dan gulita menghampa
Ketika hening rindu berkicau
Mencicit tanpa habis
Menusuk hati dengan ketiadaan
Matahari
kemanakah sinarnya?
Label:
poem
15 Sep 2011
Penghujung Keraguan
"Maaf."
Hanya kata itu yang dapat terucap dari bibirku saat ini. Berulang kali aku mengucapkannya, namun berulang kali pula aku melakukan salah yang sama. Bodohnya aku.
"Aku cuma ingin mengujimu."
Cih, pintar sekali kau mengarang alasan!
"Apakah sebuah rasa cinta harus selalu diuji, hingga membuat perasaan terluka seperti ini?"
Sekali. Datar. Dan tanpa menuduh. Namun jelas kalimat itu menancapkan pedang di hatiku. Tertohok, melemah dan mengecut. Tiba-tiba aku tersadar.
"Maaf."
Lagi, telingaku mendengar kata itu dari bibir penuh dosa milikku.
"Bukankah untuk mendapatkan sebuah berlian murni di antara batu gua, harus melalui proses tempaan yang keras? Itulah inginku, agar aku tahu berlian yang kau punya benar-benar murni."
Mengapa pandainya kau lahirkan kata-kata? Tak bisakah kau tulus meminta maaf hah?
"Tapi kau tak pernah berpikir bila berlian pun dapat pecah bila terus ditempa. Dan itu sakit, kau tahu?"
"Ya, itulah salahku."
"Aku jadi ragu, apakah hatimu mempunyai berlian yang sama untuk kau berikan padaku. Mungkin saja itu hanya plastik yang sangat tebal sehingga kau tak bisa merasakan rapuhnya berlian."
Skakmat. Aku kalah telak. "Maaf." Lagi, kata yang sama. Namun kini, dari lubuk mataku mengalir kristal penyucian hati. "Maafkan aku. Aku sungguh minta maaf. Aku janji, takkan melakukannya lagi. Tolong ingatkan aku, bila suatu saat aku alpa lagi."
"Baiklah, sudah. Jangan menangis. Kemarilah."
Tangannya pun terentang lebar siap menerima diriku apa adanya. Setelah semua yang kulakukan padanya. Ia masih berbaik hati padaku dan menerima aku tulus ikhlas. Sungguh, aku tak ragu lagi. Ia menyayangiku. Akan kujaga ia selamanya. Aku belajar semakin menyayanginya.
Kusambut pelukannya dengan hangat dan damai.
---
Ria R. Ramadan
15.09.2011
Dengan penuh sesal di keheningan pagi buta
11 Sep 2011
dia
Ingin kuteriakkan pada dunia
"Hey, ini aku!
Aku yang mencintainya!"
Tapi yang kulakukan
hanya duduk bersandar di bahunya
menyampaikannya lewat detak nadi
dan bahasa tersendiri
Dunia mungkin tahu
Kita sedang jatuh cinta
Namun dunia tak mengerti
Sedalam apa yang kita rasa
Aku cinta kamu dengan suksesmu
Kamu cinta aku dengan suksesku
Dunia kita pun takkan sama lagi
Kini warna mulai menari
Mengisi lembaran dengan melodi
Tanganmu mulai menggenggam jemariku
Kau eratkan, dekatkan dirimu padaku
Mencium ubun-ubun kepala dan mengelusnya
Tak ingin sedikitpun kehilanganku
"Hey, ini aku!
Aku yang mencintainya!"
Tapi yang kulakukan
hanya duduk bersandar di bahunya
menyampaikannya lewat detak nadi
dan bahasa tersendiri
Dunia mungkin tahu
Kita sedang jatuh cinta
Namun dunia tak mengerti
Sedalam apa yang kita rasa
Aku cinta kamu dengan suksesmu
Kamu cinta aku dengan suksesku
Dunia kita pun takkan sama lagi
Kini warna mulai menari
Mengisi lembaran dengan melodi
Tanganmu mulai menggenggam jemariku
Kau eratkan, dekatkan dirimu padaku
Mencium ubun-ubun kepala dan mengelusnya
Tak ingin sedikitpun kehilanganku
7 Sep 2011
The Diary
catatan sebelumnya : Diary pt 2 | Diary pt 1
Tyo’s diary
9 April 2011
Dahulu terasa indah, tak ingin lupakan
Bermesraan selalu jadi, satu kenangan manis
Bermesraan selalu jadi, satu kenangan manis
Tiada yang salah, hanya aku manusia bodoh
Yang biarkan semua, ini permainkanku
berulang-ulang kali
Yang biarkan semua, ini permainkanku
berulang-ulang kali
Mencoba bertahan sekuat hati,
layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka,
serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tak ayal tingkah lakumu, buatku putus asa
Kadang akal sehat ini, belum cukup membendungnya
Kadang akal sehat ini, belum cukup membendungnya
Hanya kepedihan, yang s’lalu datang menertawakanku
Engkau belahan jiwa, tega menari indah, di atas tangisanku
Engkau belahan jiwa, tega menari indah, di atas tangisanku
Tapi sampai, kapankah kuharus,
menanggungnya, kutukan cinta ini
menanggungnya, kutukan cinta ini
Semua kisah, pasti ada akhir, yang harus dilalui
Begitu juga, akhir kisah ini, yakinku indah…
Begitu juga, akhir kisah ini, yakinku indah…
Tapi sampai, kapankah ku harus
Menanggungnya, kutukan cinta ini,
bersemayam dalam kalbu
Menanggungnya, kutukan cinta ini,
bersemayam dalam kalbu
Selesai hari ini kunyanyikan lagu itu. Lagu yang tak sengaja kudapat dari teman. Entah kenapa rasanya cocok untuk menggambarkan kacaunya aku saat mengantarnya ke depan apartemen.
Kuseret kedua telapak kakiku yang terasa berat melangkah. Mengapa rasanya berat sekali. Seperti beku. Ya, aku tahu. Rasa sukanya kepadaku yang dulu mudah kubaca, sekarang telah berbeda. Ia sangat menjaga jarak denganku. Entah karena apa, tapi sikapnya sungguh kasat mata. Bahkan bicaranya pun sangat hati-hati.
Haruskah aku memperjelas semuanya? Haruskah kunyatakan rasa ini, bahwa sejak dia masuk klub hingga tadi aku melihatnya pergi, bahkan saat aku memikirkannya seperti sekarang, aku mencintainya.
Haruskah? Atau harusnya aku membuang rasa ini, melupakannya, dan menyetujui tawaran ibu? Sungguh, gilaku hampir akut.
Riri’s diary
29 April 2011
Sudah 5 hari aku tidak berinteraksi dengannya. Baik ketemu atau via telepon. Ah, apa dia sedikit marah padaku ya? Memang tiga minggu ini aku sangat menjaga jarak dengannya. Bukan takut. Aku hanya tidak mau dia merasa bersalah atas kejadian saat kami bertemu kembali. Ditambah aku juga tidak mau itu terulang.
Aku sedikit rindu padanya. Ingin sekali kutelepon, tapi sejak 3 hari lalu ia tak bisa dihubungi. Ah, ada apa ya? Perasaanku merasa tak nyaman.
31 Mei 2011
Hari ini aku berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Aku sedang menunggu taksi untuk pulang, ketika kutangkap sosok kak Tyo dan err.. Dinda, sahabat kentalku waktu SMP. Kenapa mereka di sana ya? Dan hanya berdua? Tanpa komando, jantungku berdegup kencang sekali melihat pemandangan itu. Untung taksiku segera datang dan aku pulang dengan tergesa.
Tyo’s diary
31 Mei 2011
Ah, apa aku salah liat? Benarkah? Apa itu benar dia? Hhhsss… Ah, aku bimbang!! Kenapa aku harus melihatnya? Dan kenapa aku bersikap seolah aku tak melihatnya? Kenapa dia muncul saat aku sudah yakin menerima tawaran orangtuaku?
Maaf, jika kau hendak kembali. Tapi aku yakin dengan pilihanku. Dan aku tak berniat mengubahnya. Kumohon maafkan aku jika aku memutus kontak antara kita.
Riri’s diary
7 Juni 2011
Mengapa hari ini kelebat bayangan mereka muncul lagi? Aduh, mengapa aku begitu risih dengan bayangan-bayangan itu? Hapus, hapus, hapus!! Perintah otakku yang tidak dituruti hatiku. “Ah, sebaiknya kutelepon Nisa.”
Akhirnya aku menghubungi Nisa. Aku lega, saat terdengar nada sambungnya. Nomornya masih sama. “Halo?” sapa suara di seberang.
“Halo, Nisa. Apa kabar? Lama tak bertemu.” Kemudian aku sedikit berbasa-basi mengungkit kenangan-kenangan lama. Dan sampailah ke topik itu.
Aku bercerita bahwa aku tak sengaja melihat dua orang itu jalan bersama. Nisa menanggapi dengan antusias. “Wah, mereka sudah sampai taraf jalan bersama ya? Baguslah, artinya mereka semakin akur.”
“Hah, apa maksudmu?” tanyaku heran.
“Lho, kamu gak tahu? Mereka itu udah jadian, err.. tepatnya tunangan. Kalo gak salah ibu dan ayah mereka kerja di perusahaan yang sama, lalu menjodohkan anak mereka. Begitu yang kudengar.”
“Oh..” belum selesai aku berkomentar, dia sudah memotong lagi.
“O iya. Kamu berarti belum tahu ya? Pernikahan mereka akan dilangsungkan minggu depan, lho! Kita berangkat bersama ya!!” Ujarnya semangat.
What? Menikah? “A-a-apa?! Kau tidak bercanda kan?” Seketika jantungku berdetak lambat
“Buat apa aku bercanda? Kalau kau tak percaya, tanyalah kakaknya.”
Tanganku mendadak lemah dan ponselku terjun bebas ke atas kasur. “Ini.. tidak.. bercanda.. kan?"
Tak lagi kupedulikan ponsel itu sampai Nisa menutupnya. Ajakan itu bagai petir yang menamparku di siang bolong. Bagaimana bisa, aku tidak diberitahu apa-apa, tiba-tiba datang ke pestanya? Seperti apa raut mukaku nanti? Terlebih, bagaimana kacaunya hatiku nanti?? Aku berlari ke kamar mandi dan menangis di sana.
31 Agu 2011
The Diary
catatan sebelumnya : Diary pt 1
8 April 2010
Tidak terasa empat tahun sudah aku tak berjumpa dengannya. Aku juga sudah berada di kota yang jauh. Bahkan berbeda pulau. Tapi bayangannya selalu tinggal di mataku. Entahlah, sangat sulit untuk dilupakan. Ah, iya. Aku menulis tepat di tanggal ini. Hari ulangtahun kak Tyo. Ah, bahkan aku masih ingat. Waktu kak Tyo menraktir semua anggota klub, dia meninggalkan kak Dara dan malah menghabiskan waktu denganku dan Nisa.
Ah, maaf. Aku baru kembali dari bawah. Tadi ibu kos bilang ada yang mengirim paket untukku. Sebentar yaa, kubuka paketnya dulu.
Sebuah tas berwarna hijau. Warna kesukaanku. Dengan beberapa kantung kecil di bagian luarnya. Juga model favoritku. Belum berhenti aku terkejut, di dalam tas itu terdapat sebuah boneka apel warna hijau dan memo yang sepaket dengan pulpen. Keduanya berwarna hijau. . Aku membuka-buka kantung lain di tas itu, banyak pula barang-barang lucu yang kutemukan.
Tapi, siapa yang mengirimnya? Ayah dan ibuku bukan orang yang suka memberi kejutan seperti ini. Saat aku mencoba membuka memo hijau tadi, aku menemukan pesan singkat di lembar paling depan.
“Hai, Ri. Apa kabar? Kuharap kamu sehat-sehat saja.Maaf, aku tau mungkin sudah lewat seminggu dari hari lahirmu saat kau menerimanya. Kuharap kau mau memaafkan. Hanya ini yang bisa kuberikan sebagai kado ulangtahunmu. Semoga kau senang. Aku sungguh merindukanmu.” –LT
Siapa “LT”? Aku sedikit merinding, namun kembali tersenyum saat menatap tas dan barang-barang lain itu. Yang mengirimkan ini pasti orang baik, batinku.
8 April 2011
Pagi ini, ketika hendak berangkat kuliah ibu kos memberiku sebuah surat berbungkus amplop biru. Ini sudah yang kesepuluh kalinya aku menerima surat sejenis. Bahkan ibu kos sampai hafal hanya dengan melihat warna dan tulisannya. Sampai sekarang aku belum tahu siapakah pengirimnya. Dia hanya memberi inisial LT pada setiap surat yang dikirimkan. Aku memasukkannya ke dalam tas. Berniat membacanya pada jam kosong kuliah nanti.
Dosen akhirnya mengakhiri kuliah membosankan itu. Aku berjalan ke sebuah taman dan mulai membaca surat itu. Isinya memintaku untuk datang ke suatu apartemen yang agak jauh dari kampusku. Ah, baiklah sepertinya orang ini hendak menunjukkan dirinya. Sepulang kuliah aku pergi ke alamat yang diberikannya. Penasaran juga seperti apa wajahnya.
Tak butuh waktu lama untuk menuju ke apartemen tersebut. Sekarang pintu apartemennya sudah berada di hadapanku. Kuberanikan diri untuk menekan bel di depan apartemennya. Agak lama, baru pintu itu terbuka. Kakiku membeku begitu menatap sosok di hadapanku. Wajahnya lusuh dan ditumbuhi jenggot tipis tak terawat, rambutnya gondrong berantakan, pipinya tirus dan tulang-tulangnya sungguh terlalu jelas. Tapi aku masih mengenalinya. LT, atau orang yang selalu memberiku hadiah, foto dan kata-kata penyemangat lewat amplop biru itu, tak lain dan bukan adalah kak Tyo. Pemuda kurus kering yang kini termenung tak percaya di hadapanku.
“Halo, kak Tyo.” Aku memutuskan membuka pembicaraan. Kak Tyo sedikit terkejut. “Boleh aku masuk?” Ia menganggukkan kepalanya. Aku pun melangkah masuk. Ia menutup pintu dan mengikutiku.
Kamarnya berantakan. Buku dan peralatan fotografi bercampur tak teratur di lantai. Hanya ada satu tempat tidur yang juga berantakan, dua sofa kecil yang beralih jadi tempat tas dan kamera, dan sebuah laptop yang menyala. Kulihat ia berusaha memindahkan barang-barang di atas sofa. Lalu mempersilakanku duduk di sana. Aku menurutinya, dan ia duduk di sebelahku. Rambutnya sedikit ia rapikan.
“Tidak kusangka, kamu akan datang secepat ini.” Ia memandangku tak fokus. Sedangkan aku terus memerhatikannya dari atas sampai bawah. Masih tak percaya dengan semua ini. Bahwa pria di depanku adalah kak Tyo, orang yang sangat melekat di otakku. Bahwa pria ini yang telah mengirim benda-benda itu.
“Kak, apa yang terjadi padamu?” aku memberanikan diri bertanya. “Maaf, kalau aku lancang. Tapi keadaanmu sungguh.. mengenaskan.” Aku menatapnya, mencari bola matanya. Tapi ia malah menunduk dan tubuhnya meluncur ke lantai. Ia merangkak menuju kakiku dan memeluk kaki kananku. “Kak, bolehkah aku sedikit merapikanmu?” tanyaku. Ia mendongak tak mengerti. Mandilah dulu dan keramasi rambutmu. Nanti aku akan memotongnya. Bagaimana?”
Kak Tyo mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi. Sementara itu aku merapikan kamarnya. Aku sedikit terkejut menemukan dua bingkai foto di meja kecil samping ranjang. Foto di sana adalah fotoku yang diambil ketika di museum Fatahillah dan saat wisudanya.
Selesai ia mandi, aku menyuruhnya duduk di sofa yang sudah kuhadapkan ke cermin. Sehelai selimut miliknya kulingkarkan melewati bagian depannya. Dan aku pun melancarkan aksiku untuk mendandaninya. Entah dapat ide darimana, aku mengembalikan gaya rambutnya ke masa SMP dulu. Aku juga mencukur jenggotnya agar terlihat lebih rapi.
Saat aku memegang dagunya, ia menahan tanganku. Tiba-tiba wajahnya mendekatiku, lalu bibirnya menyentuh pipiku. Seketika aku menjauhkan wajahku dan tanganku yang bebas memegang lengannya. Mataku melotot dan sepenuh keyakinan kuucapkan, “Kak, kamu kenapa sih? Jangan begitu. Kumohon!”
Mendadak ekspresinya berubah, terkejut. “Maaf.. maafkan aku. Maafkan aku Ri.. aku sungguh.. bajingan!” ia terisak dan menundukkan kepala, “aku tahu aku gak pantas buatmu! Apalagi dengan kondisi sekarang ini. Aku benar-benar bajingan!” Ia mengangkat kakinya ke kursi dan menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya.
Aku benar-benar iba padanya. Tapi tak kuasa menyentuhnya sedikitpun, waspada akan seperti tadi. Aku berjalan meninggalkannya untuk mengambil segelas air. Lalu kembali dan menyerahkannya, “ini. minumlah kak.”
“Pergilah.” Katanya selesai meneguk air minum. “Pulanglah dulu. Aku takut menyakitimu lagi. Kumohon.”
Aku bimbang dan akhirnya menurutinya. “baiklah, aku pulang dulu. Kalau kakak butuh apa-apa, sms saja. Aku pamit, Sampai jumpa!”
Aku bergegas melangkah keluar dan menutup pintu apartemen kak Tyo. Tapi aku tak beranjak dari depan pintu itu. Kusentuhkan telapak tanganku di daun pintunya, mengusapnya pelan. Seakan pintu itu adalah wajah kak Tyo.
Mendadak pintu terbuka. Aku gelagapan dan cepat-cepat menurunkan tanganku, sementara yang dibalik pintu nampak terkejut dan memberhentikan ketergesahannya. Kami saling menatap. Aku tahu, ada rindu yang terlukiskan. Aku tau, ada banyak cerita yang ingin terkuak. Aku tau, ada rasa yang terjalin diantara kami.
Tanpa kusadari, tangannya mengambil pergelanganku dan menyeretku masuk. Segera ia tutup pintu apartemennya dan memeluk tubuhku rapat-rapat. Ah, kali ini kubiarkan saja. Aku juga merindukannya. Kubalas memeluknya dan dia pun mempereratnya. Lambat laun isaknya kembali lagi.
“Gila. Aku benar-benar sudah gila. Aku gila tanpamu. Izinkan aku untuk jadi bajingan kelas kakap hari ini saja. Kumohon, Ri. Tinggallah di sini malam ini. Aku akan tidur di sofa. Aku janji.” Pintanya penuh rasa iba di telingaku.
“Hmm, baiklah. Lagipula esok aku tidak ada kuliah. Tapi kakak harus janji, tidak berbuat macam-macam padaku. Bagaimana?”
Pemuda berkulit putih ini mangacungkan kelingkingnya, “ya. Aku janji.” Aku pun menyambut kait kelingkingnya.
---
31.08.2011
Rimie Ramadan is comeback!!
with old-storage-drafts story
hope you enjoy!!
8 April 2010
Tidak terasa empat tahun sudah aku tak berjumpa dengannya. Aku juga sudah berada di kota yang jauh. Bahkan berbeda pulau. Tapi bayangannya selalu tinggal di mataku. Entahlah, sangat sulit untuk dilupakan. Ah, iya. Aku menulis tepat di tanggal ini. Hari ulangtahun kak Tyo. Ah, bahkan aku masih ingat. Waktu kak Tyo menraktir semua anggota klub, dia meninggalkan kak Dara dan malah menghabiskan waktu denganku dan Nisa.
Ah, maaf. Aku baru kembali dari bawah. Tadi ibu kos bilang ada yang mengirim paket untukku. Sebentar yaa, kubuka paketnya dulu.
Sebuah tas berwarna hijau. Warna kesukaanku. Dengan beberapa kantung kecil di bagian luarnya. Juga model favoritku. Belum berhenti aku terkejut, di dalam tas itu terdapat sebuah boneka apel warna hijau dan memo yang sepaket dengan pulpen. Keduanya berwarna hijau. . Aku membuka-buka kantung lain di tas itu, banyak pula barang-barang lucu yang kutemukan.
Tapi, siapa yang mengirimnya? Ayah dan ibuku bukan orang yang suka memberi kejutan seperti ini. Saat aku mencoba membuka memo hijau tadi, aku menemukan pesan singkat di lembar paling depan.
“Hai, Ri. Apa kabar? Kuharap kamu sehat-sehat saja.Maaf, aku tau mungkin sudah lewat seminggu dari hari lahirmu saat kau menerimanya. Kuharap kau mau memaafkan. Hanya ini yang bisa kuberikan sebagai kado ulangtahunmu. Semoga kau senang. Aku sungguh merindukanmu.” –LT
Siapa “LT”? Aku sedikit merinding, namun kembali tersenyum saat menatap tas dan barang-barang lain itu. Yang mengirimkan ini pasti orang baik, batinku.
8 April 2011
Pagi ini, ketika hendak berangkat kuliah ibu kos memberiku sebuah surat berbungkus amplop biru. Ini sudah yang kesepuluh kalinya aku menerima surat sejenis. Bahkan ibu kos sampai hafal hanya dengan melihat warna dan tulisannya. Sampai sekarang aku belum tahu siapakah pengirimnya. Dia hanya memberi inisial LT pada setiap surat yang dikirimkan. Aku memasukkannya ke dalam tas. Berniat membacanya pada jam kosong kuliah nanti.
Dosen akhirnya mengakhiri kuliah membosankan itu. Aku berjalan ke sebuah taman dan mulai membaca surat itu. Isinya memintaku untuk datang ke suatu apartemen yang agak jauh dari kampusku. Ah, baiklah sepertinya orang ini hendak menunjukkan dirinya. Sepulang kuliah aku pergi ke alamat yang diberikannya. Penasaran juga seperti apa wajahnya.
Tak butuh waktu lama untuk menuju ke apartemen tersebut. Sekarang pintu apartemennya sudah berada di hadapanku. Kuberanikan diri untuk menekan bel di depan apartemennya. Agak lama, baru pintu itu terbuka. Kakiku membeku begitu menatap sosok di hadapanku. Wajahnya lusuh dan ditumbuhi jenggot tipis tak terawat, rambutnya gondrong berantakan, pipinya tirus dan tulang-tulangnya sungguh terlalu jelas. Tapi aku masih mengenalinya. LT, atau orang yang selalu memberiku hadiah, foto dan kata-kata penyemangat lewat amplop biru itu, tak lain dan bukan adalah kak Tyo. Pemuda kurus kering yang kini termenung tak percaya di hadapanku.
“Halo, kak Tyo.” Aku memutuskan membuka pembicaraan. Kak Tyo sedikit terkejut. “Boleh aku masuk?” Ia menganggukkan kepalanya. Aku pun melangkah masuk. Ia menutup pintu dan mengikutiku.
Kamarnya berantakan. Buku dan peralatan fotografi bercampur tak teratur di lantai. Hanya ada satu tempat tidur yang juga berantakan, dua sofa kecil yang beralih jadi tempat tas dan kamera, dan sebuah laptop yang menyala. Kulihat ia berusaha memindahkan barang-barang di atas sofa. Lalu mempersilakanku duduk di sana. Aku menurutinya, dan ia duduk di sebelahku. Rambutnya sedikit ia rapikan.
“Tidak kusangka, kamu akan datang secepat ini.” Ia memandangku tak fokus. Sedangkan aku terus memerhatikannya dari atas sampai bawah. Masih tak percaya dengan semua ini. Bahwa pria di depanku adalah kak Tyo, orang yang sangat melekat di otakku. Bahwa pria ini yang telah mengirim benda-benda itu.
“Kak, apa yang terjadi padamu?” aku memberanikan diri bertanya. “Maaf, kalau aku lancang. Tapi keadaanmu sungguh.. mengenaskan.” Aku menatapnya, mencari bola matanya. Tapi ia malah menunduk dan tubuhnya meluncur ke lantai. Ia merangkak menuju kakiku dan memeluk kaki kananku. “Kak, bolehkah aku sedikit merapikanmu?” tanyaku. Ia mendongak tak mengerti. Mandilah dulu dan keramasi rambutmu. Nanti aku akan memotongnya. Bagaimana?”
Kak Tyo mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi. Sementara itu aku merapikan kamarnya. Aku sedikit terkejut menemukan dua bingkai foto di meja kecil samping ranjang. Foto di sana adalah fotoku yang diambil ketika di museum Fatahillah dan saat wisudanya.
Selesai ia mandi, aku menyuruhnya duduk di sofa yang sudah kuhadapkan ke cermin. Sehelai selimut miliknya kulingkarkan melewati bagian depannya. Dan aku pun melancarkan aksiku untuk mendandaninya. Entah dapat ide darimana, aku mengembalikan gaya rambutnya ke masa SMP dulu. Aku juga mencukur jenggotnya agar terlihat lebih rapi.
Saat aku memegang dagunya, ia menahan tanganku. Tiba-tiba wajahnya mendekatiku, lalu bibirnya menyentuh pipiku. Seketika aku menjauhkan wajahku dan tanganku yang bebas memegang lengannya. Mataku melotot dan sepenuh keyakinan kuucapkan, “Kak, kamu kenapa sih? Jangan begitu. Kumohon!”
Mendadak ekspresinya berubah, terkejut. “Maaf.. maafkan aku. Maafkan aku Ri.. aku sungguh.. bajingan!” ia terisak dan menundukkan kepala, “aku tahu aku gak pantas buatmu! Apalagi dengan kondisi sekarang ini. Aku benar-benar bajingan!” Ia mengangkat kakinya ke kursi dan menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya.
Aku benar-benar iba padanya. Tapi tak kuasa menyentuhnya sedikitpun, waspada akan seperti tadi. Aku berjalan meninggalkannya untuk mengambil segelas air. Lalu kembali dan menyerahkannya, “ini. minumlah kak.”
“Pergilah.” Katanya selesai meneguk air minum. “Pulanglah dulu. Aku takut menyakitimu lagi. Kumohon.”
Aku bimbang dan akhirnya menurutinya. “baiklah, aku pulang dulu. Kalau kakak butuh apa-apa, sms saja. Aku pamit, Sampai jumpa!”
Aku bergegas melangkah keluar dan menutup pintu apartemen kak Tyo. Tapi aku tak beranjak dari depan pintu itu. Kusentuhkan telapak tanganku di daun pintunya, mengusapnya pelan. Seakan pintu itu adalah wajah kak Tyo.
Mendadak pintu terbuka. Aku gelagapan dan cepat-cepat menurunkan tanganku, sementara yang dibalik pintu nampak terkejut dan memberhentikan ketergesahannya. Kami saling menatap. Aku tahu, ada rindu yang terlukiskan. Aku tau, ada banyak cerita yang ingin terkuak. Aku tau, ada rasa yang terjalin diantara kami.
Tanpa kusadari, tangannya mengambil pergelanganku dan menyeretku masuk. Segera ia tutup pintu apartemennya dan memeluk tubuhku rapat-rapat. Ah, kali ini kubiarkan saja. Aku juga merindukannya. Kubalas memeluknya dan dia pun mempereratnya. Lambat laun isaknya kembali lagi.
“Gila. Aku benar-benar sudah gila. Aku gila tanpamu. Izinkan aku untuk jadi bajingan kelas kakap hari ini saja. Kumohon, Ri. Tinggallah di sini malam ini. Aku akan tidur di sofa. Aku janji.” Pintanya penuh rasa iba di telingaku.
“Hmm, baiklah. Lagipula esok aku tidak ada kuliah. Tapi kakak harus janji, tidak berbuat macam-macam padaku. Bagaimana?”
Pemuda berkulit putih ini mangacungkan kelingkingnya, “ya. Aku janji.” Aku pun menyambut kait kelingkingnya.
---
31.08.2011
Rimie Ramadan is comeback!!
with old-storage-drafts story
hope you enjoy!!
30 Agu 2011
Idul Fitri Ter(kacau+galau)
Terserah lo mau bilang tulisan gue ini menghukum atau apa. Yang jelas gue cuma mau mengungkapkan kekecewaan gue sama Kementerian Agama RI. Gue tahu ini bukan saat yang tepat karena mungkin ini semua akumulasi emosi gue pagi ini. Tapi yang jelas, di pagi yang seharusnya jadi berkah ini, gue dongkol setengah mati.
Tadi malem ada sidang itsbat yang disiarkan ke seluruh Indonesia. Gara-gara katanya hilal belum keliatan. Sidang itu berlangsung ramai, namun hanya keramaian untuk mendukung satu pihak, gue rasa. Segala bukti dan saksi yang diperoleh mayoritas menunjuk ke hari Rabu untuk 1 Syawal 1432 H. Dan minoritas saksi dan bukti dengan gampangnya ditolak begitu saja.
Please!! Dimana keadilan? Dimana yang katanya tenggang rasa? Dimana demokrasi?
Kayanya politik bahkan udah ikut campur urusan agama. Urusan akidah. Soalnya dari bukti dan saksi aja, udah ketahuan. Daerah-daerah yang dipilih sebagai lokasi pengamatan tuh 90 persen kuasa salah satu ormas yang menduduki mayoritas Kemenag RI. Sumpah gue gedek bangeeeet!!! Apalagi waktu debatnya itu. Sh*t banget. Masa begitu udah diputuskan sama Menteri Agama, ada sebuah argumen yang menunjuk bahwa hilal sudah terlihat disertai dalil-dalil yang gue rasa cukup kuat juga. Nah, terus ada satu orang lain ngacung buat ngelawan bantahannya itu. Terus beberapa orang lain, sekitar 2 atau 3, ikut ngacung. Tapi gue rasa argumennya Cuma nguatin si pembantah pertama.
Harapan gue agak menjulang begitu seorang pakar astronomi yang beberapa menit sebelumnya disiarkan khusus, unjuk tangan. Gue pikir, “Nah, gitu dong. Ada ilmuwannya. Ada yang beneran menguasai.” Tapi mungkin karena berusaha netral dan berdasar ilmu yang dipunya, nih orang malah seakan lemah berargumen. Dan muncul lagi bantahan dari orang sebelahnya, yang keliatan banget dari dandanannya nih orang berlatar belakang si ormas mayoritas. Sh*t.
Gue gak ngerti apa maksudnya si ormas mayoritas atau ormas-ormas lainnya. Maksudnya, apakah tujuannya politik semata atau “kesatuan umat”. Frase ini pun beberapa kali sempat muncul dalam adu argumen tersebut. Tapi lagi-lagi, kayanya ini penguasaan politik berkedok musyawarah.
Please dong!! Kesatuan umat yang diajarin ke gue dari jaman gue masih orok sampe sekarang tuh gak kaya gitu yaaa!!! Malu tau pak, sama anak-anak lo yang baru pada masuk TK Islam. Bisa-bisa besok tuh anak ngeraguin bapaknya beneran “ustad” apa “ustad KTP”.
“Perbedaan di antara kita memberi makna di kehidupan, sehingga dunia tetap berputar mengiringi zaman.. Tapi mengapa kita manusia tiada menyadari setiap perbedaan yang ada menjadi tragedi.” sebuah kutipan lagu “Satu Dalam Damai” yang dipopulerkan oleh Snada selalu membuat gue pege nangis. Karena kenyataan sekarang memang begitu.
Please Pak!! Kita sama-sama Islam, mbok ya gak usah ngotot gitu lah. Gak usah sampe puluhan orang ngacung Cuma buat manas-manasin. Semua punya dalil, semua bisa dibilang benar. Apa susahnya sih saling menghargai?? Cuma gegara syarat derajat hilalnya doang, kok repot? Tinggal disamakan beres kan?
Kenapa juga yang minoritas minta izin mengikuti keyakinannya, pake diketawain segala? Plis deh Pak Menteri, anda seharusnya di pihak netral, bukannya malah memimpin pengolokan?
Sedikit cerita. Kemarin bahkan ada tamu yang sedikit curhat ke ibu saya. “Ibu mah enak. Anak-anaknya udah pada gede. Udah bisa ngerti. Nah saya bingung mau ngejelasin ke anak saya yang baru lulus SD. Makanya ntar mau liat keputusan pemerintah dulu. Padahal saya biasanya ngikutin M, tapi kalo gak bisa jelasin ke anak, takutnya salah paham, ngambilnya yang enaknya aja. Gitu..”
Haduuh negeriku porak poranda. Mayoritas Islam, oke. Tapi, kok Islamnya pecah-pecah gini? Padahal Indonesia tuh kiblat kedua umat muslim lho. Masjidil haram aja berbagai macam solat masih menghargai kok.
Intinya semua keluhan ini tuh, kenapa mau nyatuin Islam aja susah? Kenapa harus pake dalil mayoritas? Selama itu ayat dan hadis masih shahih kan boleh aja diikutin. Kalo kitabnya/pedomannya jadi Tadzkirah tuh baru ngaco!!
Sekali lagi, tulisan ini bukan mau menjatuhkan salah satu ormas. Cuma keluhan seorang remaja muslimah yang limbung harus ngikutin nakhoda yang mana. Dan lagi selama bertahun-tahun kok Idul Fitri ini yang paling gak yakin ya rasanya? Apa perasaan gue doang? Huh.
“Dan ikutilah aku, khalifah-khalifah, dan pemimpin-pemimpinmu.” Kata Rasulullah begitu. Tapi kalo pemimpinnya aja terpecah-pecah kaya gini, ngikutin yang mana? Ya Rasul, di saat seperti ini aku benar-benar ingin engkau ada di sini. Ya Rasulullah Ya Habiballah aku rindu padamu..
Tadi malem ada sidang itsbat yang disiarkan ke seluruh Indonesia. Gara-gara katanya hilal belum keliatan. Sidang itu berlangsung ramai, namun hanya keramaian untuk mendukung satu pihak, gue rasa. Segala bukti dan saksi yang diperoleh mayoritas menunjuk ke hari Rabu untuk 1 Syawal 1432 H. Dan minoritas saksi dan bukti dengan gampangnya ditolak begitu saja.
Please!! Dimana keadilan? Dimana yang katanya tenggang rasa? Dimana demokrasi?
Kayanya politik bahkan udah ikut campur urusan agama. Urusan akidah. Soalnya dari bukti dan saksi aja, udah ketahuan. Daerah-daerah yang dipilih sebagai lokasi pengamatan tuh 90 persen kuasa salah satu ormas yang menduduki mayoritas Kemenag RI. Sumpah gue gedek bangeeeet!!! Apalagi waktu debatnya itu. Sh*t banget. Masa begitu udah diputuskan sama Menteri Agama, ada sebuah argumen yang menunjuk bahwa hilal sudah terlihat disertai dalil-dalil yang gue rasa cukup kuat juga. Nah, terus ada satu orang lain ngacung buat ngelawan bantahannya itu. Terus beberapa orang lain, sekitar 2 atau 3, ikut ngacung. Tapi gue rasa argumennya Cuma nguatin si pembantah pertama.
Harapan gue agak menjulang begitu seorang pakar astronomi yang beberapa menit sebelumnya disiarkan khusus, unjuk tangan. Gue pikir, “Nah, gitu dong. Ada ilmuwannya. Ada yang beneran menguasai.” Tapi mungkin karena berusaha netral dan berdasar ilmu yang dipunya, nih orang malah seakan lemah berargumen. Dan muncul lagi bantahan dari orang sebelahnya, yang keliatan banget dari dandanannya nih orang berlatar belakang si ormas mayoritas. Sh*t.
Gue gak ngerti apa maksudnya si ormas mayoritas atau ormas-ormas lainnya. Maksudnya, apakah tujuannya politik semata atau “kesatuan umat”. Frase ini pun beberapa kali sempat muncul dalam adu argumen tersebut. Tapi lagi-lagi, kayanya ini penguasaan politik berkedok musyawarah.
Please dong!! Kesatuan umat yang diajarin ke gue dari jaman gue masih orok sampe sekarang tuh gak kaya gitu yaaa!!! Malu tau pak, sama anak-anak lo yang baru pada masuk TK Islam. Bisa-bisa besok tuh anak ngeraguin bapaknya beneran “ustad” apa “ustad KTP”.
“Perbedaan di antara kita memberi makna di kehidupan, sehingga dunia tetap berputar mengiringi zaman.. Tapi mengapa kita manusia tiada menyadari setiap perbedaan yang ada menjadi tragedi.” sebuah kutipan lagu “Satu Dalam Damai” yang dipopulerkan oleh Snada selalu membuat gue pege nangis. Karena kenyataan sekarang memang begitu.
Please Pak!! Kita sama-sama Islam, mbok ya gak usah ngotot gitu lah. Gak usah sampe puluhan orang ngacung Cuma buat manas-manasin. Semua punya dalil, semua bisa dibilang benar. Apa susahnya sih saling menghargai?? Cuma gegara syarat derajat hilalnya doang, kok repot? Tinggal disamakan beres kan?
Kenapa juga yang minoritas minta izin mengikuti keyakinannya, pake diketawain segala? Plis deh Pak Menteri, anda seharusnya di pihak netral, bukannya malah memimpin pengolokan?
Sedikit cerita. Kemarin bahkan ada tamu yang sedikit curhat ke ibu saya. “Ibu mah enak. Anak-anaknya udah pada gede. Udah bisa ngerti. Nah saya bingung mau ngejelasin ke anak saya yang baru lulus SD. Makanya ntar mau liat keputusan pemerintah dulu. Padahal saya biasanya ngikutin M, tapi kalo gak bisa jelasin ke anak, takutnya salah paham, ngambilnya yang enaknya aja. Gitu..”
Haduuh negeriku porak poranda. Mayoritas Islam, oke. Tapi, kok Islamnya pecah-pecah gini? Padahal Indonesia tuh kiblat kedua umat muslim lho. Masjidil haram aja berbagai macam solat masih menghargai kok.
Intinya semua keluhan ini tuh, kenapa mau nyatuin Islam aja susah? Kenapa harus pake dalil mayoritas? Selama itu ayat dan hadis masih shahih kan boleh aja diikutin. Kalo kitabnya/pedomannya jadi Tadzkirah tuh baru ngaco!!
Sekali lagi, tulisan ini bukan mau menjatuhkan salah satu ormas. Cuma keluhan seorang remaja muslimah yang limbung harus ngikutin nakhoda yang mana. Dan lagi selama bertahun-tahun kok Idul Fitri ini yang paling gak yakin ya rasanya? Apa perasaan gue doang? Huh.
“Dan ikutilah aku, khalifah-khalifah, dan pemimpin-pemimpinmu.” Kata Rasulullah begitu. Tapi kalo pemimpinnya aja terpecah-pecah kaya gini, ngikutin yang mana? Ya Rasul, di saat seperti ini aku benar-benar ingin engkau ada di sini. Ya Rasulullah Ya Habiballah aku rindu padamu..
Label:
curhat
25 Agu 2011
Learn from Singapore(1)
"Ayo, ayoo 3 menit lhoo!!" dan Klik. Tercipta sebuah senyuman penuh semangat dari para peserta KKA 2011 ini. Inilah kami, siap mengambil ilmu dari negara tetangga demi masa depan bumi.
--
Dan perjalanan pun dimulai. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya kami menghalangi aktivitas pengunjung lainnya, kami berkumpul di Underpass bandara AdiSutjipto Yogyakarta. Berkerumun dengan berbagai macam posisi pada pukul 5 pagi. Menanti dengan penuh sabar. Bukan hanya perjalanannya, namun juga sarapan yang telah dijanjikan.
Pukul 6.30, panitia membagikan paspor serta seciprat kalimat pembuka perjalanan. Kemudian kami beruntun mengikuti panitia untuk check-in. Kami menjadi barisan yang mencolok dengan seragam almamater tercinta. Bagasi, Check-In, Imigrasi, dan take off. Oke, sebab keterlambatan pesawat kami tak jadi berfoto di depan pesawat Air Asia QZ 7138 yang menggendong kami menyebrang samudera.
19 Juli 2011 sekitar pukul 10 kami tiba di Singapura. Singapura memiliki waktu 1 jam lebih cepat dari WIB. Dan ini yang menjadi pertanyaan kami, karena secara garis bujur ia berada di wilayah yang sama dengan WIB.
Tour guide di sana bernama Pak Wang dan Pak Amin. Masing-masing nantinya ikut di dalam bis. Kami diantar untuk menyimpan bagasi terlebih dulu di bis sebelum mengelilingi terminal 1 dan 3 Bandara Internasional Changi.
Terminal 1 saja penataannya cukup nyaman. Apalagi dengan taman indoor namun aku ragu tanaman itu semuanya asli. Tapi cukup menyenangkanlah melihat hehijauan sana sini. Belum cukup lena dengan terminal 1, kami harus menuju terminal 3 menggunakan monorail. Kendaraan yang batal dijadikan alternatif transportasi di Jakarta. Dua lapis pintu monorail hanya terbuka beberapa menit. Jadi siapa cepat dia dapat, sesuai dengan pola aktivitas di negeri Merlion ini.
Terminal 3 Changi Int'l Airport
Tak lama keluar dari monorail, mata kami disuguhi suatu ruang luas yang dihiasi oleh sekumpulan kupu-kupu di atasnya. Bukan sungguhan, melainkan sebaris teknologi shading yang belum terjamah oleh pikiran kami. Belum lagi di sebelah kanan anda akan menjumpai tembok yang disulap jadi hutan mini dengan 10.000 tanaman yang ada di Singapura. Tembok itu dipercantik dengan sebuah air terjun buatan. Di sini kami juga menemukan box-box AC 3x3 meter yang cukup menyejukkan dan menghemat energi.
Tak hanya itu, suasana ruang tunggu sekaligus galerinya pun cukup atraktif. Pemandangan dari jendela langsung mengekspos pergerakan pesawat yang datang dan pergi. Tak banyak pengunjung ke terminal ini karena hanya penerbangan tertentu saja yang diatur di terminal ini. Kami termasuk yang beruntung dapat menikmati keindahannya.
Kami langsung beranjak menuju bis setelah sempat membeli SIMCARD Singapura yang harganya 18 atau 25 SGD di sebuah money changer. Dari sebuah Bandara Internasional yang cukup bikin iri sekaligus kagum, kami bertolak ke destinasi selanjutnya.
City Square Mall
Sebuah mall bertajuk Eco-Friendly dan pernah mendapat penghargaan Green Mark Platinum Award oleh the Building and Construction Authority (BCA). Adalah untuk makan siang selain tujuan utama sebuah kelompok yang meneliti objek Green satu ini. Perut lapar dan hanya mencerna makanan halal membawa kami ke The Banquet dan saya mencicip Bibimbap (semacam nasi pecel khas Korea). Jujur saya agak kecewa karena bumbunya kurang nendang. Setelah makan, kami berpencar sesuai tujuan masing-masing. Aku berkelompok dengan Uti, Riska dan Bubos hanya berkeliling mencuci mata.
Dan akhirnya menghabiskan waktu bersantai dengan segelas Jus Dragon Fruit yang penjualnya susah diajak kompromi dan pelit senyum (dan ternyata memang orang Singapura sebagian besar begitu). Difotoin sama bapak2 di meja sebelah pula setelah aku iseng ber-self timer.
Ah, ternyata peristiwa agak mengenaskan terjadi. Kami ber4 dan beberapa lainnya nyaris ditinggal karena miskomunikasi. Sudahlah, lupakan edisi pengejaran dari city square mall hingga ke masjid depan mustafa itu!!
Fragrance Hotel-Pearl
Dimana kamu tinggal? Fragrance Hotel, pak. Fragrance yang mana? Aduh, yang mana ya, lupa pak.
Hati-hati dalam mengingat nama Fragrance Hotel di Singapura. Karena nama Fragrance Hotel banyak dijumpai. Fragrance Hotel-Pearl, lorong 14 Geylang. Salah-salah, kamu dibawa ke Fragrance Hotel yang di Telok Blangah. Hayah kono!!
Fragrance Hotel-Pearl terletak di kawasan Geylang. Kawasan yang terkenal akan prostitusi semacam Sarkem. Suasana malam lebih semarak ketimbang siang di daerah ini. Berjajar aneka tempat makan juga yang bisa dicicipi. Tapi yang halal bisa dibilang langka. Kami mampir di salah satu warung India agar aman, bernama Bilal restaurant yang mencantumkan halal di posternya.
Dan malam yang semakin larut mulai menyeret kami agar segera bersandar di bantal-bantal empuk. Hemm, selamat malam!!
---
25.08.2011
Ria R. Ramadan
photos CR: eka, uti dan saya sendiri
Wish your trip also be good!!
--
Dan perjalanan pun dimulai. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya kami menghalangi aktivitas pengunjung lainnya, kami berkumpul di Underpass bandara AdiSutjipto Yogyakarta. Berkerumun dengan berbagai macam posisi pada pukul 5 pagi. Menanti dengan penuh sabar. Bukan hanya perjalanannya, namun juga sarapan yang telah dijanjikan.
Pukul 6.30, panitia membagikan paspor serta seciprat kalimat pembuka perjalanan. Kemudian kami beruntun mengikuti panitia untuk check-in. Kami menjadi barisan yang mencolok dengan seragam almamater tercinta. Bagasi, Check-In, Imigrasi, dan take off. Oke, sebab keterlambatan pesawat kami tak jadi berfoto di depan pesawat Air Asia QZ 7138 yang menggendong kami menyebrang samudera.
19 Juli 2011 sekitar pukul 10 kami tiba di Singapura. Singapura memiliki waktu 1 jam lebih cepat dari WIB. Dan ini yang menjadi pertanyaan kami, karena secara garis bujur ia berada di wilayah yang sama dengan WIB.
Tour guide di sana bernama Pak Wang dan Pak Amin. Masing-masing nantinya ikut di dalam bis. Kami diantar untuk menyimpan bagasi terlebih dulu di bis sebelum mengelilingi terminal 1 dan 3 Bandara Internasional Changi.
Terminal 1 saja penataannya cukup nyaman. Apalagi dengan taman indoor namun aku ragu tanaman itu semuanya asli. Tapi cukup menyenangkanlah melihat hehijauan sana sini. Belum cukup lena dengan terminal 1, kami harus menuju terminal 3 menggunakan monorail. Kendaraan yang batal dijadikan alternatif transportasi di Jakarta. Dua lapis pintu monorail hanya terbuka beberapa menit. Jadi siapa cepat dia dapat, sesuai dengan pola aktivitas di negeri Merlion ini.
Terminal 3 Changi Int'l Airport
Tak lama keluar dari monorail, mata kami disuguhi suatu ruang luas yang dihiasi oleh sekumpulan kupu-kupu di atasnya. Bukan sungguhan, melainkan sebaris teknologi shading yang belum terjamah oleh pikiran kami. Belum lagi di sebelah kanan anda akan menjumpai tembok yang disulap jadi hutan mini dengan 10.000 tanaman yang ada di Singapura. Tembok itu dipercantik dengan sebuah air terjun buatan. Di sini kami juga menemukan box-box AC 3x3 meter yang cukup menyejukkan dan menghemat energi.
Tak hanya itu, suasana ruang tunggu sekaligus galerinya pun cukup atraktif. Pemandangan dari jendela langsung mengekspos pergerakan pesawat yang datang dan pergi. Tak banyak pengunjung ke terminal ini karena hanya penerbangan tertentu saja yang diatur di terminal ini. Kami termasuk yang beruntung dapat menikmati keindahannya.
Kami langsung beranjak menuju bis setelah sempat membeli SIMCARD Singapura yang harganya 18 atau 25 SGD di sebuah money changer. Dari sebuah Bandara Internasional yang cukup bikin iri sekaligus kagum, kami bertolak ke destinasi selanjutnya.
City Square Mall
Sebuah mall bertajuk Eco-Friendly dan pernah mendapat penghargaan Green Mark Platinum Award oleh the Building and Construction Authority (BCA). Adalah untuk makan siang selain tujuan utama sebuah kelompok yang meneliti objek Green satu ini. Perut lapar dan hanya mencerna makanan halal membawa kami ke The Banquet dan saya mencicip Bibimbap (semacam nasi pecel khas Korea). Jujur saya agak kecewa karena bumbunya kurang nendang. Setelah makan, kami berpencar sesuai tujuan masing-masing. Aku berkelompok dengan Uti, Riska dan Bubos hanya berkeliling mencuci mata.
Dan akhirnya menghabiskan waktu bersantai dengan segelas Jus Dragon Fruit yang penjualnya susah diajak kompromi dan pelit senyum (dan ternyata memang orang Singapura sebagian besar begitu). Difotoin sama bapak2 di meja sebelah pula setelah aku iseng ber-self timer.
Ah, ternyata peristiwa agak mengenaskan terjadi. Kami ber4 dan beberapa lainnya nyaris ditinggal karena miskomunikasi. Sudahlah, lupakan edisi pengejaran dari city square mall hingga ke masjid depan mustafa itu!!
Fragrance Hotel-Pearl
Dimana kamu tinggal? Fragrance Hotel, pak. Fragrance yang mana? Aduh, yang mana ya, lupa pak.
Hati-hati dalam mengingat nama Fragrance Hotel di Singapura. Karena nama Fragrance Hotel banyak dijumpai. Fragrance Hotel-Pearl, lorong 14 Geylang. Salah-salah, kamu dibawa ke Fragrance Hotel yang di Telok Blangah. Hayah kono!!
Fragrance Hotel-Pearl terletak di kawasan Geylang. Kawasan yang terkenal akan prostitusi semacam Sarkem. Suasana malam lebih semarak ketimbang siang di daerah ini. Berjajar aneka tempat makan juga yang bisa dicicipi. Tapi yang halal bisa dibilang langka. Kami mampir di salah satu warung India agar aman, bernama Bilal restaurant yang mencantumkan halal di posternya.
Dan malam yang semakin larut mulai menyeret kami agar segera bersandar di bantal-bantal empuk. Hemm, selamat malam!!
---
25.08.2011
Ria R. Ramadan
photos CR: eka, uti dan saya sendiri
Wish your trip also be good!!
Tangerang Gituu
Tangerang dengan kemetropolisannya menyambutku dengan aneka nostalgia masa remaja. Even I'm still teens, the last teen. Direncanakan sebagai kota metropolis sekunder segalanya terasa lebih mudah meski keaslian adat budayanya sudah melebur bersama limbah kendaraan bermerek. Dan beberapa waktu lalu, sungguh menjadi pikiranku untuk menggali kembali adat dan budaya masyarakat asli Tangerang. Dipadukan dengan sentuhan teknologi. Jadi akan tercipta semacam Tamanpintar, yang satu kompleks dengan Taman Budaya Yogyakarta dan pusat jendela dunia, Shopping Book Market.
Apalagi sekarang di kawasan Gading Serpong telah berdiri kampus UMN dan sekelilingnya menjadi kawasan terpadu. Sepertinya layak dicoba apabila ada pendukung dan dana, serta perencanaan yang matang. Untuk sementara ini hanya wacana saja. Jika ada yang mau mengembangkan, mohon komentar di blog ini. Terimakasih.
Apalagi sekarang di kawasan Gading Serpong telah berdiri kampus UMN dan sekelilingnya menjadi kawasan terpadu. Sepertinya layak dicoba apabila ada pendukung dan dana, serta perencanaan yang matang. Untuk sementara ini hanya wacana saja. Jika ada yang mau mengembangkan, mohon komentar di blog ini. Terimakasih.
Label:
curhat
18 Agu 2011
Your Existence
You're not special, I know
Just one of a kind, you showed
and there's no important when i met you
Never had any wonder we can go this far
A)But your voice (your voice)
Seems a healing one for me
The way you caress me (caress me)
That made me so comfort along with you
B)And your eyes (your eyes)
never thought it would see my heart
see me through (see me through)
Then get a place inside, oh you
I've been having a lot of romance scenes
But no one seems like this
I am obviously running into you
Can't believe that
now I've fallen in love with you
*repeat A, B,
Hoping someday
We complete each other's piece
to build many more stories
and forever
til the day has come
we treasure our lives together
---
18.08.2011
Rimie Ramadan
dedicated to somebody,
"I know you will read it even you wouldn't understand"
the pieces of hope he given me these days
thank you for read and sing together!! (this is a song, you know)
Just one of a kind, you showed
and there's no important when i met you
Never had any wonder we can go this far
A)But your voice (your voice)
Seems a healing one for me
The way you caress me (caress me)
That made me so comfort along with you
B)And your eyes (your eyes)
never thought it would see my heart
see me through (see me through)
Then get a place inside, oh you
I've been having a lot of romance scenes
But no one seems like this
I am obviously running into you
Can't believe that
now I've fallen in love with you
*repeat A, B,
Hoping someday
We complete each other's piece
to build many more stories
and forever
til the day has come
we treasure our lives together
---
18.08.2011
Rimie Ramadan
dedicated to somebody,
"I know you will read it even you wouldn't understand"
the pieces of hope he given me these days
thank you for read and sing together!! (this is a song, you know)
16 Agu 2011
17
berkorban darah tiada lelah
lengan kekar dengan baju dilinting
gagah berani mengusung bambu runcing
ingatkah kau kala seorang
berkorban tanpa kenal kata pamrih
tak peduli berapa keringat yang terperas
demi melindungi ribuan jiwa yang tertindas
ia yang berlari
tergopoh-gopoh bersembunyi
hanya dalam hitungan jari
bayangannya menghilang lewat pintu belakang
seakan ia buronan
padahal ia pahlawan
dan ketika sosoknya yang tegar dan radikal
terdeteksi memeluk dahan apikal
di antara daun-daun dan buah kelapa nan segar
dan akhirnya, CTAAR!!
Seketika darahnya memancar
menyedot kesadarannya
menumbuhkan rasa penghargaan kepada sosoknya
dan menghantarkan jiwanya
ke haribaan Sang Pencipta
Ya Allah, inilah seorang pamanku
satu dari berjuta pemuda
yang merelakan jiwanya demi Indonesia
semoga Engkau meridhai keikhlasan beliau
dalam menghabiskan masa mudanya
demi keluarga dan kemerdekaan bangsa
----
16.08.2011
Rimie Ramadan
also posted in abdulkaharfamily.blogspot.com
"Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya"
Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
lengan kekar dengan baju dilinting
gagah berani mengusung bambu runcing
ingatkah kau kala seorang
berkorban tanpa kenal kata pamrih
tak peduli berapa keringat yang terperas
demi melindungi ribuan jiwa yang tertindas
ia yang berlari
tergopoh-gopoh bersembunyi
hanya dalam hitungan jari
bayangannya menghilang lewat pintu belakang
seakan ia buronan
padahal ia pahlawan
dan ketika sosoknya yang tegar dan radikal
terdeteksi memeluk dahan apikal
di antara daun-daun dan buah kelapa nan segar
dan akhirnya, CTAAR!!
Seketika darahnya memancar
menyedot kesadarannya
menumbuhkan rasa penghargaan kepada sosoknya
dan menghantarkan jiwanya
ke haribaan Sang Pencipta
Ya Allah, inilah seorang pamanku
satu dari berjuta pemuda
yang merelakan jiwanya demi Indonesia
semoga Engkau meridhai keikhlasan beliau
dalam menghabiskan masa mudanya
demi keluarga dan kemerdekaan bangsa
----
16.08.2011
Rimie Ramadan
also posted in abdulkaharfamily.blogspot.com
"Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya"
Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
Label:
poem
Langganan:
Postingan (Atom)
