21 Jan 2018

Lelah

Kau terbiasa menyendiri
Marah pun sendiri
Di saat yang lain berkumpul
Kau berkemul
Dalam kamar terkurung

Bagaimana aku tahu
Kapan sedihmu
Kecewamu
Sukamu

Terlebih
ada waktu yang hilang
yang tak kutahu kau alami
sidang terberat dalam hidupmu

Kini
Kau luapkan semua
Emosi
Dalam setiap media

Kau meraung
Mengumbar pada dunia
Emosi yang seharusnya
Kau tutup rapat
Kau bicarakan baik-baik

Menyebar aib dan cela
Bahkan aibmu sendiri
Menjadi figur terbuka
dengan cara yang keliru

Lagi
Kauperdebatkan agama
Kau remehkan
dengan dalih belum waktunya

Siapa yang tahu akan waktu?
Siapa yang menilai kepantasan?
Pantas itu ada pada diri kita sendiri
Pantas itu berawal dari mata siapa yang kita
inginkan memandang kita

Orang sekitar hanya menjadi pengingat
Hanya mata tertinggi yang berhak menilai
Dia yang sejatiNya pemilik dirimu dari ujung rambut hingga kaki
dari jasadmu, ruhmu, nuranimu

--
Entah kapan dan dimana

11 Jan 2018

White Canvas

is not always
white


I'm not sure what I have to write
Again, I'm wondering if
any idea could fly into this bundle of cellulose

I was rereading my own fiction
Which I had created seven years ago
When I was blinded and just moved within times
But nothing was prepared for the future

There I'd been living in the present
Now I'm taking my reward--late for work chances

Knowing my Toastmasters allies
They are all bright persons
I'm feeling down
They've reached what they wanted
in such a young age

I'm fixing myself
Tempted to get my own business
But seeing them.. uff

Should have been motivated
Yet I am feeling more down

But then
Here in my workplace
I found persons which needs an elevator
to lift them up
to gain knowledge
Though they also have superiority

I am jealous
Even my little sister hates me often
I feel unaccepted
But I want to reach a meaning
for my life in this world
despite the one main order from Allah

---

Now I feel a bit better after writing it.
Since it's been very long to write something like this publicly
And I wanna gain my courage to let this burden go
I wanna be in a positive charge again. Tho still much to go.


Rimie or Ria, whatever.
Loista, 11 Jan 2018

4 Jan 2018

Tentang Hatta

Hatta lalu bertanya padaku, "Apa yang buatmu lebih bahagia selain keberadaanku di hadapmu?" Akan kujawab, "Semesta pun tahu. Sempurna bahagiaku adalah melihatmu memeluk ibumu di waktu fajar." Agnia kepada Hatta.

"Oh tidak, Agnia. Kumohon selain itu." Hatta terhenti. Wajah dan kepalanya tertekuk. "Jika kaumintakan padaku untuk berlibur ke Hawaii, akan kupenuhi. Tapi tidak untuk satu itu."

Memang berat baginya, kutahu. Sementara sang ibu mengais-ngais kedatangan anaknya, ia sendiri yang menanam kebencian di dalam diri Hatta.

Limit of Uncertainty

Hello. 2017 been unpredictable. I went through a new world called career. And roller coaster of society. And here we're arrived at the 4th day of 2018. Not a too late to say Happy New Year, eh?

New Year. Hey Self, do u expect for a new one? Well my own resolution this year is just be healthy, quickly adjusting to what i'm doing, and find a new name to be kept in Allah's hand. That's it.

A year of uncertain feeling has passed, leaving me with a degradation of pink world. I don't wanna think seriously about love right now. Kind of bored and tired. Meanwhile Mom is in the other side of mine. She's greedily matchmaking me with many people. Which I told her already that I'm tired. Give me a space, please!

I conclude all those guilty year of love by one decision. Now, if I interested in someone, simply spell his name when praying. If he's not then bye.

Ok now I lost my words. See ya next time.

25 Okt 2017

I'm Not Ready

I spread my wings every morning
Let my breath make a fog
upon a mirror who might thinking
This girl has her self talk

Like a hanging bird in a tick-tock-koo
Tryin' to fly free but is tied through
No, I'm not ready yet

No, I'm not ready yet to let anyone in
There's none inside
But don't dare to steppin'

I let my hearts to take my love out
Shared into many friends and scouts
and to many different range of humans




4 Mei 2017

Apa itu cinta?

Apa itu cinta?
Kembali kutanya, "Apa itu cinta?"
Ucapkan padaku, "Apa itu cinta?"

Manakah yang lebih dulu
Allah menitipkan cinta kepada individu hambaNya
Lalu sebagian cinta itu dibagikan kepada sekitar

Apa itu cinta?
Apakah bentuk pengabdian seorang ibu untuk sang anak
Atau bentuk pengabdian seorang hamba kepada penciptaNya

Dan pada cinta yang tak sedarah
Apakah yang melandasi kecintaan itu?
Bila ia bukan bagian dari darah dan daging
Maupun tulang belulang yang diwarisi

Apakah cinta yang digantung sepenuhnya kepada Allah
dapat mengalahkan hakikat cinta kepada makhlukNya?
Cinta yang diserahkan sepenuhnya
Habis dan tak bersisa

Namun pada ajaran agama
Kesempurnaan setengahnya terletak
Pada pertemuan dua insan
Yang membangun kehidupan baru
Dengan modal saling percaya dan mau menerima
Karena keduanya sama-sama makhluk tak berdaya
yang diberi seciprat kelebihan dan kekurangan tak terhingga

Ketika kau pun menyerah perihal cinta
Sampai ke titik kau tak menginginkannya
Menganggap semua sekedar rupa yang sama
Relasi yang tak lebih dari jabat tangan
Apakah itu dosa?

Semua tertawa gembira
Menyambut belahan hatinya
Tapi aku sekedar jumawa
Tak lagi menginginkan bahagia itu
untukku

Hampir
Aku sampai di titik nadir
Hampir
Aku tak ingin bahagia cinta


---
Jakarta, 04.05.2017
Rimie Ramadan

25 Apr 2017

Gulir-gulir Syukur

Untung saja bertamu
Bukan pada Kursi beludru
Untung saja menyapa

Bukan pada juntaian kristal


24.04.2017
Rimie Ramadan

21 Apr 2017

Berlian di Pangkuan

Ceracar surya
Berselimut topeng kasta
Lidah terlatih bergoyang
Memroduksi gula-gula 
Demi berlian di pangkuan

---
21.04.2017
Rimie Ramadan

*to be published in @estetikata too

14 Feb 2017

Belajar Haiku

The cloudy sunrise
Peeks behind the windows shade
As the wheels running

Beyond the pine trees
Hidden some magical twist
Swirling fireflies



Menjenguk pagi
Usai didera hujan
Redamkan jiwa

Hirup udara
Hembus, mencipta embun
di tepi jendela

Rimie Ramadan
14.02.2017

23 Jan 2017

Saat Solat Menjadi Obat

Lelah menggerogoti
Akalku tak jua mengerti
                                   Tanya
Mengapa aku sendiri
Alis mataku merendah
Nyaris jatuh kantung di mata
                                   Seketika
Nurani berbisik
Kau bisa sembunyi sebentar
Di balik jubahNya
                                   Sujudlah
Ciumlah titik ketakwaan
di atas hampar sajadah
Perlindungannya utama

Lapis Bawang Merah

Hidup memang gak segampang yang kaupikirkan.

Tapi gak juga harus menyakiti diri sendiri kan?

Me, myself, throwing myself in a crocodile cage right now.

Nobody look at me as human. I'm no longer myself.

Seperti kehilangan nafas disini. Seperti nyawaku ingin segera pergi.

Belajar lagi dari nol. Kosongkan pikiranmu, nasehat ayah.

Namun berkali kucoba, tetap tak bisa.

Terbiasa otak kanan, lalu dipaksa terjun ke otak kiri. Nge-hang.

Sarjana apakah label saja.

17 Nov 2016

Si Pengangguran

dan bila
hanya wajah sendu yang melulu kutanam
di ladang rasa takut dan kecut
dengan alibi orang tua dan ridhonya

kapan kau akan melangkah
mencuatkan apa yang kau sebut jati diri
katanya, aku diberi kebebasan setelah lulus
katanya, aku terserah mau berbuat apa
katanya, segalanya boleh kau raih

tapi kebebasan itu pun bertanggal kedaluwarsa
apa yang disebut terserah hanya kepatuhan terhadap waktu
nyawamu adalah batas, umurmu pun terbatas

Tampar saja terus
Tapi kau masih setia dengan tempurungmu
Bercokol tanpa kesadaran
Bukan lagi mahasiswa
Tidak sedang bekerja
Pengangguran

Anggur itu mahal, tapi ketika ditambah imbuhan pe-an, seketika berubah 180 derajat

31 Okt 2016

Nothing

More than u can do

11 Okt 2016

Melati di padang padi

Aku mendengar kicaumu tentang melati di padang padi.
Tak lepas kaupandang, horizon sekejap mengabu.
Jejakku di sini, harumnya mengusap hati.

RIP Moink

*let me consider talking with her for a while*

Hey, Moink! It's kinda hard to hear that you've gone to His heaven today. But sure, you'll be happier there with your children. Make sure we'll meet again, okay?

Well, you're one of my savior. One of my precious. One and only living connection between me and him. Now that you've gone, it marks that me and him has only friendship. It's relieving, at least.

But to turn back time, you are the best. We named you after the brand for our milk delivery business, whom i created. We brought you from Imogiri when you're about 3 months. By the carton and some vents for you to breathe. We trained you to be active and then you caught three mice in the neighborhood. Now you've been a mother for countless times. And even when you're going, you carry them in your womb, next to heaven.

I thought you're the only cat i ever loved. I touch you, be naughty at you, but you struggle for it. The moment i pray and you came between my legs, lol. That sure is old.

Jalgayo nae chingu!

29 Sep 2016

Diam

Diam adalah ruang

Ruangku berteriak
Ruangku mengamuk
Ruangku mencaci

Ruangku menangis
Ruangku menerawang

Ruangku gempita
Ruangku bersuka



Aku meredam ekspresi


Aku diam




berpuisi

---
Rimie Ramadan
29.09.2016
Yogyakarta

15 Sep 2016

Kegagalan paham

Warning: posting ini lagi-lagi berisi curhatan sampah yang aku lagi bingung mau buang dimana. Jadi kalau pembaca merasa jijik, mohon segera tinggalkan laman ini. Ttd, Rimie


Aku galau.

Yap. Aku gak merasa ragu untuk berkata aku galau.
 Galau kenapa? Krisis identitas, jelas!

Walaupun gak cuma aku pastinya yang ngalamin ini.

Tahu gak, sebab apa?

Entah kenapa aku kembali kasmaran dengan arsitektur. Di saat aku hampir putuskan berpaling meninggalkannya. Oh my goodness!

Menggali arsitektur itu menarik. Menemukan desain yang membuat pipi merah, tanpa memedulikan biayanya.

Ah, rasanya seperti terlambat jatuh cinta! Menemukannya justru saat mengerjakan Tugas Akhir orang lain. Well, sebenarnya punyaku juga sedikit menarik, sayangnya goresanku baru agak lumayan bagus nya sekarang. Hiks.

Aku jadi bingung banget men. Apa selama ini cuma gegara nge-deal Pra TA dengan Mr.Y yang super lama, lantas aku mencaci, memaki, mengambinghitamkan, dan menutup mata dari arsitektur secara menyeluruh? Padahal mungkin, aku memang menyimpan cinta sejati kepadanya. Mungkin.

Ri, Mie, lo refleksi diri deh. Apakah cinta datang terlambat?

Ataukah ada sisi yang belom bisa lo lupakan dari sang "mantan" (in this case: architecture)?

Atau sebenernya lo pengen mengarah ke jurnal arsitektur? Kan lulusan arsitek gak melulu soal berkutat di ranah lapangan/perencanaan? See Imelda Akmal.

Atau lo jadi pembuat biografi dan mengulas arsitek/profil bangunan di dunia secara mendetail dalam Bahasa? Bisa juga!

Lingkup sarjana arsitektur itu masih general. Lo justru bisa manfaatin ke-general-an itu kan? Ibarat lo ngerjain lagi beberapa mata kuliah tapi diseriusin. Hehehe.. Siapa tahu jadi semacam ensiklopedi atau rujukan bagi mahasiswa lainnya.

Well, di sisi lain, tetep coba lamar kerja ke lembaga bergengsi seperti yang ortu lo mau. Ya kan?


Tetep aja sih, balik ke kalimat pertama. Gue masih galau.

5 Sep 2016

Kemuning dari Merapi (3)

"Bakpao, bakpao! Masih hangat!"

Karina mengernyit. Dialihkannya pandang secepat kilat ke luar kios. Sepeda beretalase penuh kepulan uap itu muncul dari bingkai pintu. Kernyitnya mengendur. "Huft, syukurlah!"

Gadis itu kembali sibuk dengan ponselnya.

Tok! Tok! Tok! "Hallooooouuu, Mbak-pao Karina yang cuantiiikk! Kangen gak sama aku??" seorang gadis berperawakan kurus berwajah manis muncul di depan meja etalase.

"Ning! Jangan panggil 'bakpao' lagi kenapa sih?" protes Karina. "Eniwei, kamu lama banget deh. Kemana aja?"

"Sori Rin. Tadi aku dapat telpon dari bapak. Jadi aku lama di kampus." jawab Kemuning sembari melucuti atribut bermotornya. Di saat yang sama, Karina berkemas untuk pulang.

"Tumben bapakmu nelpon. Ada apa e, Ning? Kamu mau dijodohin po? Hihii.." Goda Karina sambil memoleskan pemerah bibir di wajah bundarnya.

"Enggak yo, aku disuruh pulang malam ini. Kata bapak, ada tamu datang dari Jakarta."

Karina hanya mengangguk dan memasukkan kembali 'alat tempur wajah'. Kecepatannya berkemas meningkat ganda. "Garda hampir sampai. Kutitip kios sama kamu ya." pesannya. "Oh ya, jangan pulang larut. Sewon-Merapi lumayan lho!"

-- bersambung --
Rimie Ramadan
05.09.2016

15 Agu 2016

Debar dan Ke-random-an Pra wisuda

Hanya seminggu, sekejap lagi. Semua resmi selesai.

Dan harus mulai lagi.

Curi start? Kucoba. Tapi memang berat bila pekerjaan yang diambil tak sesuai gairah (passion, rim.) Terlebih jika telah tersepakati. 

Apa yang kamu mau? Apa yang kamu butuhkan? Apa yang kamu anut?

Lama tak baca buku, otak koma.

Sekarang, preparing tiga hal sekaligus; pembukaan kembali Omah Teko guest house, Middy Architecture, kuliner Ayam Panas. 

Malah kadang jadi bingung sendiri. 

Aku bagai bendungan bocor. Mengalir deras, menelusur berbagai kemungkinan untuk jatuh dan memecah, hanya untuk menuju satu samudera. Berawal dari sesuatu yang ditahan dan dijaga untuk waktu yang lama.
Bagai kepompong yang mengelupas. Memamerkan kemolekan sayap dan kebolehannya untuk menjelajah intra-atmosfer bumi.

Aku berpendar. Jika bukan kerana surya-Nya, aku tak pernah berkelip. Tak akan membercak kesan pada hati insan. Aku coba berbagi, dan berterimakasih dengan caraku. Dengan pendar ini.

Rimie. Mi, apalagi sih yang kamu cari? jika semua kenyamanan ini pun kamu persalahkan? jika semua hal yang ingin kaucoba terhalang bayangan seram? Kamu dilanda krisis ya?

Mi, coba lihat ke cermin. Periksa dulu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Terawang ke dalam otak dan juga hati. Apakah keduanya tertaut? Bagaimana lengan dan kakimu? Kemana meraih? Kemana melangkah?

Saat yang lain telah teguh berdiri, menandai tempatnya. Aku baru akan melangkah, menjelajah. Tapi bukan berarti aku kalah. Amerigo Vespucci, Christopher Columbus, Muhammad SAW dan Ibnu Batuttah tidak berangkat dalam waktu yang sama. Namun ada benua yang sama mereka pernah singgahi, ada pula yang mungkin terlewat. 
Yup, setiap nahkoda punya kapal dan awak sendiri. Juga rute masing-masing. Kamu terlambat, mungkin karena kamu lewat jalur berbeda.

Huft, jika bingung, buka pedoman hidupmu. Telusuri jejak teladanmu.

-dan akhirnya Rimie mengaku galau-

26 Jul 2016

Henti dan Rindu

Seketika semua berhenti.
Seketika semua kurindu.

Aku rindu padamu. Aku rindu, setelah waktu-waktu yang tercuri. Aku rindu, menatap dan mulai menarikan jemariku di atasmu. Menjadi yang terbaca di hadapmu kini.

Seketika semua tugas akhir resmi selesai. Seketika euforia sidang menghempas, puasa, dan lebaran pun larut dalam suka. Lalu sekarang, rasanya semua hilang. Rasanya kosong, lega bercampur pengap. Persahabatan yang terjalin, kawan lama yang menyapa, guratan sepi yang ingin dibuang.

Rindu, rindu kepada ia, sahabat yang tinggal hitungan jam akan berpindah ke negeri tetangga. Sahabat yang belum sempat bertatap muka karena kesibukan fana. Rindu, rindu yang menyesakkan.

Rindu, rindu kepada ia, sahabat yang masih di negeri yang sama, namun tak jua jumpa. Lagi-lagi kesempatan belum rela. Rindu, rindu yang menyesakkan.

Dan sudah lima jam sejak kudapatkan pekerjaan sementara. Dari ibu dosen yang mulia. Untuk mengisi kekosongan diantara wisuda. Sembari menyiapkan untuk pembukaan penginapan lagi.

Daun pun gugur demi kebaikan sang pohon. Burung pun terbang jauh demi mencari pakan sang anak. Namun mereka tak pernah berhenti berusaha. Karena itulah bentuk terimakasih mereka kepada Sang Pemberi Hidup.

"Maka selesainya engkau dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain." - Al Qur'aanul Kariim