Somehow, yeah somehow, I threw back while hearing the song.
But somehow, it brought a different feeling on me.
You know, he was the only boyfriend i had. And when I end it up, I give it all to him. I sincerely pray for him to meet a destined beauty that match him. He found not long after, meanwhile I keep myself single. I was happy, sincerely. Yes, to be honest even before we started dating, I have a brotherly friendship with him. And it lasts when we end it.
And that day comes, the wife (yes, legal wife) suddenly messaged me. Just because i repost the news about M* the cat died. I was angry, because I assumed it as my baby. And in fact, I also invested money on buying it. Super angry, she never know and he never tell her as well about the investment. Meanwhile I didn't know what should i do. I was fucked up.
I know she was jealous. But I hate it if I was even forbidden to show it. I hate them both right now. But since I was a masochist, i did nothing.
"Bahagiamu semoga menjadi bahagiaku.."
Sorry bunda Helvy if i ruined this beautiful song. But what if the released happiness suddenly become hate?
-R-
31 Okt 2018
27 Sep 2018
Postingan ke 200
Selamat sudah sampai posting ke dua ratus.
Bukan saya tipikal orang merayakan sesuatu, kecuali dengan keparadoksan.
Saya merayakan dalam kesedihan. Saya merayakan dalam kehilangan. Saya merayakan dalam kekosongan. Saya dan semua yang saya lukai.
Rasanya stok keberuntungan saya sudah lagi habis. Tidak tersisa.
Ini kantor pertamaku. Ini pekerjaan resmi pertama yang kupunya. Yang bukan dengan bantuan siapa-siapa kecuali keinginanku sendiri. Tetapi, giliran aku deal pertama, kenapa bertepatan semua manager di lay off kan?
Aku tidak tahan lagi. Aku ingin pindah.
Di saat bersamaan, Om Ikhsan jatuh sakit. Hatiku sedikit terseret ke Omah Teko. Belumlah beres hati tergerus, ada lagi cobaan. Tapi jika kupandang dari sudut lain, seperti Allah memberiku tanda. Aku dipersilakan memilih. Kembali ke Jogja atau stay di Jabodetabek. Aku, inginnya kembali. Tapi babeh menghendaki cpns. -_-
Bukan saya tipikal orang merayakan sesuatu, kecuali dengan keparadoksan.
Saya merayakan dalam kesedihan. Saya merayakan dalam kehilangan. Saya merayakan dalam kekosongan. Saya dan semua yang saya lukai.
Rasanya stok keberuntungan saya sudah lagi habis. Tidak tersisa.
Ini kantor pertamaku. Ini pekerjaan resmi pertama yang kupunya. Yang bukan dengan bantuan siapa-siapa kecuali keinginanku sendiri. Tetapi, giliran aku deal pertama, kenapa bertepatan semua manager di lay off kan?
Aku tidak tahan lagi. Aku ingin pindah.
Di saat bersamaan, Om Ikhsan jatuh sakit. Hatiku sedikit terseret ke Omah Teko. Belumlah beres hati tergerus, ada lagi cobaan. Tapi jika kupandang dari sudut lain, seperti Allah memberiku tanda. Aku dipersilakan memilih. Kembali ke Jogja atau stay di Jabodetabek. Aku, inginnya kembali. Tapi babeh menghendaki cpns. -_-
27 Agu 2018
Meneguk Kesabaran
Aku tak tahu berkat apa aku menulis judul demikian. Aku terkurung lagi dalam kerendahdirian. Aku apa, aku siapa. Aku, benarkah aku berdiri di tempat semestinya? Huft.
Aku ga mau menyesal. Aku ga mau mengeluh. Tapi kenapa makin hari makin sesak?
Haruskah kembali ke sisi yang asri?
aku ingin hilang, aku penat, aku tak lagi bersemangat.
-R
Aku ga mau menyesal. Aku ga mau mengeluh. Tapi kenapa makin hari makin sesak?
Haruskah kembali ke sisi yang asri?
aku ingin hilang, aku penat, aku tak lagi bersemangat.
-R
20 Jul 2018
Cita-cita Sederhana
Dulu sekali, aku punya sebuah cita-cita. Cita-cita yang dulu aku pikir itu sederhana tapi sulit. Dalam artian parameternya tidak pasti. Cita-cita itu adalah "mengukir sebuah senyuman di wajah kedua orangtuaku, dan adikku."
Senyuman bukan sembarang senyuman. Jika senyum saja adalah hal yang bisa dan biasa mereka lakukan kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Tapi yang aku ingin ukirkan pada mereka ialah senyuman bangga atas sebuah prestasi yang kumiliki. Berhubung kuliahku dilanda banyak masalah, jadi kupikir kelulusanku bukanlah sesuatu yang membanggakan buat mereka. Aku tahu, senyum mereka saat itu ialah senyum "lega" ketimbang "bangga". Ngerti kan maksudku?
Namun di hari ini, beberapa menit yang lalu, aku seperti mendapatkannya. Senyuman bangga itu. Hanya karena seporsi Nachos yang kubeli. Antara sengaja dan tidak sengaja sih belinya. Tapi, aku seperti bersyukur sekali aku membelinya, hanya karena Mama bilang, "Wah, aku seneng ini! Makanan darimana tuh? Itali ya?"dengan mata berbinar meskipun tebakannya tidak benar :P
Babeh pun juga. Dia menyukai green tea latte Dum dum yang kubawa. Well, sebetulnya aku harus berterimakasih sama Nisa, adikku. Karena dia yang nyuruh aku mampir beli Dum dum. And i bought one for each of us! So there i was holding four glass of Dum dum and looking for snacks to take away. Awalnya mau Yoshinoya, tapi ga ada yang lauk doang dan ngenyangin. Lalu aku beralih, kok pengen asin2 yaa. Dan berkat mbak waitress yang bagiin flier buy1get1, mampirlah daku ke Carl's Jr. And I'm not disappointed!
Ini pertama kalinya aku agak mellow denger mama bilang hal sepele. Hahahaa.. Yaa, doakan saja ya Ma, anakmu ini bisa membawa kebahagiaan yang lain dan mengukir kembali senyum itu. Amiin..
RRR, 20 Juli 2018
Senyuman bukan sembarang senyuman. Jika senyum saja adalah hal yang bisa dan biasa mereka lakukan kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Tapi yang aku ingin ukirkan pada mereka ialah senyuman bangga atas sebuah prestasi yang kumiliki. Berhubung kuliahku dilanda banyak masalah, jadi kupikir kelulusanku bukanlah sesuatu yang membanggakan buat mereka. Aku tahu, senyum mereka saat itu ialah senyum "lega" ketimbang "bangga". Ngerti kan maksudku?
Namun di hari ini, beberapa menit yang lalu, aku seperti mendapatkannya. Senyuman bangga itu. Hanya karena seporsi Nachos yang kubeli. Antara sengaja dan tidak sengaja sih belinya. Tapi, aku seperti bersyukur sekali aku membelinya, hanya karena Mama bilang, "Wah, aku seneng ini! Makanan darimana tuh? Itali ya?"dengan mata berbinar meskipun tebakannya tidak benar :P
Babeh pun juga. Dia menyukai green tea latte Dum dum yang kubawa. Well, sebetulnya aku harus berterimakasih sama Nisa, adikku. Karena dia yang nyuruh aku mampir beli Dum dum. And i bought one for each of us! So there i was holding four glass of Dum dum and looking for snacks to take away. Awalnya mau Yoshinoya, tapi ga ada yang lauk doang dan ngenyangin. Lalu aku beralih, kok pengen asin2 yaa. Dan berkat mbak waitress yang bagiin flier buy1get1, mampirlah daku ke Carl's Jr. And I'm not disappointed!
Ini pertama kalinya aku agak mellow denger mama bilang hal sepele. Hahahaa.. Yaa, doakan saja ya Ma, anakmu ini bisa membawa kebahagiaan yang lain dan mengukir kembali senyum itu. Amiin..
RRR, 20 Juli 2018
10 Mei 2018
Sepertinya postingan blog saya memang semua tentang hati. Tentang melancholia.
Kali ini saya dipertemukan dengan seseorang yang dikenalkan kepada saya. Tidak seperti manusia manusia sebelumnya, ia menyentak saya. Satu pernyataan yang awalnya abu-abu, tapi ia mendeskripsikannya seakan membaca apa yang sudah saya tutupi. Dia membaca kepribadian saya, dan boom! Saya tertampar.
Sudah itu saja. Tak ingin terlalu banyak. Saya naif dan polos. Terimakasih.
Kali ini saya dipertemukan dengan seseorang yang dikenalkan kepada saya. Tidak seperti manusia manusia sebelumnya, ia menyentak saya. Satu pernyataan yang awalnya abu-abu, tapi ia mendeskripsikannya seakan membaca apa yang sudah saya tutupi. Dia membaca kepribadian saya, dan boom! Saya tertampar.
Sudah itu saja. Tak ingin terlalu banyak. Saya naif dan polos. Terimakasih.
25 Feb 2018
Stain beyond the Curtain
Bantar gebang, i should say.
It already skipped two years, Mi. Your ideal age for marriage. And what made it worse, this year your close friends are holding their marriage. Now I get why happiness cannot spread in the same amount. You cannot make everyone happy. Behind those white curtains, natural fragrant of flowers, people like me tried so hard to hold this stain. To hide behind the shades. A feeling of kinda left behind.
Rim. Shabr. Ikhlas. Tawakkal.
But sometimes i wanna give up this lonely feeling. Huft.
It already skipped two years, Mi. Your ideal age for marriage. And what made it worse, this year your close friends are holding their marriage. Now I get why happiness cannot spread in the same amount. You cannot make everyone happy. Behind those white curtains, natural fragrant of flowers, people like me tried so hard to hold this stain. To hide behind the shades. A feeling of kinda left behind.
Rim. Shabr. Ikhlas. Tawakkal.
But sometimes i wanna give up this lonely feeling. Huft.
21 Jan 2018
Bertumbuh
Manusia dan makhluk hidup tak bisa mengelak dari perubahan. 'Berubah' adalah kata induk yang anakannya bisa menjadi banyak hal: Berkembang, Bertumbuh, Berpindah, Berbeda.
Aku bingung dan tak paham. Semakin dewasa, justru makin tak paham. Banyak sekali hal yang mengubah cara pandang terhadap sesuatu.
Terpengaruh, mungkin kata sifat yang sesuai untuk bumbu perubahan. Tergantung seberapa dosisnya, maka kau akan makin larut kepadanya.
Aku. Sekitarku.
Dua hal yang saling melarut.
Bedanya, unsur pertama cukup stabil. Unsur kedualah yang dominan.
Begitupun cara pandang terhadap sebuah hubungan. Well, aku memang lahir dan besar di keluarga yang cukup. Cukup terpandang, cukup harta, cukup didikan agama. Yang notabene membuatku selalu menjaga diri. Tapi sayangnya, mereka belum cukup membekaliku.
Sejak SMP, aku mulai bosan dengan keadaan. Aku memutuskan sekolah SMA berasrama di luar kota. Tidak banyak yang buatku berubah. Perkuliahanlah yang sempat buatku jatuh terpuruk dan mengubah pola pikirku.
Saat itu aku takut bicara, aku ragu ada yang mau mendengar. Akhirnya aku mengurung diri dan menelan sakit sendiri. Hingga aku beranikan diri untuk pacaran. Bahkan sempat sentuhan bibir. Aku bukan seperti aku. Aku berubah, aku mengesampingkan agama. Imanku goyah meski hijab tetap di kepala. Aku merasa nista, tapi bahagia. Kenapa bahagia?
Karena ada yang mendengarku, itu cukup. Ada yang berdiri menunggu meski kadang tak berarti solusi. Ada pundak dan tangan yang siap berjaga kala aku jatuh. Rasa itu, rasa bahwa aku dihargai. Sampai saatnya ia harus pergi.
Lagi, aku berubah. Aku mau kembali ke diriku yang menjaga diri. Aku ingin murni, tapi itu takkan mungkin. Hingga kadang aku berpikir sinis, apakah benar ada cinta yang murni? Yang semata tertuju untuk perbaikan nurani? Kadang aku hendak tertawa pada masa polos dulu. Cita-cita untuk menikah dengan orang yang belum kukenal sama sekali. It's impossible!
But hey, it is now happened to my friend! Lalu aku kembali bertanya, apa mereka yakin? apa yang mereka yakini hingga akhirnya mantap menyerahkan hidup barunya, setengah agamanya, anak cucunya kelak, rumah tangganya, kepada orang tersebut? Aku sudah tahu jawabannya, akan tetapi, akibat sempat kelabu, aku ragu. Bukan, bukan sebenar-benar ragu, tapi kan pasti ada faktor lain selain Allah yang membuat mereka yakin? Nah faktor apa yang mereka yakini sedang aku belum mampu seyakin mereka untuk memilih jalan ini lagi? Sedang dulu aku pernah mantap untuk menggapainya.
Aku ragu, apakah aku bertumbuh, atau justru mengering layu.
Aku bingung dan tak paham. Semakin dewasa, justru makin tak paham. Banyak sekali hal yang mengubah cara pandang terhadap sesuatu.
Terpengaruh, mungkin kata sifat yang sesuai untuk bumbu perubahan. Tergantung seberapa dosisnya, maka kau akan makin larut kepadanya.
Aku. Sekitarku.
Dua hal yang saling melarut.
Bedanya, unsur pertama cukup stabil. Unsur kedualah yang dominan.
Begitupun cara pandang terhadap sebuah hubungan. Well, aku memang lahir dan besar di keluarga yang cukup. Cukup terpandang, cukup harta, cukup didikan agama. Yang notabene membuatku selalu menjaga diri. Tapi sayangnya, mereka belum cukup membekaliku.
Sejak SMP, aku mulai bosan dengan keadaan. Aku memutuskan sekolah SMA berasrama di luar kota. Tidak banyak yang buatku berubah. Perkuliahanlah yang sempat buatku jatuh terpuruk dan mengubah pola pikirku.
Saat itu aku takut bicara, aku ragu ada yang mau mendengar. Akhirnya aku mengurung diri dan menelan sakit sendiri. Hingga aku beranikan diri untuk pacaran. Bahkan sempat sentuhan bibir. Aku bukan seperti aku. Aku berubah, aku mengesampingkan agama. Imanku goyah meski hijab tetap di kepala. Aku merasa nista, tapi bahagia. Kenapa bahagia?
Karena ada yang mendengarku, itu cukup. Ada yang berdiri menunggu meski kadang tak berarti solusi. Ada pundak dan tangan yang siap berjaga kala aku jatuh. Rasa itu, rasa bahwa aku dihargai. Sampai saatnya ia harus pergi.
Lagi, aku berubah. Aku mau kembali ke diriku yang menjaga diri. Aku ingin murni, tapi itu takkan mungkin. Hingga kadang aku berpikir sinis, apakah benar ada cinta yang murni? Yang semata tertuju untuk perbaikan nurani? Kadang aku hendak tertawa pada masa polos dulu. Cita-cita untuk menikah dengan orang yang belum kukenal sama sekali. It's impossible!
But hey, it is now happened to my friend! Lalu aku kembali bertanya, apa mereka yakin? apa yang mereka yakini hingga akhirnya mantap menyerahkan hidup barunya, setengah agamanya, anak cucunya kelak, rumah tangganya, kepada orang tersebut? Aku sudah tahu jawabannya, akan tetapi, akibat sempat kelabu, aku ragu. Bukan, bukan sebenar-benar ragu, tapi kan pasti ada faktor lain selain Allah yang membuat mereka yakin? Nah faktor apa yang mereka yakini sedang aku belum mampu seyakin mereka untuk memilih jalan ini lagi? Sedang dulu aku pernah mantap untuk menggapainya.
Aku ragu, apakah aku bertumbuh, atau justru mengering layu.
Lelah
Kau terbiasa menyendiri
--
Entah kapan dan dimana
Marah pun sendiri
Di saat yang lain berkumpul
Kau berkemul
Dalam kamar terkurung
Bagaimana aku tahu
Kapan sedihmu
Kecewamu
Sukamu
Terlebih
ada waktu yang hilang
yang tak kutahu kau alami
sidang terberat dalam hidupmu
Kini
Kau luapkan semua
Emosi
Dalam setiap media
Kau meraung
Mengumbar pada dunia
Emosi yang seharusnya
Kau tutup rapat
Kau bicarakan baik-baik
Menyebar aib dan cela
Bahkan aibmu sendiri
Menjadi figur terbuka
dengan cara yang keliru
Lagi
Kauperdebatkan agama
Kau remehkan
dengan dalih belum waktunya
Siapa yang tahu akan waktu?
Siapa yang menilai kepantasan?
Pantas itu ada pada diri kita sendiri
Pantas itu berawal dari mata siapa yang kita
inginkan memandang kita
Orang sekitar hanya menjadi pengingat
Hanya mata tertinggi yang berhak menilai
Dia yang sejatiNya pemilik dirimu dari ujung rambut hingga kaki
dari jasadmu, ruhmu, nuranimu
--
Entah kapan dan dimana
11 Jan 2018
White Canvas
is not always
white
I'm not sure what I have to write
Again, I'm wondering if
any idea could fly into this bundle of cellulose
I was rereading my own fiction
Which I had created seven years ago
When I was blinded and just moved within times
But nothing was prepared for the future
There I'd been living in the present
Now I'm taking my reward--late for work chances
Knowing my Toastmasters allies
They are all bright persons
I'm feeling down
They've reached what they wanted
in such a young age
I'm fixing myself
Tempted to get my own business
But seeing them.. uff
Should have been motivated
Yet I am feeling more down
But then
Here in my workplace
I found persons which needs an elevator
to lift them up
to gain knowledge
Though they also have superiority
I am jealous
Even my little sister hates me often
I feel unaccepted
But I want to reach a meaning
for my life in this world
despite the one main order from Allah
---
Now I feel a bit better after writing it.
Since it's been very long to write something like this publicly
And I wanna gain my courage to let this burden go
I wanna be in a positive charge again. Tho still much to go.
Rimie or Ria, whatever.
Loista, 11 Jan 2018
4 Jan 2018
Tentang Hatta
Hatta lalu bertanya padaku, "Apa yang buatmu lebih bahagia selain keberadaanku di hadapmu?" Akan kujawab, "Semesta pun tahu. Sempurna bahagiaku adalah melihatmu memeluk ibumu di waktu fajar." Agnia kepada Hatta.
"Oh tidak, Agnia. Kumohon selain itu." Hatta terhenti. Wajah dan kepalanya tertekuk. "Jika kaumintakan padaku untuk berlibur ke Hawaii, akan kupenuhi. Tapi tidak untuk satu itu."
Memang berat baginya, kutahu. Sementara sang ibu mengais-ngais kedatangan anaknya, ia sendiri yang menanam kebencian di dalam diri Hatta.
"Oh tidak, Agnia. Kumohon selain itu." Hatta terhenti. Wajah dan kepalanya tertekuk. "Jika kaumintakan padaku untuk berlibur ke Hawaii, akan kupenuhi. Tapi tidak untuk satu itu."
Memang berat baginya, kutahu. Sementara sang ibu mengais-ngais kedatangan anaknya, ia sendiri yang menanam kebencian di dalam diri Hatta.
Limit of Uncertainty
Hello. 2017 been unpredictable. I went through a new world called career. And roller coaster of society. And here we're arrived at the 4th day of 2018. Not a too late to say Happy New Year, eh?
New Year. Hey Self, do u expect for a new one? Well my own resolution this year is just be healthy, quickly adjusting to what i'm doing, and find a new name to be kept in Allah's hand. That's it.
A year of uncertain feeling has passed, leaving me with a degradation of pink world. I don't wanna think seriously about love right now. Kind of bored and tired. Meanwhile Mom is in the other side of mine. She's greedily matchmaking me with many people. Which I told her already that I'm tired. Give me a space, please!
I conclude all those guilty year of love by one decision. Now, if I interested in someone, simply spell his name when praying. If he's not then bye.
Ok now I lost my words. See ya next time.
25 Okt 2017
I'm Not Ready
I spread my wings every morning
Let my breath make a fog
upon a mirror who might thinking
This girl has her self talk
Like a hanging bird in a tick-tock-koo
Tryin' to fly free but is tied through
No, I'm not ready yet
Let my breath make a fog
upon a mirror who might thinking
This girl has her self talk
Like a hanging bird in a tick-tock-koo
Tryin' to fly free but is tied through
No, I'm not ready yet
No, I'm not ready yet to let anyone in
There's none inside
But don't dare to steppin'
I let my hearts to take my love out
Shared into many friends and scouts
and to many different range of humans
There's none inside
But don't dare to steppin'
I let my hearts to take my love out
Shared into many friends and scouts
and to many different range of humans
4 Mei 2017
Apa itu cinta?
Apa itu cinta?
Kembali kutanya, "Apa itu cinta?"
Ucapkan padaku, "Apa itu cinta?"
Manakah yang lebih dulu
Allah menitipkan cinta kepada individu hambaNya
Lalu sebagian cinta itu dibagikan kepada sekitar
Apa itu cinta?
Apakah bentuk pengabdian seorang ibu untuk sang anak
Atau bentuk pengabdian seorang hamba kepada penciptaNya
Dan pada cinta yang tak sedarah
Apakah yang melandasi kecintaan itu?
Bila ia bukan bagian dari darah dan daging
Maupun tulang belulang yang diwarisi
Apakah cinta yang digantung sepenuhnya kepada Allah
dapat mengalahkan hakikat cinta kepada makhlukNya?
Cinta yang diserahkan sepenuhnya
Habis dan tak bersisa
Namun pada ajaran agama
Kesempurnaan setengahnya terletak
Pada pertemuan dua insan
Yang membangun kehidupan baru
Dengan modal saling percaya dan mau menerima
Karena keduanya sama-sama makhluk tak berdaya
yang diberi seciprat kelebihan dan kekurangan tak terhingga
Ketika kau pun menyerah perihal cinta
Sampai ke titik kau tak menginginkannya
Menganggap semua sekedar rupa yang sama
Relasi yang tak lebih dari jabat tangan
Apakah itu dosa?
Semua tertawa gembira
Menyambut belahan hatinya
Tapi aku sekedar jumawa
Tak lagi menginginkan bahagia itu
untukku
Hampir
Aku sampai di titik nadir
Hampir
Aku tak ingin bahagia cinta
---
Jakarta, 04.05.2017
Rimie Ramadan
Apakah bentuk pengabdian seorang ibu untuk sang anak
Atau bentuk pengabdian seorang hamba kepada penciptaNya
Dan pada cinta yang tak sedarah
Apakah yang melandasi kecintaan itu?
Bila ia bukan bagian dari darah dan daging
Maupun tulang belulang yang diwarisi
Apakah cinta yang digantung sepenuhnya kepada Allah
dapat mengalahkan hakikat cinta kepada makhlukNya?
Cinta yang diserahkan sepenuhnya
Habis dan tak bersisa
Namun pada ajaran agama
Kesempurnaan setengahnya terletak
Pada pertemuan dua insan
Yang membangun kehidupan baru
Dengan modal saling percaya dan mau menerima
Karena keduanya sama-sama makhluk tak berdaya
yang diberi seciprat kelebihan dan kekurangan tak terhingga
Ketika kau pun menyerah perihal cinta
Sampai ke titik kau tak menginginkannya
Menganggap semua sekedar rupa yang sama
Relasi yang tak lebih dari jabat tangan
Apakah itu dosa?
Semua tertawa gembira
Menyambut belahan hatinya
Tapi aku sekedar jumawa
Tak lagi menginginkan bahagia itu
untukku
Hampir
Aku sampai di titik nadir
Hampir
Aku tak ingin bahagia cinta
---
Jakarta, 04.05.2017
Rimie Ramadan
25 Apr 2017
Gulir-gulir Syukur
Untung saja bertamu
Bukan pada Kursi beludru
Untung saja menyapa
Bukan pada juntaian kristal
24.04.2017
Rimie Ramadan
21 Apr 2017
Berlian di Pangkuan
Ceracar surya
Berselimut topeng kasta
Lidah terlatih bergoyang
Memroduksi gula-gula
Demi berlian di pangkuan
---
21.04.2017
Rimie Ramadan
*to be published in @estetikata too
14 Feb 2017
Belajar Haiku
The cloudy sunrise
Peeks behind the windows shade
As the wheels running
Beyond the pine trees
Hidden some magical twist
Swirling fireflies
Menjenguk pagi
Usai didera hujan
Redamkan jiwa
Hirup udara
Hembus, mencipta embun
di tepi jendela
Rimie Ramadan
14.02.2017
Peeks behind the windows shade
As the wheels running
Beyond the pine trees
Hidden some magical twist
Swirling fireflies
Menjenguk pagi
Usai didera hujan
Redamkan jiwa
Hirup udara
Hembus, mencipta embun
di tepi jendela
Rimie Ramadan
14.02.2017
23 Jan 2017
Saat Solat Menjadi Obat
Lelah menggerogoti
Akalku tak jua mengerti
Tanya
Mengapa aku sendiri
Alis mataku merendah
Nyaris jatuh kantung di mata
Seketika
Nurani berbisik
Kau bisa sembunyi sebentar
Di balik jubahNya
Sujudlah
Ciumlah titik ketakwaan
di atas hampar sajadah
Perlindungannya utama
Akalku tak jua mengerti
Tanya
Mengapa aku sendiri
Alis mataku merendah
Nyaris jatuh kantung di mata
Seketika
Nurani berbisik
Kau bisa sembunyi sebentar
Di balik jubahNya
Sujudlah
Ciumlah titik ketakwaan
di atas hampar sajadah
Perlindungannya utama
Lapis Bawang Merah
Hidup memang gak segampang yang kaupikirkan.
Tapi gak juga harus menyakiti diri sendiri kan?
Me, myself, throwing myself in a crocodile cage right now.
Nobody look at me as human. I'm no longer myself.
Seperti kehilangan nafas disini. Seperti nyawaku ingin segera pergi.
Belajar lagi dari nol. Kosongkan pikiranmu, nasehat ayah.
Namun berkali kucoba, tetap tak bisa.
Terbiasa otak kanan, lalu dipaksa terjun ke otak kiri. Nge-hang.
Sarjana apakah label saja.
Tapi gak juga harus menyakiti diri sendiri kan?
Me, myself, throwing myself in a crocodile cage right now.
Nobody look at me as human. I'm no longer myself.
Seperti kehilangan nafas disini. Seperti nyawaku ingin segera pergi.
Belajar lagi dari nol. Kosongkan pikiranmu, nasehat ayah.
Namun berkali kucoba, tetap tak bisa.
Terbiasa otak kanan, lalu dipaksa terjun ke otak kiri. Nge-hang.
Sarjana apakah label saja.
17 Nov 2016
Si Pengangguran
dan bila
hanya wajah sendu yang melulu kutanam
di ladang rasa takut dan kecut
dengan alibi orang tua dan ridhonya
kapan kau akan melangkah
mencuatkan apa yang kau sebut jati diri
katanya, aku diberi kebebasan setelah lulus
katanya, aku terserah mau berbuat apa
katanya, segalanya boleh kau raih
tapi kebebasan itu pun bertanggal kedaluwarsa
apa yang disebut terserah hanya kepatuhan terhadap waktu
nyawamu adalah batas, umurmu pun terbatas
Tampar saja terus
Tapi kau masih setia dengan tempurungmu
Bercokol tanpa kesadaran
Bukan lagi mahasiswa
Tidak sedang bekerja
Pengangguran
Anggur itu mahal, tapi ketika ditambah imbuhan pe-an, seketika berubah 180 derajat
hanya wajah sendu yang melulu kutanam
di ladang rasa takut dan kecut
dengan alibi orang tua dan ridhonya
kapan kau akan melangkah
mencuatkan apa yang kau sebut jati diri
katanya, aku diberi kebebasan setelah lulus
katanya, aku terserah mau berbuat apa
katanya, segalanya boleh kau raih
tapi kebebasan itu pun bertanggal kedaluwarsa
apa yang disebut terserah hanya kepatuhan terhadap waktu
nyawamu adalah batas, umurmu pun terbatas
Tampar saja terus
Tapi kau masih setia dengan tempurungmu
Bercokol tanpa kesadaran
Bukan lagi mahasiswa
Tidak sedang bekerja
Pengangguran
Anggur itu mahal, tapi ketika ditambah imbuhan pe-an, seketika berubah 180 derajat
31 Okt 2016
Langganan:
Postingan (Atom)
