catatan sebelumnya : Diary pt 1
8 April 2010
Tidak terasa empat tahun sudah aku tak berjumpa dengannya. Aku juga sudah berada di kota yang jauh. Bahkan berbeda pulau. Tapi bayangannya selalu tinggal di mataku. Entahlah, sangat sulit untuk dilupakan. Ah, iya. Aku menulis tepat di tanggal ini. Hari ulangtahun kak Tyo. Ah, bahkan aku masih ingat. Waktu kak Tyo menraktir semua anggota klub, dia meninggalkan kak Dara dan malah menghabiskan waktu denganku dan Nisa.
Ah, maaf. Aku baru kembali dari bawah. Tadi ibu kos bilang ada yang mengirim paket untukku. Sebentar yaa, kubuka paketnya dulu.
Sebuah tas berwarna hijau. Warna kesukaanku. Dengan beberapa kantung kecil di bagian luarnya. Juga model favoritku. Belum berhenti aku terkejut, di dalam tas itu terdapat sebuah boneka apel warna hijau dan memo yang sepaket dengan pulpen. Keduanya berwarna hijau. . Aku membuka-buka kantung lain di tas itu, banyak pula barang-barang lucu yang kutemukan.
Tapi, siapa yang mengirimnya? Ayah dan ibuku bukan orang yang suka memberi kejutan seperti ini. Saat aku mencoba membuka memo hijau tadi, aku menemukan pesan singkat di lembar paling depan.
“Hai, Ri. Apa kabar? Kuharap kamu sehat-sehat saja.Maaf, aku tau mungkin sudah lewat seminggu dari hari lahirmu saat kau menerimanya. Kuharap kau mau memaafkan. Hanya ini yang bisa kuberikan sebagai kado ulangtahunmu. Semoga kau senang. Aku sungguh merindukanmu.” –LT
Siapa “LT”? Aku sedikit merinding, namun kembali tersenyum saat menatap tas dan barang-barang lain itu. Yang mengirimkan ini pasti orang baik, batinku.
8 April 2011
Pagi ini, ketika hendak berangkat kuliah ibu kos memberiku sebuah surat berbungkus amplop biru. Ini sudah yang kesepuluh kalinya aku menerima surat sejenis. Bahkan ibu kos sampai hafal hanya dengan melihat warna dan tulisannya. Sampai sekarang aku belum tahu siapakah pengirimnya. Dia hanya memberi inisial LT pada setiap surat yang dikirimkan. Aku memasukkannya ke dalam tas. Berniat membacanya pada jam kosong kuliah nanti.
Dosen akhirnya mengakhiri kuliah membosankan itu. Aku berjalan ke sebuah taman dan mulai membaca surat itu. Isinya memintaku untuk datang ke suatu apartemen yang agak jauh dari kampusku. Ah, baiklah sepertinya orang ini hendak menunjukkan dirinya. Sepulang kuliah aku pergi ke alamat yang diberikannya. Penasaran juga seperti apa wajahnya.
Tak butuh waktu lama untuk menuju ke apartemen tersebut. Sekarang pintu apartemennya sudah berada di hadapanku. Kuberanikan diri untuk menekan bel di depan apartemennya. Agak lama, baru pintu itu terbuka. Kakiku membeku begitu menatap sosok di hadapanku. Wajahnya lusuh dan ditumbuhi jenggot tipis tak terawat, rambutnya gondrong berantakan, pipinya tirus dan tulang-tulangnya sungguh terlalu jelas. Tapi aku masih mengenalinya. LT, atau orang yang selalu memberiku hadiah, foto dan kata-kata penyemangat lewat amplop biru itu, tak lain dan bukan adalah kak Tyo. Pemuda kurus kering yang kini termenung tak percaya di hadapanku.
“Halo, kak Tyo.” Aku memutuskan membuka pembicaraan. Kak Tyo sedikit terkejut. “Boleh aku masuk?” Ia menganggukkan kepalanya. Aku pun melangkah masuk. Ia menutup pintu dan mengikutiku.
Kamarnya berantakan. Buku dan peralatan fotografi bercampur tak teratur di lantai. Hanya ada satu tempat tidur yang juga berantakan, dua sofa kecil yang beralih jadi tempat tas dan kamera, dan sebuah laptop yang menyala. Kulihat ia berusaha memindahkan barang-barang di atas sofa. Lalu mempersilakanku duduk di sana. Aku menurutinya, dan ia duduk di sebelahku. Rambutnya sedikit ia rapikan.
“Tidak kusangka, kamu akan datang secepat ini.” Ia memandangku tak fokus. Sedangkan aku terus memerhatikannya dari atas sampai bawah. Masih tak percaya dengan semua ini. Bahwa pria di depanku adalah kak Tyo, orang yang sangat melekat di otakku. Bahwa pria ini yang telah mengirim benda-benda itu.
“Kak, apa yang terjadi padamu?” aku memberanikan diri bertanya. “Maaf, kalau aku lancang. Tapi keadaanmu sungguh.. mengenaskan.” Aku menatapnya, mencari bola matanya. Tapi ia malah menunduk dan tubuhnya meluncur ke lantai. Ia merangkak menuju kakiku dan memeluk kaki kananku. “Kak, bolehkah aku sedikit merapikanmu?” tanyaku. Ia mendongak tak mengerti. Mandilah dulu dan keramasi rambutmu. Nanti aku akan memotongnya. Bagaimana?”
Kak Tyo mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi. Sementara itu aku merapikan kamarnya. Aku sedikit terkejut menemukan dua bingkai foto di meja kecil samping ranjang. Foto di sana adalah fotoku yang diambil ketika di museum Fatahillah dan saat wisudanya.
Selesai ia mandi, aku menyuruhnya duduk di sofa yang sudah kuhadapkan ke cermin. Sehelai selimut miliknya kulingkarkan melewati bagian depannya. Dan aku pun melancarkan aksiku untuk mendandaninya. Entah dapat ide darimana, aku mengembalikan gaya rambutnya ke masa SMP dulu. Aku juga mencukur jenggotnya agar terlihat lebih rapi.
Saat aku memegang dagunya, ia menahan tanganku. Tiba-tiba wajahnya mendekatiku, lalu bibirnya menyentuh pipiku. Seketika aku menjauhkan wajahku dan tanganku yang bebas memegang lengannya. Mataku melotot dan sepenuh keyakinan kuucapkan, “Kak, kamu kenapa sih? Jangan begitu. Kumohon!”
Mendadak ekspresinya berubah, terkejut. “Maaf.. maafkan aku. Maafkan aku Ri.. aku sungguh.. bajingan!” ia terisak dan menundukkan kepala, “aku tahu aku gak pantas buatmu! Apalagi dengan kondisi sekarang ini. Aku benar-benar bajingan!” Ia mengangkat kakinya ke kursi dan menenggelamkan kepala diantara kedua lututnya.
Aku benar-benar iba padanya. Tapi tak kuasa menyentuhnya sedikitpun, waspada akan seperti tadi. Aku berjalan meninggalkannya untuk mengambil segelas air. Lalu kembali dan menyerahkannya, “ini. minumlah kak.”
“Pergilah.” Katanya selesai meneguk air minum. “Pulanglah dulu. Aku takut menyakitimu lagi. Kumohon.”
Aku bimbang dan akhirnya menurutinya. “baiklah, aku pulang dulu. Kalau kakak butuh apa-apa, sms saja. Aku pamit, Sampai jumpa!”
Aku bergegas melangkah keluar dan menutup pintu apartemen kak Tyo. Tapi aku tak beranjak dari depan pintu itu. Kusentuhkan telapak tanganku di daun pintunya, mengusapnya pelan. Seakan pintu itu adalah wajah kak Tyo.
Mendadak pintu terbuka. Aku gelagapan dan cepat-cepat menurunkan tanganku, sementara yang dibalik pintu nampak terkejut dan memberhentikan ketergesahannya. Kami saling menatap. Aku tahu, ada rindu yang terlukiskan. Aku tau, ada banyak cerita yang ingin terkuak. Aku tau, ada rasa yang terjalin diantara kami.
Tanpa kusadari, tangannya mengambil pergelanganku dan menyeretku masuk. Segera ia tutup pintu apartemennya dan memeluk tubuhku rapat-rapat. Ah, kali ini kubiarkan saja. Aku juga merindukannya. Kubalas memeluknya dan dia pun mempereratnya. Lambat laun isaknya kembali lagi.
“Gila. Aku benar-benar sudah gila. Aku gila tanpamu. Izinkan aku untuk jadi bajingan kelas kakap hari ini saja. Kumohon, Ri. Tinggallah di sini malam ini. Aku akan tidur di sofa. Aku janji.” Pintanya penuh rasa iba di telingaku.
“Hmm, baiklah. Lagipula esok aku tidak ada kuliah. Tapi kakak harus janji, tidak berbuat macam-macam padaku. Bagaimana?”
Pemuda berkulit putih ini mangacungkan kelingkingnya, “ya. Aku janji.” Aku pun menyambut kait kelingkingnya.
---
31.08.2011
Rimie Ramadan is comeback!!
with old-storage-drafts story
hope you enjoy!!
31 Agu 2011
30 Agu 2011
Idul Fitri Ter(kacau+galau)
Terserah lo mau bilang tulisan gue ini menghukum atau apa. Yang jelas gue cuma mau mengungkapkan kekecewaan gue sama Kementerian Agama RI. Gue tahu ini bukan saat yang tepat karena mungkin ini semua akumulasi emosi gue pagi ini. Tapi yang jelas, di pagi yang seharusnya jadi berkah ini, gue dongkol setengah mati.
Tadi malem ada sidang itsbat yang disiarkan ke seluruh Indonesia. Gara-gara katanya hilal belum keliatan. Sidang itu berlangsung ramai, namun hanya keramaian untuk mendukung satu pihak, gue rasa. Segala bukti dan saksi yang diperoleh mayoritas menunjuk ke hari Rabu untuk 1 Syawal 1432 H. Dan minoritas saksi dan bukti dengan gampangnya ditolak begitu saja.
Please!! Dimana keadilan? Dimana yang katanya tenggang rasa? Dimana demokrasi?
Kayanya politik bahkan udah ikut campur urusan agama. Urusan akidah. Soalnya dari bukti dan saksi aja, udah ketahuan. Daerah-daerah yang dipilih sebagai lokasi pengamatan tuh 90 persen kuasa salah satu ormas yang menduduki mayoritas Kemenag RI. Sumpah gue gedek bangeeeet!!! Apalagi waktu debatnya itu. Sh*t banget. Masa begitu udah diputuskan sama Menteri Agama, ada sebuah argumen yang menunjuk bahwa hilal sudah terlihat disertai dalil-dalil yang gue rasa cukup kuat juga. Nah, terus ada satu orang lain ngacung buat ngelawan bantahannya itu. Terus beberapa orang lain, sekitar 2 atau 3, ikut ngacung. Tapi gue rasa argumennya Cuma nguatin si pembantah pertama.
Harapan gue agak menjulang begitu seorang pakar astronomi yang beberapa menit sebelumnya disiarkan khusus, unjuk tangan. Gue pikir, “Nah, gitu dong. Ada ilmuwannya. Ada yang beneran menguasai.” Tapi mungkin karena berusaha netral dan berdasar ilmu yang dipunya, nih orang malah seakan lemah berargumen. Dan muncul lagi bantahan dari orang sebelahnya, yang keliatan banget dari dandanannya nih orang berlatar belakang si ormas mayoritas. Sh*t.
Gue gak ngerti apa maksudnya si ormas mayoritas atau ormas-ormas lainnya. Maksudnya, apakah tujuannya politik semata atau “kesatuan umat”. Frase ini pun beberapa kali sempat muncul dalam adu argumen tersebut. Tapi lagi-lagi, kayanya ini penguasaan politik berkedok musyawarah.
Please dong!! Kesatuan umat yang diajarin ke gue dari jaman gue masih orok sampe sekarang tuh gak kaya gitu yaaa!!! Malu tau pak, sama anak-anak lo yang baru pada masuk TK Islam. Bisa-bisa besok tuh anak ngeraguin bapaknya beneran “ustad” apa “ustad KTP”.
“Perbedaan di antara kita memberi makna di kehidupan, sehingga dunia tetap berputar mengiringi zaman.. Tapi mengapa kita manusia tiada menyadari setiap perbedaan yang ada menjadi tragedi.” sebuah kutipan lagu “Satu Dalam Damai” yang dipopulerkan oleh Snada selalu membuat gue pege nangis. Karena kenyataan sekarang memang begitu.
Please Pak!! Kita sama-sama Islam, mbok ya gak usah ngotot gitu lah. Gak usah sampe puluhan orang ngacung Cuma buat manas-manasin. Semua punya dalil, semua bisa dibilang benar. Apa susahnya sih saling menghargai?? Cuma gegara syarat derajat hilalnya doang, kok repot? Tinggal disamakan beres kan?
Kenapa juga yang minoritas minta izin mengikuti keyakinannya, pake diketawain segala? Plis deh Pak Menteri, anda seharusnya di pihak netral, bukannya malah memimpin pengolokan?
Sedikit cerita. Kemarin bahkan ada tamu yang sedikit curhat ke ibu saya. “Ibu mah enak. Anak-anaknya udah pada gede. Udah bisa ngerti. Nah saya bingung mau ngejelasin ke anak saya yang baru lulus SD. Makanya ntar mau liat keputusan pemerintah dulu. Padahal saya biasanya ngikutin M, tapi kalo gak bisa jelasin ke anak, takutnya salah paham, ngambilnya yang enaknya aja. Gitu..”
Haduuh negeriku porak poranda. Mayoritas Islam, oke. Tapi, kok Islamnya pecah-pecah gini? Padahal Indonesia tuh kiblat kedua umat muslim lho. Masjidil haram aja berbagai macam solat masih menghargai kok.
Intinya semua keluhan ini tuh, kenapa mau nyatuin Islam aja susah? Kenapa harus pake dalil mayoritas? Selama itu ayat dan hadis masih shahih kan boleh aja diikutin. Kalo kitabnya/pedomannya jadi Tadzkirah tuh baru ngaco!!
Sekali lagi, tulisan ini bukan mau menjatuhkan salah satu ormas. Cuma keluhan seorang remaja muslimah yang limbung harus ngikutin nakhoda yang mana. Dan lagi selama bertahun-tahun kok Idul Fitri ini yang paling gak yakin ya rasanya? Apa perasaan gue doang? Huh.
“Dan ikutilah aku, khalifah-khalifah, dan pemimpin-pemimpinmu.” Kata Rasulullah begitu. Tapi kalo pemimpinnya aja terpecah-pecah kaya gini, ngikutin yang mana? Ya Rasul, di saat seperti ini aku benar-benar ingin engkau ada di sini. Ya Rasulullah Ya Habiballah aku rindu padamu..
Tadi malem ada sidang itsbat yang disiarkan ke seluruh Indonesia. Gara-gara katanya hilal belum keliatan. Sidang itu berlangsung ramai, namun hanya keramaian untuk mendukung satu pihak, gue rasa. Segala bukti dan saksi yang diperoleh mayoritas menunjuk ke hari Rabu untuk 1 Syawal 1432 H. Dan minoritas saksi dan bukti dengan gampangnya ditolak begitu saja.
Please!! Dimana keadilan? Dimana yang katanya tenggang rasa? Dimana demokrasi?
Kayanya politik bahkan udah ikut campur urusan agama. Urusan akidah. Soalnya dari bukti dan saksi aja, udah ketahuan. Daerah-daerah yang dipilih sebagai lokasi pengamatan tuh 90 persen kuasa salah satu ormas yang menduduki mayoritas Kemenag RI. Sumpah gue gedek bangeeeet!!! Apalagi waktu debatnya itu. Sh*t banget. Masa begitu udah diputuskan sama Menteri Agama, ada sebuah argumen yang menunjuk bahwa hilal sudah terlihat disertai dalil-dalil yang gue rasa cukup kuat juga. Nah, terus ada satu orang lain ngacung buat ngelawan bantahannya itu. Terus beberapa orang lain, sekitar 2 atau 3, ikut ngacung. Tapi gue rasa argumennya Cuma nguatin si pembantah pertama.
Harapan gue agak menjulang begitu seorang pakar astronomi yang beberapa menit sebelumnya disiarkan khusus, unjuk tangan. Gue pikir, “Nah, gitu dong. Ada ilmuwannya. Ada yang beneran menguasai.” Tapi mungkin karena berusaha netral dan berdasar ilmu yang dipunya, nih orang malah seakan lemah berargumen. Dan muncul lagi bantahan dari orang sebelahnya, yang keliatan banget dari dandanannya nih orang berlatar belakang si ormas mayoritas. Sh*t.
Gue gak ngerti apa maksudnya si ormas mayoritas atau ormas-ormas lainnya. Maksudnya, apakah tujuannya politik semata atau “kesatuan umat”. Frase ini pun beberapa kali sempat muncul dalam adu argumen tersebut. Tapi lagi-lagi, kayanya ini penguasaan politik berkedok musyawarah.
Please dong!! Kesatuan umat yang diajarin ke gue dari jaman gue masih orok sampe sekarang tuh gak kaya gitu yaaa!!! Malu tau pak, sama anak-anak lo yang baru pada masuk TK Islam. Bisa-bisa besok tuh anak ngeraguin bapaknya beneran “ustad” apa “ustad KTP”.
“Perbedaan di antara kita memberi makna di kehidupan, sehingga dunia tetap berputar mengiringi zaman.. Tapi mengapa kita manusia tiada menyadari setiap perbedaan yang ada menjadi tragedi.” sebuah kutipan lagu “Satu Dalam Damai” yang dipopulerkan oleh Snada selalu membuat gue pege nangis. Karena kenyataan sekarang memang begitu.
Please Pak!! Kita sama-sama Islam, mbok ya gak usah ngotot gitu lah. Gak usah sampe puluhan orang ngacung Cuma buat manas-manasin. Semua punya dalil, semua bisa dibilang benar. Apa susahnya sih saling menghargai?? Cuma gegara syarat derajat hilalnya doang, kok repot? Tinggal disamakan beres kan?
Kenapa juga yang minoritas minta izin mengikuti keyakinannya, pake diketawain segala? Plis deh Pak Menteri, anda seharusnya di pihak netral, bukannya malah memimpin pengolokan?
Sedikit cerita. Kemarin bahkan ada tamu yang sedikit curhat ke ibu saya. “Ibu mah enak. Anak-anaknya udah pada gede. Udah bisa ngerti. Nah saya bingung mau ngejelasin ke anak saya yang baru lulus SD. Makanya ntar mau liat keputusan pemerintah dulu. Padahal saya biasanya ngikutin M, tapi kalo gak bisa jelasin ke anak, takutnya salah paham, ngambilnya yang enaknya aja. Gitu..”
Haduuh negeriku porak poranda. Mayoritas Islam, oke. Tapi, kok Islamnya pecah-pecah gini? Padahal Indonesia tuh kiblat kedua umat muslim lho. Masjidil haram aja berbagai macam solat masih menghargai kok.
Intinya semua keluhan ini tuh, kenapa mau nyatuin Islam aja susah? Kenapa harus pake dalil mayoritas? Selama itu ayat dan hadis masih shahih kan boleh aja diikutin. Kalo kitabnya/pedomannya jadi Tadzkirah tuh baru ngaco!!
Sekali lagi, tulisan ini bukan mau menjatuhkan salah satu ormas. Cuma keluhan seorang remaja muslimah yang limbung harus ngikutin nakhoda yang mana. Dan lagi selama bertahun-tahun kok Idul Fitri ini yang paling gak yakin ya rasanya? Apa perasaan gue doang? Huh.
“Dan ikutilah aku, khalifah-khalifah, dan pemimpin-pemimpinmu.” Kata Rasulullah begitu. Tapi kalo pemimpinnya aja terpecah-pecah kaya gini, ngikutin yang mana? Ya Rasul, di saat seperti ini aku benar-benar ingin engkau ada di sini. Ya Rasulullah Ya Habiballah aku rindu padamu..
Label:
curhat
25 Agu 2011
Learn from Singapore(1)
"Ayo, ayoo 3 menit lhoo!!" dan Klik. Tercipta sebuah senyuman penuh semangat dari para peserta KKA 2011 ini. Inilah kami, siap mengambil ilmu dari negara tetangga demi masa depan bumi.
--
Dan perjalanan pun dimulai. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya kami menghalangi aktivitas pengunjung lainnya, kami berkumpul di Underpass bandara AdiSutjipto Yogyakarta. Berkerumun dengan berbagai macam posisi pada pukul 5 pagi. Menanti dengan penuh sabar. Bukan hanya perjalanannya, namun juga sarapan yang telah dijanjikan.
Pukul 6.30, panitia membagikan paspor serta seciprat kalimat pembuka perjalanan. Kemudian kami beruntun mengikuti panitia untuk check-in. Kami menjadi barisan yang mencolok dengan seragam almamater tercinta. Bagasi, Check-In, Imigrasi, dan take off. Oke, sebab keterlambatan pesawat kami tak jadi berfoto di depan pesawat Air Asia QZ 7138 yang menggendong kami menyebrang samudera.
19 Juli 2011 sekitar pukul 10 kami tiba di Singapura. Singapura memiliki waktu 1 jam lebih cepat dari WIB. Dan ini yang menjadi pertanyaan kami, karena secara garis bujur ia berada di wilayah yang sama dengan WIB.
Tour guide di sana bernama Pak Wang dan Pak Amin. Masing-masing nantinya ikut di dalam bis. Kami diantar untuk menyimpan bagasi terlebih dulu di bis sebelum mengelilingi terminal 1 dan 3 Bandara Internasional Changi.
Terminal 1 saja penataannya cukup nyaman. Apalagi dengan taman indoor namun aku ragu tanaman itu semuanya asli. Tapi cukup menyenangkanlah melihat hehijauan sana sini. Belum cukup lena dengan terminal 1, kami harus menuju terminal 3 menggunakan monorail. Kendaraan yang batal dijadikan alternatif transportasi di Jakarta. Dua lapis pintu monorail hanya terbuka beberapa menit. Jadi siapa cepat dia dapat, sesuai dengan pola aktivitas di negeri Merlion ini.
Terminal 3 Changi Int'l Airport
Tak lama keluar dari monorail, mata kami disuguhi suatu ruang luas yang dihiasi oleh sekumpulan kupu-kupu di atasnya. Bukan sungguhan, melainkan sebaris teknologi shading yang belum terjamah oleh pikiran kami. Belum lagi di sebelah kanan anda akan menjumpai tembok yang disulap jadi hutan mini dengan 10.000 tanaman yang ada di Singapura. Tembok itu dipercantik dengan sebuah air terjun buatan. Di sini kami juga menemukan box-box AC 3x3 meter yang cukup menyejukkan dan menghemat energi.
Tak hanya itu, suasana ruang tunggu sekaligus galerinya pun cukup atraktif. Pemandangan dari jendela langsung mengekspos pergerakan pesawat yang datang dan pergi. Tak banyak pengunjung ke terminal ini karena hanya penerbangan tertentu saja yang diatur di terminal ini. Kami termasuk yang beruntung dapat menikmati keindahannya.
Kami langsung beranjak menuju bis setelah sempat membeli SIMCARD Singapura yang harganya 18 atau 25 SGD di sebuah money changer. Dari sebuah Bandara Internasional yang cukup bikin iri sekaligus kagum, kami bertolak ke destinasi selanjutnya.
City Square Mall
Sebuah mall bertajuk Eco-Friendly dan pernah mendapat penghargaan Green Mark Platinum Award oleh the Building and Construction Authority (BCA). Adalah untuk makan siang selain tujuan utama sebuah kelompok yang meneliti objek Green satu ini. Perut lapar dan hanya mencerna makanan halal membawa kami ke The Banquet dan saya mencicip Bibimbap (semacam nasi pecel khas Korea). Jujur saya agak kecewa karena bumbunya kurang nendang. Setelah makan, kami berpencar sesuai tujuan masing-masing. Aku berkelompok dengan Uti, Riska dan Bubos hanya berkeliling mencuci mata.
Dan akhirnya menghabiskan waktu bersantai dengan segelas Jus Dragon Fruit yang penjualnya susah diajak kompromi dan pelit senyum (dan ternyata memang orang Singapura sebagian besar begitu). Difotoin sama bapak2 di meja sebelah pula setelah aku iseng ber-self timer.
Ah, ternyata peristiwa agak mengenaskan terjadi. Kami ber4 dan beberapa lainnya nyaris ditinggal karena miskomunikasi. Sudahlah, lupakan edisi pengejaran dari city square mall hingga ke masjid depan mustafa itu!!
Fragrance Hotel-Pearl
Dimana kamu tinggal? Fragrance Hotel, pak. Fragrance yang mana? Aduh, yang mana ya, lupa pak.
Hati-hati dalam mengingat nama Fragrance Hotel di Singapura. Karena nama Fragrance Hotel banyak dijumpai. Fragrance Hotel-Pearl, lorong 14 Geylang. Salah-salah, kamu dibawa ke Fragrance Hotel yang di Telok Blangah. Hayah kono!!
Fragrance Hotel-Pearl terletak di kawasan Geylang. Kawasan yang terkenal akan prostitusi semacam Sarkem. Suasana malam lebih semarak ketimbang siang di daerah ini. Berjajar aneka tempat makan juga yang bisa dicicipi. Tapi yang halal bisa dibilang langka. Kami mampir di salah satu warung India agar aman, bernama Bilal restaurant yang mencantumkan halal di posternya.
Dan malam yang semakin larut mulai menyeret kami agar segera bersandar di bantal-bantal empuk. Hemm, selamat malam!!
---
25.08.2011
Ria R. Ramadan
photos CR: eka, uti dan saya sendiri
Wish your trip also be good!!
--
Dan perjalanan pun dimulai. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya kami menghalangi aktivitas pengunjung lainnya, kami berkumpul di Underpass bandara AdiSutjipto Yogyakarta. Berkerumun dengan berbagai macam posisi pada pukul 5 pagi. Menanti dengan penuh sabar. Bukan hanya perjalanannya, namun juga sarapan yang telah dijanjikan.
Pukul 6.30, panitia membagikan paspor serta seciprat kalimat pembuka perjalanan. Kemudian kami beruntun mengikuti panitia untuk check-in. Kami menjadi barisan yang mencolok dengan seragam almamater tercinta. Bagasi, Check-In, Imigrasi, dan take off. Oke, sebab keterlambatan pesawat kami tak jadi berfoto di depan pesawat Air Asia QZ 7138 yang menggendong kami menyebrang samudera.
19 Juli 2011 sekitar pukul 10 kami tiba di Singapura. Singapura memiliki waktu 1 jam lebih cepat dari WIB. Dan ini yang menjadi pertanyaan kami, karena secara garis bujur ia berada di wilayah yang sama dengan WIB.
Tour guide di sana bernama Pak Wang dan Pak Amin. Masing-masing nantinya ikut di dalam bis. Kami diantar untuk menyimpan bagasi terlebih dulu di bis sebelum mengelilingi terminal 1 dan 3 Bandara Internasional Changi.
Terminal 1 saja penataannya cukup nyaman. Apalagi dengan taman indoor namun aku ragu tanaman itu semuanya asli. Tapi cukup menyenangkanlah melihat hehijauan sana sini. Belum cukup lena dengan terminal 1, kami harus menuju terminal 3 menggunakan monorail. Kendaraan yang batal dijadikan alternatif transportasi di Jakarta. Dua lapis pintu monorail hanya terbuka beberapa menit. Jadi siapa cepat dia dapat, sesuai dengan pola aktivitas di negeri Merlion ini.
Terminal 3 Changi Int'l Airport
Tak lama keluar dari monorail, mata kami disuguhi suatu ruang luas yang dihiasi oleh sekumpulan kupu-kupu di atasnya. Bukan sungguhan, melainkan sebaris teknologi shading yang belum terjamah oleh pikiran kami. Belum lagi di sebelah kanan anda akan menjumpai tembok yang disulap jadi hutan mini dengan 10.000 tanaman yang ada di Singapura. Tembok itu dipercantik dengan sebuah air terjun buatan. Di sini kami juga menemukan box-box AC 3x3 meter yang cukup menyejukkan dan menghemat energi.
Tak hanya itu, suasana ruang tunggu sekaligus galerinya pun cukup atraktif. Pemandangan dari jendela langsung mengekspos pergerakan pesawat yang datang dan pergi. Tak banyak pengunjung ke terminal ini karena hanya penerbangan tertentu saja yang diatur di terminal ini. Kami termasuk yang beruntung dapat menikmati keindahannya.
Kami langsung beranjak menuju bis setelah sempat membeli SIMCARD Singapura yang harganya 18 atau 25 SGD di sebuah money changer. Dari sebuah Bandara Internasional yang cukup bikin iri sekaligus kagum, kami bertolak ke destinasi selanjutnya.
City Square Mall
Sebuah mall bertajuk Eco-Friendly dan pernah mendapat penghargaan Green Mark Platinum Award oleh the Building and Construction Authority (BCA). Adalah untuk makan siang selain tujuan utama sebuah kelompok yang meneliti objek Green satu ini. Perut lapar dan hanya mencerna makanan halal membawa kami ke The Banquet dan saya mencicip Bibimbap (semacam nasi pecel khas Korea). Jujur saya agak kecewa karena bumbunya kurang nendang. Setelah makan, kami berpencar sesuai tujuan masing-masing. Aku berkelompok dengan Uti, Riska dan Bubos hanya berkeliling mencuci mata.
Dan akhirnya menghabiskan waktu bersantai dengan segelas Jus Dragon Fruit yang penjualnya susah diajak kompromi dan pelit senyum (dan ternyata memang orang Singapura sebagian besar begitu). Difotoin sama bapak2 di meja sebelah pula setelah aku iseng ber-self timer.
Ah, ternyata peristiwa agak mengenaskan terjadi. Kami ber4 dan beberapa lainnya nyaris ditinggal karena miskomunikasi. Sudahlah, lupakan edisi pengejaran dari city square mall hingga ke masjid depan mustafa itu!!
Fragrance Hotel-Pearl
Dimana kamu tinggal? Fragrance Hotel, pak. Fragrance yang mana? Aduh, yang mana ya, lupa pak.
Hati-hati dalam mengingat nama Fragrance Hotel di Singapura. Karena nama Fragrance Hotel banyak dijumpai. Fragrance Hotel-Pearl, lorong 14 Geylang. Salah-salah, kamu dibawa ke Fragrance Hotel yang di Telok Blangah. Hayah kono!!
Fragrance Hotel-Pearl terletak di kawasan Geylang. Kawasan yang terkenal akan prostitusi semacam Sarkem. Suasana malam lebih semarak ketimbang siang di daerah ini. Berjajar aneka tempat makan juga yang bisa dicicipi. Tapi yang halal bisa dibilang langka. Kami mampir di salah satu warung India agar aman, bernama Bilal restaurant yang mencantumkan halal di posternya.
Dan malam yang semakin larut mulai menyeret kami agar segera bersandar di bantal-bantal empuk. Hemm, selamat malam!!
---
25.08.2011
Ria R. Ramadan
photos CR: eka, uti dan saya sendiri
Wish your trip also be good!!
Tangerang Gituu
Tangerang dengan kemetropolisannya menyambutku dengan aneka nostalgia masa remaja. Even I'm still teens, the last teen. Direncanakan sebagai kota metropolis sekunder segalanya terasa lebih mudah meski keaslian adat budayanya sudah melebur bersama limbah kendaraan bermerek. Dan beberapa waktu lalu, sungguh menjadi pikiranku untuk menggali kembali adat dan budaya masyarakat asli Tangerang. Dipadukan dengan sentuhan teknologi. Jadi akan tercipta semacam Tamanpintar, yang satu kompleks dengan Taman Budaya Yogyakarta dan pusat jendela dunia, Shopping Book Market.
Apalagi sekarang di kawasan Gading Serpong telah berdiri kampus UMN dan sekelilingnya menjadi kawasan terpadu. Sepertinya layak dicoba apabila ada pendukung dan dana, serta perencanaan yang matang. Untuk sementara ini hanya wacana saja. Jika ada yang mau mengembangkan, mohon komentar di blog ini. Terimakasih.
Apalagi sekarang di kawasan Gading Serpong telah berdiri kampus UMN dan sekelilingnya menjadi kawasan terpadu. Sepertinya layak dicoba apabila ada pendukung dan dana, serta perencanaan yang matang. Untuk sementara ini hanya wacana saja. Jika ada yang mau mengembangkan, mohon komentar di blog ini. Terimakasih.
Label:
curhat
18 Agu 2011
Your Existence
You're not special, I know
Just one of a kind, you showed
and there's no important when i met you
Never had any wonder we can go this far
A)But your voice (your voice)
Seems a healing one for me
The way you caress me (caress me)
That made me so comfort along with you
B)And your eyes (your eyes)
never thought it would see my heart
see me through (see me through)
Then get a place inside, oh you
I've been having a lot of romance scenes
But no one seems like this
I am obviously running into you
Can't believe that
now I've fallen in love with you
*repeat A, B,
Hoping someday
We complete each other's piece
to build many more stories
and forever
til the day has come
we treasure our lives together
---
18.08.2011
Rimie Ramadan
dedicated to somebody,
"I know you will read it even you wouldn't understand"
the pieces of hope he given me these days
thank you for read and sing together!! (this is a song, you know)
Just one of a kind, you showed
and there's no important when i met you
Never had any wonder we can go this far
A)But your voice (your voice)
Seems a healing one for me
The way you caress me (caress me)
That made me so comfort along with you
B)And your eyes (your eyes)
never thought it would see my heart
see me through (see me through)
Then get a place inside, oh you
I've been having a lot of romance scenes
But no one seems like this
I am obviously running into you
Can't believe that
now I've fallen in love with you
*repeat A, B,
Hoping someday
We complete each other's piece
to build many more stories
and forever
til the day has come
we treasure our lives together
---
18.08.2011
Rimie Ramadan
dedicated to somebody,
"I know you will read it even you wouldn't understand"
the pieces of hope he given me these days
thank you for read and sing together!! (this is a song, you know)
16 Agu 2011
17
berkorban darah tiada lelah
lengan kekar dengan baju dilinting
gagah berani mengusung bambu runcing
ingatkah kau kala seorang
berkorban tanpa kenal kata pamrih
tak peduli berapa keringat yang terperas
demi melindungi ribuan jiwa yang tertindas
ia yang berlari
tergopoh-gopoh bersembunyi
hanya dalam hitungan jari
bayangannya menghilang lewat pintu belakang
seakan ia buronan
padahal ia pahlawan
dan ketika sosoknya yang tegar dan radikal
terdeteksi memeluk dahan apikal
di antara daun-daun dan buah kelapa nan segar
dan akhirnya, CTAAR!!
Seketika darahnya memancar
menyedot kesadarannya
menumbuhkan rasa penghargaan kepada sosoknya
dan menghantarkan jiwanya
ke haribaan Sang Pencipta
Ya Allah, inilah seorang pamanku
satu dari berjuta pemuda
yang merelakan jiwanya demi Indonesia
semoga Engkau meridhai keikhlasan beliau
dalam menghabiskan masa mudanya
demi keluarga dan kemerdekaan bangsa
----
16.08.2011
Rimie Ramadan
also posted in abdulkaharfamily.blogspot.com
"Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya"
Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
lengan kekar dengan baju dilinting
gagah berani mengusung bambu runcing
ingatkah kau kala seorang
berkorban tanpa kenal kata pamrih
tak peduli berapa keringat yang terperas
demi melindungi ribuan jiwa yang tertindas
ia yang berlari
tergopoh-gopoh bersembunyi
hanya dalam hitungan jari
bayangannya menghilang lewat pintu belakang
seakan ia buronan
padahal ia pahlawan
dan ketika sosoknya yang tegar dan radikal
terdeteksi memeluk dahan apikal
di antara daun-daun dan buah kelapa nan segar
dan akhirnya, CTAAR!!
Seketika darahnya memancar
menyedot kesadarannya
menumbuhkan rasa penghargaan kepada sosoknya
dan menghantarkan jiwanya
ke haribaan Sang Pencipta
Ya Allah, inilah seorang pamanku
satu dari berjuta pemuda
yang merelakan jiwanya demi Indonesia
semoga Engkau meridhai keikhlasan beliau
dalam menghabiskan masa mudanya
demi keluarga dan kemerdekaan bangsa
----
16.08.2011
Rimie Ramadan
also posted in abdulkaharfamily.blogspot.com
"Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya"
Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
Label:
poem
13 Agu 2011
diam!
sudahlah. tak guna kau bicara
sembunyi saja dibalik kepalsuanmu%
tak ada yang tahu
diam!
kujadikan kau panutan
seenak jidat kau belotkan
aku
ke dalam jurang tanpa dasar
apa guna kau?
apa kau peduli?
setitik pun tak tergambar
di belangmu yang amburadul
kau masih berharap
aku
percaya?
sudah
logam bisa mencair
air pun bisa jadi badai
kita
pisah
kau di tempatmu
aku di jalanku
Rimie
sudahlah. tak guna kau bicara
sembunyi saja dibalik kepalsuanmu%
tak ada yang tahu
diam!
kujadikan kau panutan
seenak jidat kau belotkan
aku
ke dalam jurang tanpa dasar
apa guna kau?
apa kau peduli?
setitik pun tak tergambar
di belangmu yang amburadul
kau masih berharap
aku
percaya?
sudah
logam bisa mencair
air pun bisa jadi badai
kita
pisah
kau di tempatmu
aku di jalanku
Rimie
Label:
poem
10 Agu 2011
Mimpi, Pertanda?
Sekitar 3 hari dari hari ini, aku membuka mataku dengan tersenyum. Aku memeluk guling dan menarik selimutku lebih erat. Seolah jika aku melakukannya, mimpi itu akan berlanjut. Seakan mimpi itu nyata, aku bergumul dalam selimutku menghangatkan diri.
"Hah.. sampai sudah di bukit ini!!" ucpku ceria. Ketika itu aku bersama beberapa orang yang aku lupa wajahnya. Kami bermain-main cukup lama. Sementara hawa perlahan menyejuk dan seketika kami berpandangan. Tak lama kemudian, butir putih mulai turun dari langit. Laksana awan yang diparut hingga berbutir kecil. Perlahan, dengan kilapnya menembus bidang terdekat. termasuk tanganku. Melebat, menyeruak dan dalam sekejap semua pemandangan hijau itu berubah menjadi hamparan salju. Indah dan terasa nyata.
Lalu 2 hari setelah itu, atau malam kemarin, aku kembali terbangun dengan mimpi yang berkesan. Namun kali ini aku kebagian mimpi tentang seorang anak kecil. Entah siapa anak kecil itu, aku juga tak kenal. Bahkan tak tahu. Mendadak menjadi tokoh utama di mimpiku. Dan membuatku banjir airmata.
Aku melihat kelahiran bayi kecilnya. Dia menangis meraung, berbarengan dengan ditaruhnya bayi merah lain di sebelahnya. Tak dinyana, keduanya bertetangga dekat. Keduanya tumbuh bersama. Hingga suatu hari, si anak tokoh utama ini harus pindah ke ibukota. Meninggalkan kampung halamannya untuk waktu yang cukup lama, hidup di rumah kerabatnya tanpa didampingi orangtua.
Persahabatan yang kental ternyata dapat diperdaya oleh waktu.
Suatu hari yang biasa, si anak ini disuruh pulang kampung oleh ibunya. Menurutlah si anak dan esoknya segera menuju kampung halamannya. Sesampainya di rumah, ia melihat kedua mata ibunya lebam seperti bekas menangis ditambah beberapa jejak airmata di pipinya. Ia bertanya pada ibunya perihal keadaan beliau. Namun sang ibu hanya menyuruhnya bersiap-siap, agar segera berangkat. Tanpa banyak omong sang anak lagi-lagi menurut. Usianya yang masih cukup muda ketika itu, mungkin sekitar 8 tahun, masih dalam masa ogah membantah. Baju yang ia siapkan ternyata telah diganti oleh sang ibu begitu ia selesai mandi. Kemeja putih, dasi hitam dan setelan hitam. Ia berpikir, "Apakah seformal itu acaranya?" sampai harus memakai setelan.
Lagi-lagi ia menurut. Ia memakai baju itu dan bersisir. Beranjak dari kamar, ia melihat ibunya telah rapi dan siap di depan pintu. Mereka pun berangkat. Sepanjang jalan sang ibu tak henti menyapu sudut matanya. Si anak tak henti menanyai dirinya sendiri.
Sampailah mereka di suatu gedung yang mirip rumah duka. Dan ternyata benar. Dari luar terlihat busana-busana gelap dan pita-pita hitam berjajar. Pertanyaan berikutnya adalah "Siapa?" dan segera ia mendapat jawabannya.
Di peti yang berukuran lebih kecil dari peti dewasa, ia melihat jenazah teman kecilnya terbujur dengan busana terbaiknya. Matanya memejam, tak ada lagi kilau nakalnya. Tangannya menyatu di dada. Seakan kedamaian telah menyelimutinya. (di sini aku mulai ikut menangis)
Tubuh si anak gemetar. Ia segera berlari keluar, meninggalkan sang ibu. Ia berhenti di undakan dekat sebuah kolam dan terisak sendirian. Cukup lama, sebelum ada seseorang menghampirinya. Orang itu memberikan sebuah amplop dan kotak berpita.
Ia membuka amplop berisi surat tersebut. Isaknya kembali menderas. Surat itu berisi permintaan maaf dan ucapan terimakasih. Serta mengungkit beberapa kenangan mereka. Belum cukup, ia membuka kotak berpita. Isinya foto2 beragam sejak mereka masih bayi hingga sesaat sebelum keberangkatannya ke ibukota.
Dan seketika tangis itu membawaku ke kehidupan nyata. Dan aku masih terus menangis entah untuk berapa lama. Percaya atau tidak, ini mimpiku. Bukan karangan semata. Entah untuk apa mimpi ini hadir di tidurku. Yang jelas satu hal yang kupetik, "Persahabatan itu dijalani lebih dari satu pihak, namun jika pihak lainnya telah tiada, persahabatan itu tetap nyata."
Ria R Ramadan
10.08.2011
"Hah.. sampai sudah di bukit ini!!" ucpku ceria. Ketika itu aku bersama beberapa orang yang aku lupa wajahnya. Kami bermain-main cukup lama. Sementara hawa perlahan menyejuk dan seketika kami berpandangan. Tak lama kemudian, butir putih mulai turun dari langit. Laksana awan yang diparut hingga berbutir kecil. Perlahan, dengan kilapnya menembus bidang terdekat. termasuk tanganku. Melebat, menyeruak dan dalam sekejap semua pemandangan hijau itu berubah menjadi hamparan salju. Indah dan terasa nyata.
Lalu 2 hari setelah itu, atau malam kemarin, aku kembali terbangun dengan mimpi yang berkesan. Namun kali ini aku kebagian mimpi tentang seorang anak kecil. Entah siapa anak kecil itu, aku juga tak kenal. Bahkan tak tahu. Mendadak menjadi tokoh utama di mimpiku. Dan membuatku banjir airmata.
Aku melihat kelahiran bayi kecilnya. Dia menangis meraung, berbarengan dengan ditaruhnya bayi merah lain di sebelahnya. Tak dinyana, keduanya bertetangga dekat. Keduanya tumbuh bersama. Hingga suatu hari, si anak tokoh utama ini harus pindah ke ibukota. Meninggalkan kampung halamannya untuk waktu yang cukup lama, hidup di rumah kerabatnya tanpa didampingi orangtua.
Persahabatan yang kental ternyata dapat diperdaya oleh waktu.
Suatu hari yang biasa, si anak ini disuruh pulang kampung oleh ibunya. Menurutlah si anak dan esoknya segera menuju kampung halamannya. Sesampainya di rumah, ia melihat kedua mata ibunya lebam seperti bekas menangis ditambah beberapa jejak airmata di pipinya. Ia bertanya pada ibunya perihal keadaan beliau. Namun sang ibu hanya menyuruhnya bersiap-siap, agar segera berangkat. Tanpa banyak omong sang anak lagi-lagi menurut. Usianya yang masih cukup muda ketika itu, mungkin sekitar 8 tahun, masih dalam masa ogah membantah. Baju yang ia siapkan ternyata telah diganti oleh sang ibu begitu ia selesai mandi. Kemeja putih, dasi hitam dan setelan hitam. Ia berpikir, "Apakah seformal itu acaranya?" sampai harus memakai setelan.
Lagi-lagi ia menurut. Ia memakai baju itu dan bersisir. Beranjak dari kamar, ia melihat ibunya telah rapi dan siap di depan pintu. Mereka pun berangkat. Sepanjang jalan sang ibu tak henti menyapu sudut matanya. Si anak tak henti menanyai dirinya sendiri.
Sampailah mereka di suatu gedung yang mirip rumah duka. Dan ternyata benar. Dari luar terlihat busana-busana gelap dan pita-pita hitam berjajar. Pertanyaan berikutnya adalah "Siapa?" dan segera ia mendapat jawabannya.
Di peti yang berukuran lebih kecil dari peti dewasa, ia melihat jenazah teman kecilnya terbujur dengan busana terbaiknya. Matanya memejam, tak ada lagi kilau nakalnya. Tangannya menyatu di dada. Seakan kedamaian telah menyelimutinya. (di sini aku mulai ikut menangis)
Tubuh si anak gemetar. Ia segera berlari keluar, meninggalkan sang ibu. Ia berhenti di undakan dekat sebuah kolam dan terisak sendirian. Cukup lama, sebelum ada seseorang menghampirinya. Orang itu memberikan sebuah amplop dan kotak berpita.
Ia membuka amplop berisi surat tersebut. Isaknya kembali menderas. Surat itu berisi permintaan maaf dan ucapan terimakasih. Serta mengungkit beberapa kenangan mereka. Belum cukup, ia membuka kotak berpita. Isinya foto2 beragam sejak mereka masih bayi hingga sesaat sebelum keberangkatannya ke ibukota.
Dan seketika tangis itu membawaku ke kehidupan nyata. Dan aku masih terus menangis entah untuk berapa lama. Percaya atau tidak, ini mimpiku. Bukan karangan semata. Entah untuk apa mimpi ini hadir di tidurku. Yang jelas satu hal yang kupetik, "Persahabatan itu dijalani lebih dari satu pihak, namun jika pihak lainnya telah tiada, persahabatan itu tetap nyata."
Ria R Ramadan
10.08.2011
4 Agu 2011
Hikari no Dojou (1)
Prolog
Terjadi pencurian di sebuah bank dan toko perhiasan di daerah Kyoto yang terjadi pada satu malam. Tindak pencurian ini sungguh meresahkan warga masyarakat hingga mereka berbondong-bondong mendatangi kantor polisi di komplek tersebut untuk mengajukan komplain. Mereka mengenali ciri-ciri pencuri itu sebagai pemuda kurus dengan mata yang tajam.
“Hikari-san, kau tangani kasus ini, oke? Aku tak mau lagi mendapat laporan dari masyarakat saat aku menghadiri pesta ulangtahun presiden besok.” Kata Inspektur Kepala.
“Siap, komandan!” jawab polisi tersebut seraya menghormat.
1
Bruk.
Tap tap tap.
“Onee-chan!” Seorang gadis berwajah imut memanggilnya.
“Ssht!! Pelankan suaramu, Aya-chan!!”pencuri bernama Hikari menjulurkan telunjuknya mengunci mulut sang adik. Gadis itu mengangguk lalu membantu membawakan barang-barang hasil curiannya. Hikari pergi ke kamarnya. Aya mengikuti kakaknya.
“Kak, kamu tidak apa-apa?” Dia bicara selirih mungkin agar tak ada yang mendengar. Tangan kanannya mengusap pelan wajah kakaknya yang telah bebas dari topeng ninja. Aya mendesah, “Kukira kau sudah tahu baik aku mencemaskanmu. Yah, tapi.. apa boleh buat. Gomen ne,” Aya membungkuk. Air matanya mulai jatuh ke lantai kayu.
Hikari memandanginya untuk sesaat sebelum mengelus rambut saudara semata wayangnya. Perlahan dia mendekati Aya dan memeluknya. Menukar perih dan kekuatan satu sama lain. “Jangan cemas, Aku akan selalu melindungimu. Aku janji.”
2
Kimizuki Hikari berjalan-jalan santai hingga sampai di sebuah taman kota. Tangannya menggapai sebuah bangku. Lantas ia duduk di sana. Cukup lama ia melamun, hingga tak menyadari seorang gadis duduk di sebelahnya. Gadis itu menepuk bahunya. “Mau minum?”
Lamunan Hikari buyar serta merta menengok ke sumber suara. Ia melihat tangan berkulit kuning langsat menyodorkan minuman kaleng yang sudah dibuka. Ia kemudian menatap sang empunya dan menggeleng, “Tidak. Terimakasih.”
“Cih. Kau ini, baiklah kalau kau takut kuracuni,” tangan gadis itu kembali masuk ke plastik yang dibawanya, “nih. Masih utuh, belum dibuka.” Sodornya lagi.
“Haah. Baiklah. Jangan menyesal ya.” Hikari menyambar sekaleng minuman lainnya dari tangan gadis itu. Ia mendengar gadis itu terkikik. Ia pun ikut tertawa.
“Hei, siapa namamu Tukang Paksa?” tanya Kimizuki Hikari selesai mereka tertawa.
“Jangan panggil aku seenaknya, ya! Namaku bagus. Hikari. Shouto Hikari.” Jawab gadis itu mantap.
Tapi pemuda di depannya malah tersentak hingga nyaris tersedak. “Uhuk. Kok.. sama? Namaku juga Hikari. Tepatnya Kimizuki Hikari. Salam kenal.” Ia menjulurkan tangan dan segera dijabat oleh Hikari.
3
Malam itu Hikari tidak melakukan aksinya. Ia terdiam di kamarnya. Badannya cukup lelah setelah membersihkan seluruh dojo sore tadi. Aya masuk ke kamarnya setelah mengetuk pintu. “Kak, makan.”
Hikari bangun dari tempat tidurnya. Lalu mengikuti adiknya ke ruang makan. “Masak apa kau malam ini?”
“Yakiniku ditambah Sup miso. Oya, aku juga membeli buah peach di pasar tadi.” Jawab adiknya.
Selera makannya terbit mendengar makanan kesukaannya itu disebut. “Sepertinya lezat nih.” Ia duduk di salah satu sisi dan mengambil mangkuk Sup miso. “Tapi ingat, kau jangan berfoya-foya lho.” Nasehatnya sebelum menyeruput kuah miso kesukaannya.
Aya tersenyum. Bersiap mengambil mangkuk nasi. Dengan sumpitnya ia mengambil potongan-potongan daging yakiniku ke atas nasinya. “Malam ini kau pergi?”
“Tidak.” Hikari mengikuti adiknya, menyuap sekali sambil melanjutkan. “Aku lelah habis membersihkan dojo. Lagipula tangkapan kemarin cukup banyak bukan? Bisa untuk sebulan lah kira-kira.”
“Syukurlah. Aku akan tenang kalau begitu.”
4
Shouto Hikari kembali menjalankan aksinya. Ia bersembunyi di antara dahan-dahan pohon. Mengamati situasi target tangkapannya kali ini. Setelah dirasa cukup aman, ia mulai menuju ke atap. Target kali ini adalah rumah seorang pejabat yang dikenal sombong dan pelit. ‘Sedikit memberi pelajaran. Anggap saja balas dendam dari rakyatmu.’
Ia merangkak menuju sebuah jendela, menurut pengintaiannya jendela itu telah lepas engselnya. Dengan mudah ia masuk ke dalam. Ia memastikan tak ada yang menyadari keberadaannya. Lalu secepat kilat ia menyikat barang-barang mewah di rumah tersebut. Sejumlah perhiasan, uang dan beberapa koleksi benda antik yang pasti mahal itu ia bungkus rapi.
Tapi ketika ia hendak keluar dari jendela yang sama, ia menemukan seorang polisi sedang berpatroli di bawah sana. Dan sepertinya ia pernah tahu wajah orang ini. Segera setelah jaraknya cukup jauh, dengan lihai Hikari keluar dan melompat melalui atap-atap rumah hingga kembali ke dojonya.
5
“Onee-chan.” Aya memanggil namanya saat Hikari sedang melatih murid kelas khususnya.
“Ada apa, Aya-chan?” tanyanya lembut kepada adik satu-satunya itu.
Muka Aya sedikit bersemu merah. Pandangannya juga tidak fokus, terbagi antara memandang kakaknya dan sekumpulan murid di hadapannya. “Ano.. persediaan ocha kita habis. Bisakah kau membelikannya di warung ujung jalan?”
Hikari tersenyum simpul. “Aah. Boleh saja. Tapi..” Hikari menolehkan kepalanya ke murid-muridnya sebentar kemudian memandang Aya lagi. “Kau janji menceritakannya nanti malam. Oke?” suara Hikari membisik.
“Onee-chan!!” Pipi Shouto Aya semakin memerah digoda kakaknya. “Baiklah. aku janji. Oya, bisakah kau juga membeli kue kering? Untuk camilan.”
“Baiklah gadis keciil!!” Hikari mengelus dagu Aya. Membuat Aya semakin ngambek dan meledaklah tawa Hikari.
6
Hikari baru saja menyelesaikan permintaan Aya. Ia pun hendak kembali ke rumah mereka yang berfungsi sebagai dojo. Namun sebuah papan informasi menyeret matanya. Sebuah poster ukuran A3 memasang wajah seseorang yang berbalut seragam ninja. Di bawahnya tertulis “Pencuri Kelas Kakap. Bagi yang menemukannya segera lapor ke pos polisi terdekat. Akan diberikan hadiah sebesar 10.000.000 yen.”
Hikari tersenyum. ‘Jumlah kecil. Tak seberapa dengan hasil tangkapanku. Cih. Dasar pemerintah.’ Ia masih memandangi gambar itu cukup lama.
“Hei sedang apa kau, Shouto-san?”
Sebuah panggilan mengagetkannya. Ia menoleh, dan terpampang sebuah wajah yang ia kenal seminggu lalu. “Ah, tidak. Aku hanya terpesona dengan hadiah sayembara ini. Besar sekali.” Katanya mengelak.
Polisi bernama sama dengannya itu mendekati dan sama-sama melihat poster yang ia buat. “Hm. Setimpal kok dengan buronannya.” Kimizuki Hikari menoleh ke gadis di sampingnya. “Kau tahu, dia pernah mencuri di bank dan toko perhiasan sekaligus, dan keduanya dilakukan pada malam yang sama!!” cerita Hikari menggebu.
‘Tentu saja aku tahu. Bodoh.’ “Ah, benarkah? Itu benar-benar gila!” katanya bohong.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong dari mana kau? Mengapa berpakaian seperti itu?” tanya polisi muda itu, seakan menginterogasi. Hikari menatap gadis di depannya dengan raut bingung.
“Ini. Aku baru saja membeli ocha dan beberapa kue kering pesanan adikku. Dan akan kembali ke dojo.” Hikari menunjukkan bungkusan coklat yang ia bawa. “Oh, aku belum memberitahumu ya. Kimizuki-san, aku ini pelatih karate.”
7
“Kimizuki-san, aku ini pelatih karate.” Kalimat itu terus bergema di telinga Kimizuki Hikari. Ia membayangkan wajah gadis bernama sama itu, tak habis pikir. ‘Wajahnya imut. Badannya yah, cukup tinggi sih. Aku tak menyangka dia sudah jadi pelatih.’
“Hei. Kenapa kau melamun, Hikari-san?” tegur seorang polisi wanita berpangkat jendral. Dia Fujiwara Ito, Wakil Kepala Inspektur di perfektur ini.
Hikari-san hampir saja terjatuh dari “kursi goyangnya”. Seketika ia menggeleng, “Ah, tidak. Saya hanya memikirkan taktik untuk menangkap pencuri itu. Bukankah itu sudah menjadi tugas saya?” jawabnya bohong.
“Oh. Baguslah kalau begitu. Tapi kuharap kau segera menyusun strategimu itu. Jangan Cuma dipikirkan. Mengerti?”
“Siap, komandan!” Ia menghormat sambil menegakkan kembali duduknya.
8
Makan malam Hikari dan Aya berlangsung sepi. Aya yang biasanya membuka percakapan, kini bungkam. Akhirnya selesai makan, saat mereka menikmati ocha yang baru dibeli sore tadi, Hikari membuka percakapan.
“Aya-chan. Seleramu bagus juga rupanya.”
Glek! Hampir saja Aya menyemburkan sisa dalam mulutnya. “Onee-chan!” dilihatnya Hikari tertawa puas.
“Haha. Maaf dik. Tak kukira kau sekaget itu. Kau benar-benar menyukainya ya?” selidik Hikari.
Muka Aya memerah lagi. Kali ini persis seperti kepiting rebus.
“Setahuku, dia itu belum lama tinggal di sini. Baru dua tahun sepertinya.” Tutur Hikari. “Orangtuanya bercerai. Ia dan ayahnya pindah kemari lalu ayahnya menikah dengan orang sini.”
“Ya. Beliau aslinya dari Korea, tapi cukup fasih bahasa Jepang. Ayahnya seorang penjaga barang yang transit di pelabuhan. Makanya bisa bermacam bahasa. Terutama Jepang.”
“Ahahaa.. sepertinya kau benar-benar sudah dekat dengan Park Seungji!! Ahahahaahaa..” tawa Hikari sungguh lepas malam itu. Membuat muka Aya semakin matang.
“Hikari onee-chan!! Dia kan cukup terkenal diantara para murid. Aku hanya sering mendengar obrolan mereka saja! Lagian dia lebih sering memujimu daripada aku. Dia sangat mengagumi dirimu Onee.” teriaknya malu.
“Hahahaa. Terserahlah Aya-chan. Tapi, kuberitahu sesuatu. Jangan cemburu padaku. Karena aku tak suka padanya. Lagipula menurutku, itu hanya alasan untuk mendekatimu. Hyahahahaa..”
Bibir Aya melengkung ke atas. Tapi tak dipungkiri, pipi dan hatinya makin bersemu.
NYAMBUNG
Terjadi pencurian di sebuah bank dan toko perhiasan di daerah Kyoto yang terjadi pada satu malam. Tindak pencurian ini sungguh meresahkan warga masyarakat hingga mereka berbondong-bondong mendatangi kantor polisi di komplek tersebut untuk mengajukan komplain. Mereka mengenali ciri-ciri pencuri itu sebagai pemuda kurus dengan mata yang tajam.
“Hikari-san, kau tangani kasus ini, oke? Aku tak mau lagi mendapat laporan dari masyarakat saat aku menghadiri pesta ulangtahun presiden besok.” Kata Inspektur Kepala.
“Siap, komandan!” jawab polisi tersebut seraya menghormat.
1
Bruk.
Tap tap tap.
“Onee-chan!” Seorang gadis berwajah imut memanggilnya.
“Ssht!! Pelankan suaramu, Aya-chan!!”pencuri bernama Hikari menjulurkan telunjuknya mengunci mulut sang adik. Gadis itu mengangguk lalu membantu membawakan barang-barang hasil curiannya. Hikari pergi ke kamarnya. Aya mengikuti kakaknya.
“Kak, kamu tidak apa-apa?” Dia bicara selirih mungkin agar tak ada yang mendengar. Tangan kanannya mengusap pelan wajah kakaknya yang telah bebas dari topeng ninja. Aya mendesah, “Kukira kau sudah tahu baik aku mencemaskanmu. Yah, tapi.. apa boleh buat. Gomen ne,” Aya membungkuk. Air matanya mulai jatuh ke lantai kayu.
Hikari memandanginya untuk sesaat sebelum mengelus rambut saudara semata wayangnya. Perlahan dia mendekati Aya dan memeluknya. Menukar perih dan kekuatan satu sama lain. “Jangan cemas, Aku akan selalu melindungimu. Aku janji.”
2
Kimizuki Hikari berjalan-jalan santai hingga sampai di sebuah taman kota. Tangannya menggapai sebuah bangku. Lantas ia duduk di sana. Cukup lama ia melamun, hingga tak menyadari seorang gadis duduk di sebelahnya. Gadis itu menepuk bahunya. “Mau minum?”
Lamunan Hikari buyar serta merta menengok ke sumber suara. Ia melihat tangan berkulit kuning langsat menyodorkan minuman kaleng yang sudah dibuka. Ia kemudian menatap sang empunya dan menggeleng, “Tidak. Terimakasih.”
“Cih. Kau ini, baiklah kalau kau takut kuracuni,” tangan gadis itu kembali masuk ke plastik yang dibawanya, “nih. Masih utuh, belum dibuka.” Sodornya lagi.
“Haah. Baiklah. Jangan menyesal ya.” Hikari menyambar sekaleng minuman lainnya dari tangan gadis itu. Ia mendengar gadis itu terkikik. Ia pun ikut tertawa.
“Hei, siapa namamu Tukang Paksa?” tanya Kimizuki Hikari selesai mereka tertawa.
“Jangan panggil aku seenaknya, ya! Namaku bagus. Hikari. Shouto Hikari.” Jawab gadis itu mantap.
Tapi pemuda di depannya malah tersentak hingga nyaris tersedak. “Uhuk. Kok.. sama? Namaku juga Hikari. Tepatnya Kimizuki Hikari. Salam kenal.” Ia menjulurkan tangan dan segera dijabat oleh Hikari.
3
Malam itu Hikari tidak melakukan aksinya. Ia terdiam di kamarnya. Badannya cukup lelah setelah membersihkan seluruh dojo sore tadi. Aya masuk ke kamarnya setelah mengetuk pintu. “Kak, makan.”
Hikari bangun dari tempat tidurnya. Lalu mengikuti adiknya ke ruang makan. “Masak apa kau malam ini?”
“Yakiniku ditambah Sup miso. Oya, aku juga membeli buah peach di pasar tadi.” Jawab adiknya.
Selera makannya terbit mendengar makanan kesukaannya itu disebut. “Sepertinya lezat nih.” Ia duduk di salah satu sisi dan mengambil mangkuk Sup miso. “Tapi ingat, kau jangan berfoya-foya lho.” Nasehatnya sebelum menyeruput kuah miso kesukaannya.
Aya tersenyum. Bersiap mengambil mangkuk nasi. Dengan sumpitnya ia mengambil potongan-potongan daging yakiniku ke atas nasinya. “Malam ini kau pergi?”
“Tidak.” Hikari mengikuti adiknya, menyuap sekali sambil melanjutkan. “Aku lelah habis membersihkan dojo. Lagipula tangkapan kemarin cukup banyak bukan? Bisa untuk sebulan lah kira-kira.”
“Syukurlah. Aku akan tenang kalau begitu.”
4
Shouto Hikari kembali menjalankan aksinya. Ia bersembunyi di antara dahan-dahan pohon. Mengamati situasi target tangkapannya kali ini. Setelah dirasa cukup aman, ia mulai menuju ke atap. Target kali ini adalah rumah seorang pejabat yang dikenal sombong dan pelit. ‘Sedikit memberi pelajaran. Anggap saja balas dendam dari rakyatmu.’
Ia merangkak menuju sebuah jendela, menurut pengintaiannya jendela itu telah lepas engselnya. Dengan mudah ia masuk ke dalam. Ia memastikan tak ada yang menyadari keberadaannya. Lalu secepat kilat ia menyikat barang-barang mewah di rumah tersebut. Sejumlah perhiasan, uang dan beberapa koleksi benda antik yang pasti mahal itu ia bungkus rapi.
Tapi ketika ia hendak keluar dari jendela yang sama, ia menemukan seorang polisi sedang berpatroli di bawah sana. Dan sepertinya ia pernah tahu wajah orang ini. Segera setelah jaraknya cukup jauh, dengan lihai Hikari keluar dan melompat melalui atap-atap rumah hingga kembali ke dojonya.
5
“Onee-chan.” Aya memanggil namanya saat Hikari sedang melatih murid kelas khususnya.
“Ada apa, Aya-chan?” tanyanya lembut kepada adik satu-satunya itu.
Muka Aya sedikit bersemu merah. Pandangannya juga tidak fokus, terbagi antara memandang kakaknya dan sekumpulan murid di hadapannya. “Ano.. persediaan ocha kita habis. Bisakah kau membelikannya di warung ujung jalan?”
Hikari tersenyum simpul. “Aah. Boleh saja. Tapi..” Hikari menolehkan kepalanya ke murid-muridnya sebentar kemudian memandang Aya lagi. “Kau janji menceritakannya nanti malam. Oke?” suara Hikari membisik.
“Onee-chan!!” Pipi Shouto Aya semakin memerah digoda kakaknya. “Baiklah. aku janji. Oya, bisakah kau juga membeli kue kering? Untuk camilan.”
“Baiklah gadis keciil!!” Hikari mengelus dagu Aya. Membuat Aya semakin ngambek dan meledaklah tawa Hikari.
6
Hikari baru saja menyelesaikan permintaan Aya. Ia pun hendak kembali ke rumah mereka yang berfungsi sebagai dojo. Namun sebuah papan informasi menyeret matanya. Sebuah poster ukuran A3 memasang wajah seseorang yang berbalut seragam ninja. Di bawahnya tertulis “Pencuri Kelas Kakap. Bagi yang menemukannya segera lapor ke pos polisi terdekat. Akan diberikan hadiah sebesar 10.000.000 yen.”
Hikari tersenyum. ‘Jumlah kecil. Tak seberapa dengan hasil tangkapanku. Cih. Dasar pemerintah.’ Ia masih memandangi gambar itu cukup lama.
“Hei sedang apa kau, Shouto-san?”
Sebuah panggilan mengagetkannya. Ia menoleh, dan terpampang sebuah wajah yang ia kenal seminggu lalu. “Ah, tidak. Aku hanya terpesona dengan hadiah sayembara ini. Besar sekali.” Katanya mengelak.
Polisi bernama sama dengannya itu mendekati dan sama-sama melihat poster yang ia buat. “Hm. Setimpal kok dengan buronannya.” Kimizuki Hikari menoleh ke gadis di sampingnya. “Kau tahu, dia pernah mencuri di bank dan toko perhiasan sekaligus, dan keduanya dilakukan pada malam yang sama!!” cerita Hikari menggebu.
‘Tentu saja aku tahu. Bodoh.’ “Ah, benarkah? Itu benar-benar gila!” katanya bohong.
“Oh, ya. Ngomong-ngomong dari mana kau? Mengapa berpakaian seperti itu?” tanya polisi muda itu, seakan menginterogasi. Hikari menatap gadis di depannya dengan raut bingung.
“Ini. Aku baru saja membeli ocha dan beberapa kue kering pesanan adikku. Dan akan kembali ke dojo.” Hikari menunjukkan bungkusan coklat yang ia bawa. “Oh, aku belum memberitahumu ya. Kimizuki-san, aku ini pelatih karate.”
7
“Kimizuki-san, aku ini pelatih karate.” Kalimat itu terus bergema di telinga Kimizuki Hikari. Ia membayangkan wajah gadis bernama sama itu, tak habis pikir. ‘Wajahnya imut. Badannya yah, cukup tinggi sih. Aku tak menyangka dia sudah jadi pelatih.’
“Hei. Kenapa kau melamun, Hikari-san?” tegur seorang polisi wanita berpangkat jendral. Dia Fujiwara Ito, Wakil Kepala Inspektur di perfektur ini.
Hikari-san hampir saja terjatuh dari “kursi goyangnya”. Seketika ia menggeleng, “Ah, tidak. Saya hanya memikirkan taktik untuk menangkap pencuri itu. Bukankah itu sudah menjadi tugas saya?” jawabnya bohong.
“Oh. Baguslah kalau begitu. Tapi kuharap kau segera menyusun strategimu itu. Jangan Cuma dipikirkan. Mengerti?”
“Siap, komandan!” Ia menghormat sambil menegakkan kembali duduknya.
8
Makan malam Hikari dan Aya berlangsung sepi. Aya yang biasanya membuka percakapan, kini bungkam. Akhirnya selesai makan, saat mereka menikmati ocha yang baru dibeli sore tadi, Hikari membuka percakapan.
“Aya-chan. Seleramu bagus juga rupanya.”
Glek! Hampir saja Aya menyemburkan sisa dalam mulutnya. “Onee-chan!” dilihatnya Hikari tertawa puas.
“Haha. Maaf dik. Tak kukira kau sekaget itu. Kau benar-benar menyukainya ya?” selidik Hikari.
Muka Aya memerah lagi. Kali ini persis seperti kepiting rebus.
“Setahuku, dia itu belum lama tinggal di sini. Baru dua tahun sepertinya.” Tutur Hikari. “Orangtuanya bercerai. Ia dan ayahnya pindah kemari lalu ayahnya menikah dengan orang sini.”
“Ya. Beliau aslinya dari Korea, tapi cukup fasih bahasa Jepang. Ayahnya seorang penjaga barang yang transit di pelabuhan. Makanya bisa bermacam bahasa. Terutama Jepang.”
“Ahahaa.. sepertinya kau benar-benar sudah dekat dengan Park Seungji!! Ahahahaahaa..” tawa Hikari sungguh lepas malam itu. Membuat muka Aya semakin matang.
“Hikari onee-chan!! Dia kan cukup terkenal diantara para murid. Aku hanya sering mendengar obrolan mereka saja! Lagian dia lebih sering memujimu daripada aku. Dia sangat mengagumi dirimu Onee.” teriaknya malu.
“Hahahaa. Terserahlah Aya-chan. Tapi, kuberitahu sesuatu. Jangan cemburu padaku. Karena aku tak suka padanya. Lagipula menurutku, itu hanya alasan untuk mendekatimu. Hyahahahaa..”
Bibir Aya melengkung ke atas. Tapi tak dipungkiri, pipi dan hatinya makin bersemu.
NYAMBUNG
Label:
general ficts,
hikari
2 Agu 2011
Thank God It Ends
After some times I finally had courages to send a 'usual' sms.
Some times that I can't call it short.
That loser soul, tried to throw it further.
See my phones a while then leave
to take a break for my all-day fasting
Cause I really think that's a usual thing
and I leave it some times without notice
I'm eating my meal when my sister's shouts
"New messages in your inbox!!"
Nothing shocks, cause friends I sent them too
"Ok, after finished rite?"
I take my phone and find inbox
the usual friends replies and some ads
what takes my eyes out is that number
that I remember out of my mind
Still gives me shocks
It likes saying goodbye
to the cold symptoms between us
thanks anyway being that nice
now I can clearly smile
---
Rimie Ramadan
02.08.2011
Some times that I can't call it short.
That loser soul, tried to throw it further.
See my phones a while then leave
to take a break for my all-day fasting
Cause I really think that's a usual thing
and I leave it some times without notice
I'm eating my meal when my sister's shouts
"New messages in your inbox!!"
Nothing shocks, cause friends I sent them too
"Ok, after finished rite?"
I take my phone and find inbox
the usual friends replies and some ads
what takes my eyes out is that number
that I remember out of my mind
Still gives me shocks
It likes saying goodbye
to the cold symptoms between us
thanks anyway being that nice
now I can clearly smile
---
Rimie Ramadan
02.08.2011
29 Jul 2011
White Rose : A Story of Kim Jinyeong and Kyoko Matsumoto
Episode 7-
“Jinja? The formal engagement day will be arranged sooner?” His parent just smile happily.
“Wah, sis-in-law really talented! I’m glad she can passed it, even when her look can be the model herself!” Jinsung get a pinch from his brother
Jinyeong looks at him devily. “Hey, brother. If you dare to like her, you know what will I do to you, right?”
“I-don’t-care!!” Jinsung laughs. “Argh!! It’s hurt Hyung!!” Jinyeong pinches him more.
***
Kyoko smiles so brightly this noon. She already stands since 15 minutes ago. She can’t wait more because they’ll have a costume fitting for the engagement day. But cluelessly Jinyeong didn’t come up yet. She sits, and stands, and walks around then sits again. Then she decides to stand again. Til the school’s getting almost no one.
All of a sudden, some beggars come up and try to flirt Kyoko. They’re surrounding Kyoko, one of them catch Kyoko’s bag. Kyoko seemed really frightened. She wished somebody come up and help her. But there seemed no one will.
Louis has just finish his last practicum in Science Club activity. He packs her backpack and get out from laboratory quickly. “It’s almost match time. Crap!!” He’s going to slap her head but seeing a student being bullied by beggars, he won’t. He keeps hiding for making strategy. He comes to the crowd and try to punch them one by one. One man which holds Kyoko tightly, being punch by him at the back. He fights them and take Kyoko’s bag with a great smile. But..
“BUGH.”
One of the beggars hit him from backside and made him fell down. The other two beggars kick him while the rest of them take their bikes. Louis get much hurts and bleeding. He’s trying to get up when the beggars come to their friends on bikes. Since he could stand weakly, a beggars bike hit them instead. He fell and rolling on the ground til his body faces the pedestrian. All the things getting dark around him and blackout.
***
“Craack!”
A doctor and some nurses come out from the surgery room. Kyoko and Jinyeong get up and asks the doctor quickly about Louis condition.
“Are you his family?” said the doctor. Both of them shake heads. “It’s better if his family here. Because he lost much blood. And usually family’s blood-related is easy to adapt with patient’s body. So when they will come?”
“Mm, He only has dad. And he’s working now. Usually he comes home about 9 pm. Isn’t it too long if we’re waiting? Can it be replace, doc?” Kyoko said carefully.
The doctor thinks a while said, “Ok. His blood type is AB+. Do you have one?”
Kyoko shakes her head again. But Jinyeong nods certainful. “I’m ready doc.”
***
“Jinja? The formal engagement day will be arranged sooner?” His parent just smile happily.
“Wah, sis-in-law really talented! I’m glad she can passed it, even when her look can be the model herself!” Jinsung get a pinch from his brother
Jinyeong looks at him devily. “Hey, brother. If you dare to like her, you know what will I do to you, right?”
“I-don’t-care!!” Jinsung laughs. “Argh!! It’s hurt Hyung!!” Jinyeong pinches him more.
***
Kyoko smiles so brightly this noon. She already stands since 15 minutes ago. She can’t wait more because they’ll have a costume fitting for the engagement day. But cluelessly Jinyeong didn’t come up yet. She sits, and stands, and walks around then sits again. Then she decides to stand again. Til the school’s getting almost no one.
All of a sudden, some beggars come up and try to flirt Kyoko. They’re surrounding Kyoko, one of them catch Kyoko’s bag. Kyoko seemed really frightened. She wished somebody come up and help her. But there seemed no one will.
Louis has just finish his last practicum in Science Club activity. He packs her backpack and get out from laboratory quickly. “It’s almost match time. Crap!!” He’s going to slap her head but seeing a student being bullied by beggars, he won’t. He keeps hiding for making strategy. He comes to the crowd and try to punch them one by one. One man which holds Kyoko tightly, being punch by him at the back. He fights them and take Kyoko’s bag with a great smile. But..
“BUGH.”
One of the beggars hit him from backside and made him fell down. The other two beggars kick him while the rest of them take their bikes. Louis get much hurts and bleeding. He’s trying to get up when the beggars come to their friends on bikes. Since he could stand weakly, a beggars bike hit them instead. He fell and rolling on the ground til his body faces the pedestrian. All the things getting dark around him and blackout.
***
“Craack!”
A doctor and some nurses come out from the surgery room. Kyoko and Jinyeong get up and asks the doctor quickly about Louis condition.
“Are you his family?” said the doctor. Both of them shake heads. “It’s better if his family here. Because he lost much blood. And usually family’s blood-related is easy to adapt with patient’s body. So when they will come?”
“Mm, He only has dad. And he’s working now. Usually he comes home about 9 pm. Isn’t it too long if we’re waiting? Can it be replace, doc?” Kyoko said carefully.
The doctor thinks a while said, “Ok. His blood type is AB+. Do you have one?”
Kyoko shakes her head again. But Jinyeong nods certainful. “I’m ready doc.”
***
Label:
english,
general ficts,
white rose
28 Jul 2011
Mistake
Sorry
First word I'm gonna say
Yesterday and even today
Things I wished the wind to bring away
Don't know which way to choose
And how to find a way back
on being like yesterday
I can't forget you
nor erase you out of mind
Just because that mistake
I'm cruel if doing so
This last days
before the day of forgiveness
Days ago
Said you had forgiven me and let go
I said nothing but regrets
You left me by the uncertainties
Which never cracked til tomorrow
Times and times you said enough
Times and times I tried to make it enough
Stopping the uncertain things which was chasing me around
Times and times I tried
To forget the mistake we had
Not to erase your owner pet
First word I'm gonna say
Yesterday and even today
Things I wished the wind to bring away
Don't know which way to choose
And how to find a way back
on being like yesterday
I can't forget you
nor erase you out of mind
Just because that mistake
I'm cruel if doing so
This last days
before the day of forgiveness
Days ago
Said you had forgiven me and let go
I said nothing but regrets
You left me by the uncertainties
Which never cracked til tomorrow
Times and times you said enough
Times and times I tried to make it enough
Stopping the uncertain things which was chasing me around
Times and times I tried
To forget the mistake we had
Not to erase your owner pet
25 Jul 2011
kolam kata tanpa makna
Surya masih menggagah di tengah rapuhnya negri. Memberi energi bagi setiap individu di muka bumi.
Alangkah sabarnya ia menyaksikan bumi disiksa makhluk2 mini tak berhati. Sering ia berdialog dgn langit mengadukan rasa perih nan ibanya kepada kekasih langit. Sungguh ia tak pernah bermaksud menyimpankan panas radiasinya hingga menutup kulit bumi. Semua ini hanya ulah dua tangan dan kaki manusia.
Melihat hijaunya rumput (negri) tetangga. Hal plg menyedihkan yg kurasa. Bukan. Bukan sekedar kehijauannya. Jika dibanding negri ini, mereka kalah. Hanya saja kekompakan mereka dlm.memajukan bangsa sendiri. Kejujuran yang jarang tampak d bumi pertiwi. Modal yg mereka dapat dari Allah hanya sekedar pulau tanpa beban gempa. Bahkan penduduk asli saja mereka tak punya. Namun hanya dlm waktu 70 tahun mereka perbarui semua.
Alangkah sabarnya ia menyaksikan bumi disiksa makhluk2 mini tak berhati. Sering ia berdialog dgn langit mengadukan rasa perih nan ibanya kepada kekasih langit. Sungguh ia tak pernah bermaksud menyimpankan panas radiasinya hingga menutup kulit bumi. Semua ini hanya ulah dua tangan dan kaki manusia.
Melihat hijaunya rumput (negri) tetangga. Hal plg menyedihkan yg kurasa. Bukan. Bukan sekedar kehijauannya. Jika dibanding negri ini, mereka kalah. Hanya saja kekompakan mereka dlm.memajukan bangsa sendiri. Kejujuran yang jarang tampak d bumi pertiwi. Modal yg mereka dapat dari Allah hanya sekedar pulau tanpa beban gempa. Bahkan penduduk asli saja mereka tak punya. Namun hanya dlm waktu 70 tahun mereka perbarui semua.
Label:
curhat
3 Jul 2011
My Love
(Sebelum baca, kukasitau "aku" di sini cowok, lhoo. met baca!!)
I know I've fallen in love when you're coming down to my eyes
Wanna make you, wanna feel the beauty as you are
I wanna tell you some I'm not a man who say in lies
Wanna love you I wanna hold you can you be the part of my life
Ya, harus kuakui aku jatuh hati sejak melihatmu. Saat itu kau menjadi seorang penjaga kasir di sebuah swalayan. Aku sempat mematung sebelum mendengar panggilanmu untuk giliranku membayar. Sejak itu, di hari yang sama setiap minggu aku ke sana, entah membeli apa. Yang penting aku dapat antre di kasirmu.
I imagine you smiling at me,
I imagine you holding my hand, oh oh
Cast a spell and hope you become my love
I imagine you sleeping in my arms
I imagine you kissing me oh oh
What a sweet imagination
My heart keeps on going thump thump
When you look at me, you keep on smiling without you even noticing, and before you even realized, you started to fall for me
You’ve fallen for me, fallen for me, you melted because of my sweet love
You’ve fallen for me, fallen for me, you’ve fallen for the look in my eyes
See my eyes, You’ve fallen for Me
See my eyes, You’ve fallen for Me
Semakin sering aku datang ke sana, hingga kau pun hafal dan mulai tahu faktor X dari kunjunganku setiap minggu. Kau pun akhirnya memberikan nomormu agar kita bisa bertemu di luar swalayan. Dan kita semakin sering bertemu. Awalnya aku sedikit canggung namun kelamaan aku melihat kecanggungan itu berpindah padamu. Ah, mungkin bukan canggung tapi malu. Rona merah jambu itu sungguh mencuat diantara putih pipimu. Ya, aku tahu kau mulai membalas perasaanku.
I’ll also confess to you I love you I love you, Now I shall confess to you that I love you
I also love you love you my feelings are telling you that I love you
Akhirnya aku berani mengatakannya. Malam Tahun Baru menjadi saksi pengakuan itu. Tepat tiga hari menjelang ulangtahunmu. Dan tepat di hari itu kau memintaku untuk mendaftarkan namamu di agensiku sebagai model. Yah, notabene aku seorang wartawan majalah fashion.
Kabar bahagia itu-kau diterima sebagai model- datang bersamaan dengan kecemasanku. Karena pekerjaan model itu sangat riskan. Ya, riskan untuk hatiku. Risih rasanya melihatmu dipasangkan dengan lawan jenis. Tapi apa mau dikata, aku telanjur mendukung semua pilihanmu.
2 bulan berjalan, dan kau semakin ahli berlenggak lenggok di depan kamera. Tubuhmu yag proporsional dan wajahmu yang menawan tak pelik membuat beberapa teman modelmu mengutarakan perasaannya padamu. Dan kau menolak mereka demi aku. Aku sangat bangga, kau tahu?
Tapi ternyata tak ada gading yang tak retak. Sepulang dari kamp pemotretan di Bali, kau bertingkah sedikit aneh. Ya, kau memang masih tersenyum padaku dan bertingkah ceria. Tapi terkadang keceriaanmu berlebihan. Membuatnya terasa dusta. Bahkan kau jadi lebih sensitif saat aku tanpa sengaja menyinggung kedekatanmu dengan seorang fotografer. Maaf, awalnya aku tidak cemburu tapi reaksimu membuatku begitu.
Keanehan itu bahkan menjadikanmu dingin setiap kali aku menelponmu. Seringkali kau tolak telpon dariku. Entah pekerjaanmu atau harus menjaga rumah, berjuta alasan kaubuat untuk menghindar dariku. Bahkan sampai pada suatu saat nomormu tak dapat kuhubungi lagi.
Akhirnya aku mendapat suatu kabar dari rekan sekerjaku. Ia tak sengaja melihatmu berciuman mesra dengan sang fotografer. Sungguh aku muak mendengarnya. Aku ingin segera mendengar penjelasanmu. Aku berharap itu hanya mimpi atau angin lalu. Tapi berkali-kali kucoba menghubungimu tetap tak bisa.
I get a feeling that you’ll leave me (Don’t give up)
You keep giving me all these excuses (Don’t give up)
Your cold Bye Bye that felt different from before (Don’t give up)
I cannot let you go (Because I love you)
You told me you love me but now, why you say goodbye?
I cannot let you go like this, never (because I love you)
Don’t try to leave me
with only an excuse
Please don’t go go go, Please don’t go
Can you please look back at me just once?
Please don’t go go go, I don’t like sad good byes
Please come back to me, because I love you
Berkali-kali kuyakinkan hati untuk bersabar dan memaafkanmu. Aku terlalu mencintaimu dan tak sudi merelakanmu. Selalu berharap kau kan kembali padaku. Hingga akhirnya..
Aku berbelanja di swalayan tempatmu dulu bekerja. Tanpa sengaja aku melihatmu di satu lorong. Berdua dengan seseorang yang kukenal. Ya, siapa lagi kalau bukan fotografer itu? Kau sempat melirikku dan terkejut. Aku menunduk kemudian mendongak lagi, dan jelas terdengar di telingaku “tidak. Bukan apa-apa kok.” Diakhiri senyuman manismu untuk pria di sampingmu itu.
Aku melihatmu, dengan tangannya yang tak lepas dari pinggangmu. Memelukmu erat di luar busanamu yang semakin minim. Aku hanya bisa mengepalkan tangan dan menahan geram.
Erasing the memories, erasing it with the tears
You, who I can’t contain in me
Pushing away the memories, pushing away the pain
So that you can’t linger in me
Throwing away the memories, throwing it away with the tears
So that I won’t have any hope
So that you wouldn’t even know my yearning heart
Even if I push you away painfully (I just wait for you)
I miss you still, I don’t think I can stop it (I can’t do anything about it)
Perhaps I still can’t send you away
Even if I throw you away, you grow in my heart
You become the tear that never dries
Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain
Day by day, my love that has faded
Now I can’t even catch my love
No matter how hard I try
I swallow the tears so I can’t raise my chin
With the yearning that dug into my heart
So that even my warn out heart won’t notice
Even if I push you away painfully (I just wait for you)
I miss you still, I don’t think I can stop it (I can’t do anything about it)
Perhaps I still can’t send you away
Even if I throw you away, you grow in my heart
You become the tear that never dries
Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain
Day by day, my love that has faded
Now I can’t even catch my love
No matter how hard I try
Your gaze that was always nerve wrecking (It always captured me)
The hoping that you will run to me (You keep giving me bruises)
Now you can’t even come to me anymore
Even if I throw you away, you grow in my heart
You become the tear that never dries
Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain
I love you, I just love you
I can’t even hug you when I can bear the pain
No matter how hard I try to catch you
No matter how many times I call you my love
It doesn’t work
“Aaarghh… Shit!!!!” Bugh! Apa kau lihat? Bahkan dinding itu jadi korban efek domino yang kau berikan padaku. Kau benar-benar.. Argh!! Bahkan aku tak bisa mencapmu dengan julukan-julukan hina. Entahlah, walaupun aku tahu kau berkhianat terhadapku aku tak bisa membencimu. Tak bisa. Arrrgghhh!!! Praang!
Esoknya kau menelponku tanpa kuduga. Kau bilang mau bertemu, di tempat biasa. Oke, aku akan datang. Aku sungguh bersyukur kala mendapatimu duduk sendirian. Setidaknya tidak bersama dia.
“Maaf, selama ini aku berbohong dan akhirnya kau tahu. Jadi, kuharap kau bisa mengerti.”
Ya, aku mengerti. Mengerti bahwa kau memintaku untuk mengakhiri hubungan ini.
“Maaf, selama ini aku mencintai dia. Jangan salah paham, bukan karena uang. Tapi aku benar-benar mencintainya. Dan dia mengajakku menikah.. bulan depan. Ini,”
Tanganmu yang halus menampilkan sebuah kertas indah dari dalam tas kecilmu itu. Betapa aku ingin menggenggam kembali tangan itu. Tapi segera kutahan ketika sebuah undangan terlihat di mataku. Indah, ya sangat indah. Harapan agar namaku yang tertulis di dalamnya segera kutepis. Ini untukmu, dan aku belum bicara sepatah kata pun.
“Kuharap kau bisa datang. Terimakasih dan maaf telah menyakitimu sedalam ini.” katamu seraya membalikkan badan.
Kau.. sungguh.. “Tunggu.” Ah ini saatnya, kau berbalik dan menatapku. Tapi sedari awal kusadari tatapanmu hambar. Kosong. Bahkan tak ada senyuman ceria lagi. “Apa kau tidak ingin mendengar sesuatu dariku?”
“Baiklah, apa itu?”
“Sakitku.. tidak bisakah kauobati? Kumohon hari ini saja, sisakan waktu bersamaku.” Aku tahu aku seperti anak kecil tapi aku tak tahu apalagi yang harus kukatakan.
“Maaf. Tapi kurasa tidak bisa. Hari ini jadwal pemotretan benar-benar penuh. Belum lagi mengurus agenda pernikahan itu. Kau tahu sendiri aku orangnya banyak repot. Hahaha.” Tawamu hambar.
Aku membuang napas pendek. “Baiklah. Selamat jalan. Semoga persiapannya lancar.”
Hari pernikahanmu pun tiba. Diiringi hujan deras aku melangkah keluar kontrakan sempit ini. Langkah demi langkah hingga tiba di suatu tempat. Tidak, jangan sangka aku menuju ke resepsimu. Langkah ini, menuju ke tempat aku jatuh cinta padamu.
Aku membeli barang yang sama walaupun tak kubutuhkan. Menuju kasir yang sama dengan pandangan hampa. Di sana sang kasir--yang sekarang adalah laki-laki—menegurku karena giliranku tiba. Aku membayar semua barang dan beranjak keluar.
Baru kusadari di luar ternyata hujan deras. Dulu tidak seperti ini. Tidak ada hujan yang menyerang. Aku tetap melangkah, menerabas hujan yang menusuk badan. Dan perlahan, kukeluarkan tangis yang tertahan. Menyadari, bahwa dulu dan kini tak lagi sama. Cerita indah itu telah berganti.
No one ever sees, no one feels the pain
Teadrops in the rain
I wish upon a star, I wonder where you are
I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be
I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don't know if I can go on without you oh
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain
I wish that I could fly, I wonder what you say
I wish you're flying back to me again
Hope everything's the same like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on
I don't know if I can go on without you, without you
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain
Oh... I shed teardrops in the rain
Oh... Hey... Teardrops in the rain
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees (no one) no one feels the pain (no one)
I shed teardrops in the rain
Teardrops in the rain
Teardrops in the rain
Teardrops in the rain...
---
Rimie Ramadan
03.07.2011
Inspired by CNBLUE’s songs
Disclaimer: All the songs n lyrics belong to CNBLUE and Boices’ page who translated them.
Gomawayo chingu. Kamsahamnida..
Is this story deep enough? Hehe.. lagi pengen refreshing sih.
di awal berasa cuma kerangka karangan doang haha..
worse? better? need ur comment please.. thank you
I know I've fallen in love when you're coming down to my eyes
Wanna make you, wanna feel the beauty as you are
I wanna tell you some I'm not a man who say in lies
Wanna love you I wanna hold you can you be the part of my life
Ya, harus kuakui aku jatuh hati sejak melihatmu. Saat itu kau menjadi seorang penjaga kasir di sebuah swalayan. Aku sempat mematung sebelum mendengar panggilanmu untuk giliranku membayar. Sejak itu, di hari yang sama setiap minggu aku ke sana, entah membeli apa. Yang penting aku dapat antre di kasirmu.
I imagine you smiling at me,
I imagine you holding my hand, oh oh
Cast a spell and hope you become my love
I imagine you sleeping in my arms
I imagine you kissing me oh oh
What a sweet imagination
My heart keeps on going thump thump
When you look at me, you keep on smiling without you even noticing, and before you even realized, you started to fall for me
You’ve fallen for me, fallen for me, you melted because of my sweet love
You’ve fallen for me, fallen for me, you’ve fallen for the look in my eyes
See my eyes, You’ve fallen for Me
See my eyes, You’ve fallen for Me
Semakin sering aku datang ke sana, hingga kau pun hafal dan mulai tahu faktor X dari kunjunganku setiap minggu. Kau pun akhirnya memberikan nomormu agar kita bisa bertemu di luar swalayan. Dan kita semakin sering bertemu. Awalnya aku sedikit canggung namun kelamaan aku melihat kecanggungan itu berpindah padamu. Ah, mungkin bukan canggung tapi malu. Rona merah jambu itu sungguh mencuat diantara putih pipimu. Ya, aku tahu kau mulai membalas perasaanku.
I’ll also confess to you I love you I love you, Now I shall confess to you that I love you
I also love you love you my feelings are telling you that I love you
Akhirnya aku berani mengatakannya. Malam Tahun Baru menjadi saksi pengakuan itu. Tepat tiga hari menjelang ulangtahunmu. Dan tepat di hari itu kau memintaku untuk mendaftarkan namamu di agensiku sebagai model. Yah, notabene aku seorang wartawan majalah fashion.
Kabar bahagia itu-kau diterima sebagai model- datang bersamaan dengan kecemasanku. Karena pekerjaan model itu sangat riskan. Ya, riskan untuk hatiku. Risih rasanya melihatmu dipasangkan dengan lawan jenis. Tapi apa mau dikata, aku telanjur mendukung semua pilihanmu.
2 bulan berjalan, dan kau semakin ahli berlenggak lenggok di depan kamera. Tubuhmu yag proporsional dan wajahmu yang menawan tak pelik membuat beberapa teman modelmu mengutarakan perasaannya padamu. Dan kau menolak mereka demi aku. Aku sangat bangga, kau tahu?
Tapi ternyata tak ada gading yang tak retak. Sepulang dari kamp pemotretan di Bali, kau bertingkah sedikit aneh. Ya, kau memang masih tersenyum padaku dan bertingkah ceria. Tapi terkadang keceriaanmu berlebihan. Membuatnya terasa dusta. Bahkan kau jadi lebih sensitif saat aku tanpa sengaja menyinggung kedekatanmu dengan seorang fotografer. Maaf, awalnya aku tidak cemburu tapi reaksimu membuatku begitu.
Keanehan itu bahkan menjadikanmu dingin setiap kali aku menelponmu. Seringkali kau tolak telpon dariku. Entah pekerjaanmu atau harus menjaga rumah, berjuta alasan kaubuat untuk menghindar dariku. Bahkan sampai pada suatu saat nomormu tak dapat kuhubungi lagi.
Akhirnya aku mendapat suatu kabar dari rekan sekerjaku. Ia tak sengaja melihatmu berciuman mesra dengan sang fotografer. Sungguh aku muak mendengarnya. Aku ingin segera mendengar penjelasanmu. Aku berharap itu hanya mimpi atau angin lalu. Tapi berkali-kali kucoba menghubungimu tetap tak bisa.
I get a feeling that you’ll leave me (Don’t give up)
You keep giving me all these excuses (Don’t give up)
Your cold Bye Bye that felt different from before (Don’t give up)
I cannot let you go (Because I love you)
You told me you love me but now, why you say goodbye?
I cannot let you go like this, never (because I love you)
Don’t try to leave me
with only an excuse
Please don’t go go go, Please don’t go
Can you please look back at me just once?
Please don’t go go go, I don’t like sad good byes
Please come back to me, because I love you
Berkali-kali kuyakinkan hati untuk bersabar dan memaafkanmu. Aku terlalu mencintaimu dan tak sudi merelakanmu. Selalu berharap kau kan kembali padaku. Hingga akhirnya..
Aku berbelanja di swalayan tempatmu dulu bekerja. Tanpa sengaja aku melihatmu di satu lorong. Berdua dengan seseorang yang kukenal. Ya, siapa lagi kalau bukan fotografer itu? Kau sempat melirikku dan terkejut. Aku menunduk kemudian mendongak lagi, dan jelas terdengar di telingaku “tidak. Bukan apa-apa kok.” Diakhiri senyuman manismu untuk pria di sampingmu itu.
Aku melihatmu, dengan tangannya yang tak lepas dari pinggangmu. Memelukmu erat di luar busanamu yang semakin minim. Aku hanya bisa mengepalkan tangan dan menahan geram.
Erasing the memories, erasing it with the tears
You, who I can’t contain in me
Pushing away the memories, pushing away the pain
So that you can’t linger in me
Throwing away the memories, throwing it away with the tears
So that I won’t have any hope
So that you wouldn’t even know my yearning heart
Even if I push you away painfully (I just wait for you)
I miss you still, I don’t think I can stop it (I can’t do anything about it)
Perhaps I still can’t send you away
Even if I throw you away, you grow in my heart
You become the tear that never dries
Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain
Day by day, my love that has faded
Now I can’t even catch my love
No matter how hard I try
I swallow the tears so I can’t raise my chin
With the yearning that dug into my heart
So that even my warn out heart won’t notice
Even if I push you away painfully (I just wait for you)
I miss you still, I don’t think I can stop it (I can’t do anything about it)
Perhaps I still can’t send you away
Even if I throw you away, you grow in my heart
You become the tear that never dries
Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain
Day by day, my love that has faded
Now I can’t even catch my love
No matter how hard I try
Your gaze that was always nerve wrecking (It always captured me)
The hoping that you will run to me (You keep giving me bruises)
Now you can’t even come to me anymore
Even if I throw you away, you grow in my heart
You become the tear that never dries
Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain
I love you, I just love you
I can’t even hug you when I can bear the pain
No matter how hard I try to catch you
No matter how many times I call you my love
It doesn’t work
“Aaarghh… Shit!!!!” Bugh! Apa kau lihat? Bahkan dinding itu jadi korban efek domino yang kau berikan padaku. Kau benar-benar.. Argh!! Bahkan aku tak bisa mencapmu dengan julukan-julukan hina. Entahlah, walaupun aku tahu kau berkhianat terhadapku aku tak bisa membencimu. Tak bisa. Arrrgghhh!!! Praang!
Esoknya kau menelponku tanpa kuduga. Kau bilang mau bertemu, di tempat biasa. Oke, aku akan datang. Aku sungguh bersyukur kala mendapatimu duduk sendirian. Setidaknya tidak bersama dia.
“Maaf, selama ini aku berbohong dan akhirnya kau tahu. Jadi, kuharap kau bisa mengerti.”
Ya, aku mengerti. Mengerti bahwa kau memintaku untuk mengakhiri hubungan ini.
“Maaf, selama ini aku mencintai dia. Jangan salah paham, bukan karena uang. Tapi aku benar-benar mencintainya. Dan dia mengajakku menikah.. bulan depan. Ini,”
Tanganmu yang halus menampilkan sebuah kertas indah dari dalam tas kecilmu itu. Betapa aku ingin menggenggam kembali tangan itu. Tapi segera kutahan ketika sebuah undangan terlihat di mataku. Indah, ya sangat indah. Harapan agar namaku yang tertulis di dalamnya segera kutepis. Ini untukmu, dan aku belum bicara sepatah kata pun.
“Kuharap kau bisa datang. Terimakasih dan maaf telah menyakitimu sedalam ini.” katamu seraya membalikkan badan.
Kau.. sungguh.. “Tunggu.” Ah ini saatnya, kau berbalik dan menatapku. Tapi sedari awal kusadari tatapanmu hambar. Kosong. Bahkan tak ada senyuman ceria lagi. “Apa kau tidak ingin mendengar sesuatu dariku?”
“Baiklah, apa itu?”
“Sakitku.. tidak bisakah kauobati? Kumohon hari ini saja, sisakan waktu bersamaku.” Aku tahu aku seperti anak kecil tapi aku tak tahu apalagi yang harus kukatakan.
“Maaf. Tapi kurasa tidak bisa. Hari ini jadwal pemotretan benar-benar penuh. Belum lagi mengurus agenda pernikahan itu. Kau tahu sendiri aku orangnya banyak repot. Hahaha.” Tawamu hambar.
Aku membuang napas pendek. “Baiklah. Selamat jalan. Semoga persiapannya lancar.”
Hari pernikahanmu pun tiba. Diiringi hujan deras aku melangkah keluar kontrakan sempit ini. Langkah demi langkah hingga tiba di suatu tempat. Tidak, jangan sangka aku menuju ke resepsimu. Langkah ini, menuju ke tempat aku jatuh cinta padamu.
Aku membeli barang yang sama walaupun tak kubutuhkan. Menuju kasir yang sama dengan pandangan hampa. Di sana sang kasir--yang sekarang adalah laki-laki—menegurku karena giliranku tiba. Aku membayar semua barang dan beranjak keluar.
Baru kusadari di luar ternyata hujan deras. Dulu tidak seperti ini. Tidak ada hujan yang menyerang. Aku tetap melangkah, menerabas hujan yang menusuk badan. Dan perlahan, kukeluarkan tangis yang tertahan. Menyadari, bahwa dulu dan kini tak lagi sama. Cerita indah itu telah berganti.
No one ever sees, no one feels the pain
Teadrops in the rain
I wish upon a star, I wonder where you are
I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be
I see the days go by and still I wonder why
I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on ?
I don't know if I can go on without you oh
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain
I wish that I could fly, I wonder what you say
I wish you're flying back to me again
Hope everything's the same like it used to be
I don't know which way to choose
How can I find a way to go on
I don't know if I can go on without you, without you
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain
Oh... I shed teardrops in the rain
Oh... Hey... Teardrops in the rain
Even if my heart's still beating just for you
I really know you are not feeling like I do
And even if the sun is shining over me
How come I still freeze ?
No one ever sees (no one) no one feels the pain (no one)
I shed teardrops in the rain
Teardrops in the rain
Teardrops in the rain
Teardrops in the rain...
---
Rimie Ramadan
03.07.2011
Inspired by CNBLUE’s songs
Disclaimer: All the songs n lyrics belong to CNBLUE and Boices’ page who translated them.
Gomawayo chingu. Kamsahamnida..
Is this story deep enough? Hehe.. lagi pengen refreshing sih.
di awal berasa cuma kerangka karangan doang haha..
worse? better? need ur comment please.. thank you
26 Jun 2011
racun
Dalam diam, senyumku mengembang
Teringat mimpiku dalam memori dulu
Semua asa yang berakar padamu
Entahlah
Seakan kau panduku dalam tingkah laku
Kau laksana guru yang ajari ku untuk butuh
Ilmu sudah, dirimu pun sudah
Laksana terukir dalam batu
Namamu yang takkan lenyap sekalipun aku terlelap
Pun dalam mimpi kau muncul tanpa permisi
Dan nyanyikan satu melodi
Tak pelik asaku melayang semakin tinggi
Menyebut namamu adalah refleksku
Bahkan dalam pengabulan doa
Maaf jika yang terjadi hampir serupa
Dengan doaku selama itu
Tapi yakinkah engkau akan aku
Yang selama ini terus menatapmu di kejauhan
Dan tak yakin bahkan nadi terdalamku
Untuk jadi milikmu
Hidup bersamamu rasanya
Aku tak punya harga
---
Rimie Ramadan
26.06.2011
Di sela keraguan
Teringat mimpiku dalam memori dulu
Semua asa yang berakar padamu
Entahlah
Seakan kau panduku dalam tingkah laku
Kau laksana guru yang ajari ku untuk butuh
Ilmu sudah, dirimu pun sudah
Laksana terukir dalam batu
Namamu yang takkan lenyap sekalipun aku terlelap
Pun dalam mimpi kau muncul tanpa permisi
Dan nyanyikan satu melodi
Tak pelik asaku melayang semakin tinggi
Menyebut namamu adalah refleksku
Bahkan dalam pengabulan doa
Maaf jika yang terjadi hampir serupa
Dengan doaku selama itu
Tapi yakinkah engkau akan aku
Yang selama ini terus menatapmu di kejauhan
Dan tak yakin bahkan nadi terdalamku
Untuk jadi milikmu
Hidup bersamamu rasanya
Aku tak punya harga
---
Rimie Ramadan
26.06.2011
Di sela keraguan
Label:
poem
23 Jun 2011
Tampilan Baru : Tampakkan Jati Diriku
Liat kan background blogku sekarang? Mungkin yang belum pernah ketemu atau kenal sama aku, kuperkenalkan. Gambar mirip tulang ikan di belakang adalah tanda tangan (ikon)ku sebagai Rimie Ramadan. Dibacanya Rimie.
Asal muasal logo ini adalah ketika aku SMP. Berawal dari pengen bikin 'new signature' yang simpel dan cepat. Eh, malah kebikin buat nama penaku ini. Rimie Ramadan.
Saking mudah dan cepat, aku kesenengan menuliskannya di setiap barang yang kupunya. Mulai buku tulis, buku teks, bahkan ada juga di tasku. Sejak saat itu, tanda ini menjadi identitasku. Bahkan melebihi tandatanganku yang asli.
Sampai suatu saat, ada cerita lucu yang selalu kuingat. Masa SMAku, dimana sekolahnya berasrama dan asramanya tak begitu jauh dari sekolah.
Siang itu, kami baru mendapat buku-buku tambahan dari sekolah. Lalu saat jam makan siang kami beramai-ramai menitipkan buku itu di asrama. Sepulangnya, kami berduyun menuju tumpukan buku itu dan sibuk mencarinya. Aku sempat nyeletuk "Haduh, banyaknyoo. Mana punyaku belum dinamain lagi!"
"Bukannya udah ya Ri?" seorang fellow (sebutan guru asrama-pen.) menjawab celetukanku.
"Hah? Masa sih Miss?" Aku ingat sekali aku belum menamainya. Hanya meninggalkan tandatangan yang mirip logo IeBe itu.
"Kayanya tadi Miss liat deh ada namamu," jawab guru itu.
Lalu seorang teman memanggilku, "Ri. Ini punyamu." dia memberikannya padaku. Aku menerimanya dengan tersenyum lega dan mengecek apa benar namaku tertera. Kubolak-balik tapi tak kutemukan.
"Tuh kan miss, gak ada.."
"Ini apa?" tunjuk fellow itu pada "tulang ikan" itu. Dan itu sukses membuatku ber-O ria.
Back to the main topic. Ni background kupilih basicnya hijau. Karena sejak dulu aku emang suka warna hijau. Warna alam tepatnya. Tapi lebih dominan ke biru dan hijau. Dan sekarang lebih gandrung ke hijau.
Warna hitamnya.. emm.. biar keren aja sih. Kalo jadi desktop wallpaper kan jadi bagus. Hehe. -norak amat alasannya.
Hemm, tapi aku merasa kurang sreg sih pas diterapkan di blog. kayanya berat sebelah. Ramai di sebelah kiri. Gimana menurut kalian? Komentar doong. Hehe. Maaf kalo desainnya nyakitin mata :D
Salam hijau dalam damai :)
Rimie Ramadan
23.06.2011
Asal muasal logo ini adalah ketika aku SMP. Berawal dari pengen bikin 'new signature' yang simpel dan cepat. Eh, malah kebikin buat nama penaku ini. Rimie Ramadan.
Saking mudah dan cepat, aku kesenengan menuliskannya di setiap barang yang kupunya. Mulai buku tulis, buku teks, bahkan ada juga di tasku. Sejak saat itu, tanda ini menjadi identitasku. Bahkan melebihi tandatanganku yang asli.
Sampai suatu saat, ada cerita lucu yang selalu kuingat. Masa SMAku, dimana sekolahnya berasrama dan asramanya tak begitu jauh dari sekolah.
Siang itu, kami baru mendapat buku-buku tambahan dari sekolah. Lalu saat jam makan siang kami beramai-ramai menitipkan buku itu di asrama. Sepulangnya, kami berduyun menuju tumpukan buku itu dan sibuk mencarinya. Aku sempat nyeletuk "Haduh, banyaknyoo. Mana punyaku belum dinamain lagi!"
"Bukannya udah ya Ri?" seorang fellow (sebutan guru asrama-pen.) menjawab celetukanku.
"Hah? Masa sih Miss?" Aku ingat sekali aku belum menamainya. Hanya meninggalkan tandatangan yang mirip logo IeBe itu.
"Kayanya tadi Miss liat deh ada namamu," jawab guru itu.
Lalu seorang teman memanggilku, "Ri. Ini punyamu." dia memberikannya padaku. Aku menerimanya dengan tersenyum lega dan mengecek apa benar namaku tertera. Kubolak-balik tapi tak kutemukan.
"Tuh kan miss, gak ada.."
"Ini apa?" tunjuk fellow itu pada "tulang ikan" itu. Dan itu sukses membuatku ber-O ria.
Back to the main topic. Ni background kupilih basicnya hijau. Karena sejak dulu aku emang suka warna hijau. Warna alam tepatnya. Tapi lebih dominan ke biru dan hijau. Dan sekarang lebih gandrung ke hijau.
Warna hitamnya.. emm.. biar keren aja sih. Kalo jadi desktop wallpaper kan jadi bagus. Hehe. -norak amat alasannya.
Hemm, tapi aku merasa kurang sreg sih pas diterapkan di blog. kayanya berat sebelah. Ramai di sebelah kiri. Gimana menurut kalian? Komentar doong. Hehe. Maaf kalo desainnya nyakitin mata :D
Salam hijau dalam damai :)
Rimie Ramadan
23.06.2011
21 Jun 2011
The Diary
“Apa?! Kau tidak bercanda kan?”
“Buat apa aku bercanda? Kalau kau tak percaya, tanyalah kakaknya.”
Tanganku mendadak lemah dan ponselku terjun bebas ke atas kasur. “Ini.. tidak.. bercanda.. kan?”
Riri’s diary
08 September 2005
“Perkenalkan. Saya Riri. Kelas 8A. Hobi membaca, menulis dan bermusik.” Begitulah perkenalan singkatku pada para anggota senior di klub jurnalistik. Semua anggota tersenyum ramah padaku. Syukurlah, semua menyambut baik niatku untuk bergabung. Hari ini agenda mereka membahas majalah sekolah, dan aku langsung dapat bagian untuk meliput tentang keterlambatan siswa SMP Intera Vidi Jakarta yang akhir-akhir ini makin menjadi. Baiklah, ini laporan pertamaku! Semoga tercipta hasil yang baik.
15 September 2005
Rapat klub hari ini telah selesai. Beberapa anggota telah keluar ruangan. Aku pun hampir beranjak pergi ketika sebuah suara memanggil. Aku menoleh dan kudapati kak Tyo berjalan ke arahku.
“Ri, makasih ya.” Kata ketua klubku itu singkat.
“Hm? Makasih untuk apa ya kak?”
“Makasih, kamu udah mau bergabung di klub ini. Aku sangat senang dengan hasil kerjamu. Menurutku, tulisanmu itu ideal. Kata-katanya lugas dan sangat objektif. Baru kali ini aku menemukan artikel yang berkualitas.” Kak Tyo tersenyum memujiku. Aku terpaku sejenak. Sebelum ia memanggilku lagi dari arah pintu karena ia akan mengunci ruangan klub. Bahkan aku baru sadar kalau dia sudah di sana!
19 September 2005
Hm, aku ingin memberitahumu sesuatu. Entah kenapa sejak dia memujiku itu aku jadi sedikit terarah padanya. Mm, maksudku aku jadi sering bertemu dengannya. Lalu setiap kami bertukar sapa, seperti ada letupan kecil di dadaku. Siapapun, tolong terjemahkan ini.
22 September 2005
Ah, rapat hari ini kacau. Apa yang sebenarnya kulakukan hah? Yang berbicara kak Bimo, tapi yang kutatap kak Tyo. Yang memberiku masukan kak Irma, tapi suara kak Tyo yang sedang bersenandung lebih peka di telingaku. Maaf kak Irma, kau jadi harus mengulangi.
01 Januari 2006
Semarak tahun baru menggema di jagat raya. Aku pun termasuk yang merayakannya. Aku dan teman-teman klub mengunjungi Museum Fatahillah yang ada di Kota Tua. Beberapa teman telah bersiap dengan kamera, termasuk kak Tyo. Kudengar kak Tyo, kak Bimo dan Rana memang ikut klub fotografi di luar sekolah. Di beberapa edisi koran sekolah pun ada hasil jepretan mereka.
Aku, Dinda dan Nisa sibuk berlari ke sana kemari hingga akhirnya kami kehausan. Dinda dan Nisa pergi membeli minum sementara aku bersandar di Si Jagur menunggu mereka. Kelamaan menunggu, anganku jadi terbawa lamun.
Tiba-tiba ada kilatan blitz yang bersumber di sisi kananku. Aku menoleh. Dan ketika kamera itu bergeser, pipiku memanas. Ternyata kak Tyo yang telah memotretku. “Sepertinya kamu lebih cocok jadi foto model deh, Ri. Lihat nih, ekspresimu dapet banget!” ujarnya sambil menyodorkan kameranya padaku.
Aku sungguh penasaran dengan hasil fotonya, tapi entah kenapa tanganku menepisnya. “Ah, apaan sih kak. Aku kan wartawan, bukan artis! Hahaha..” aku tertawa. Tapi dia malah melihatku terus. “Oya kak, aku mau cari Dinda sama Nisa dulu ya! Mereka lama banget sih!” Aku pun meninggalkannya sebelum volume letupan ini mengencang.
15 menit kuhabiskan untuk mencari kedua sahabatku itu. Tapi aku tak menemukannya. Aku pun berjalan pelan kembali ke arah Si Jagur, siapa tahu mereka ke sana. Langkahku terhenti dan berusaha sembunyi dibalik sebuah pilar. Pemandangan di depanku sepertinya penuh ketegangan. Kak Dara, salah satu anggota kami yang juga primadona sekolah, sedang berdiri membelakangiku. Ia tampak serius berbicara dengan kak Tyo yang ada di depannya. Kulihat kak Tyo tersenyum dan menjawab, “Baiklah, aku mau.”
Deg!
Aku menutup wajah dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Entah mengapa dugaan-dugaan tak mengenakkan melayang-layang di otakku. Letupan itu kembali lagi namun dengan perasaan panas yang menyengat. Entahlah. Yang aku tahu aku tak tahu kemana harus melangkah.
24 Juli 2006
Hari ini pemuda berperawakan sedang itu terlihat tampan dibalik tuxedonya. Ah, sebentar lagi namanya dipanggil dan dia akan menerima medali kelulusan itu. Lihat itu, ia telah berbaris dengan wisudawan dan wisudawati lainnya. Aku hanya dapat menatapnya dari sini. Di sudut panggung mini tempat lantunan paduan suara berseru. Entah kenapa, pedih rasanya.
Enam bulan yang terlewat, aku tetap memerhatikan dirinya. Walaupun perih karena yang selalu ada di dekatnya adalah Kak Dara, bukan aku. Bahkan waktu classmeeting sekitar 3 bulan lalu, aku ikut menonton pertandingan catur kak Tyo melawan kak Rus. Padahal aku sangat benci catur, apalagi menontonnya, akan sangat membosankan. Ini semua gara-gara dia menyuruh seluruh anggota klub datang dan memberi semangat untuknya. Entah angin dari mana, selesai pertandingan kak Tyo menghampiriku. Ia berbicara singkat tentang kepergiannya ke luar kota setelah lulus. Dia berharap aku bisa menggantikannya menjadi ketua klub jurnalistik. Berbagai kata “Mengapa…aku?” berkelebat. Tapi tetap kuiyakan. Ah, apakah karena dia meminta sambil tersenyum manis ya? Karena, aku sangat menyukai senyumnya.
Ketika dia naik ke atas panggung untuk menerima medali kelulusan, aku turun panggung mini ini untuk mengambil minum. Alibi? Tidak sepenuhnya. Aku memang haus kok. Ya memang, tak perlu kujelaskan bahwa aku belum rela melihat punggungnya menjauh. Kuambil segelas air, lalu kuminum sambil menghadap panggung. Kak Tyo telah menerima medali dan gulungan ijazah.
Sembari turun, ia melempar pandangan ke hadirin, terutama ke panggung mini di sisi kanan panggung itu. Tampak mencari seseorang. Saat matanya menuju ke arahku, ia berhenti dan tersenyum. Aku juga tersenyum sejenak dan langsung berbalik untuk mengambil gelas kedua. Mendadak tanganku gemetar, dan sebagian air tumpah ke bajuku. Untung air mineral. Lalu sebuah tangan merebut gelas yang kupegang. Ia mengisinya penuh dan memberikannya padaku. Aku menerimanya sambil menoleh ke wajah orang itu. Sedikit tersentak saat kulihat kak Tyo berdiri di sampingku. Ia tersenyum jahil. “Hati-hati, Ri. Nanti kamu berasa nyanyi di kamar mandi lho.” Ia tertawa, tapi aku hanya menatapnya dalam diam. Pemuda di depanku berhenti tertawa, “Sudah. Ayo, kembali ke habitat masing-masing.”
Selesai prosesi penyerahan semua wisudawan, saatnya sesi bebas. Kak Tyo berfoto bersama keluarganya di salah satu sudut. Kulihat pemuda di sebelah kak Tyo yang mukanya mirip tapi sedikit lebih gemuk. Ia terlihat lebih ceria daripada wisudawan berkacamata di sebelahnya. Selesai berfoto, ketua klubku itu menghampiri aku dan beberapa teman klub yang kebetulan jadi panitia juga. Ia menyeret serta pemuda gemuk tadi dan beberapa kakak anggota klub yang juga sudah lulus. Pemuda yang kini tampak mengenakan lensa kontak itu berdehem sebelum bersuara, “Teman-teman, bolehkah aku berfoto bersama kalian? Pertama kalian foto satu-satu sama aku, habis itu kita foto bareng-bareng. Tapi di luar aja ya.”
Dan sesi pemotretan itu berjalan lancar. Aku jadi yang terakhir difoto. Ia menyelipkan sesuatu di tanganku sebelum berpose. Aku hendak mengintipnya tapi keburu dihitung countdown. Dan setelah sampai di rumah, aku baru membukanya. Sebuah bros berbentuk bunga krisan.
----
Rimie Ramadan
21.06.2011
P.S. This post is just temporary and will be deleted in 2 weeks.
“Buat apa aku bercanda? Kalau kau tak percaya, tanyalah kakaknya.”
Tanganku mendadak lemah dan ponselku terjun bebas ke atas kasur. “Ini.. tidak.. bercanda.. kan?”
Riri’s diary
08 September 2005
“Perkenalkan. Saya Riri. Kelas 8A. Hobi membaca, menulis dan bermusik.” Begitulah perkenalan singkatku pada para anggota senior di klub jurnalistik. Semua anggota tersenyum ramah padaku. Syukurlah, semua menyambut baik niatku untuk bergabung. Hari ini agenda mereka membahas majalah sekolah, dan aku langsung dapat bagian untuk meliput tentang keterlambatan siswa SMP Intera Vidi Jakarta yang akhir-akhir ini makin menjadi. Baiklah, ini laporan pertamaku! Semoga tercipta hasil yang baik.
15 September 2005
Rapat klub hari ini telah selesai. Beberapa anggota telah keluar ruangan. Aku pun hampir beranjak pergi ketika sebuah suara memanggil. Aku menoleh dan kudapati kak Tyo berjalan ke arahku.
“Ri, makasih ya.” Kata ketua klubku itu singkat.
“Hm? Makasih untuk apa ya kak?”
“Makasih, kamu udah mau bergabung di klub ini. Aku sangat senang dengan hasil kerjamu. Menurutku, tulisanmu itu ideal. Kata-katanya lugas dan sangat objektif. Baru kali ini aku menemukan artikel yang berkualitas.” Kak Tyo tersenyum memujiku. Aku terpaku sejenak. Sebelum ia memanggilku lagi dari arah pintu karena ia akan mengunci ruangan klub. Bahkan aku baru sadar kalau dia sudah di sana!
19 September 2005
Hm, aku ingin memberitahumu sesuatu. Entah kenapa sejak dia memujiku itu aku jadi sedikit terarah padanya. Mm, maksudku aku jadi sering bertemu dengannya. Lalu setiap kami bertukar sapa, seperti ada letupan kecil di dadaku. Siapapun, tolong terjemahkan ini.
22 September 2005
Ah, rapat hari ini kacau. Apa yang sebenarnya kulakukan hah? Yang berbicara kak Bimo, tapi yang kutatap kak Tyo. Yang memberiku masukan kak Irma, tapi suara kak Tyo yang sedang bersenandung lebih peka di telingaku. Maaf kak Irma, kau jadi harus mengulangi.
01 Januari 2006
Semarak tahun baru menggema di jagat raya. Aku pun termasuk yang merayakannya. Aku dan teman-teman klub mengunjungi Museum Fatahillah yang ada di Kota Tua. Beberapa teman telah bersiap dengan kamera, termasuk kak Tyo. Kudengar kak Tyo, kak Bimo dan Rana memang ikut klub fotografi di luar sekolah. Di beberapa edisi koran sekolah pun ada hasil jepretan mereka.
Aku, Dinda dan Nisa sibuk berlari ke sana kemari hingga akhirnya kami kehausan. Dinda dan Nisa pergi membeli minum sementara aku bersandar di Si Jagur menunggu mereka. Kelamaan menunggu, anganku jadi terbawa lamun.
Tiba-tiba ada kilatan blitz yang bersumber di sisi kananku. Aku menoleh. Dan ketika kamera itu bergeser, pipiku memanas. Ternyata kak Tyo yang telah memotretku. “Sepertinya kamu lebih cocok jadi foto model deh, Ri. Lihat nih, ekspresimu dapet banget!” ujarnya sambil menyodorkan kameranya padaku.
Aku sungguh penasaran dengan hasil fotonya, tapi entah kenapa tanganku menepisnya. “Ah, apaan sih kak. Aku kan wartawan, bukan artis! Hahaha..” aku tertawa. Tapi dia malah melihatku terus. “Oya kak, aku mau cari Dinda sama Nisa dulu ya! Mereka lama banget sih!” Aku pun meninggalkannya sebelum volume letupan ini mengencang.
15 menit kuhabiskan untuk mencari kedua sahabatku itu. Tapi aku tak menemukannya. Aku pun berjalan pelan kembali ke arah Si Jagur, siapa tahu mereka ke sana. Langkahku terhenti dan berusaha sembunyi dibalik sebuah pilar. Pemandangan di depanku sepertinya penuh ketegangan. Kak Dara, salah satu anggota kami yang juga primadona sekolah, sedang berdiri membelakangiku. Ia tampak serius berbicara dengan kak Tyo yang ada di depannya. Kulihat kak Tyo tersenyum dan menjawab, “Baiklah, aku mau.”
Deg!
Aku menutup wajah dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Entah mengapa dugaan-dugaan tak mengenakkan melayang-layang di otakku. Letupan itu kembali lagi namun dengan perasaan panas yang menyengat. Entahlah. Yang aku tahu aku tak tahu kemana harus melangkah.
24 Juli 2006
Hari ini pemuda berperawakan sedang itu terlihat tampan dibalik tuxedonya. Ah, sebentar lagi namanya dipanggil dan dia akan menerima medali kelulusan itu. Lihat itu, ia telah berbaris dengan wisudawan dan wisudawati lainnya. Aku hanya dapat menatapnya dari sini. Di sudut panggung mini tempat lantunan paduan suara berseru. Entah kenapa, pedih rasanya.
Enam bulan yang terlewat, aku tetap memerhatikan dirinya. Walaupun perih karena yang selalu ada di dekatnya adalah Kak Dara, bukan aku. Bahkan waktu classmeeting sekitar 3 bulan lalu, aku ikut menonton pertandingan catur kak Tyo melawan kak Rus. Padahal aku sangat benci catur, apalagi menontonnya, akan sangat membosankan. Ini semua gara-gara dia menyuruh seluruh anggota klub datang dan memberi semangat untuknya. Entah angin dari mana, selesai pertandingan kak Tyo menghampiriku. Ia berbicara singkat tentang kepergiannya ke luar kota setelah lulus. Dia berharap aku bisa menggantikannya menjadi ketua klub jurnalistik. Berbagai kata “Mengapa…aku?” berkelebat. Tapi tetap kuiyakan. Ah, apakah karena dia meminta sambil tersenyum manis ya? Karena, aku sangat menyukai senyumnya.
Ketika dia naik ke atas panggung untuk menerima medali kelulusan, aku turun panggung mini ini untuk mengambil minum. Alibi? Tidak sepenuhnya. Aku memang haus kok. Ya memang, tak perlu kujelaskan bahwa aku belum rela melihat punggungnya menjauh. Kuambil segelas air, lalu kuminum sambil menghadap panggung. Kak Tyo telah menerima medali dan gulungan ijazah.
Sembari turun, ia melempar pandangan ke hadirin, terutama ke panggung mini di sisi kanan panggung itu. Tampak mencari seseorang. Saat matanya menuju ke arahku, ia berhenti dan tersenyum. Aku juga tersenyum sejenak dan langsung berbalik untuk mengambil gelas kedua. Mendadak tanganku gemetar, dan sebagian air tumpah ke bajuku. Untung air mineral. Lalu sebuah tangan merebut gelas yang kupegang. Ia mengisinya penuh dan memberikannya padaku. Aku menerimanya sambil menoleh ke wajah orang itu. Sedikit tersentak saat kulihat kak Tyo berdiri di sampingku. Ia tersenyum jahil. “Hati-hati, Ri. Nanti kamu berasa nyanyi di kamar mandi lho.” Ia tertawa, tapi aku hanya menatapnya dalam diam. Pemuda di depanku berhenti tertawa, “Sudah. Ayo, kembali ke habitat masing-masing.”
Selesai prosesi penyerahan semua wisudawan, saatnya sesi bebas. Kak Tyo berfoto bersama keluarganya di salah satu sudut. Kulihat pemuda di sebelah kak Tyo yang mukanya mirip tapi sedikit lebih gemuk. Ia terlihat lebih ceria daripada wisudawan berkacamata di sebelahnya. Selesai berfoto, ketua klubku itu menghampiri aku dan beberapa teman klub yang kebetulan jadi panitia juga. Ia menyeret serta pemuda gemuk tadi dan beberapa kakak anggota klub yang juga sudah lulus. Pemuda yang kini tampak mengenakan lensa kontak itu berdehem sebelum bersuara, “Teman-teman, bolehkah aku berfoto bersama kalian? Pertama kalian foto satu-satu sama aku, habis itu kita foto bareng-bareng. Tapi di luar aja ya.”
Dan sesi pemotretan itu berjalan lancar. Aku jadi yang terakhir difoto. Ia menyelipkan sesuatu di tanganku sebelum berpose. Aku hendak mengintipnya tapi keburu dihitung countdown. Dan setelah sampai di rumah, aku baru membukanya. Sebuah bros berbentuk bunga krisan.
----
Rimie Ramadan
21.06.2011
P.S. This post is just temporary and will be deleted in 2 weeks.
brtdy
This is special
I made it for you
Just you
Hey, there you are
Glad to see you
Smiling back to me
With your brightest face
I knew what made you feel so happy
And I am ready to give this sentences
Happy birthday to you
Hope you're always here
standing right beside me
As your age, my love for you
grew more and more
And I wish
it wouldn't disappear
I made it for you
Just you
Hey, there you are
Glad to see you
Smiling back to me
With your brightest face
I knew what made you feel so happy
And I am ready to give this sentences
Happy birthday to you
Hope you're always here
standing right beside me
As your age, my love for you
grew more and more
And I wish
it wouldn't disappear
Oh
Telah lama kupendam
Sebuah rasa
Yang tak pernah ada
sebelumnya
Rasa itu tumbuh
Seiring waktu
Penuhi hati
Yang kian memburu
Bintang di angkasa pun tahu
Aku jatuh cinta padamu
Maka hari ini izinkan aku
Oh, jadikanlah aku
Oh, pendampingmu selalu
Oh, di setiap langkahmu
Oh, dan setiap mimpimu, uuh
Ku berjanji kan menjagamu selamanya
---
Rimie Ramadan
21.06.2011
Sebuah rasa
Yang tak pernah ada
sebelumnya
Rasa itu tumbuh
Seiring waktu
Penuhi hati
Yang kian memburu
Bintang di angkasa pun tahu
Aku jatuh cinta padamu
Maka hari ini izinkan aku
Oh, jadikanlah aku
Oh, pendampingmu selalu
Oh, di setiap langkahmu
Oh, dan setiap mimpimu, uuh
Ku berjanji kan menjagamu selamanya
---
Rimie Ramadan
21.06.2011
Label:
lagu
16 Jun 2011
The Heaven is to Be with You - part 3
“Hyaa!! Kau jangan melihatku begitu!!” Ahri menggembungkan pipinya yang bersemburat sewarna tomat. Sepulang dari konser, Kangin menemaninya membeli baju ganti bercorak tie-dye.
Kangin tampak mengerem cekikiknya. “Mianhe, mianhe. Habis kau ini lucu sekali pakai baju itu! Apalagi berada di tempat seperti ini.” Mata Kangin menunjuk atap kafe tempat mereka berada. Tempat itu memang cukup elit.
“Ini semua gara-gara ahjussi aneh itu!! Sialan sekali aku ketemu dia hari ini!!” rutuknya kesal.
“Sudahlah, sudah. Gak usah marah-marah lagi. Ntar cepet tua lho!” pemuda berbadan besar itu mengacak lembut rambut Ahri.
“By the way, makasih ya.” Lanjut pemuda itu lagi, “kamu udah datang ke konserku hari ini. Juga minumannya. Cheongmal gomawayo!”
Ahri menggeleng singkat. “Cheonma.”
Mereka beranjak selesai mengobrol. Sebelum keluar plaza, Ahri seperti melihat seseorang yang ia kenal di toko roti di seberang resto. Gadis itu tampak ragu, dan segera menyusul Kangin.
Jungmo mengantar Rimhee hingga ke depan pintu. Tapi ia agak kaget,dilihatnya gadis di sebelahnya yang juga beraut heran karena lampu rumahnya mati. Ia meminta Jungmo untuk menemaninya mengecek ke dalam terlebih dahulu. Pelan, ia membuka kunci rumahnya.
“Kriiieeet..” deritan pintu tak juga berkompromi.
Satu langkah, tak ada apapun. Dua langkah, tak ada apapun. Jungmo mengikuti di belakangnya. Langkah ketiga, juga tak terdengar apa-apa. Baru ketika dia akan menyalakan lampu, sesuatu tiba-tiba meraih kepalanya dan terdengar bunyi kecupan. Ia tidak dapat memastikan karena gelap tertutupi sesuatu itu.
Lalu lampu menyala. Tampak di depannya, sang kakak ipar membawa sebuah kue. “Saengil chuka hamnida.. Saengil chuka hamnida.. Saranghaneun Jung Rimhee-ssi.. Saengil chuka hamnida..”
Kemudian sayup-sayup suara gitar terdengar. Muncullah oppanya sambil bernyanyi dan bermain gitar diiringi suara istrinya. Rimhee terperangah. Ia menatap dua orang itu terpesona. Setelah lagu habis, Rimhee tersenyum sangat lebar pada keduanya. Tanpa dikomando, ia menghambur memeluk kedua kakak yang ia sayangi itu. “Yonghwa oppa, Seohyun onnie, gomawayo. Cheongmal gomawayo. Saranghaeyo!”
“Ne.. Urido, Rimhee-a.” bisik Seo-onnie.
“Hei, hei, hei. Kau ini, sudah besar tapi tak tahu adab.” Bisik Yonghwa pada adiknya itu. “Kau ini terlalu senang, sampai melupakan temanmu yang dari tadi berdiri itu.”
Rimhee menepuk jidatnya. “Oh iya!! Jungmo-ssi!” Ia menoleh ke arah Jungmo lalu menuntunnya masuk.
Jungmo menuruti gerakan Rimie hingga duduk di sofa bersama Seohyun dan Yonghwa. Wajahnya masih menampakkan keterkejutan. Lalu dirasakannya sentuhan di pundaknya.
“Mianhe, Jungmo-ssi. Aku ganti baju dulu ya. Kau di sini sama oppa dan onnie ya!” Jungmo mengangguk mantap. Rimhee beralih ke Yonghwa dan Seohyun. “Oppa, Onnie. Kalian ngobrol sama Jungmo dulu ya.”
Mata Jungmo masih mengikuti langkah Rimhee hingga seseorang menepuk pundaknya.
“Hey, makasih ya.” Yonghwa tersenyum puas.
“Ah, cheonmaneyo, hyung. Hajiman, buat apa ya?” balas Jungmo dengan tampang babo nya.
“Untungnya kamu ngajak Rimhee keluar hari ini. Dan sepertinya dia benar-benar lupa karena pekerjaannya. Jadi rencana kami berjalan lancar.” Yonghwa berkedip.
“Oh, itu hyung. Aku tidak sengaja kok. Bahkan aku tidak tahu kalau hari ini ulang tahunnya. Hubungan kami kan cuma sebatas rekan kerja.” Jungmo menghela napas. Jungmo pun ikut merayakan ulang tahun Rimhee dan menerima tawaran menginap di rumahnya.
Rimhee benar-benar bahagia malam itu. Hingga ia merasa lelah dan mengantuk. Ia pun undur diri bersama Seohyun yang juga sudah mengantuk. Tinggallah Jungmo dan Yonghwa yang malah adu kepintaran bermain gitar. Yonghwa juga sesekali bernyanyi. Kediaman Jung pun menjadi ramai malam itu.
Jungmo terbangun dan merasa haus. Ketika membuka mata, ia sedikit terkejut karena asing dengan tempat itu. Dengan cepat ingatannya pulih dan segera berjalan ke dapur. Ketika akan menutup pintu kulkas, ia mendengar pintu kamar di lantai atas terbuka. Dilihatnya siluet Rimhee berjalan menuruni tangga, juga menuju dapur.
“Kehausan juga, eh?” sapa Jungmo.
Rimhee yang setengah sadar, terkaget menyadari ada orang di dapur. “A, aah, iya. Aku mau bikin kopi. Kau mau?” tawarnya.
“Hemm, tak perlu. Kau saja silakan.” Jungmo menaruh gelas yang sudah habis airnya ke meja dapur dan bergegas kembali ke kamar.
“Ah, Jungmo-ssi, chakkaman!!”
Jungmo berbalik lagi. “Wae?” Ia menghampiri Rimhee.
“Bisa tolong.. temani aku?” tanya Rimhee malu-malu.
Jungmo menatapnya jahil. “Kau.. takut hantu?”
“Hm.” Angguk arsitek muda itu. Tangannya masih mengaduk kopi siap seduh di cangkir.
“Lebih takut mana, hantu atau berduaan denganku?” matanya jahil menggoda Rimhee. Membuat mata gadis itu terbelalak.
“Takut.. hantu.” Rimhee menjawab ragu sambil meyakinkan diri. Ia memegang erat cangkir kopinya. Menyeruputnya sedikit.
“Yakin takut hantu?” Jungmo mendekatinya. Langkah demi langkah hingga akhirnya berjarak 1 meter di depan Rimhee. Rimhee terlihat merapatkan kakinya. Gugup.
“Ya.” Suaranya dipaksa tegas.
Jungmo semakin mendekat dan mulai memainkan tangannya. Punggung tangannya yang kekar mengusap pipi Rimhee. Rimhee bergidik. "Kau tidak takut padaku?"
Kini ibu jarinya mengusap pipi Rimhee. Dengan satu gerakan cepat Jungmo mendekatkan wajahnya. Rimhee refleks memejamkan mata.
Sudah 3 jam Ahri membolak-balik badannya. Matanya tak kunjung terpejam padahal kantuknya begitu besar. Pikirannya masih terpusat pada kejadian tadi siang. Baju itu, memang bukan yang paling mahal. Tapi itu favoritnya, baru 2 minggu yang lalu ia beli. Pikirannya lalu melayang ke pemuda bermarga Kim.
Kyujong POV
Aku memandangi blackforest yang kubeli tadi sore. Sampai saat ini bentuknya masih belum berubah. Hanya batangan lilin yang ada di atasnya saja yang telah hancur. Ya, hancur. Sepertiku saat ini.
“Yang ke-23 ya? Ah, tak usah heran kalau aku ingat. Kau bahkan mengancamku jika aku lupa jadwal tidur siangmu.” Aku tertawa sendiri. Kalau dia ada, pasti sudah menertawaiku duluan melihat keadaanku.
“Saengil chuka Rimhee-ah. Saranghaeyo, dimanapun kau berada. Ah, iya. Berarti sebentar lagi bukan?” Aku beranjak mendekati bingkai foto berisi wajah wanita yang tak pernah kutemui selama 3 tahun itu. “Targetmu menikah. Apa kau lupa? Kau pernah memberitahuku, bukan? Ah, atau mungkin kau sudah? Siapa pemuda beruntung itu, apa teman kita juga?”
Even if my heart still beating just for you, I really know you are not feeling like I do.. an even if the sun is shining over me, how come I still freeze?
Ah, lagu kakakmu itu takkan kulupa. Apa kau tahu, lagu itu sangat merasukiku. Apalagi saat kita berpisah. Ya, kita memang bersahabat. Hanya bersahabat. Tapi dalam diam, aku menyukaimu. “Apa aku.. masih punya kesempatan?”
---
mianhe, singkat tapi lama updatenya. kalo di FF dipepet Jungmo, aslinya dipepet tugas. Mianheyo, cheongmaleyo. *bow*
semoga menikmati.. don't forget to give a comment :D
Kangin tampak mengerem cekikiknya. “Mianhe, mianhe. Habis kau ini lucu sekali pakai baju itu! Apalagi berada di tempat seperti ini.” Mata Kangin menunjuk atap kafe tempat mereka berada. Tempat itu memang cukup elit.
“Ini semua gara-gara ahjussi aneh itu!! Sialan sekali aku ketemu dia hari ini!!” rutuknya kesal.
“Sudahlah, sudah. Gak usah marah-marah lagi. Ntar cepet tua lho!” pemuda berbadan besar itu mengacak lembut rambut Ahri.
“By the way, makasih ya.” Lanjut pemuda itu lagi, “kamu udah datang ke konserku hari ini. Juga minumannya. Cheongmal gomawayo!”
Ahri menggeleng singkat. “Cheonma.”
Mereka beranjak selesai mengobrol. Sebelum keluar plaza, Ahri seperti melihat seseorang yang ia kenal di toko roti di seberang resto. Gadis itu tampak ragu, dan segera menyusul Kangin.
Jungmo mengantar Rimhee hingga ke depan pintu. Tapi ia agak kaget,dilihatnya gadis di sebelahnya yang juga beraut heran karena lampu rumahnya mati. Ia meminta Jungmo untuk menemaninya mengecek ke dalam terlebih dahulu. Pelan, ia membuka kunci rumahnya.
“Kriiieeet..” deritan pintu tak juga berkompromi.
Satu langkah, tak ada apapun. Dua langkah, tak ada apapun. Jungmo mengikuti di belakangnya. Langkah ketiga, juga tak terdengar apa-apa. Baru ketika dia akan menyalakan lampu, sesuatu tiba-tiba meraih kepalanya dan terdengar bunyi kecupan. Ia tidak dapat memastikan karena gelap tertutupi sesuatu itu.
Lalu lampu menyala. Tampak di depannya, sang kakak ipar membawa sebuah kue. “Saengil chuka hamnida.. Saengil chuka hamnida.. Saranghaneun Jung Rimhee-ssi.. Saengil chuka hamnida..”
Kemudian sayup-sayup suara gitar terdengar. Muncullah oppanya sambil bernyanyi dan bermain gitar diiringi suara istrinya. Rimhee terperangah. Ia menatap dua orang itu terpesona. Setelah lagu habis, Rimhee tersenyum sangat lebar pada keduanya. Tanpa dikomando, ia menghambur memeluk kedua kakak yang ia sayangi itu. “Yonghwa oppa, Seohyun onnie, gomawayo. Cheongmal gomawayo. Saranghaeyo!”
“Ne.. Urido, Rimhee-a.” bisik Seo-onnie.
“Hei, hei, hei. Kau ini, sudah besar tapi tak tahu adab.” Bisik Yonghwa pada adiknya itu. “Kau ini terlalu senang, sampai melupakan temanmu yang dari tadi berdiri itu.”
Rimhee menepuk jidatnya. “Oh iya!! Jungmo-ssi!” Ia menoleh ke arah Jungmo lalu menuntunnya masuk.
Jungmo menuruti gerakan Rimie hingga duduk di sofa bersama Seohyun dan Yonghwa. Wajahnya masih menampakkan keterkejutan. Lalu dirasakannya sentuhan di pundaknya.
“Mianhe, Jungmo-ssi. Aku ganti baju dulu ya. Kau di sini sama oppa dan onnie ya!” Jungmo mengangguk mantap. Rimhee beralih ke Yonghwa dan Seohyun. “Oppa, Onnie. Kalian ngobrol sama Jungmo dulu ya.”
Mata Jungmo masih mengikuti langkah Rimhee hingga seseorang menepuk pundaknya.
“Hey, makasih ya.” Yonghwa tersenyum puas.
“Ah, cheonmaneyo, hyung. Hajiman, buat apa ya?” balas Jungmo dengan tampang babo nya.
“Untungnya kamu ngajak Rimhee keluar hari ini. Dan sepertinya dia benar-benar lupa karena pekerjaannya. Jadi rencana kami berjalan lancar.” Yonghwa berkedip.
“Oh, itu hyung. Aku tidak sengaja kok. Bahkan aku tidak tahu kalau hari ini ulang tahunnya. Hubungan kami kan cuma sebatas rekan kerja.” Jungmo menghela napas. Jungmo pun ikut merayakan ulang tahun Rimhee dan menerima tawaran menginap di rumahnya.
Rimhee benar-benar bahagia malam itu. Hingga ia merasa lelah dan mengantuk. Ia pun undur diri bersama Seohyun yang juga sudah mengantuk. Tinggallah Jungmo dan Yonghwa yang malah adu kepintaran bermain gitar. Yonghwa juga sesekali bernyanyi. Kediaman Jung pun menjadi ramai malam itu.
Jungmo terbangun dan merasa haus. Ketika membuka mata, ia sedikit terkejut karena asing dengan tempat itu. Dengan cepat ingatannya pulih dan segera berjalan ke dapur. Ketika akan menutup pintu kulkas, ia mendengar pintu kamar di lantai atas terbuka. Dilihatnya siluet Rimhee berjalan menuruni tangga, juga menuju dapur.
“Kehausan juga, eh?” sapa Jungmo.
Rimhee yang setengah sadar, terkaget menyadari ada orang di dapur. “A, aah, iya. Aku mau bikin kopi. Kau mau?” tawarnya.
“Hemm, tak perlu. Kau saja silakan.” Jungmo menaruh gelas yang sudah habis airnya ke meja dapur dan bergegas kembali ke kamar.
“Ah, Jungmo-ssi, chakkaman!!”
Jungmo berbalik lagi. “Wae?” Ia menghampiri Rimhee.
“Bisa tolong.. temani aku?” tanya Rimhee malu-malu.
Jungmo menatapnya jahil. “Kau.. takut hantu?”
“Hm.” Angguk arsitek muda itu. Tangannya masih mengaduk kopi siap seduh di cangkir.
“Lebih takut mana, hantu atau berduaan denganku?” matanya jahil menggoda Rimhee. Membuat mata gadis itu terbelalak.
“Takut.. hantu.” Rimhee menjawab ragu sambil meyakinkan diri. Ia memegang erat cangkir kopinya. Menyeruputnya sedikit.
“Yakin takut hantu?” Jungmo mendekatinya. Langkah demi langkah hingga akhirnya berjarak 1 meter di depan Rimhee. Rimhee terlihat merapatkan kakinya. Gugup.
“Ya.” Suaranya dipaksa tegas.
Jungmo semakin mendekat dan mulai memainkan tangannya. Punggung tangannya yang kekar mengusap pipi Rimhee. Rimhee bergidik. "Kau tidak takut padaku?"
Kini ibu jarinya mengusap pipi Rimhee. Dengan satu gerakan cepat Jungmo mendekatkan wajahnya. Rimhee refleks memejamkan mata.
Sudah 3 jam Ahri membolak-balik badannya. Matanya tak kunjung terpejam padahal kantuknya begitu besar. Pikirannya masih terpusat pada kejadian tadi siang. Baju itu, memang bukan yang paling mahal. Tapi itu favoritnya, baru 2 minggu yang lalu ia beli. Pikirannya lalu melayang ke pemuda bermarga Kim.
Kyujong POV
Aku memandangi blackforest yang kubeli tadi sore. Sampai saat ini bentuknya masih belum berubah. Hanya batangan lilin yang ada di atasnya saja yang telah hancur. Ya, hancur. Sepertiku saat ini.
“Yang ke-23 ya? Ah, tak usah heran kalau aku ingat. Kau bahkan mengancamku jika aku lupa jadwal tidur siangmu.” Aku tertawa sendiri. Kalau dia ada, pasti sudah menertawaiku duluan melihat keadaanku.
“Saengil chuka Rimhee-ah. Saranghaeyo, dimanapun kau berada. Ah, iya. Berarti sebentar lagi bukan?” Aku beranjak mendekati bingkai foto berisi wajah wanita yang tak pernah kutemui selama 3 tahun itu. “Targetmu menikah. Apa kau lupa? Kau pernah memberitahuku, bukan? Ah, atau mungkin kau sudah? Siapa pemuda beruntung itu, apa teman kita juga?”
Even if my heart still beating just for you, I really know you are not feeling like I do.. an even if the sun is shining over me, how come I still freeze?
Ah, lagu kakakmu itu takkan kulupa. Apa kau tahu, lagu itu sangat merasukiku. Apalagi saat kita berpisah. Ya, kita memang bersahabat. Hanya bersahabat. Tapi dalam diam, aku menyukaimu. “Apa aku.. masih punya kesempatan?”
---
mianhe, singkat tapi lama updatenya. kalo di FF dipepet Jungmo, aslinya dipepet tugas. Mianheyo, cheongmaleyo. *bow*
semoga menikmati.. don't forget to give a comment :D
5 Jun 2011
White Rose : A Story of Kim Jinyeong and Kyoko Matsumoto
Episode 6-
“Kyoko-chan!” somebody called her. “Mr. Arata.. Mr. Arata!” That girl with curly hair is running towards them.
“Calm down, Dinda-chan. Here, take a seat please!” Louis points a chair beside him. That girl from Indonesia sit beside him. She counts her breath first, but Louis directly asks, “What happen with our Kyoko and Mr. Arata?”
Dinda smiles, showing her bakpao cheeks. “Guess what? Mr.Arata says that you passed into big 50 competitors of Summer Fashion Design Competition, congratulation!!!” Then she hugs Kyoko. The jealousy of th boys getting bigger but they also smiles proudly.
Kyoko seems frozen. Dinda release her up. “What happen with you, dear? Aren’t you happy?”
Come to awareness, she shakes her head, “What did you say? Me? Passed that big 50? Is it a dream?”
Immediately Louis and Dinda pinch her cheeks together. “Auh! You’re so mean!”
“Then you know it’s not a dream, is it Kyo? Congratulation.” Louis reach his palm out. And Kyoko catch it. Still with an unbelieving face.
“Ah. Kyoko-chan.” Called Dinda again. “Mr. Arata, called you to his office. He says that..”
But Kyoko has just running when Dinda doesn’t even finish her second sentence. Dinda, Louis, and all the remain students there just looking at her proudly.
***
Jinyeong have many questions in her head. Today his lecturer all was canceled because the lecturer are overseas and his classmates are getting so many invitation and ask him to go. But the biggest question today is how cheerful a girl beside him is. Is it because of yesterday’s picnic? Ah, you’re so big-headed Jinyeong-a!!
“Hey, Jinyeong-a!!” some voices make him come to nerves. “We come too far. My house is skipped!”
“Ah, yes. I’m sorry.”
They already arrived. Kyoko reach her bag out from back seat. Jinyeong’s eyes keep looking, when suddenly her face come closer and kiss him on cheek. Jinyeong frozen still. Kyoko says goodbye and open the door.
“Kyoko wait!!” That boy shouts her. “Did something happen? You act so weird today!” Kyoko keeps her smile, and now seems more mysteriously.
“I’m passed!” He get more confused til she says, “I want to tell my parents first, then I’ll tell you. Ok?”
***
“Kyoko-chan!” somebody called her. “Mr. Arata.. Mr. Arata!” That girl with curly hair is running towards them.
“Calm down, Dinda-chan. Here, take a seat please!” Louis points a chair beside him. That girl from Indonesia sit beside him. She counts her breath first, but Louis directly asks, “What happen with our Kyoko and Mr. Arata?”
Dinda smiles, showing her bakpao cheeks. “Guess what? Mr.Arata says that you passed into big 50 competitors of Summer Fashion Design Competition, congratulation!!!” Then she hugs Kyoko. The jealousy of th boys getting bigger but they also smiles proudly.
Kyoko seems frozen. Dinda release her up. “What happen with you, dear? Aren’t you happy?”
Come to awareness, she shakes her head, “What did you say? Me? Passed that big 50? Is it a dream?”
Immediately Louis and Dinda pinch her cheeks together. “Auh! You’re so mean!”
“Then you know it’s not a dream, is it Kyo? Congratulation.” Louis reach his palm out. And Kyoko catch it. Still with an unbelieving face.
“Ah. Kyoko-chan.” Called Dinda again. “Mr. Arata, called you to his office. He says that..”
But Kyoko has just running when Dinda doesn’t even finish her second sentence. Dinda, Louis, and all the remain students there just looking at her proudly.
***
Jinyeong have many questions in her head. Today his lecturer all was canceled because the lecturer are overseas and his classmates are getting so many invitation and ask him to go. But the biggest question today is how cheerful a girl beside him is. Is it because of yesterday’s picnic? Ah, you’re so big-headed Jinyeong-a!!
“Hey, Jinyeong-a!!” some voices make him come to nerves. “We come too far. My house is skipped!”
“Ah, yes. I’m sorry.”
They already arrived. Kyoko reach her bag out from back seat. Jinyeong’s eyes keep looking, when suddenly her face come closer and kiss him on cheek. Jinyeong frozen still. Kyoko says goodbye and open the door.
“Kyoko wait!!” That boy shouts her. “Did something happen? You act so weird today!” Kyoko keeps her smile, and now seems more mysteriously.
“I’m passed!” He get more confused til she says, “I want to tell my parents first, then I’ll tell you. Ok?”
***
Label:
general ficts,
white rose
15 Mei 2011
Ngefans
Dalam persepsiku saat ini, menyukai seseorang yang tidak terjangkau itu lebih mudah daripada menyukai seseorang yang terjangkau. Karena menurutku, orang yang disukai itu tidak akan merasa terusik. Toh, bukan hanya aku seorang saja yang suka, tapi ribuan bahkan jutaan manusia memiliki rasa kagum yang sama terhadapnya. Malah dari kesamaan rasa kagum itu aku dan mereka -yang sama-sama menyukai orang itu- dapat bertukar info, gambar, dan cerita serta sama-sama mendukung orang itu dari belakang.
Sekalipun dia tau bahwa aku menyukainya, ia akan mengenalku sebagai anonim. Karena begitu banyak yang menyukainya, tak mungkin menghafal nama satu-satu. Apalagi penggemarnya ada di setiap jengkal bumi. Jadi kita juga gak peduli mau dia ngeh apa nggak, yang penting kita suka dia, dan dia gak merasa terganggu (lebih tepatnya saya mengganggunya), udah cukup. Terkecuali jika ia tak sengaja jatuh cinta padaku –mimpinyaa. Justru ini yang berbahaya. Walaupun hati senang melayang-layang karena mendapat sesuatu yang spesial dari orang istimewa –minta singkong dikasih keju- tapi siap2 tameng karena bakal dimusuhin fans nya, atau paling tidak, harus menyembunyikan jati dirimu karena akan mengganggu profesinya sebagai seorang artis.
Aku tau sih, kalau “Mengambil Panutan selain Rasulullah” itu kalo nggak haram ya makruh. Tapi sampai sekarang rasanya susah untuk menghindari wajah-wajah manis di layar kaca (baca: laptop), yang kayanya semakin hari semakin produktif dilahirkan ibu-ibu beruntung itu.
Menurutku, rasa cinta dan kagum yang aku ekspresikan antara kecintaan kepada Rasul, orang yang benar-benar kusukai, suamiku nanti dan mereka, akan sangat berbeda. You know why? Karena selama yang kupahami dan alami sendiri, ngefans itu histerianya cuma saat mereka ada dalam jangkauan panca indera ku saja. Yah, memang sih, kadang bayangannya melintas atau membuat kita mengimpikannya. Tapi tetap saja itu kan seolah-olah kita ‘melihat’ lalu histeria itu muncul.
Lalu, kenapa milih Artis Korea?
Hm, sebenarnya gak ada alasan spesifik untuk ini. Mau lokal, barat, Korea, Jepang atau Timur Tengah sekalipun, intinya ngefans kupikir sama aja. Aku lebih milih artis Korea, kenapa ya? Mungkin faktor wajah (siapa suruh terlahir ganteng, manis dan imut). Apalagi sudah jelas dalam Qur’an juga, senjata terlemah manusia adalah mata. Mau laki-laki, atau wanita, sama saja. Nah buat wanita, terutama saya yang penggemar musik dan cerita, faktor lainnya adalah lagu mereka atau karakteristik suara mereka. Kadang lagu yang dibawakan itu kalo bisa bikin saya tergerak (entah joget atau trenyuh), saya akan sangat menyukainya.
Ah intermezzo sedikit, yang ogah baca, abaikan. Waktu beberapa bulan lalu pas KBS Music Bank, dua andalan saya CNBLUE dan K.Will berebut kursi no.1 di chart musik tersebut. Dan akhirnya CNBLUE keluar sebagai pemenang dengan ‘Intuition’nya. Gara-gara si K.Will itu penyanyi ballad, aku langsung memainkan lagunya dalam pikiranku. Huaa, pengen nangis!!
Kadang seorang fans termasuk saya, menganggap mereka gak cuma sebagai pacar khayalan. Tapi juga kakak khayalan, adik khayalan, temen khayalan, ortu khayalan, de el el pokoknya diperlakukan seperti manusia yang kita kenal. Apalagi saya, yang notabene cuma kenal satu cowok paling ganteng di keluarga. Itu pun jarang di rumah. Jadilah kalo ngeliat yg seger-seger gitu langsung ijo lampunya. Haha. Makanya banyak para fans yang mencurahkan keinginan mereka untuk dekat dengan artis2 tersebut dengan membentuk dunia sendiri yang bernama Fanfiction.
Udahan dulu deh ocehan siang ini. Takut meleber lagi kemana-mana. Nanti digendong mbah surip lagi. Hayo, yang ngefans ama mbah Surip, ngacuung!!
Ria R. Ramadan
15.05.2011
PB C5, Yk
Sekalipun dia tau bahwa aku menyukainya, ia akan mengenalku sebagai anonim. Karena begitu banyak yang menyukainya, tak mungkin menghafal nama satu-satu. Apalagi penggemarnya ada di setiap jengkal bumi. Jadi kita juga gak peduli mau dia ngeh apa nggak, yang penting kita suka dia, dan dia gak merasa terganggu (lebih tepatnya saya mengganggunya), udah cukup. Terkecuali jika ia tak sengaja jatuh cinta padaku –mimpinyaa. Justru ini yang berbahaya. Walaupun hati senang melayang-layang karena mendapat sesuatu yang spesial dari orang istimewa –minta singkong dikasih keju- tapi siap2 tameng karena bakal dimusuhin fans nya, atau paling tidak, harus menyembunyikan jati dirimu karena akan mengganggu profesinya sebagai seorang artis.
Aku tau sih, kalau “Mengambil Panutan selain Rasulullah” itu kalo nggak haram ya makruh. Tapi sampai sekarang rasanya susah untuk menghindari wajah-wajah manis di layar kaca (baca: laptop), yang kayanya semakin hari semakin produktif dilahirkan ibu-ibu beruntung itu.
Menurutku, rasa cinta dan kagum yang aku ekspresikan antara kecintaan kepada Rasul, orang yang benar-benar kusukai, suamiku nanti dan mereka, akan sangat berbeda. You know why? Karena selama yang kupahami dan alami sendiri, ngefans itu histerianya cuma saat mereka ada dalam jangkauan panca indera ku saja. Yah, memang sih, kadang bayangannya melintas atau membuat kita mengimpikannya. Tapi tetap saja itu kan seolah-olah kita ‘melihat’ lalu histeria itu muncul.
Lalu, kenapa milih Artis Korea?
Hm, sebenarnya gak ada alasan spesifik untuk ini. Mau lokal, barat, Korea, Jepang atau Timur Tengah sekalipun, intinya ngefans kupikir sama aja. Aku lebih milih artis Korea, kenapa ya? Mungkin faktor wajah (siapa suruh terlahir ganteng, manis dan imut). Apalagi sudah jelas dalam Qur’an juga, senjata terlemah manusia adalah mata. Mau laki-laki, atau wanita, sama saja. Nah buat wanita, terutama saya yang penggemar musik dan cerita, faktor lainnya adalah lagu mereka atau karakteristik suara mereka. Kadang lagu yang dibawakan itu kalo bisa bikin saya tergerak (entah joget atau trenyuh), saya akan sangat menyukainya.
Ah intermezzo sedikit, yang ogah baca, abaikan. Waktu beberapa bulan lalu pas KBS Music Bank, dua andalan saya CNBLUE dan K.Will berebut kursi no.1 di chart musik tersebut. Dan akhirnya CNBLUE keluar sebagai pemenang dengan ‘Intuition’nya. Gara-gara si K.Will itu penyanyi ballad, aku langsung memainkan lagunya dalam pikiranku. Huaa, pengen nangis!!
Kadang seorang fans termasuk saya, menganggap mereka gak cuma sebagai pacar khayalan. Tapi juga kakak khayalan, adik khayalan, temen khayalan, ortu khayalan, de el el pokoknya diperlakukan seperti manusia yang kita kenal. Apalagi saya, yang notabene cuma kenal satu cowok paling ganteng di keluarga. Itu pun jarang di rumah. Jadilah kalo ngeliat yg seger-seger gitu langsung ijo lampunya. Haha. Makanya banyak para fans yang mencurahkan keinginan mereka untuk dekat dengan artis2 tersebut dengan membentuk dunia sendiri yang bernama Fanfiction.
Udahan dulu deh ocehan siang ini. Takut meleber lagi kemana-mana. Nanti digendong mbah surip lagi. Hayo, yang ngefans ama mbah Surip, ngacuung!!
Ria R. Ramadan
15.05.2011
PB C5, Yk
Label:
curhat
24 Apr 2011
An Everlasting Happiness
Sinaran mentari menerobos tirai jendela kamarku. Mengusikku dari buaian tidurku. Kuusap mataku pelan dan mendudukkan badan. Memberi jeda untuk mengaktifkan seluruh indera. Lalu mengingat ini hari apa dan tanggal berapa. Ah, ini dia. Hari yang kutunggu.
***
Kazue berjalan pelan ke kamar mandi dan membuka pintunya pelan. Ia menatap bayangan wajahnya di cermin sebelum mengusapkan air dan facial foam ke wajahnya. Menatap lagi bayangan itu, bayangan yang berbeda dari yang dulu.
Habis dari kamar mandi, ia mengambil segenggam album foto. Hasil jepretannya dulu bersama teman-teman sekolahnya. Sebenarnya tidak ingin sepenuhnya nostalgia. Hanya karena ini adalah harinya.
Ia membuka satu yang dipilihnya. Ia menatap lembar-lembar itu dengan penuh kerinduan. Di sana, di tempat yang sudah lama tak pernah ia singgahi.
***
"Kazue!" panggilan seseorang membuatnya berhenti mengunyah bekalnya. Ia menoleh. Bocah yang memanggilnya tadi terlihat mengatur nafasnya. "Ternyata kau di sini. Ayo, ikut aku."
Kazue menutup bekalnya yang belum habis dan menjawab ajakan bocah itu, "Memangnya kita mau kemana, Takeru?" tanpa bergeming dari tempatnya.
"Kak Kazumi ulangtahun. Dia mau menraktir teman-teman yang dekat dengannya. Termasuk kita. Kau gak mau melewatkannya bukan?"
Kazue tampak ragu. Ia menatap bekalnya yang telanjur terbungkus rapi. Tapi bayangan itu sedikit kabur tertutupi genangan air matanya.
"Ayolah!" Takeru menyeret Kazue tanpa pikir panjang. Dia mengoceh sepanjang perjalanan. "Hei, Kazue-chan. Kalau kau jadi dia, apa kau juga akan pergi?"
Kazue mengangkat kepalanya menatap Takeru. Sedangkan bocah itu tak menengok sedikit pun. Kazue hanya menghela napas pendek. Ia tahu, Kazumi memang sudah lama mengincar beasiswa ke luar negeri itu. Dan ia juga sama seperti Takeru, tak ingin Kazumi pergi. Terlebih ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan pada Kazumi yang tidak ia temukan pada Takeru. "Mungkin saja."
Mereka akhirnya sampai di kantin sekolah. Di sebuah meja, ia melihat Kazumi sudah berkumpul bersama beberapa senior lain. Ia sedikit ragu untuk melanjutkan langkah. Tapi tangan Takeru memandunya. Mereka berdua menghampiri meja Kazumi.
"Selamat ulang tahun brother." ucap Takeru.
"Terimakasih Takeru," Kazumi membalas jabat tangan Takeru mantap. Ia lalu berganti menatap Kazue. Tapi dilihatnya gadis itu menunduk. "Hei, gadis kecil. Apa kau tak mau memberikan ucapan selamat padaku?" Ia mengelus lembut rambut gadis itu.
Kazue mengucek mata pelan dan mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis, "Selamat ulang tahun kak. semoga tahun ini lebih baik dan bisa belajar di luar negeri dengan baik." Ia bagai teriris-iris ketika mengucap kalimat terakhir.
Kazumi tertawa kecil dan mengacak pelan rambut sepunggung Kazue. Ia lalu menepuk pundak Kazue. "Terimakasih, gadis kecilku. Aku akan ingat terus kata-katamu ini." Kazumi ikut tersenyum manis. Ia menyuruh kedua sahabat kecilnya itu duduk. Lalu ia melanjutkan dengan pidato singkat dan memberikan semangat pada mereka agar bisa menyusulnya.
"Oya, aku pingin bilang. Kalau ada dari kalian yang gak setuju aku ke luar negeri, aku gak jadi pindah. Karena aku gak mau pergi dengan membawa air mata kalian. Yang gak mau aku pergi, silakan angkat tangan." suruhnya, tapi nampaknya tak ada yang mengacung. "Ok, kalau begitu semua setuju ya." putusnya.
Setelah itu ia menyampaikan pesan untuk teman-temannya dan pesan terakhir untuk kami berdua. "Takeru, tolong jaga Kazue. Maafkan aku karena tidak bisa bermain dengan kalian lagi. Setidaknya untuk 7 tahun ke depan." Takeru bisa melihat senyum pahit yang ada di wajah Kazumi.
Tiba-tiba ia tertawa hampa. "Kok jadi melankolis gini sih? Sudahlah, ayo silakan pesan apa yang kalian mau. Aku bayar semua, seminggu lagi kalian pasti kangen dengan kebaikanku ini."
***
Bandara, 20 menit sebelum keberangkatan.
"Kazue, Takeru. Belajarlah yang baik ya. Saling menjaga satu sama lain. Terutama kau Takeru, sebagai laki-laki kau yang harus lebih banyak menjaganya. Kalau aku pulang nanti, kalianlah yang pertama kutemui setelah keluargaku. Aku janji." Katanya sambil tersenyum.
Kazue sekuat tenaga menahan air matanya. Takeru terus merangkulnya. Tapi ia tak kuat lagi, ia menunduk dan meneteskan air matanya. Tapi Kazumi malah mengangkat wajahnya. Ia mengusap air mata Kazue dengan ibu jarinya. "Sudah kubilang, jangan menangis gadis kecilku." katanya lembut.
Kazue melepaskan tangan Kazumi perlahan. "Ini bukan air mata sedih, kak. Aku bahagia. Aku bahagia bisa melihat kakak meneruskan cita-cita kakak. Aku janji, aku akan belajar dengan baik di sini. Agar bisa menyusul kakak. Ya kan, Takeru?" ia menoleh pada Takeru yang dibalas anggukan.
"Baiklah, kalau begitu. Aku bisa tenang belajar di sana. Sampai jumpa." lalu ia berjalan ke tempat check-in bersama kedua orangtuanya. Kazue dan Takeru hanya sanggup mengantar sampai sini.
Takeru mengeratkan rangkulannya pada Kazue dan membimbingnya pulang. Ia tahu, kalau Kazue berbohong. Ia tahu, bahwa Kazue adalah orang yang paling tidak rela kak Kazumi pergi, lebih dari dirinya. Ia sangat mengerti. Karena selamanya, mata Takeru hanya untuk menatap Kazue.
***
Kazue membolak-balikkan halaman di album itu. Rautnya berubah-ubah setiap melihat lembaran baru yang dibukanya. Ia berhenti pada satu foto, yang diambil sebelum peristiwa itu terjadi.
***
Kazue, Takeru dan Aiko (teman SMA mereka) berjalan pulang bersama karena rumah mereka searah. Aiko mengajak mereka berdua mampir ke sebuah photobooth. Mereka berfoto dan setelahnya menunggu foto itu di luar. Aiko dan Takeru begitu antusias menunggu. Sedangkan Kazue malah mampir ke minimarket di sebrang jalan yang sangat sepi.
Sekeluarnya dari minimarket tersebut, Ia kembali menyebrang jalan dan menghampiri dua temannya itu. Tapi, belum sampai di seberang jalan,kantung belanjanya robek dan beberapa barang jatuh berserakan. Ia memungutinya satu per satu.
Tiba-tiba ada sebuah truk besar yang muncul dengan kecepatan tinggi. Kazue tidak sadar dan terus memunguti barang. Takeru yang tidak sengaja melihat truk itu langsung berlari menyelamatkan Kazue. Ia mendorong Kazue ke sisi jalan dan hendak menyusul.
Tapi terlambat. Truk itu menabrak tubuh Takeru yang posisinya masih setengah di jalan itu. Tubuh Takeru terpental, kepalanya menumbur bagian belakang truk dan terjatuh ke aspal. Darah mengucur dari setiap inci tubuhnya, terutama di bagian kepala.
Truk itu bablas entah kemana.
Kazue dan Aiko terpaku sejenak melihat kejadian itu. Sesaat kemudian mereka sadar, dan menghampiri sosok Takeru yang lemas tak berdaya. Aiko langsung menelpon rumah sakit untuk memanggil ambulan. Sedangkan Kazue terpaku lemas di hadapan tubuh Takeru. Ia mengangkat kepala Takeru dan meletakkannya di pangkuannya. Ditatapnya wajah Takeru. Matanya terpejam. Kazue membelai wajah sahabat kecilnya itu, berharap ia membuka matanya. Airmata Kazue terus mengalir sampai ambulans tiba dan membawa mereka bertiga ke rumah sakit.
Kazue terus menunggui Takeru di rumah sakit. Aiko sudah pulang karena harus mengikuti les bahasa Inggris. Lalu ia melihat bibi Ayame, ibu Takeru, lari tergopoh-gopoh bersama Paman Kazuya menghampirinya. Bibi Ayame bertanya panik lalu Kazue menjelaskan semuanya. Matanya basah lagi, merasa bersalah karena dialah penyebab semua ini. Bibi Ayame memeluknya erat. Paman Kazuya mengusap punggung mereka berdua yang larut dalam air mata.
Ketika hari beranjak malam, orangtua Takeru memaksanya pulang. Karena besok pagi ia harus sekolah. Sesampainya di rumah, ia mencoba menghubungi nomor kak Kazumi, hendak mengabarinya. Tapi berkali-kali ia mencoba tetap tidak diangkat. Akhirnya ia menyerah dan mencoba lagi besok.
Esoknya, tetap nomor pemberian kak Kazumi itu tidak menjawab telponnya. "Baiklah. Mungkin ada sesuatu yang menghalanginya."
Kazue tidak lagi konsen dalam pelajarannya. Matanya hanya tertuju pada bangku kosong di sebelahnya. Secepat bel sekolah berbunyi, secepat itu juga ia berlari meninggalkan sekolah menuju rumah sakit.
Gadis bermata bening itu mencoba memperbaiki mukanya sebelum membuka pintu ruang ICU, tempat Takeru dirawat. Ia masuk dan melihat ketenangan di wajah paman Kazuya. Lalu ia melihat bibi Ayame yang sedang duduk di samping putranya. Ia tersenyum tipis melihat Kazue datang. Dan menoleh lagi pada Takeru. Mata Kazue beralih dan mendapati Takeru memandangnya. Ia mendekat, bibi Ayame bangkit dari kursinya dan keluar bersama paman meninggalkan mereka berdua.
***
Aku duduk di kursi yang tadi ditempati bibi Ayame. Memandang kepada sahabatku yang nampak tak berdaya. Aku menggenggam tangannya, menyalurkan kehangatan padanya. Air mataku mengalir lagi. Tangannya hendak mengusap wajahku, tapi kutahan.
"Jangan menangis." katanya. "Kau kan sudah berjanji pada kak Kazumi tidak akan bersedih lagi. Lagipula kau terlihat bodoh jika sedang menangis." ia tertawa hambar.
Kata-katanya malah membuat air mataku lebih lancar mengalir. "Kau, jangan tinggalkan aku." pintaku. "Kita kan sudah janji untuk menyusul kak Kazumi berdua. Kau dan aku. Kita." air mataku terus mengalir semakin deras.
"Maaf. Maafkan aku. Saat ini aku tidak yakin bisa memenuhi janji itu. Semalam aku mendapat pertanda.." omongan Takeru terhenti karena telunjukku mengunci bibirnya.
"Jangan.. kumohon jangan katakan itu! Kau harus sembuh, kau harus bisa pulih lagi. Kau kan janji akan terus menjagaku. Iya kan?" Takeru hanya bisa diam menatapnya. "Takeru. Take-chan. Jangan tinggalkan aku sendiri. Kak Kazumi sudah tidak di sini. Kalau kau pergi, aku harus bagaimana?" Aku menangis kencang dan menggenggam tangannya erat. Membenamkan wajahku di sisi Takeru.
"Kazue-chan.. Mungkin aku harus memberitahumu sesuatu." Aku mengangkat kepalaku. Menyimak kalimat yang akan dia sampaikan. "Sebenarnya, sejak SMP aku sadar. Aku mencintaimu."
Aku tersentak, tak percaya dengan apa yang sahabatku ini bilang. "Apa? Kau serius?"
Ia mengangguk lemah. "Percayalah. Aku mulai menyadari, ada sesuatu yang berbeda dari sekedar sahabat yang kurasa padamu. Lambat laun aku memerhatikanmu. Wajahmu yang tersenyum yang membuatku bahagia, aku yang ingin menghiburmu saat kau sedih. Dan aku yang menyadari bahwa kau mencintai kak Kazumi. Wajahmu yang tersenyum saat melihatnya, buatku bahagia sekaligus sakit. Tapi kebahagiaan itu mengalahkan rasa sakitku."
Aku mengeratkan genggamanku pada Takeru. Menatap senyumnya. Wajah itu begitu bersinar penuh harapan.
"Aku senang melihatmu bahagia. Maka dari itu, aku tak ingin melihat airmatamu, lebih daripada kak Kazumi. Aku ingin menjagamu semampuku, tapi ternyata takdir berkata lain. Sebentar lagi aku harus pergi. Mungkin ini giliran kak Kazumi menjagamu." Takeru menghela napasnya, tersengal. "Berjanjilah. Setelah aku pergi, carilah kak Kazumi. Minta ia untuk menjagamu, kalau bisa untuk selamanya. Sebab hanya dia yang aku percaya. Belajar yang baik, agar kau bisa menyusulnya."
aku mengangguk. Tak rela melihatnya kecewa.
"Sudah. Mungkin ini saja yang bisa kusampaikan. Bisakah kaupanggilkan orang tuaku di luar?" Ia memintaku halus. Kulihat airmata pun mengambang di mata hitamnya.
Aku mengangguk dan keluar, memanggil orangtuanya. Paman dan bibi masuk, sedangkan aku menunggu di luar. Tak berapa lama, aku mendengar bunyi menyengat dari dalam ruangan Takeru. Aku pun melepas tangiku kencang.
***
Aku menitikkan air mata mengingat kejadian itu. Dan harapanku akan kedatangan kak Kazumi tidak juga terkabul. Bahkan sampai tiga bulan setelahnya, saat dia menelpon ke rumah Kazue. Ia hanya mengucapkan belasungkawa dan bilang tidak bisa datang karena sibuk adaptasi dengan dunia perkuliahan. Dia juga bilang kalau nomor yang waktu itu dikasih dicuri orang. Jadi tidak bisa dihubungi.
5 bulan setelah telpon itu aku mendapat kabar gembira. Aku lulus beasiswa ke Perancis. Aku sangat senang, karena kak Kazumi juga berada di sana. Aku menyiapkannya dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, di sinilah aku berada.
Kututup album foto terakhir itu. Lalu memasukkannya lagi ke dalam laci di bawah rak buku.
Aku beranjak mandi. Karena setelahnya aku hendak berbelanja. Hari ini, 24 April 2011, aku akan memasak makanan yang istimewa.
***
Aku berjalan tergesa-gesa ke basement. Hingga tak sengaja menabrak seseorang di depan Délicafé. Barangku dan miliknya tercecer. Aku memunguti barangku.
"Désolé, tu vas bien? are you okay?" Tanya orang itu.
"Oui. I'm okay." Aku mendongak. Lalu kami terkejut, saling mendapati bahwa kami mengenal satu sama lain. "Kazumi-san?" tanyaku.
"Kazue-san?" balasnya. Kami tertawa kecil. Lalu ia mengajakku minum kopi di Délicafé. Ia membantuku membawa barang.
***
"Gak nyangka deh, bisa ketemu kamu di sini." Kazumi mengajaknya bicara menggunakan bahasa Jepang, agar lebih akrab. "Genki desu ka?"
"Hai. Genki desu. Aku juga gak nyangka bisa ketemu kak Kazumi di sini." Ia menghela napas dan teringat sesuatu. "Oya, kak. Selamat ulang tahun ya!"
Kazumi tertawa keras. "Ternyata kamu masih ingat. Aku saja sudah hampir lupa. Makasih ya. Sebagai gantinya, aku yang bayar."
"Terserah kakak. Hehe." jawabnya bahagia. Percakapan antara keduanya mengalir hangat. Kazue menceritakan peristiwa kecelakaan yang dialami Takeru. Sesekali Kazumi mengungkapkan kesedihannya yang belum bisa mengunjungi makam Takeru. Kazue juga jadi teringat akan sahabat mereka itu. "Seandainya dia ada di sini bersama kita."
"Iya. Itu akan lebih baik." Kazumi menyesap kopi untuk kelima kalinya. "Oya, apa dia sudah bilang padamu?" Ia menatap Kazue serius.
"Tentang apa?"
"Tentang.. perasaannya." wajah Kazumi menyiratkan rasa bersalah.
"Oh, itu. Sudah kak. Dia bilang sebelum dia 'pergi'. Dia jugalah yang menyuruhku untuk berusaha mencari kakak. Dan.. meminta kakak untuk menjagaku."
"Hm, begitu ya? Baiklah kalau sudah begitu. Lagipula, kita tinggal berdua sekarang. Harus saling menjaga."
Kazue sedikit berdebar mendengar kata 'berdua' dan 'saling menjaga' dari mulut Kazumi. Wajahnya merona merah.
"Kazue, kau tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik, ya." Kazumi menatapnya penuh arti. "Hm, rasanya aku benar-benar ingin menjagamu selamanya."
Kazue dan Kazumi merasakan debaran masing-masing. Kazumi mengatur napasnya sebelum melanjutkan.
"Bagaimana kalau, aku menikahimu?" ucap Kazumi gugup. "Would you be my wife, my little girl?"
Debaran hati mereka berdua membuncah mendengar kalimat itu keluar dengan sempurna. Tak perlu pengulangan lagi. Rona merah menguasai wajah keduanya. Dan hawa panas seakan menyelimuti tempat duduk mereka.
Kazue berpikir sejenak. Lalu ia menggeleng.
Kazumi kaget menatapnya, serasa hatinya robek. "Kenapa?"
Kazue menjawab, "Tidak sekarang,kak. Kita masih sekolah. Tunggulah hingga aku lulus. Aku siap menerimamu." jawabnya mantap dengan muka semerah semangka.
Kazumi tersenyum menatap gadis kecil kesayangannya. Gadis itu pun membalas dengan senyuman termanis yang pernah ia berikan. "Arigatou Kazue-chan, my beloved little girl." Ia memeluk Kazue penuh kelembutan. Lalu melepaskannya.
5 tahun kemudian, Kazue lulus dengan predikat Cum laude yang sangat memuaskan. Membuat ayah ibunya bangga dan mengabulkan permohonan gadis itu. Gadis itu hanya meminta izin ayah dan ibunya untuk menikah dengan Kazumi. Kazumi yang lulus dengan predikat yang sama setahun sebelum Kazue dan telah bekerja di sebuah perusahaan di Jepang, juga mengajukan proposal pada orangtuanya. Keempat orangtua menyetujui dengan syarat melangsungkan pernikahan mereka di Jepang. Dan pernikahan itu pun berlangsung dengan khidmat. Tak lupa mereka mengunjungi Takeru di pusaranya.
"Takeru, terimakasih telah menepati janjimu untuk menjaga gadis di sampingku ini. Kalau bukan karenamu, aku mungkin tak bisa bertemu dengannya lagi. Lihatlah, kini ia sudah menjadi gadis yang cantik, dewasa dan cerdas. Dan aku sudah menikahinya. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh jiwa raga seperti yang kaulakukan." ucap Kazumi di depan pusara Takeru.
Kazumi mundur dan memberi tempat untuk istrinya. "Takeru, terimakasih dan maaf." sambung Kazue. "Terimakasih telah menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Seandainya kau tak ada di sana, entah aku masih bisa berdiri di sini dan tersenyum padamu. Senyuman bahagia yang kauharapkan, yang membuatmu ikut bahagia." Kazue mulai terisak. "Juga, maafkan aku. Karena aku kau harus menderita. Maafkan aku Takeru, karena kau harus merelakan nyawamu untukku. Merelakan dirimu untuk membuatku tersenyum. Dan maafkan aku, yang tak pernah menyadari bahwa kau mencintaiku sehingga mampu berbuat seperti itu." Kazue mengelus pusara Takeru seakan wajah Takerulah yang ada di sana. Perlahan ia mundur kembali.
"Takeru, semoga kau tenang dan bahagia di sana. Amin." doa sepasang pengantin baru itu.
Kemudian mereka membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan pusara Takeru. Takeru menatap mereka dari atas langit dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia berikan.
The End.
---
Rimie Ramadan
24.04.2011
gimana, gimana?? komentarnya yaa.. saya publish di fb juga ding..
makasih dah baca en komen.. :D
***
Kazue berjalan pelan ke kamar mandi dan membuka pintunya pelan. Ia menatap bayangan wajahnya di cermin sebelum mengusapkan air dan facial foam ke wajahnya. Menatap lagi bayangan itu, bayangan yang berbeda dari yang dulu.
Habis dari kamar mandi, ia mengambil segenggam album foto. Hasil jepretannya dulu bersama teman-teman sekolahnya. Sebenarnya tidak ingin sepenuhnya nostalgia. Hanya karena ini adalah harinya.
Ia membuka satu yang dipilihnya. Ia menatap lembar-lembar itu dengan penuh kerinduan. Di sana, di tempat yang sudah lama tak pernah ia singgahi.
***
"Kazue!" panggilan seseorang membuatnya berhenti mengunyah bekalnya. Ia menoleh. Bocah yang memanggilnya tadi terlihat mengatur nafasnya. "Ternyata kau di sini. Ayo, ikut aku."
Kazue menutup bekalnya yang belum habis dan menjawab ajakan bocah itu, "Memangnya kita mau kemana, Takeru?" tanpa bergeming dari tempatnya.
"Kak Kazumi ulangtahun. Dia mau menraktir teman-teman yang dekat dengannya. Termasuk kita. Kau gak mau melewatkannya bukan?"
Kazue tampak ragu. Ia menatap bekalnya yang telanjur terbungkus rapi. Tapi bayangan itu sedikit kabur tertutupi genangan air matanya.
"Ayolah!" Takeru menyeret Kazue tanpa pikir panjang. Dia mengoceh sepanjang perjalanan. "Hei, Kazue-chan. Kalau kau jadi dia, apa kau juga akan pergi?"
Kazue mengangkat kepalanya menatap Takeru. Sedangkan bocah itu tak menengok sedikit pun. Kazue hanya menghela napas pendek. Ia tahu, Kazumi memang sudah lama mengincar beasiswa ke luar negeri itu. Dan ia juga sama seperti Takeru, tak ingin Kazumi pergi. Terlebih ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan pada Kazumi yang tidak ia temukan pada Takeru. "Mungkin saja."
Mereka akhirnya sampai di kantin sekolah. Di sebuah meja, ia melihat Kazumi sudah berkumpul bersama beberapa senior lain. Ia sedikit ragu untuk melanjutkan langkah. Tapi tangan Takeru memandunya. Mereka berdua menghampiri meja Kazumi.
"Selamat ulang tahun brother." ucap Takeru.
"Terimakasih Takeru," Kazumi membalas jabat tangan Takeru mantap. Ia lalu berganti menatap Kazue. Tapi dilihatnya gadis itu menunduk. "Hei, gadis kecil. Apa kau tak mau memberikan ucapan selamat padaku?" Ia mengelus lembut rambut gadis itu.
Kazue mengucek mata pelan dan mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis, "Selamat ulang tahun kak. semoga tahun ini lebih baik dan bisa belajar di luar negeri dengan baik." Ia bagai teriris-iris ketika mengucap kalimat terakhir.
Kazumi tertawa kecil dan mengacak pelan rambut sepunggung Kazue. Ia lalu menepuk pundak Kazue. "Terimakasih, gadis kecilku. Aku akan ingat terus kata-katamu ini." Kazumi ikut tersenyum manis. Ia menyuruh kedua sahabat kecilnya itu duduk. Lalu ia melanjutkan dengan pidato singkat dan memberikan semangat pada mereka agar bisa menyusulnya.
"Oya, aku pingin bilang. Kalau ada dari kalian yang gak setuju aku ke luar negeri, aku gak jadi pindah. Karena aku gak mau pergi dengan membawa air mata kalian. Yang gak mau aku pergi, silakan angkat tangan." suruhnya, tapi nampaknya tak ada yang mengacung. "Ok, kalau begitu semua setuju ya." putusnya.
Setelah itu ia menyampaikan pesan untuk teman-temannya dan pesan terakhir untuk kami berdua. "Takeru, tolong jaga Kazue. Maafkan aku karena tidak bisa bermain dengan kalian lagi. Setidaknya untuk 7 tahun ke depan." Takeru bisa melihat senyum pahit yang ada di wajah Kazumi.
Tiba-tiba ia tertawa hampa. "Kok jadi melankolis gini sih? Sudahlah, ayo silakan pesan apa yang kalian mau. Aku bayar semua, seminggu lagi kalian pasti kangen dengan kebaikanku ini."
***
Bandara, 20 menit sebelum keberangkatan.
"Kazue, Takeru. Belajarlah yang baik ya. Saling menjaga satu sama lain. Terutama kau Takeru, sebagai laki-laki kau yang harus lebih banyak menjaganya. Kalau aku pulang nanti, kalianlah yang pertama kutemui setelah keluargaku. Aku janji." Katanya sambil tersenyum.
Kazue sekuat tenaga menahan air matanya. Takeru terus merangkulnya. Tapi ia tak kuat lagi, ia menunduk dan meneteskan air matanya. Tapi Kazumi malah mengangkat wajahnya. Ia mengusap air mata Kazue dengan ibu jarinya. "Sudah kubilang, jangan menangis gadis kecilku." katanya lembut.
Kazue melepaskan tangan Kazumi perlahan. "Ini bukan air mata sedih, kak. Aku bahagia. Aku bahagia bisa melihat kakak meneruskan cita-cita kakak. Aku janji, aku akan belajar dengan baik di sini. Agar bisa menyusul kakak. Ya kan, Takeru?" ia menoleh pada Takeru yang dibalas anggukan.
"Baiklah, kalau begitu. Aku bisa tenang belajar di sana. Sampai jumpa." lalu ia berjalan ke tempat check-in bersama kedua orangtuanya. Kazue dan Takeru hanya sanggup mengantar sampai sini.
Takeru mengeratkan rangkulannya pada Kazue dan membimbingnya pulang. Ia tahu, kalau Kazue berbohong. Ia tahu, bahwa Kazue adalah orang yang paling tidak rela kak Kazumi pergi, lebih dari dirinya. Ia sangat mengerti. Karena selamanya, mata Takeru hanya untuk menatap Kazue.
***
Kazue membolak-balikkan halaman di album itu. Rautnya berubah-ubah setiap melihat lembaran baru yang dibukanya. Ia berhenti pada satu foto, yang diambil sebelum peristiwa itu terjadi.
***
Kazue, Takeru dan Aiko (teman SMA mereka) berjalan pulang bersama karena rumah mereka searah. Aiko mengajak mereka berdua mampir ke sebuah photobooth. Mereka berfoto dan setelahnya menunggu foto itu di luar. Aiko dan Takeru begitu antusias menunggu. Sedangkan Kazue malah mampir ke minimarket di sebrang jalan yang sangat sepi.
Sekeluarnya dari minimarket tersebut, Ia kembali menyebrang jalan dan menghampiri dua temannya itu. Tapi, belum sampai di seberang jalan,kantung belanjanya robek dan beberapa barang jatuh berserakan. Ia memungutinya satu per satu.
Tiba-tiba ada sebuah truk besar yang muncul dengan kecepatan tinggi. Kazue tidak sadar dan terus memunguti barang. Takeru yang tidak sengaja melihat truk itu langsung berlari menyelamatkan Kazue. Ia mendorong Kazue ke sisi jalan dan hendak menyusul.
Tapi terlambat. Truk itu menabrak tubuh Takeru yang posisinya masih setengah di jalan itu. Tubuh Takeru terpental, kepalanya menumbur bagian belakang truk dan terjatuh ke aspal. Darah mengucur dari setiap inci tubuhnya, terutama di bagian kepala.
Truk itu bablas entah kemana.
Kazue dan Aiko terpaku sejenak melihat kejadian itu. Sesaat kemudian mereka sadar, dan menghampiri sosok Takeru yang lemas tak berdaya. Aiko langsung menelpon rumah sakit untuk memanggil ambulan. Sedangkan Kazue terpaku lemas di hadapan tubuh Takeru. Ia mengangkat kepala Takeru dan meletakkannya di pangkuannya. Ditatapnya wajah Takeru. Matanya terpejam. Kazue membelai wajah sahabat kecilnya itu, berharap ia membuka matanya. Airmata Kazue terus mengalir sampai ambulans tiba dan membawa mereka bertiga ke rumah sakit.
Kazue terus menunggui Takeru di rumah sakit. Aiko sudah pulang karena harus mengikuti les bahasa Inggris. Lalu ia melihat bibi Ayame, ibu Takeru, lari tergopoh-gopoh bersama Paman Kazuya menghampirinya. Bibi Ayame bertanya panik lalu Kazue menjelaskan semuanya. Matanya basah lagi, merasa bersalah karena dialah penyebab semua ini. Bibi Ayame memeluknya erat. Paman Kazuya mengusap punggung mereka berdua yang larut dalam air mata.
Ketika hari beranjak malam, orangtua Takeru memaksanya pulang. Karena besok pagi ia harus sekolah. Sesampainya di rumah, ia mencoba menghubungi nomor kak Kazumi, hendak mengabarinya. Tapi berkali-kali ia mencoba tetap tidak diangkat. Akhirnya ia menyerah dan mencoba lagi besok.
Esoknya, tetap nomor pemberian kak Kazumi itu tidak menjawab telponnya. "Baiklah. Mungkin ada sesuatu yang menghalanginya."
Kazue tidak lagi konsen dalam pelajarannya. Matanya hanya tertuju pada bangku kosong di sebelahnya. Secepat bel sekolah berbunyi, secepat itu juga ia berlari meninggalkan sekolah menuju rumah sakit.
Gadis bermata bening itu mencoba memperbaiki mukanya sebelum membuka pintu ruang ICU, tempat Takeru dirawat. Ia masuk dan melihat ketenangan di wajah paman Kazuya. Lalu ia melihat bibi Ayame yang sedang duduk di samping putranya. Ia tersenyum tipis melihat Kazue datang. Dan menoleh lagi pada Takeru. Mata Kazue beralih dan mendapati Takeru memandangnya. Ia mendekat, bibi Ayame bangkit dari kursinya dan keluar bersama paman meninggalkan mereka berdua.
***
Aku duduk di kursi yang tadi ditempati bibi Ayame. Memandang kepada sahabatku yang nampak tak berdaya. Aku menggenggam tangannya, menyalurkan kehangatan padanya. Air mataku mengalir lagi. Tangannya hendak mengusap wajahku, tapi kutahan.
"Jangan menangis." katanya. "Kau kan sudah berjanji pada kak Kazumi tidak akan bersedih lagi. Lagipula kau terlihat bodoh jika sedang menangis." ia tertawa hambar.
Kata-katanya malah membuat air mataku lebih lancar mengalir. "Kau, jangan tinggalkan aku." pintaku. "Kita kan sudah janji untuk menyusul kak Kazumi berdua. Kau dan aku. Kita." air mataku terus mengalir semakin deras.
"Maaf. Maafkan aku. Saat ini aku tidak yakin bisa memenuhi janji itu. Semalam aku mendapat pertanda.." omongan Takeru terhenti karena telunjukku mengunci bibirnya.
"Jangan.. kumohon jangan katakan itu! Kau harus sembuh, kau harus bisa pulih lagi. Kau kan janji akan terus menjagaku. Iya kan?" Takeru hanya bisa diam menatapnya. "Takeru. Take-chan. Jangan tinggalkan aku sendiri. Kak Kazumi sudah tidak di sini. Kalau kau pergi, aku harus bagaimana?" Aku menangis kencang dan menggenggam tangannya erat. Membenamkan wajahku di sisi Takeru.
"Kazue-chan.. Mungkin aku harus memberitahumu sesuatu." Aku mengangkat kepalaku. Menyimak kalimat yang akan dia sampaikan. "Sebenarnya, sejak SMP aku sadar. Aku mencintaimu."
Aku tersentak, tak percaya dengan apa yang sahabatku ini bilang. "Apa? Kau serius?"
Ia mengangguk lemah. "Percayalah. Aku mulai menyadari, ada sesuatu yang berbeda dari sekedar sahabat yang kurasa padamu. Lambat laun aku memerhatikanmu. Wajahmu yang tersenyum yang membuatku bahagia, aku yang ingin menghiburmu saat kau sedih. Dan aku yang menyadari bahwa kau mencintai kak Kazumi. Wajahmu yang tersenyum saat melihatnya, buatku bahagia sekaligus sakit. Tapi kebahagiaan itu mengalahkan rasa sakitku."
Aku mengeratkan genggamanku pada Takeru. Menatap senyumnya. Wajah itu begitu bersinar penuh harapan.
"Aku senang melihatmu bahagia. Maka dari itu, aku tak ingin melihat airmatamu, lebih daripada kak Kazumi. Aku ingin menjagamu semampuku, tapi ternyata takdir berkata lain. Sebentar lagi aku harus pergi. Mungkin ini giliran kak Kazumi menjagamu." Takeru menghela napasnya, tersengal. "Berjanjilah. Setelah aku pergi, carilah kak Kazumi. Minta ia untuk menjagamu, kalau bisa untuk selamanya. Sebab hanya dia yang aku percaya. Belajar yang baik, agar kau bisa menyusulnya."
aku mengangguk. Tak rela melihatnya kecewa.
"Sudah. Mungkin ini saja yang bisa kusampaikan. Bisakah kaupanggilkan orang tuaku di luar?" Ia memintaku halus. Kulihat airmata pun mengambang di mata hitamnya.
Aku mengangguk dan keluar, memanggil orangtuanya. Paman dan bibi masuk, sedangkan aku menunggu di luar. Tak berapa lama, aku mendengar bunyi menyengat dari dalam ruangan Takeru. Aku pun melepas tangiku kencang.
***
Aku menitikkan air mata mengingat kejadian itu. Dan harapanku akan kedatangan kak Kazumi tidak juga terkabul. Bahkan sampai tiga bulan setelahnya, saat dia menelpon ke rumah Kazue. Ia hanya mengucapkan belasungkawa dan bilang tidak bisa datang karena sibuk adaptasi dengan dunia perkuliahan. Dia juga bilang kalau nomor yang waktu itu dikasih dicuri orang. Jadi tidak bisa dihubungi.
5 bulan setelah telpon itu aku mendapat kabar gembira. Aku lulus beasiswa ke Perancis. Aku sangat senang, karena kak Kazumi juga berada di sana. Aku menyiapkannya dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, di sinilah aku berada.
Kututup album foto terakhir itu. Lalu memasukkannya lagi ke dalam laci di bawah rak buku.
Aku beranjak mandi. Karena setelahnya aku hendak berbelanja. Hari ini, 24 April 2011, aku akan memasak makanan yang istimewa.
***
Aku berjalan tergesa-gesa ke basement. Hingga tak sengaja menabrak seseorang di depan Délicafé. Barangku dan miliknya tercecer. Aku memunguti barangku.
"Désolé, tu vas bien? are you okay?" Tanya orang itu.
"Oui. I'm okay." Aku mendongak. Lalu kami terkejut, saling mendapati bahwa kami mengenal satu sama lain. "Kazumi-san?" tanyaku.
"Kazue-san?" balasnya. Kami tertawa kecil. Lalu ia mengajakku minum kopi di Délicafé. Ia membantuku membawa barang.
***
"Gak nyangka deh, bisa ketemu kamu di sini." Kazumi mengajaknya bicara menggunakan bahasa Jepang, agar lebih akrab. "Genki desu ka?"
"Hai. Genki desu. Aku juga gak nyangka bisa ketemu kak Kazumi di sini." Ia menghela napas dan teringat sesuatu. "Oya, kak. Selamat ulang tahun ya!"
Kazumi tertawa keras. "Ternyata kamu masih ingat. Aku saja sudah hampir lupa. Makasih ya. Sebagai gantinya, aku yang bayar."
"Terserah kakak. Hehe." jawabnya bahagia. Percakapan antara keduanya mengalir hangat. Kazue menceritakan peristiwa kecelakaan yang dialami Takeru. Sesekali Kazumi mengungkapkan kesedihannya yang belum bisa mengunjungi makam Takeru. Kazue juga jadi teringat akan sahabat mereka itu. "Seandainya dia ada di sini bersama kita."
"Iya. Itu akan lebih baik." Kazumi menyesap kopi untuk kelima kalinya. "Oya, apa dia sudah bilang padamu?" Ia menatap Kazue serius.
"Tentang apa?"
"Tentang.. perasaannya." wajah Kazumi menyiratkan rasa bersalah.
"Oh, itu. Sudah kak. Dia bilang sebelum dia 'pergi'. Dia jugalah yang menyuruhku untuk berusaha mencari kakak. Dan.. meminta kakak untuk menjagaku."
"Hm, begitu ya? Baiklah kalau sudah begitu. Lagipula, kita tinggal berdua sekarang. Harus saling menjaga."
Kazue sedikit berdebar mendengar kata 'berdua' dan 'saling menjaga' dari mulut Kazumi. Wajahnya merona merah.
"Kazue, kau tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik, ya." Kazumi menatapnya penuh arti. "Hm, rasanya aku benar-benar ingin menjagamu selamanya."
Kazue dan Kazumi merasakan debaran masing-masing. Kazumi mengatur napasnya sebelum melanjutkan.
"Bagaimana kalau, aku menikahimu?" ucap Kazumi gugup. "Would you be my wife, my little girl?"
Debaran hati mereka berdua membuncah mendengar kalimat itu keluar dengan sempurna. Tak perlu pengulangan lagi. Rona merah menguasai wajah keduanya. Dan hawa panas seakan menyelimuti tempat duduk mereka.
Kazue berpikir sejenak. Lalu ia menggeleng.
Kazumi kaget menatapnya, serasa hatinya robek. "Kenapa?"
Kazue menjawab, "Tidak sekarang,kak. Kita masih sekolah. Tunggulah hingga aku lulus. Aku siap menerimamu." jawabnya mantap dengan muka semerah semangka.
Kazumi tersenyum menatap gadis kecil kesayangannya. Gadis itu pun membalas dengan senyuman termanis yang pernah ia berikan. "Arigatou Kazue-chan, my beloved little girl." Ia memeluk Kazue penuh kelembutan. Lalu melepaskannya.
5 tahun kemudian, Kazue lulus dengan predikat Cum laude yang sangat memuaskan. Membuat ayah ibunya bangga dan mengabulkan permohonan gadis itu. Gadis itu hanya meminta izin ayah dan ibunya untuk menikah dengan Kazumi. Kazumi yang lulus dengan predikat yang sama setahun sebelum Kazue dan telah bekerja di sebuah perusahaan di Jepang, juga mengajukan proposal pada orangtuanya. Keempat orangtua menyetujui dengan syarat melangsungkan pernikahan mereka di Jepang. Dan pernikahan itu pun berlangsung dengan khidmat. Tak lupa mereka mengunjungi Takeru di pusaranya.
"Takeru, terimakasih telah menepati janjimu untuk menjaga gadis di sampingku ini. Kalau bukan karenamu, aku mungkin tak bisa bertemu dengannya lagi. Lihatlah, kini ia sudah menjadi gadis yang cantik, dewasa dan cerdas. Dan aku sudah menikahinya. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh jiwa raga seperti yang kaulakukan." ucap Kazumi di depan pusara Takeru.
Kazumi mundur dan memberi tempat untuk istrinya. "Takeru, terimakasih dan maaf." sambung Kazue. "Terimakasih telah menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Seandainya kau tak ada di sana, entah aku masih bisa berdiri di sini dan tersenyum padamu. Senyuman bahagia yang kauharapkan, yang membuatmu ikut bahagia." Kazue mulai terisak. "Juga, maafkan aku. Karena aku kau harus menderita. Maafkan aku Takeru, karena kau harus merelakan nyawamu untukku. Merelakan dirimu untuk membuatku tersenyum. Dan maafkan aku, yang tak pernah menyadari bahwa kau mencintaiku sehingga mampu berbuat seperti itu." Kazue mengelus pusara Takeru seakan wajah Takerulah yang ada di sana. Perlahan ia mundur kembali.
"Takeru, semoga kau tenang dan bahagia di sana. Amin." doa sepasang pengantin baru itu.
Kemudian mereka membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan pusara Takeru. Takeru menatap mereka dari atas langit dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia berikan.
The End.
---
Rimie Ramadan
24.04.2011
gimana, gimana?? komentarnya yaa.. saya publish di fb juga ding..
makasih dah baca en komen.. :D
Langganan:
Postingan (Atom)
