To be with you
All the things I would do
Tell me please
Do you ever mind to love me?
No words, no sentences
But my eyes would not release
What should I do to make you move?
Move! Move to me please!
The codes I gave to you
And times interacted with you
Make this heart blooms, grows,
filling the emptiness in myself
More greetings I do
More chances to you
'Til the day you say
"I'm ready for you."
May I say,
"And I'm ready to
Die in the crystal eye."?
---
Rimie Ramadan
12.04.2012
a special gift for my bestie, Eka, hope you glad with it.
that's the "code" if you know what i mean. :D
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
12 Apr 2012
12 Jan 2012
Jendela Hati
samar
bagaikan sebuah bayangan
yang kautemui dalam sebuah bingkai
penuh
bahkan sudah kukunci
pintu hati yang telah terisi
kuncinya telah kubuang
hingga aku lupa tempatnya
tetapi
bayangan itu
yang terus menghantui
masih terseok
melampaui batas akal
membayang
meski menit pun tak mencukupi
kutahu itu masa lalu
namun dalam setiap incinya
terdapat noda yang ia cipratkan
noda yang melampaui jendela
akhirnya membekas
keras
ah! sebuah jendela!
jendela hati yang rupanya memang belum kukunci
ketika semilir angin yang masuk
membangkitkan aroma tersendiri dari noda
maaf sepertinya jendela tak bisa ditutup
berkali kucoba, ia masih saja menyisakan lubang
---
Rimie Ramadan
12.01.2012
Label:
poem
1 Des 2011
Makan Bangkaiku!
Silakan!
Ini nadiku boleh kauputuskan
Ini dagingku boleh kausayat
Ini mataku boleh kaukunyah
Silakan!
Kalau kau mau silakan!
Aku tak melarangnya!
Daripada lidahmu
diam-diam mendaratkan panah bertubi
Daripada tanganmu
Menancapkan pedang dari belakang
Silakan!
Aku tak melarang
Silakan!
Aku tak menghujat
Kerelaan ini
dengan satu syarat:
Jangan makan bangkaiku!
Rimie Ramadan
01. 12. 2011
Label:
poem
22 Nov 2011
Lapis Transparan
Warna itu
Warna menyejukkan
Warna itu selalu kurindu
Warna yang kautunjukkan padaku
Warna itu
Sering kubayangkan
Memiliki ubahan warna yang lain
Gradien, Analog atau bahkan mungkin Komplementer
Namun sering kutepis
Karena kupercaya pada warna itu
Warna ini
Yang aku punyai
Yang sering kutunjukkan
Agaknya memiliki lapisan lain
Dan belum pernah kutunjukkan
Seringkali
ku berharap warna itu dan warnaku menyatu
Membentuk gradasi indah
Tapi ternyata
Aku sendiri bimbang
Warna mana yang akan kuberikan
Apabila ketika bercampur
Seketika warna yang lain melesak
mengobrak-abrik gradasi indah itu
Mengoyak pencampuran yang kadung menyatu
Apa
yang tersisa?
Warna itu
Warna kerapuhan
sekaligus kegigihan
Warna kesetiaan
namun meragukan
Warna sejelas kilat
yang kadang samar
Lalu warnaku
komplementer yang hendak kupilih
mencoba menyatukan diri
Mengoyak lapisannya sendiri
Lapis transparan yang kini menipis
dan menceburkan diri, larut dalam warnanya
Kepercayaan
itulah yang dibutuhkan
Selarut apapun kau
harus percaya
---
Rimie Ramadan
22.11.2011
sehabis membengkakkan mata
Label:
poem
14 Nov 2011
Sudut Pandang
Kukurung semua memori
Batasi semua ambisi
Terpojok dalam ruang isolasi
Engkau di sana
Berdiri dan hampa
Menatap samar
Aku yang bahagia
Perlahan kaca berembun
menyimpan hembusan nafasmu
Tercekat dalam pengikhlasan terpaksa
Label:
poem
Kisah si Serbuk Sari
Tertiup angin dari sebatang bunga induk
Melayang, menjelajah bening udara
Perjalanan mengetengahkan berjuta
putik yang menyembul di tengah kelopak
Aku bergerak berdasar petunjuk Sang Angin
Bertebaran bunga indah nan cerah bagai mentari
Yang menarik untuk dihinggapi
Tapi Sang Angin
Malah mendaratkanku pada
Satu bunga yang nyaris layu
Yang warnanya kusam
lagi keriput batang putiknya
Tak disangka
Kedatanganku membuat Sang Putik tersenyum
Hati pun terkesima
Aku menyatukan diriku padanya
dengan segenap keikhlasan jiwa raga
Kehendak Sang Angin
Memunculkan bakal buah pada
bunga yang hampir mati
Rimie Ramadan
14.11.2011
Label:
poem
12 Nov 2011
Tahukah Kau?
Tahukah kau
di setiap hariku bersamamu
Selalu kupasang wajah ceria tanpa durja
Tak luput senyuman dan lengkung mentari di mataku
Tahukah kau
bahwa di setiap memandang wajahmu
satu hal yang tak ingin kulakukan
ialah membuatmu terluka
Tahukah kau
aku ingin menjadi penghibur bagimu
selalu
karena itu aku akan selalu tersenyum
dengan begitu kau juga tersenyum
melepas segala beban di pundakmu
walau hanya untuk sementara
Tahukah kau
bahwa seringkali
kala kau terlelap
aku merenung
bertanya pada diriku sendiri
Sanggupkah aku menjagamu
Di setiap aku ada ataupun tidak
Sanggupkah aku menghiburmu
Meskipun hatiku sendiri sedang gundah
Bagaimana jika tanpa sadar
aku lengah menjagamu
aku mengecewakanmu
aku mengacuhkanmu
tak bisa tersenyum untukmu
Aku
yang tak pernah tahu cara membereskan kasur
yang tak pernah makan dengan porsi kecil
yang selalu menghabiskan waktu dengan hal yang kusuka
yang tak bisa menjawab permasalahan kantormu
yang tak pernah bisa sebaik wanita-wanita indah lainnya
Namun selalu
kau puji aku
layaknya seorang bidadari surga
yang turun ke bumi dan berlabuh di pelukanmu
kau merasa beruntung
aku telah memilihmu
padahal aku pun belum merasa
mampu menjalaninya
mengemban keanggunan seorang wanita
dalam pribadi yang jauh dari sempurna ini
Tahukah kau
Aku selalu bertanya
Mengapa begini?
Mengapa kau memilihku?
Padahal aku hanyalah seonggok sampah
makhluk busuk yang tak pernah tau cara merengkuh matahari
agar meleburkannya ke dalam abu
Rimie Ramadan
12.11.2011
sambil memandang bintang yang terlelap
di setiap hariku bersamamu
Selalu kupasang wajah ceria tanpa durja
Tak luput senyuman dan lengkung mentari di mataku
Tahukah kau
bahwa di setiap memandang wajahmu
satu hal yang tak ingin kulakukan
ialah membuatmu terluka
Tahukah kau
aku ingin menjadi penghibur bagimu
selalu
karena itu aku akan selalu tersenyum
dengan begitu kau juga tersenyum
melepas segala beban di pundakmu
walau hanya untuk sementara
Tahukah kau
bahwa seringkali
kala kau terlelap
aku merenung
bertanya pada diriku sendiri
Sanggupkah aku menjagamu
Di setiap aku ada ataupun tidak
Sanggupkah aku menghiburmu
Meskipun hatiku sendiri sedang gundah
Bagaimana jika tanpa sadar
aku lengah menjagamu
aku mengecewakanmu
aku mengacuhkanmu
tak bisa tersenyum untukmu
Aku
yang tak pernah tahu cara membereskan kasur
yang tak pernah makan dengan porsi kecil
yang selalu menghabiskan waktu dengan hal yang kusuka
yang tak bisa menjawab permasalahan kantormu
yang tak pernah bisa sebaik wanita-wanita indah lainnya
Namun selalu
kau puji aku
layaknya seorang bidadari surga
yang turun ke bumi dan berlabuh di pelukanmu
kau merasa beruntung
aku telah memilihmu
padahal aku pun belum merasa
mampu menjalaninya
mengemban keanggunan seorang wanita
dalam pribadi yang jauh dari sempurna ini
Tahukah kau
Aku selalu bertanya
Mengapa begini?
Mengapa kau memilihku?
Padahal aku hanyalah seonggok sampah
makhluk busuk yang tak pernah tau cara merengkuh matahari
agar meleburkannya ke dalam abu
Rimie Ramadan
12.11.2011
sambil memandang bintang yang terlelap
31 Okt 2011
22 Okt 2011
Kicau Ketiadaan
Berguru pada ketiadaan
Tentang cinta yang menabur sepi
ketika nyeri bertumbuh lara
Berguru pada ketiadaan
Tentang siang yang ditinggal matahari
dan gulita menghampa
Ketika hening rindu berkicau
Mencicit tanpa habis
Menusuk hati dengan ketiadaan
Matahari
kemanakah sinarnya?
Tentang cinta yang menabur sepi
ketika nyeri bertumbuh lara
Berguru pada ketiadaan
Tentang siang yang ditinggal matahari
dan gulita menghampa
Ketika hening rindu berkicau
Mencicit tanpa habis
Menusuk hati dengan ketiadaan
Matahari
kemanakah sinarnya?
Label:
poem
16 Agu 2011
17
berkorban darah tiada lelah
lengan kekar dengan baju dilinting
gagah berani mengusung bambu runcing
ingatkah kau kala seorang
berkorban tanpa kenal kata pamrih
tak peduli berapa keringat yang terperas
demi melindungi ribuan jiwa yang tertindas
ia yang berlari
tergopoh-gopoh bersembunyi
hanya dalam hitungan jari
bayangannya menghilang lewat pintu belakang
seakan ia buronan
padahal ia pahlawan
dan ketika sosoknya yang tegar dan radikal
terdeteksi memeluk dahan apikal
di antara daun-daun dan buah kelapa nan segar
dan akhirnya, CTAAR!!
Seketika darahnya memancar
menyedot kesadarannya
menumbuhkan rasa penghargaan kepada sosoknya
dan menghantarkan jiwanya
ke haribaan Sang Pencipta
Ya Allah, inilah seorang pamanku
satu dari berjuta pemuda
yang merelakan jiwanya demi Indonesia
semoga Engkau meridhai keikhlasan beliau
dalam menghabiskan masa mudanya
demi keluarga dan kemerdekaan bangsa
----
16.08.2011
Rimie Ramadan
also posted in abdulkaharfamily.blogspot.com
"Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya"
Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
lengan kekar dengan baju dilinting
gagah berani mengusung bambu runcing
ingatkah kau kala seorang
berkorban tanpa kenal kata pamrih
tak peduli berapa keringat yang terperas
demi melindungi ribuan jiwa yang tertindas
ia yang berlari
tergopoh-gopoh bersembunyi
hanya dalam hitungan jari
bayangannya menghilang lewat pintu belakang
seakan ia buronan
padahal ia pahlawan
dan ketika sosoknya yang tegar dan radikal
terdeteksi memeluk dahan apikal
di antara daun-daun dan buah kelapa nan segar
dan akhirnya, CTAAR!!
Seketika darahnya memancar
menyedot kesadarannya
menumbuhkan rasa penghargaan kepada sosoknya
dan menghantarkan jiwanya
ke haribaan Sang Pencipta
Ya Allah, inilah seorang pamanku
satu dari berjuta pemuda
yang merelakan jiwanya demi Indonesia
semoga Engkau meridhai keikhlasan beliau
dalam menghabiskan masa mudanya
demi keluarga dan kemerdekaan bangsa
----
16.08.2011
Rimie Ramadan
also posted in abdulkaharfamily.blogspot.com
"Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya"
Memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-66
Label:
poem
13 Agu 2011
diam!
sudahlah. tak guna kau bicara
sembunyi saja dibalik kepalsuanmu%
tak ada yang tahu
diam!
kujadikan kau panutan
seenak jidat kau belotkan
aku
ke dalam jurang tanpa dasar
apa guna kau?
apa kau peduli?
setitik pun tak tergambar
di belangmu yang amburadul
kau masih berharap
aku
percaya?
sudah
logam bisa mencair
air pun bisa jadi badai
kita
pisah
kau di tempatmu
aku di jalanku
Rimie
sudahlah. tak guna kau bicara
sembunyi saja dibalik kepalsuanmu%
tak ada yang tahu
diam!
kujadikan kau panutan
seenak jidat kau belotkan
aku
ke dalam jurang tanpa dasar
apa guna kau?
apa kau peduli?
setitik pun tak tergambar
di belangmu yang amburadul
kau masih berharap
aku
percaya?
sudah
logam bisa mencair
air pun bisa jadi badai
kita
pisah
kau di tempatmu
aku di jalanku
Rimie
Label:
poem
28 Jul 2011
Mistake
Sorry
First word I'm gonna say
Yesterday and even today
Things I wished the wind to bring away
Don't know which way to choose
And how to find a way back
on being like yesterday
I can't forget you
nor erase you out of mind
Just because that mistake
I'm cruel if doing so
This last days
before the day of forgiveness
Days ago
Said you had forgiven me and let go
I said nothing but regrets
You left me by the uncertainties
Which never cracked til tomorrow
Times and times you said enough
Times and times I tried to make it enough
Stopping the uncertain things which was chasing me around
Times and times I tried
To forget the mistake we had
Not to erase your owner pet
First word I'm gonna say
Yesterday and even today
Things I wished the wind to bring away
Don't know which way to choose
And how to find a way back
on being like yesterday
I can't forget you
nor erase you out of mind
Just because that mistake
I'm cruel if doing so
This last days
before the day of forgiveness
Days ago
Said you had forgiven me and let go
I said nothing but regrets
You left me by the uncertainties
Which never cracked til tomorrow
Times and times you said enough
Times and times I tried to make it enough
Stopping the uncertain things which was chasing me around
Times and times I tried
To forget the mistake we had
Not to erase your owner pet
26 Jun 2011
racun
Dalam diam, senyumku mengembang
Teringat mimpiku dalam memori dulu
Semua asa yang berakar padamu
Entahlah
Seakan kau panduku dalam tingkah laku
Kau laksana guru yang ajari ku untuk butuh
Ilmu sudah, dirimu pun sudah
Laksana terukir dalam batu
Namamu yang takkan lenyap sekalipun aku terlelap
Pun dalam mimpi kau muncul tanpa permisi
Dan nyanyikan satu melodi
Tak pelik asaku melayang semakin tinggi
Menyebut namamu adalah refleksku
Bahkan dalam pengabulan doa
Maaf jika yang terjadi hampir serupa
Dengan doaku selama itu
Tapi yakinkah engkau akan aku
Yang selama ini terus menatapmu di kejauhan
Dan tak yakin bahkan nadi terdalamku
Untuk jadi milikmu
Hidup bersamamu rasanya
Aku tak punya harga
---
Rimie Ramadan
26.06.2011
Di sela keraguan
Teringat mimpiku dalam memori dulu
Semua asa yang berakar padamu
Entahlah
Seakan kau panduku dalam tingkah laku
Kau laksana guru yang ajari ku untuk butuh
Ilmu sudah, dirimu pun sudah
Laksana terukir dalam batu
Namamu yang takkan lenyap sekalipun aku terlelap
Pun dalam mimpi kau muncul tanpa permisi
Dan nyanyikan satu melodi
Tak pelik asaku melayang semakin tinggi
Menyebut namamu adalah refleksku
Bahkan dalam pengabulan doa
Maaf jika yang terjadi hampir serupa
Dengan doaku selama itu
Tapi yakinkah engkau akan aku
Yang selama ini terus menatapmu di kejauhan
Dan tak yakin bahkan nadi terdalamku
Untuk jadi milikmu
Hidup bersamamu rasanya
Aku tak punya harga
---
Rimie Ramadan
26.06.2011
Di sela keraguan
Label:
poem
21 Feb 2011
Fearless
It's night and darkening
I'm still walking on my steps
One by one
I left my fear behind
I'm sure that I'll be fine
It's night and darkening
I'm a girl
and still walking
through a silent and dark road
Just to reach one word,
home
I'm alone
but I'm not afraid
because I believe in Allah
Who's always guiding and company me
Who's always keeping an eye
Even in an unreachable place
Rimie Ramadan
21.02.2011
---
ga sebagus sebelumnya
tp pengen dituliskan
jadinya gini
selamat membaca dan berkomentar :)
I'm still walking on my steps
One by one
I left my fear behind
I'm sure that I'll be fine
It's night and darkening
I'm a girl
and still walking
through a silent and dark road
Just to reach one word,
home
I'm alone
but I'm not afraid
because I believe in Allah
Who's always guiding and company me
Who's always keeping an eye
Even in an unreachable place
Rimie Ramadan
21.02.2011
---
ga sebagus sebelumnya
tp pengen dituliskan
jadinya gini
selamat membaca dan berkomentar :)
8 Feb 2011
Lapisan Kosong
Di antara keramaian hanyut
Di antara kesenyapan kalut
Bersiap menatap buritan senja
Mengukur hangatnya sinar mentari
Mengelus lembut gumpal awan
Genggam erat cangkir berisi teh manis
hangat
Biarkan tetesnya mengalir diantara urat bibir
Tenggaklah
Hingga alirannya menyebar
Mengisi lapisan-lapisan nadi
Menggerakkan mensinergikan
Pikiran, Perkataan dan Perbuatan
Dan terciptalah ide yang matang
Kata-kata yang bijaksana
Dan tingkah laku profesional
Menjadi pribadi yang handal
Di antara keramaian hanyut
Di antara kesenyapan kalut
Tapi berani memegang kebenaran
Di antara kesenyapan kalut
Bersiap menatap buritan senja
Mengukur hangatnya sinar mentari
Mengelus lembut gumpal awan
Genggam erat cangkir berisi teh manis
hangat
Biarkan tetesnya mengalir diantara urat bibir
Tenggaklah
Hingga alirannya menyebar
Mengisi lapisan-lapisan nadi
Menggerakkan mensinergikan
Pikiran, Perkataan dan Perbuatan
Dan terciptalah ide yang matang
Kata-kata yang bijaksana
Dan tingkah laku profesional
Menjadi pribadi yang handal
Di antara keramaian hanyut
Di antara kesenyapan kalut
Tapi berani memegang kebenaran
Label:
poem
Langganan:
Postingan (Atom)