Tampilkan postingan dengan label fanfic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfic. Tampilkan semua postingan

16 Jun 2011

The Heaven is to Be with You - part 3

“Hyaa!! Kau jangan melihatku begitu!!” Ahri menggembungkan pipinya yang bersemburat sewarna tomat. Sepulang dari konser, Kangin menemaninya membeli baju ganti bercorak tie-dye.

Kangin tampak mengerem cekikiknya. “Mianhe, mianhe. Habis kau ini lucu sekali pakai baju itu! Apalagi berada di tempat seperti ini.” Mata Kangin menunjuk atap kafe tempat mereka berada. Tempat itu memang cukup elit.

“Ini semua gara-gara ahjussi aneh itu!! Sialan sekali aku ketemu dia hari ini!!” rutuknya kesal.

“Sudahlah, sudah. Gak usah marah-marah lagi. Ntar cepet tua lho!” pemuda berbadan besar itu mengacak lembut rambut Ahri.

“By the way, makasih ya.” Lanjut pemuda itu lagi, “kamu udah datang ke konserku hari ini. Juga minumannya. Cheongmal gomawayo!”

Ahri menggeleng singkat. “Cheonma.”

Mereka beranjak selesai mengobrol. Sebelum keluar plaza, Ahri seperti melihat seseorang yang ia kenal di toko roti di seberang resto. Gadis itu tampak ragu, dan segera menyusul Kangin.


Jungmo mengantar Rimhee hingga ke depan pintu. Tapi ia agak kaget,dilihatnya gadis di sebelahnya yang juga beraut heran karena lampu rumahnya mati. Ia meminta Jungmo untuk menemaninya mengecek ke dalam terlebih dahulu. Pelan, ia membuka kunci rumahnya.

“Kriiieeet..” deritan pintu tak juga berkompromi.

Satu langkah, tak ada apapun. Dua langkah, tak ada apapun. Jungmo mengikuti di belakangnya. Langkah ketiga, juga tak terdengar apa-apa. Baru ketika dia akan menyalakan lampu, sesuatu tiba-tiba meraih kepalanya dan terdengar bunyi kecupan. Ia tidak dapat memastikan karena gelap tertutupi sesuatu itu.

Lalu lampu menyala. Tampak di depannya, sang kakak ipar membawa sebuah kue. “Saengil chuka hamnida.. Saengil chuka hamnida.. Saranghaneun Jung Rimhee-ssi.. Saengil chuka hamnida..”

Kemudian sayup-sayup suara gitar terdengar. Muncullah oppanya sambil bernyanyi dan bermain gitar diiringi suara istrinya. Rimhee terperangah. Ia menatap dua orang itu terpesona. Setelah lagu habis, Rimhee tersenyum sangat lebar pada keduanya. Tanpa dikomando, ia menghambur memeluk kedua kakak yang ia sayangi itu. “Yonghwa oppa, Seohyun onnie, gomawayo. Cheongmal gomawayo. Saranghaeyo!”

“Ne.. Urido, Rimhee-a.” bisik Seo-onnie.

“Hei, hei, hei. Kau ini, sudah besar tapi tak tahu adab.” Bisik Yonghwa pada adiknya itu. “Kau ini terlalu senang, sampai melupakan temanmu yang dari tadi berdiri itu.”

Rimhee menepuk jidatnya. “Oh iya!! Jungmo-ssi!” Ia menoleh ke arah Jungmo lalu menuntunnya masuk.

Jungmo menuruti gerakan Rimie hingga duduk di sofa bersama Seohyun dan Yonghwa. Wajahnya masih menampakkan keterkejutan. Lalu dirasakannya sentuhan di pundaknya.
“Mianhe, Jungmo-ssi. Aku ganti baju dulu ya. Kau di sini sama oppa dan onnie ya!” Jungmo mengangguk mantap. Rimhee beralih ke Yonghwa dan Seohyun. “Oppa, Onnie. Kalian ngobrol sama Jungmo dulu ya.”

Mata Jungmo masih mengikuti langkah Rimhee hingga seseorang menepuk pundaknya.
“Hey, makasih ya.” Yonghwa tersenyum puas.

“Ah, cheonmaneyo, hyung. Hajiman, buat apa ya?” balas Jungmo dengan tampang babo nya.

“Untungnya kamu ngajak Rimhee keluar hari ini. Dan sepertinya dia benar-benar lupa karena pekerjaannya. Jadi rencana kami berjalan lancar.” Yonghwa berkedip.

“Oh, itu hyung. Aku tidak sengaja kok. Bahkan aku tidak tahu kalau hari ini ulang tahunnya. Hubungan kami kan cuma sebatas rekan kerja.” Jungmo menghela napas. Jungmo pun ikut merayakan ulang tahun Rimhee dan menerima tawaran menginap di rumahnya.

Rimhee benar-benar bahagia malam itu. Hingga ia merasa lelah dan mengantuk. Ia pun undur diri bersama Seohyun yang juga sudah mengantuk. Tinggallah Jungmo dan Yonghwa yang malah adu kepintaran bermain gitar. Yonghwa juga sesekali bernyanyi. Kediaman Jung pun menjadi ramai malam itu.


Jungmo terbangun dan merasa haus. Ketika membuka mata, ia sedikit terkejut karena asing dengan tempat itu. Dengan cepat ingatannya pulih dan segera berjalan ke dapur. Ketika akan menutup pintu kulkas, ia mendengar pintu kamar di lantai atas terbuka. Dilihatnya siluet Rimhee berjalan menuruni tangga, juga menuju dapur.

“Kehausan juga, eh?” sapa Jungmo.

Rimhee yang setengah sadar, terkaget menyadari ada orang di dapur. “A, aah, iya. Aku mau bikin kopi. Kau mau?” tawarnya.

“Hemm, tak perlu. Kau saja silakan.” Jungmo menaruh gelas yang sudah habis airnya ke meja dapur dan bergegas kembali ke kamar.

“Ah, Jungmo-ssi, chakkaman!!”

Jungmo berbalik lagi. “Wae?” Ia menghampiri Rimhee.

“Bisa tolong.. temani aku?” tanya Rimhee malu-malu.

Jungmo menatapnya jahil. “Kau.. takut hantu?”

“Hm.” Angguk arsitek muda itu. Tangannya masih mengaduk kopi siap seduh di cangkir.

“Lebih takut mana, hantu atau berduaan denganku?” matanya jahil menggoda Rimhee. Membuat mata gadis itu terbelalak.

“Takut.. hantu.” Rimhee menjawab ragu sambil meyakinkan diri. Ia memegang erat cangkir kopinya. Menyeruputnya sedikit.

“Yakin takut hantu?” Jungmo mendekatinya. Langkah demi langkah hingga akhirnya berjarak 1 meter di depan Rimhee. Rimhee terlihat merapatkan kakinya. Gugup.

“Ya.” Suaranya dipaksa tegas.

Jungmo semakin mendekat dan mulai memainkan tangannya. Punggung tangannya yang kekar mengusap pipi Rimhee. Rimhee bergidik. "Kau tidak takut padaku?"

Kini ibu jarinya mengusap pipi Rimhee. Dengan satu gerakan cepat Jungmo mendekatkan wajahnya. Rimhee refleks memejamkan mata.



Sudah 3 jam Ahri membolak-balik badannya. Matanya tak kunjung terpejam padahal kantuknya begitu besar. Pikirannya masih terpusat pada kejadian tadi siang. Baju itu, memang bukan yang paling mahal. Tapi itu favoritnya, baru 2 minggu yang lalu ia beli. Pikirannya lalu melayang ke pemuda bermarga Kim.



Kyujong POV

Aku memandangi blackforest yang kubeli tadi sore. Sampai saat ini bentuknya masih belum berubah. Hanya batangan lilin yang ada di atasnya saja yang telah hancur. Ya, hancur. Sepertiku saat ini.

“Yang ke-23 ya? Ah, tak usah heran kalau aku ingat. Kau bahkan mengancamku jika aku lupa jadwal tidur siangmu.” Aku tertawa sendiri. Kalau dia ada, pasti sudah menertawaiku duluan melihat keadaanku.

“Saengil chuka Rimhee-ah. Saranghaeyo, dimanapun kau berada. Ah, iya. Berarti sebentar lagi bukan?” Aku beranjak mendekati bingkai foto berisi wajah wanita yang tak pernah kutemui selama 3 tahun itu. “Targetmu menikah. Apa kau lupa? Kau pernah memberitahuku, bukan? Ah, atau mungkin kau sudah? Siapa pemuda beruntung itu, apa teman kita juga?”

Even if my heart still beating just for you, I really know you are not feeling like I do.. an even if the sun is shining over me, how come I still freeze?

Ah, lagu kakakmu itu takkan kulupa. Apa kau tahu, lagu itu sangat merasukiku. Apalagi saat kita berpisah. Ya, kita memang bersahabat. Hanya bersahabat. Tapi dalam diam, aku menyukaimu. “Apa aku.. masih punya kesempatan?”

---
mianhe, singkat tapi lama updatenya. kalo di FF dipepet Jungmo, aslinya dipepet tugas. Mianheyo, cheongmaleyo. *bow*
semoga menikmati.. don't forget to give a comment :D

23 Apr 2011

The Heaven is to Be with You - part 2



Senyuman tak lepas dari wajah Kangin pagi ini. Ia begitu gembira melihat wajah sepupunya berseri-seri dan sering senyum sendiri. Ia yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi antara Jungmo dan wanita yang kemarin ditemuinya. Sekarang Jungmo tampak bersemangat dalam membuat lagu. Kangin bersyukur akan kehadiran Jung Rimhee. Juga temannya waktu itu.

“Jungmo-a.” pria itu menoleh malas tanpa menjawab, merasa terganggu dari keasyikannya. “Apa hari ini kau akan menemui wanita itu lagi?”

“Jung Rimhee-ssi maksudmu?” Kangin mengangguk. “Ya! Sesekali kau sopan sedikit kenapa? Bisa ambigu hanya dengan menyebut ‘wanita itu!’” Bentak Jungmo.

“Ya.. ya.. ya.. ya!! Tumben sekali kau membela seorang wanita begini. Apalagi baru kenal kemarin.” Pria bertubuh besar itu mendekatinya. “Apa karena dia, seorang Jung Rimhee, mampu mengubah Tuan dingin nan apatis terhadap perempuan menjadi hangat dan melindungi seperti ini?” Jungmo memalingkan wajahnya pada gitar kesayangannya.
“Memang apa urusanmu?” ia berusaha menutupi rasa canggungnya.

Lalu terdengar pintu studio terbuka lebar. Heechul dan Jay Kim masuk bersamaan. Lalu Heechul mendekat ke arah Jungmo mesra. Refleks Jungmo menghindar.

“Ya! Gammo the Rock Guitar. Kenapa kau menjauhiku? Kau marah huh?”

Jungmo gelagapan. “A..anni. Aku hanya tidak suka. Tolonglah, Heecchul-a. Berhenti bertingkah begitu padaku, kumohon..” semua tampak heran, kecuali Kangin. Kangin menepuk pundak Heechul.

“Sudahlah hyung! Ayo, kita latihan. Show nya 3 hari lagi kan?” Ia membujuk hyungnya yang kepala superbatu itu. Dengan wajah cemberut, Heechul pun menurut.
Mereka pun mulai menuju alat masing-masing dan mulai berlatih. Mereka dengan serius berlatih, karena tiga hari lagi, debut mereka sebagai Band of Brothers dimulai.

Jungmo nampak berkali-kali mencuri pandang ke jam dinding. Heechul yang sudah kesal dari awal memerhatikan tingkah aneh saudara jauhnya itu, tapi tidak berani mengganggu. Takut kalau-kalau Jungmo benar-benar marah padanya.

Setelah 1 jam berlatih, Kangin meminta istirahat. Ia kelaparan dan haus. Padahal sebelum ke studio dia sudah makan 2 mangkuk ramyeon ditemani Jungmo. Sekarang ia memaksa Heechul menemaninya. Awalnya Heechul ragu, nampak ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan pemuda yang masih sedikit mengutak-atik gitar di sudut. Tapi Kangin terlanjur melingkarkan tangannya di leher putih cinderellaman itu. Sehingga Heechul menurut saja apa kata Kangin.

Beberapa saat setelah mereka pergi, Jungmo tampak buru-buru melepas gitar kesayangannya dan berlari keluar. Jay Kim yang ditinggal sendirian memanggilnya, “Hei, Jungmo! Kau mau ke mana?”

Jungmo tak menjawab. Ia berlari ke luar gedung studio. Ia membungkukkan badannya. Sejenak berikutnya, suara meletup berkali-kali terdengar. “Ah, legaa.” Jungmo menarik napas sambil memegang perutnya yang tidak berat lagi.

Saat ia hendak berdiri kembali, seseorang menepuk pundaknya keras dan napasnya tersengal-sengal. Ternyata Jay Kim. “Hyung. Kenapa kau mengikutiku?”

Jay Kim melepas tangannya dan malah menunjuk-nunjuk Jungmo. “Kau, kau! Berani-beraninya, meninggalkan hyungmu sendirian di tempat seperti itu!”

Jungmo baru ingat kalau hyungnya itu takut dengan alam gaib. Lalu ia tertawa. “Ah, iya hyung. Mianhe, aku lupa. Habis, aku gak tahan lagi.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul 2.15 pm. Tapi sosok yang ditunggunya belum juga datang. Akhirnya gadis itu memutuskan menghampiri pemain piano yang sedang memainkan Minutes Waltz. Sejak kemarin ia tertarik dengan permainan orang itu yang sangat indah dan halus. Tampak menceburkan seluruh jiwanya ke dalam bait-bait nada yang ia mainkan. Ia begitu penasaran, seperti apa rupa pemain piano ini.

Jaejoong yang merasa ada ketukan bunyi yang berada di luar permainannya, membuka kelopak matanya. Ia menatap ke arah gadis yang memandangnya dari sisi panggung. Oh, rekan kerja Jungmo hyung. Gadis itu terus menatapnya. Kagum. Tapi juga, seperti.. rindu? Mungkinkah? Entahlah. Ia tak peduli. Dan Jaejoong mengakhiri lagunya dengan manis, diikuti tepukan gadis itu dan pengunjung lainnya.

***

Jungmo POV

Baru saja aku melangkah masuk ke dalam kafe, tetapi aku merasa menyesal. Ada rasa tak suka saat melihat dia ada di sisi panggung dan terus menatap Jaejoong. Tanpa terasa kepalan tanganku mengeras. Sejenak kemudian Jaejoong mengakhiri lagunya dan disambut oleh tepukan dari penonton, termasuk dia. Aku menghampirinya dan menepuk bahunya.

“Ah, annyeong Jungmo-ssi.” Ia membungkuk pelan setelah melihat wajahnya terkejut melihatku.

“Annyeong, Rimhee-ssi. Sudah lama?”

Ia menggeleng pelan. “Tidak, baru 15 menit yang lalu.”

“Ah, mianheyo. Tadi sedikit ada masalah di studio.”

“Gwenchana Jungmo-ssi. Kalau begitu, mari kita duduk.” Ia mempersilakanku duduk di meja yang dipilihnya. Aku memanggil pelayan dan memesan kopi. Aku tidak menawarinya, karena di meja tadi sudah ada chocolate milkshake yang sudah hilang seperempatnya.

“Begini, Rimhee-ssi.” Aku berdehem. “Sebenarnya hari ini, aku ingin mengajakmu ke lokasi tanahku itu. Bagaimana?”

“Ya. Kurasa itu ide yang bagus. Oya, aku akan menghubungi teman-temanku dulu.” Rimhee mulai membuka tasnya mencari ponselnya.

“Ehm, teman?” tanyaku heran.

“Iya. Begini, kemarin Pak Minho menawariku dua orang asisten beliau untuk menemaniku dalam proyek ini. Karena sejujurnya, aku baru akan menjadi arsitek tim bila lulus ujian kali ini.” Jawabnya polos.

Aku tambah heran. Aku bertanya lagi. “Maksudmu, kau ini bukan arsitek sungguhan? Lalu, ujian itu maksudnya apa?”

“Belum, jangan bilang bukan. Ujiannya ya, proyekmu ini.”

***

“Mwo? Rumah pribadiku mau dijadikan bahan percobaannya?” Aku menatap takut ke arah gadis di sebelahku. Tanganku masih fokus di atas setir Ferrari hitam hadiah dari ayahku ini.

“Tenang saja, Jungmo-ssi. Desain yang kubuat memang tidak sebagus Minho-ssi. Tetapi, menurut beliau ide desainku unik dan segar. Makanya beliau mau mengangkatku lebih cepat daripada periode yang biasa dia berikan pada teman-teman. Percayalah padaku, Jungmo-ssi.”

Kata gadis itu tadi, sesaat sebelum pergi. Lagi,aku menatapnya. “Baiklah, sementara ini aku percaya. Tapi awas, kalau ada yang gak beres, habislah kau.”

Saat ini di dalam mobilku hanya ada kami berdua. Aku menyuruhnya untuk mengsms dua temannya agar menyusul ke lokasi. Tiba-tiba terlintas ide untuk mengerjainya. Kukencangkan sabuk pengamanku, Masukkan kopling, ganti gigi 4, tancap gas, dan memulai Wild Driving andalanku. *inget variety show BoB?

Rimhee tampak kaget dan air mukanya berubah ketakutan. Aku menahan tawa melihatnya. Ia menoleh padaku sekali-kali. Mukanya seperti bertanya padaku, “Kau kesurupan?” tapi aku tak peduli dan terus menatap jalan lurus sepi nan mulus di hadapanku.

***

“Haah..” Rimhee turun dari mobilku sambil menghela nafas. Tubuhnya terlihat tak berdaya.

“Hei, kau baik-baik saja nona?” kataku padanya. Ia hanya mengangguk lemas. “Perlu kuantar masuk ke dalam?” Tawarku sambil memegangi pundaknya. Tapi ia menepisnya.

“Terimakasih tapi tidak perlu, Jungmo-ssi. Aku bisa sendiri.” Tapi, sedetik kemudian tubuhnya terjatuh di tanganku. Ia pingsan.

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya? Apa ini karena Wild Drivingku?” Aku terpaksa menggendongnya menuju pintu depan rumahnya.

Kuketuk pelan pintu rumahnya. Kulihat seorang wanita membukakannya. Ia kaget melihat Rimhee di gendonganku dan menyuruhku membaringkannya di sofa. Lalu wanita itu memanggil seseorang. Dan muncullah seorang pria yang cukup tampan. Nampak lebih muda dariku. Lalu aku menjelaskan semuanya tak lupa memperkenalkan diri.

“Oh, begitu. Jadi kau Kim Jungmo itu? Aku Jung Yonghwa, kakak satu-satunya gadis ini.” Ia menyentuh kening adiknya itu. “Ah, nampaknya dia hanya demam. Seohyun-a, tadi dia tak sarapan dan belum makan siang kan?”

Wanita di sebelahnya menganggukkan kepala. “Iya, dari tadi dia gak keluar kamar deh. Cuma ke kamar mandi aja kuliat.”

Ya Tuhan, apakah dia seperti itu setiap hari? “Mian, lancang. Tapi, apa yang dilakukannya seharian di kamar seperti itu?” aku memberanikan diri bertanya.

“Bekerja, seperti biasa. Ia ingin lulus ujian ini secepatnya. Sudahlah, Jungmo-ssi. Tak usah dipikirkan. Kami akan merawatnya. Paling besok dia sudah sehat lagi. Terimakasih sudah mengantarnya. Kau bisa pulang sekarang.”

Aku pun pamit dan pulang ke apartemen. Dengan penuh rasa bersalah.

Jungmo POV end

***

Di sebuah taman kota tak jauh dari kafe Paradise.

Jung Rimhee tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Dia benar-benar sangsi bahwa salah satu dari empat manusia di atas panggung adalah kliennya. Kemarin, kliennya itu datang ke rumah dan memberinya tiket konser. Tapi pria jangkung itu langsung pergi begitu saja. Dan ia datang ke sini, dengan membawa kertas-kertas berisi konsep desain yang sudah hampir matang. Agar selesai konser ini, ia bisa berdiskusi dengan sang klien.

Mendadak riuh penonton di dekat gadis itu membahana. Dilihatnya seorang gitaris yang sangat ia kenal sedang berjongkok di panggung di hadapannya dan memainkan gitar itu dengan jenius. Seakan memamerkan kemampuannya pada dirinya. Gadis itu terpaku tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah kliennya itu.

Gammo lalu berdiri dan berjalan ke sisi lain panggung. Cengirannya tampak bahagia. “Aku tak lebih buruk dari Jaejoong kan, hah?”

Sementara itu Jaejoong yang berada agak jauh dari panggung menyaksikan kakaknya dan sepupunya hanya tersenyum melihat aksi tadi. Jaejoong berbalik dan mencari toilet terdekat. Selesai dari toilet, ia bertabrakan dengan seorang gadis. Gadis itu terjatuh dan hak alas kakinya patah.

“Aah..” gadis itu meringis. Sepertinya kakinya keseleo.

“Mianhe, agasshi..” Jaejoong hendak menolongnya. Tapi saat ia menatapnya, gadis itu hanya menatapnya kaku. Jaejoong tersadar dan buru-buru menutup mulutnya. Karena gadis itu adalah Jung Rimhee.

Di tempat lain, Lee Ahri yang datang diam-diam hendak mengejutkan Kangin, sejak saat bertemu mereka menjadi akrab seperti sodara, sedang mengantri di kios minuman. Ia sedang menimbang, apakah membeli minuman untuk angin dan dirinya saja, atau sekalian keempat member grup band itu. Kangin sudah menceritakannya beberapa saat lalu.

Kemudian seorang pria yang mengantri di depannya di depannya berbalik dan menyenggolnya. Tanpa sengaja minumannya tumpah dan mengotori baju Ahri. Tapi pemuda itu terus berjalan, tidak menoleh sedikitpun. Ahri geram, tapi melihat pemuda itu berjalan pelan, ia menunggu minumannya selesai dibuat baru melabraknya.

“Ya! Ahjussi!!” bentaknya setelah menghampiri pemuda itu yang duduk di salah satu bangku di luar kerumunan penonton. “Ahjussi!!” matanya menatap sangar.

Pria itu masih santai menikmati minumannya.

Ahri yang sudah habis kesabarannya, membuka gelas minuman miliknya dan menumpahkan sedikit ke kaki pemuda tersebut yang langsung bangkit dan mengusap lututnya yang terkena basah.

“Kau mau cari gara-gara huh?” tanyanya kasar.

Ahri menutup gelasnya kembali dan menyedotnya membelakangi pemuda itu.

“Ya!!” panggil ahjussi itu lagi. “Kau, aku bicara padamu tau!” sambil membalikkan tubuh Ahri.

“Mwo? Kau memanggilku? Oh, baiklah apa maumu, ahjussi aneh?” Ahri menaruh minumannya dan Kangin di bangku. Melipat tangannya dan menatap tajam manusia di depannya.

“Seenaknya kau sebut aku Ahjussi Aneh! Namaku Kim Kyujong! Dan kau, sudah menumpahkan minuman ke celanaku, tau! Kau harus minta maaf!”

“Lho, bukankah itu wajar? Anggap saja karma, kau kan juga melakukan hal yang sama padaku! Lihat ini!” Ahri menunjuk bagian bajunya yang terkena minuman manusia bernama Kyujong itu. Kyujong mendelik melihatnya.

“A.. a.. ah, mi.. mian.. mianheyo. Aku tidak sengaja.” Kyujong gugup dan langsung berbalik pergi.

Ahri tersenyum puas. “Huh, dasar ahjussi aneh. Siapa namanya tadi? Kyu.. jong? Oke, aku akan mengingatnya.” Ia segera mengambil minumannya dan berjalan ke belakang panggung.

***

“Jungmo-ssi!” panggil Rimhee saat konser telah selesai.

Jungmo yang sedang mengepak gitarnya menoleh dan tersenyum. Ia segera menutup tempat gitar dan soundsystem tambahan, lalu berjalan ke arah wanita itu. “Tidak perlu formal seperti itu. Panggil aku Jungmo saja, atau Gammo.” Ia menatap Rimhee.

Rimhee mengernyitkan kening. “Waeyo?” ucapnya polos.

“Pakaianmu. Terlihat lebih asyik.” Rimhee memandang dirinya yang memakai kaos lengan pendek, celana jeans dan sandal, yang baru dibelinya di sekitar situ. “Ayo, kita cari tempat yang enak, baru bicara.”

Mereka duduk di sebuah bangku taman berhadapan. Jungmo mulai membuka percakapan.
“Terimakasih, sudah mau datang ke konser kami.”

“Ah, anni. Aku yang harusnya berterimakasih. Ah, selain itu ada hal yang mau kusampaikan.”

“Apa itu?”

“Tentang proyek itu. Aku sudah hampir menyelesaikan konsepnya, tapi aku ingin mendengar pendapatmu. Bagaimana?” Jungmo mengangguk. Lalu mengalirlah pembicaraan tentang proyek mereka itu. Tanpa mereka sadari, hari sudah semakin sore dan beranjak malam.

Kruyuuuk~

Perut Rimhee berbunyi. Ia menunduk malu. Jungmo tertawa kecil. “Baiklah, kita sudahi dulu diskusinya. Kita makan dulu saja. Aku juga sudah lapar. Kajja!”
Jungmo memilih salah satu restoran yang searah dengan rumah Rimhee. Biar sekalian mengantarnya pulang. Mereka makan tanpa ada obrolan apapun.

“Ah, kenyang. Terimakasih Jungmo-ssi, eh, Gammo-a.” Jungmo menatap puas dengan perut yang terisi.

“Lain kali bilang kalau kamu lapar. Jangan sampai pingsan lagi kayak dulu.” Ucapnya. Mereka berdua tertawa dengan ekspresi berbeda. Muka Rimhee memerah malu.

“Oya, Gammo-a. Apa Jaejoong-ssi, ah maksudku pemain piano di kafe itu adalah sodaramu?”

“Iya. Dia adikku. Memangnya kenapa?” hati Jungmo merasakan sesuatu yang tidak enak.

“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Hanya penasaran aja. Kalian kakak beradik kandung? Tapi kok aliran musiknya beda?” tanyanya polos, tanpa menyadari tatapan lain di mata Jungmo.

“Ya, dia memang lebih suka klasik. Karena eomma yang mengajarinya dari kecil. Sedangkan aku, sedikit muak dengan klasik, sehingga aku beralih ke musik rock.” Rimhee hanya manggut-manggut. “Tapi aku bisa juga lho, mainin klasik, bahkan medley klasik-jazz-rock-blues. Mau dengar?”

“Lain kali saja, Jungmo-ssi. Sudah malam, aku khawatir Yonghwa oppa mencariku.”
“Baiklah, tidak baik juga wanita pergi malam-malam.” Mereka berdua bangkit lalu Jungmo membayar di kasir sementara Rimhee menunggu di luar. Mereka lalu bergegas pulang.

***

How is it? How is it? Ah, mianhe kalo bertele-tele banget bahasanya. Maklum, masih belajar. Hehe.. Komentarnya yaa.. :D

Ria R. Ramadan
23.04.2011

21 Apr 2011

The Heaven is to Be with You

Cast :
1. Jung Rimhee aka Rimie Ramadan
2. CN Blue's Jung Yonghwa as Rimhee’s oppa
3. SNSD's Seohyun as Yonghwa’s wife
4. TRAX's Kim Jungmo as Kim Jungmo
5. TVXQ's Kim Jaejoong as Jungmo’s brother
6. Lee Minho as Rimhee’s boss
7. Lee Ahri as Minho’s sister and Rimhee’s best-friend aka Ari Watanuki
Other cast : Moon Ahyoung(Uti), Krystal(Eka), Suju's Kangin(Kim Youngwoon), Kang Hyesoo(fiktif), TRAX's Jay Kim

Hope you enjoy that!! ^o^

---
Pagi yang cerah mengiringi semangat langkah gadis itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Segera ia menyimpan tasnya dalam laci meja kecil di samping meja gambarnya lalu beranjak ke mesin pembuat kopi. Namun, belum sempat ia menyesapnya, seseorang menepuk pundaknya.

“Ya! Jung Rimhee, kau dipanggil bos ke ruangannya tuh. Chukkae.” Seringai tipis
terbit dari bibir seorang Kang Hyesoo. Laki-laki yang ruangannya tepat di sebelah Rimhee. Hm, mau apa si bos? Tumben dia memanggilku.

Rimhee berjalan ke arah ruangan bosnya dengan wajah penuh tanda tanya. Sesampainya di depan pintu bertuliskan Chief Architect : Lee Minho, ia pun memberanikan diri mengetuk pintu. Suara dari dalam mempersilakannya masuk.

“Bapak memanggil saya?” ia memberi hormat.

“Terimakasih telah datang. Silakan duduk dulu, Jung Rimhee.”

Setelah nyaman duduk, Pak Lee Min Ho mulai bicara, “Nona Jung Rimhee, aku ingin memberi kabar gembira kepadamu.” Ia menyilangkan jarinya dan menarik nafas. “Aku mempertimbangkan kenaikan jabatan untukmu dari drafter menjadi arsitek tim.”

Jung Rimhee berusaha menahan senyumnya. Ia tak mau terlalu gembira, karena kabar itu belum tuntas sepenuhnya. Ia kembali menyimak perkataan bosnya itu.

“Tapi kau tahu sendiri. Aku tidak akan memercayai orang begitu saja. Walaupun kinerjamu selama ini cukup baik, aku belum tahu kemampuan melobimu sejauh apa.” Rimhee mengangguk. “Untuk itu, aku ingin mengetes kemampuanmu. Anggap saja ini sebagai ujian.”

Lee Minho memundurkan kursinya dan nampak mencari sebuah map di antara tumpukan map di mejanya. Setelah ketemu, ia melemparnya dan mendarat tepat di depan Rimhee. Lalu kembali mendorong kursinya ke tempat semula.

Ia menunjuk map yang sedang ditatap bingung oleh gadis di depannya. “Ada seorang klien meminta didesainkan rumah pribadi konsep taman surga. Data-data klien tersebut ada di sini. Dia memintamu bertemu dengannya tiga hari lagi. Jika kau sukses dan ia tertarik dengan gagasanmu, maka kau diterima sebagai arsitek tim sekaligus aku akan menunjukmu langsung untuk proyek ini. Mengerti?”

Wanita itu tersenyum sumringah dan menjawab, “Ya, saya mengerti.”

“Baiklah, kau boleh pergi. Dan jangan lupa, tiga hari lagi di kafe Paradise.”

***

Di tempat lain, sebuah apartemen di kota Seoul.

“Ya! Kangin-a! apa hari Kamis besok kau kosong?.. Kosong? Gimana kalau kau temani aku menemui seseorang?.. Ha? Bukan, bukan kencan! Nanti saja kuceritakan, oke?.. Ah, tidak! Serius, ini bukan kencan. Hahaha. Aku kan tidak sepertimu. Ya sudah, sampai ketemu hari Kamis ya!” Pemuda itu menutup telponnya. Lalu ia beralih ke Kim Jaejoong, laki-laki yang sedang sibuk di depan keyboard.

“Joongie-a. Kau, hari Kamis ada jadwal di kafe nggak?”

Jaejoong mengangguk pelan.

“Aku bisa minta tolong nggak?” Tanya pemuda itu lagi. Kim Jaejoong mengisyaratkan ‘Ada Apa?’ dengan menepukkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya lalu ke dada kirinya.
***
Hari Kamis, di kafe Paradise

Pagi itu, kafe masih sangat sepi. Hanya ada dua meja yang ditempati sepasang muda-mudi dan dua orang pria paruh baya yang sepertinya sedang diskusi. Piano putih di sudut itu pun masih tertutup kain putihnya dengan sempurna. Baru kicauan burung yang memberikan melodi riang saat Jaejoong datang.

Jaejoong ke kamar mandi dulu untuk mematut rupa. Selanjutnya ia bergerak menuju piano putih itu dan membuka penutupnya. Ia merapikannya dan meletakkan di rak khusus yang terdapat juga buku-buku penuh partitur lagu yang cukup lengkap. Beberapa buku ditulis oleh Jaejoong sendiri.

Jaejoong membuka kap dari Grand piano itu agar suaranya lebih menyiratkan pesan yang ingin disampaikan lewat lagunya. Ia lalu menarik kursi dan duduk di atasnya. Ia menarik nafas sejenak. Saat jemarinya mulai menyentuh tuts, dua pria dan sepasang kekasih di kafe tersebut beralih pandang. Fokus pada seorang pemuda yang memainkan piano di sudut sepenuh jiwa. Bahkan pekerja yang ada di tamu itu ada yang memejamkan mata, menikmati.

Selesai lagu pertama, Jaejoong melirik jam dinding di kafe tersebut. Penonton yang sudah mulai bertambah dua meja, bertepuk tangan, tapi tak digubrisnya.

“Kalau ada seseorang yang duduk sendirian, dan tampak mencari seseorang, kau sms aku ya dik!” ia mengingat pesan kakaknya itu dengan seksama, “Bilang juga apakah dia laki-laki atau perempuan.” Jaejoong tersenyum kecil, ia sangat tahu kalau alergi kakaknya terhadap perempuan itu belum sembuh benar. Dan ia mulai memainkan lagu kedua. “Dia akan datang sekitar jam 9.”

Sementara itu, Rimhee baru saja akan berangkat jika tidak mendapat telepon dari sahabatnya, Lee Ahri, yang juga adik semata wayang bosnya. Ahri bosan dan mengajaknya untuk bermain. Tapi Rimhee menolak, malah mengajak Ahri menemui kliennya. Tak disangka, Ahri tertarik. Alhasil, Rimhee harus menjemputnya dulu sebelum ke kafe.

Setelah Ahri duduk di mobil Rimhee, Rimhee mulai menyalakan mesin sambil berkata, “Ahri, kamu boleh ikut. Tapi inget..”

“Jangan bilang-bilang Minho oppa kalau kau mengajakku. Ya kan? Cih, aku sudah hafal.” Ia mendengus kesal. “Yang penting aku keluar dari Sangkar Emas itu. Heerrggh.” Ia menekankan kata sangkar emas, menyindir rumahnya yang dijaga ketat.
Rimhee terkikik geli. Sahabatnya ini memang seorang anak pengusaha terkenal yang punya stok bodyguard lebih banyak dibanding presiden. Dan tampaknya kakaknya mewarisi bakat ‘laku’ ayahnya. Hehe.

Ia terus melaju hingga tiba di tempat yang dijanjikan. Ia dan Ahri pun keluar dari mobil. Sejenak ia mengagumi nuansa putih dengan detail pilar-pilar doric Yunani dan Air terjun di kedua sisi pintu masuk. Kesan terbuka sangat ditonjolkan dalam desain kafe ini. Apalagi dengan atap tenda yang disusun dengan rangka yang ditinggikan dari posisi balok. Istimewa.

“Hei!” Ahri menepuk punggung sahabatnya. “Jangan bengong aja. Udah hampir jam 9 lho. Kalo telat kulaporin Minho oppa, baru tau rasa deh.” Ahri menggerutu kesal. Mereka pun melangkah masuk dengan tangan Ahri bergelayut di lengan Rimhee.

***

Jaejoong sedikit memelankan ritme permainannya sambil mengamati dua wanita yang baru saja masuk ke tempat kerjanya itu. Yang satu nampak riang gembira. Sedangkan yang satunya terlihat kalem tapi juga bingung. Matanya nampak mencari-cari sesosok orang. Jangan-jangan dia? Jaejoong masih terus memerhatikan dua gadis itu yang memilih meja untuk berempat. Ya, pasti dia. Jaejoong mengangguk yakin dan setelah menekan tuts terakhir lagu tersebut, ia berdiri. Sebelum meninggalkan panggungnya, ia berbalik menghadap penonton dan memberi hormat. Ia lalu mengsms kakaknya.

To: Hyungie keren
Hyung, sepertinya orang yang kau maksud sudah tiba. Dia wanita, tapi dua orang, sepertinya temannya. Cepatlah ke sini sebelum kau dicap jam karet. Mengerti? 

From: Hyungie keren
Okay.. Thanks brother. ;)

Jaejoong segera kembali ke pianonya dan melanjutkan pekerjaannya.

***

“I’m sorry miss, may I sit here?” Sapa seorang pria yang baru saja datang bersama temannya.

Rimhee yang mengenali pria itu sebagai kliennya, lalu berdiri dan menyapa, “Ah, Kim Jungmo-ssi. Annyeonghaseo!” ia membungkuk sopan. Pria itu hanya membalas dengan anggukan kepala. “Silakan saja, Jungmo-ssi. Ahri-a, kau bisa pindah ke sebelahku kan?” Rimhee mengedipkan matanya mengancam. Gadis yang baru asyik bercerita tadi langsung menurut. Lagipula, dia kan yang memaksa ikut. Jadi ia tahu diri.

“Ah, gomawo mm..” Jungmo menatap gadis di depannya tajam.

“Jung Rimhee, nice to meet you.” Rimhee mengulurkan tangannya sambil tersenyum formal.

Tapi tampaknya Jungmo sedikit terkesima dengan aura wanita yang sedang menunggu uluran tangannya itu. Ia terdiam beberapa saat sebelum sadar kembali, “Ah, mianhe. Nice to meet you too, Jung Rimhee-ssi.”

Rimhee sedikit menahan tawa melihat pria di depannya yang tersenyum kikuk.

Sedangkan Ahri, ia membalikkan mukanya dan tertawa kecil tanpa sadar seseorang sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Ah iya, Jungmo-ssi. Maaf aku membawa seorang temanku, tapi sepertinya ini tidak masalah denganmu.” Rimhee menatap Jungmo dan Kangin bergantian sambil tetap tersenyum.

Jungmo mengangguk. “Tak apa, Rimhee-ssi. Perkenalkan, dia Kim Youngwoon, sepupuku.” Jungmo memperkenalkan sepupunya.

“Annyeonghaseyo, choneun Kim Youngwoon imnida. Kau bisa panggil aku Kangin.” Pria bertubuh besar itu membungkuk sopan ke arah Rimhee dan Ahri.

Tiba-tiba Ahri memperkenalkan diri tanpa kusuruh. “Annyeong Kim Jungmo-ssi, Kangin-ssi. Perkenalkan, choneun Lee Ahri imnida. Adik dari Lee Minho-ssi sekaligus sahabat baiknya. Iya kan Rimhee-a?” gadis centil itu menyentuh bahuku dan menyeringai. Rimhee memberinya tatapan terserah-apa-maumu-lah.

Setelah sesi perkenalan itu, Jungmo dan Rimhee memisahkan diri untuk membahas proyek yang akan mereka kerjakan. Sesekali mata Rimhee teralih kepada pemain piano di panggung kafe itu. Dan Jungmo sedikit terganggu karenanya. Ia selalu mencoba mengembalikan perhatian Rimhee ke proyeknya.

Sedangkan Kangin dan Ahri malah ngobrol sendiri. Mereka sepertinya nyambung satu sama lain. Bahkan sesekali tawa mereka mengencang hingga membuat mata pengunjung menatap tajam dan dua orang yang bertanggung jawab atas mereka mendelik kesal. Dan beberapa menit setelahnya mereka berdua malah jalan-jalan di sekitar kafe.

Kim Jaejoong tersenyum saat tadi mendengar suara kakaknya di kafe itu. Kafe milik ayahnya yang diwariskan kepada kakak yang selisih setahun dengannya itu. Ya, ayahnya memang lebih memercayakan segala hal kepada kakaknya itu. Karena sejak kematian ibu mereka, Jungmo sudah terlatih merawat Jaejoong dan mengurus segala harta benda mereka. Tetapi Jaejoong malah trauma dan tidak mau lagi membuka suara terhadap siapapun, termasuk kakaknya. Namun begitu, ia sangat menyayangi kakaknya.
Sesekali ia melirik ke arah mereka. Ia tersenyum geli saat melihat kakaknya sedikit terpaku melihat rekan kerjanya yang lumayan manis. Tangannya masih setia bergerak lincah di atas piano bahkan hingga kakaknya dan temannya itu pergi.

***

Rimhee POV

Sampai di rumah, aku sibuk merekap data-data tambahan yang kuperoleh hari ini. Aku mencatat semuanya dengan rapi dan teliti. Bahkan tadi aku sempat merekam percakapan mereka melalui recorder yang tersembunyi di balik blazer. *ni cerita arsitek apa detektif ya?

Aku baru saja menelpon bos Lee Minho ahjussi, ketika kudengar pintu kamarku diketuk pelan. Aku pun beranjak membukanya. Lalu Seohyun onnie terlihat di muka pintu. “Ayo turun, makanannya sudah siap.”

“Baik onnie. Aku matikan komputer dulu ya. Onnie tunggu aja di bawah. Okay?” Kakak iparku mengedipkan matanya sebelum beranjak turun. Aku pun segera menyusulnya.

Di ruang makan, yang langsung berhadapan dengan dapur, aku melihat Yonghwa oppa masih sibuk di depan kompor, menaruh masakannya di atas piring. Sejak umma meninggal, Yong oppa memang melepas pekerjaannya dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah tangga karena appa yang sering lembur. Untung sekarang ia sudah menikah. Seohyun onnie sungguh hadiah terindah untuk keluarga kami.

“Ya! Rimhee-a, ngapain berdiri terus di situ?” teriakan oppa membuyarkan lamunanku. “Bantu onnie merapikan garpu dan sendok sana!”

“Ne..” aku menepuk dadaku. Berasa jantungku mau keluar aja.

Makan malam itu berjalan khidmat. Sesekali Yonghwa melancarkan sindirannya, seperti ini,

“Rimhee-a, proyek apa yang kaukerjakan sekarang?” tanya Yonghwa oppa.

“Emang kenapa? Mau tau aja.” Jawabku ketus.

“Biarin. Abisnya kamu seharian ini bener-bener gak keluar kamar. Coba kalau Onniemu ini gak manggil, bakal jadi setan buduk kamu di kamar melulu!” Aku langsung mencubit hidungnya. Ia memekik pelan.

“Ya! Oppa, aku di kamar tu kerja ya. Emangnya oppa, mesra-mesraan dalam kamar? Oya oppa, aku ditawarin naik pangkat jadi arsitek tim lho!”

“Oh ya? Wah kabar bagus tu! Trus gimana, kamu terima?”

“Ya iyalah oppa! Tapi aku masih harus jalanin satu ujian dulu. Makanya, tadi aku abis ketemu sama klien. Dia minta dibikinin rumah pribadi. Tau gak oppa, luas tanahnya berapa? 1 hektar!!” teriaknya.

“E buseet? Itu rumah apa sawah?”
“Mantan sawah, calon rumah.” Jawab Seohyun onnie ikut nimbrung. Aku mengacungkan jempol.

Oppa tertawa, lalu mengelus rambut onnie. “Kamu pinter, sayang. Hey dongsaeng-a, sesibuk apapun kamu, jangan lupakan kewajiban cewek. Belajar masak ni, sama onniemu ini.” Onnie hanya tersenyum bangga.

Aku mengangguk malas. Selesai makan dan cuci piring, aku kembali ke kamar dan mulai mengubur diri.

Rimhee POV end

***

Pagi itu Jungmo berangkat ke studio musiknya lebih pagi. Ia ada jadwal bertemu Jay Kim untuk mendiskusikan lagu yang telah ia compose. Ternyata sampai di studio, Jay belum datang. Akhirnya ia duduk di sofa ruang latihan.

Mendadak wajah gadis yang kemarin ditemuinya muncul di benaknya. “Hm, kalau dipikir-pikir sudah lama juga aku tidak berinteraksi dengan wanita. Apakah aku sesibuk itu? Mungkin sih, mengurus semua peninggalan papa : showroom mobil, restoran, toko alat musik dan juga studio musik ini. Hh..” ia menghela nafas panjang.

Lima detik kemudian, ponselnya berdering tanda sms masuk. “Apa itu dia?”
Cepat-cepat ia membuka ponselnya. Dan mukanya langsung lesu melihat Jay Kim yang mengirim sms hanya menanyakan posisinya. Ia membalas dengan malas.

***

“Duduklah, Rimhee.” Lee Minho mempersilakan dengan sopan. “Kudengar kau akan bertemu dengan Kim Jungmo-ssi lagi esok kan?” gadis itu mengangguk. “Aku akan menugaskan dua orang untuk ikut bersamamu kali ini. Orang itu adalah Moon Ahyoung dan Krystal. Bagaimana, apa kau setuju?”

Rimhee tersenyum sumringah mendengar dua nama itu disebut. Matanya berbinar dan menjawab dengan semangat 45, “Ya, saya setuju Pak!”

Lee Minho tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. “Aigoo, aigoo. Rimhee-a, jangan bermuka begitu kalau di kantor. Kau jadi mirip dengan Ahri, bikin aku pingin nyubit pipimu.”

---

Maaf yaa, masih ada part lanjutannya. Tapi belum dibikin. Ini juga gara2 bete belajar malah bikin ginian dari jam 1 mpe jm 4 pagi. Hehe..
Jangan lupa komentar, boleh di sini ato d FB. Makasih..