3 Jul 2011

My Love

(Sebelum baca, kukasitau "aku" di sini cowok, lhoo. met baca!!)



I know I've fallen in love when you're coming down to my eyes

Wanna make you, wanna feel the beauty as you are

I wanna tell you some I'm not a man who say in lies

Wanna love you I wanna hold you can you be the part of my life




Ya, harus kuakui aku jatuh hati sejak melihatmu. Saat itu kau menjadi seorang penjaga kasir di sebuah swalayan. Aku sempat mematung sebelum mendengar panggilanmu untuk giliranku membayar. Sejak itu, di hari yang sama setiap minggu aku ke sana, entah membeli apa. Yang penting aku dapat antre di kasirmu.



I imagine you smiling at me,

I imagine you holding my hand, oh oh

Cast a spell and hope you become my love

I imagine you sleeping in my arms

I imagine you kissing me oh oh

What a sweet imagination



My heart keeps on going thump thump
When you look at me, you keep on smiling without you even noticing, and before you even realized, you started to fall for me



You’ve fallen for me, fallen for me, you melted because of my sweet love
You’ve fallen for me, fallen for me, you’ve fallen for the look in my eyes



See my eyes, You’ve fallen for Me

See my eyes, You’ve fallen for Me




Semakin sering aku datang ke sana, hingga kau pun hafal dan mulai tahu faktor X dari kunjunganku setiap minggu. Kau pun akhirnya memberikan nomormu agar kita bisa bertemu di luar swalayan. Dan kita semakin sering bertemu. Awalnya aku sedikit canggung namun kelamaan aku melihat kecanggungan itu berpindah padamu. Ah, mungkin bukan canggung tapi malu. Rona merah jambu itu sungguh mencuat diantara putih pipimu. Ya, aku tahu kau mulai membalas perasaanku.



I’ll also confess to you I love you I love you, Now I shall confess to you that I love you

I also love you love you my feelings are telling you that I love you



Akhirnya aku berani mengatakannya. Malam Tahun Baru menjadi saksi pengakuan itu. Tepat tiga hari menjelang ulangtahunmu. Dan tepat di hari itu kau memintaku untuk mendaftarkan namamu di agensiku sebagai model. Yah, notabene aku seorang wartawan majalah fashion.



Kabar bahagia itu-kau diterima sebagai model- datang bersamaan dengan kecemasanku. Karena pekerjaan model itu sangat riskan. Ya, riskan untuk hatiku. Risih rasanya melihatmu dipasangkan dengan lawan jenis. Tapi apa mau dikata, aku telanjur mendukung semua pilihanmu.



2 bulan berjalan, dan kau semakin ahli berlenggak lenggok di depan kamera. Tubuhmu yag proporsional dan wajahmu yang menawan tak pelik membuat beberapa teman modelmu mengutarakan perasaannya padamu. Dan kau menolak mereka demi aku. Aku sangat bangga, kau tahu?



Tapi ternyata tak ada gading yang tak retak. Sepulang dari kamp pemotretan di Bali, kau bertingkah sedikit aneh. Ya, kau memang masih tersenyum padaku dan bertingkah ceria. Tapi terkadang keceriaanmu berlebihan. Membuatnya terasa dusta. Bahkan kau jadi lebih sensitif saat aku tanpa sengaja menyinggung kedekatanmu dengan seorang fotografer. Maaf, awalnya aku tidak cemburu tapi reaksimu membuatku begitu.



Keanehan itu bahkan menjadikanmu dingin setiap kali aku menelponmu. Seringkali kau tolak telpon dariku. Entah pekerjaanmu atau harus menjaga rumah, berjuta alasan kaubuat untuk menghindar dariku. Bahkan sampai pada suatu saat nomormu tak dapat kuhubungi lagi.



Akhirnya aku mendapat suatu kabar dari rekan sekerjaku. Ia tak sengaja melihatmu berciuman mesra dengan sang fotografer. Sungguh aku muak mendengarnya. Aku ingin segera mendengar penjelasanmu. Aku berharap itu hanya mimpi atau angin lalu. Tapi berkali-kali kucoba menghubungimu tetap tak bisa.



I get a feeling that you’ll leave me (Don’t give up)

You keep giving me all these excuses (Don’t give up)

Your cold Bye Bye that felt different from before (Don’t give up)
I cannot let you go (Because I love you)



You told me you love me but now, why you say goodbye?
I cannot let you go like this, never (because I love you)



Don’t try to leave me
with only an excuse



Please don’t go go go, Please don’t go

Can you please look back at me just once?

Please don’t go go go, I don’t like sad good byes
Please come back to me, because I love you



Berkali-kali kuyakinkan hati untuk bersabar dan memaafkanmu. Aku terlalu mencintaimu dan tak sudi merelakanmu. Selalu berharap kau kan kembali padaku. Hingga akhirnya..



Aku berbelanja di swalayan tempatmu dulu bekerja. Tanpa sengaja aku melihatmu di satu lorong. Berdua dengan seseorang yang kukenal. Ya, siapa lagi kalau bukan fotografer itu? Kau sempat melirikku dan terkejut. Aku menunduk kemudian mendongak lagi, dan jelas terdengar di telingaku “tidak. Bukan apa-apa kok.” Diakhiri senyuman manismu untuk pria di sampingmu itu.



Aku melihatmu, dengan tangannya yang tak lepas dari pinggangmu. Memelukmu erat di luar busanamu yang semakin minim. Aku hanya bisa mengepalkan tangan dan menahan geram.



Erasing the memories, erasing it with the tears

You, who I can’t contain in me

Pushing away the memories, pushing away the pain
So that you can’t linger in me



Throwing away the memories, throwing it away with the tears

So that I won’t have any hope
So that you wouldn’t even know my yearning heart



Even if I push you away painfully (I just wait for you)

I miss you still, I don’t think I can stop it (I can’t do anything about it)
Perhaps I still can’t send you away



Even if I throw you away, you grow in my heart

You become the tear that never dries

Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain



Day by day, my love that has faded

Now I can’t even catch my love
No matter how hard I try



I swallow the tears so I can’t raise my chin

With the yearning that dug into my heart
So that even my warn out heart won’t notice



Even if I push you away painfully (I just wait for you)

I miss you still, I don’t think I can stop it (I can’t do anything about it)
Perhaps I still can’t send you away




Even if I throw you away, you grow in my heart

You become the tear that never dries

Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain



Day by day, my love that has faded

Now I can’t even catch my love
No matter how hard I try



Your gaze that was always nerve wrecking (It always captured me)

The hoping that you will run to me (You keep giving me bruises)
Now you can’t even come to me anymore



Even if I throw you away, you grow in my heart

You become the tear that never dries

Even if I erase you, you grow again
You become the scar without the pain




I love you, I just love you

I can’t even hug you when I can bear the pain

No matter how hard I try to catch you

No matter how many times I call you my love
It doesn’t work




“Aaarghh… Shit!!!!” Bugh! Apa kau lihat? Bahkan dinding itu jadi korban efek domino yang kau berikan padaku. Kau benar-benar.. Argh!! Bahkan aku tak bisa mencapmu dengan julukan-julukan hina. Entahlah, walaupun aku tahu kau berkhianat terhadapku aku tak bisa membencimu. Tak bisa. Arrrgghhh!!! Praang!



Esoknya kau menelponku tanpa kuduga. Kau bilang mau bertemu, di tempat biasa. Oke, aku akan datang. Aku sungguh bersyukur kala mendapatimu duduk sendirian. Setidaknya tidak bersama dia.



“Maaf, selama ini aku berbohong dan akhirnya kau tahu. Jadi, kuharap kau bisa mengerti.”



Ya, aku mengerti. Mengerti bahwa kau memintaku untuk mengakhiri hubungan ini.



“Maaf, selama ini aku mencintai dia. Jangan salah paham, bukan karena uang. Tapi aku benar-benar mencintainya. Dan dia mengajakku menikah.. bulan depan. Ini,”



Tanganmu yang halus menampilkan sebuah kertas indah dari dalam tas kecilmu itu. Betapa aku ingin menggenggam kembali tangan itu. Tapi segera kutahan ketika sebuah undangan terlihat di mataku. Indah, ya sangat indah. Harapan agar namaku yang tertulis di dalamnya segera kutepis. Ini untukmu, dan aku belum bicara sepatah kata pun.



“Kuharap kau bisa datang. Terimakasih dan maaf telah menyakitimu sedalam ini.” katamu seraya membalikkan badan.



Kau.. sungguh.. “Tunggu.” Ah ini saatnya, kau berbalik dan menatapku. Tapi sedari awal kusadari tatapanmu hambar. Kosong. Bahkan tak ada senyuman ceria lagi. “Apa kau tidak ingin mendengar sesuatu dariku?”



“Baiklah, apa itu?”



“Sakitku.. tidak bisakah kauobati? Kumohon hari ini saja, sisakan waktu bersamaku.” Aku tahu aku seperti anak kecil tapi aku tak tahu apalagi yang harus kukatakan.



“Maaf. Tapi kurasa tidak bisa. Hari ini jadwal pemotretan benar-benar penuh. Belum lagi mengurus agenda pernikahan itu. Kau tahu sendiri aku orangnya banyak repot. Hahaha.” Tawamu hambar.



Aku membuang napas pendek. “Baiklah. Selamat jalan. Semoga persiapannya lancar.”



Hari pernikahanmu pun tiba. Diiringi hujan deras aku melangkah keluar kontrakan sempit ini. Langkah demi langkah hingga tiba di suatu tempat. Tidak, jangan sangka aku menuju ke resepsimu. Langkah ini, menuju ke tempat aku jatuh cinta padamu.



Aku membeli barang yang sama walaupun tak kubutuhkan. Menuju kasir yang sama dengan pandangan hampa. Di sana sang kasir--yang sekarang adalah laki-laki—menegurku karena giliranku tiba. Aku membayar semua barang dan beranjak keluar.



Baru kusadari di luar ternyata hujan deras. Dulu tidak seperti ini. Tidak ada hujan yang menyerang. Aku tetap melangkah, menerabas hujan yang menusuk badan. Dan perlahan, kukeluarkan tangis yang tertahan. Menyadari, bahwa dulu dan kini tak lagi sama. Cerita indah itu telah berganti.



No one ever sees, no one feels the pain
Teadrops in the rain



I wish upon a star, I wonder where you are

I wish you're coming back to me again
And everything's the same like it used to be



I see the days go by and still I wonder why

I wonder why it has to be this way
Why can't I have you here just like it used to be



I don't know which way to choose

How can I find a way to go on ?
I don't know if I can go on without you oh



Even if my heart's still beating just for you

I really know you are not feeling like I do

And even if the sun is shining over me

How come I still freeze ?

No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain



I wish that I could fly, I wonder what you say

I wish you're flying back to me again
Hope everything's the same like it used to be



I don't know which way to choose

How can I find a way to go on
I don't know if I can go on without you, without you



Even if my heart's still beating just for you

I really know you are not feeling like I do

And even if the sun is shining over me

How come I still freeze ?

No one ever sees, no one feels the pain
I shed teardrops in the rain



Oh... I shed teardrops in the rain
Oh... Hey... Teardrops in the rain



Even if my heart's still beating just for you

I really know you are not feeling like I do

And even if the sun is shining over me

How come I still freeze ?

No one ever sees (no one) no one feels the pain (no one)

I shed teardrops in the rain

Teardrops in the rain

Teardrops in the rain
Teardrops in the rain...

---

Rimie Ramadan

03.07.2011

Inspired by CNBLUE’s songs



Disclaimer: All the songs n lyrics belong to CNBLUE and Boices’ page who translated them.

Gomawayo chingu. Kamsahamnida..

Is this story deep enough? Hehe.. lagi pengen refreshing sih.

di awal berasa cuma kerangka karangan doang haha..

worse? better? need ur comment please.. thank you

26 Jun 2011

racun

Dalam diam, senyumku mengembang
Teringat mimpiku dalam memori dulu
Semua asa yang berakar padamu

Entahlah
Seakan kau panduku dalam tingkah laku
Kau laksana guru yang ajari ku untuk butuh
Ilmu sudah, dirimu pun sudah

Laksana terukir dalam batu
Namamu yang takkan lenyap sekalipun aku terlelap
Pun dalam mimpi kau muncul tanpa permisi
Dan nyanyikan satu melodi

Tak pelik asaku melayang semakin tinggi
Menyebut namamu adalah refleksku
Bahkan dalam pengabulan doa

Maaf jika yang terjadi hampir serupa
Dengan doaku selama itu
Tapi yakinkah engkau akan aku
Yang selama ini terus menatapmu di kejauhan
Dan tak yakin bahkan nadi terdalamku
Untuk jadi milikmu
Hidup bersamamu rasanya
Aku tak punya harga

---
Rimie Ramadan
26.06.2011

Di sela keraguan

23 Jun 2011

Tampilan Baru : Tampakkan Jati Diriku

Liat kan background blogku sekarang? Mungkin yang belum pernah ketemu atau kenal sama aku, kuperkenalkan. Gambar mirip tulang ikan di belakang adalah tanda tangan (ikon)ku sebagai Rimie Ramadan. Dibacanya Rimie.

Asal muasal logo ini adalah ketika aku SMP. Berawal dari pengen bikin 'new signature' yang simpel dan cepat. Eh, malah kebikin buat nama penaku ini. Rimie Ramadan.

Saking mudah dan cepat, aku kesenengan menuliskannya di setiap barang yang kupunya. Mulai buku tulis, buku teks, bahkan ada juga di tasku. Sejak saat itu, tanda ini menjadi identitasku. Bahkan melebihi tandatanganku yang asli.

Sampai suatu saat, ada cerita lucu yang selalu kuingat. Masa SMAku, dimana sekolahnya berasrama dan asramanya tak begitu jauh dari sekolah.

Siang itu, kami baru mendapat buku-buku tambahan dari sekolah. Lalu saat jam makan siang kami beramai-ramai menitipkan buku itu di asrama. Sepulangnya, kami berduyun menuju tumpukan buku itu dan sibuk mencarinya. Aku sempat nyeletuk "Haduh, banyaknyoo. Mana punyaku belum dinamain lagi!"

"Bukannya udah ya Ri?" seorang fellow (sebutan guru asrama-pen.) menjawab celetukanku.

"Hah? Masa sih Miss?" Aku ingat sekali aku belum menamainya. Hanya meninggalkan tandatangan yang mirip logo IeBe itu.

"Kayanya tadi Miss liat deh ada namamu," jawab guru itu.

Lalu seorang teman memanggilku, "Ri. Ini punyamu." dia memberikannya padaku. Aku menerimanya dengan tersenyum lega dan mengecek apa benar namaku tertera. Kubolak-balik tapi tak kutemukan.

"Tuh kan miss, gak ada.."

"Ini apa?" tunjuk fellow itu pada "tulang ikan" itu. Dan itu sukses membuatku ber-O ria.

Back to the main topic. Ni background kupilih basicnya hijau. Karena sejak dulu aku emang suka warna hijau. Warna alam tepatnya. Tapi lebih dominan ke biru dan hijau. Dan sekarang lebih gandrung ke hijau.

Warna hitamnya.. emm.. biar keren aja sih. Kalo jadi desktop wallpaper kan jadi bagus. Hehe. -norak amat alasannya.

Hemm, tapi aku merasa kurang sreg sih pas diterapkan di blog. kayanya berat sebelah. Ramai di sebelah kiri. Gimana menurut kalian? Komentar doong. Hehe. Maaf kalo desainnya nyakitin mata :D

Salam hijau dalam damai :)
Rimie Ramadan
23.06.2011

21 Jun 2011

The Diary

“Apa?! Kau tidak bercanda kan?”
“Buat apa aku bercanda? Kalau kau tak percaya, tanyalah kakaknya.”
Tanganku mendadak lemah dan ponselku terjun bebas ke atas kasur. “Ini.. tidak.. bercanda.. kan?”

Riri’s diary


08 September 2005
“Perkenalkan. Saya Riri. Kelas 8A. Hobi membaca, menulis dan bermusik.” Begitulah perkenalan singkatku pada para anggota senior di klub jurnalistik. Semua anggota tersenyum ramah padaku. Syukurlah, semua menyambut baik niatku untuk bergabung. Hari ini agenda mereka membahas majalah sekolah, dan aku langsung dapat bagian untuk meliput tentang keterlambatan siswa SMP Intera Vidi Jakarta yang akhir-akhir ini makin menjadi. Baiklah, ini laporan pertamaku! Semoga tercipta hasil yang baik.

15 September 2005
Rapat klub hari ini telah selesai. Beberapa anggota telah keluar ruangan. Aku pun hampir beranjak pergi ketika sebuah suara memanggil. Aku menoleh dan kudapati kak Tyo berjalan ke arahku.

“Ri, makasih ya.” Kata ketua klubku itu singkat.

“Hm? Makasih untuk apa ya kak?”

“Makasih, kamu udah mau bergabung di klub ini. Aku sangat senang dengan hasil kerjamu. Menurutku, tulisanmu itu ideal. Kata-katanya lugas dan sangat objektif. Baru kali ini aku menemukan artikel yang berkualitas.” Kak Tyo tersenyum memujiku. Aku terpaku sejenak. Sebelum ia memanggilku lagi dari arah pintu karena ia akan mengunci ruangan klub. Bahkan aku baru sadar kalau dia sudah di sana!

19 September 2005
Hm, aku ingin memberitahumu sesuatu. Entah kenapa sejak dia memujiku itu aku jadi sedikit terarah padanya. Mm, maksudku aku jadi sering bertemu dengannya. Lalu setiap kami bertukar sapa, seperti ada letupan kecil di dadaku. Siapapun, tolong terjemahkan ini.

22 September 2005
Ah, rapat hari ini kacau. Apa yang sebenarnya kulakukan hah? Yang berbicara kak Bimo, tapi yang kutatap kak Tyo. Yang memberiku masukan kak Irma, tapi suara kak Tyo yang sedang bersenandung lebih peka di telingaku. Maaf kak Irma, kau jadi harus mengulangi.

01 Januari 2006
Semarak tahun baru menggema di jagat raya. Aku pun termasuk yang merayakannya. Aku dan teman-teman klub mengunjungi Museum Fatahillah yang ada di Kota Tua. Beberapa teman telah bersiap dengan kamera, termasuk kak Tyo. Kudengar kak Tyo, kak Bimo dan Rana memang ikut klub fotografi di luar sekolah. Di beberapa edisi koran sekolah pun ada hasil jepretan mereka.

Aku, Dinda dan Nisa sibuk berlari ke sana kemari hingga akhirnya kami kehausan. Dinda dan Nisa pergi membeli minum sementara aku bersandar di Si Jagur menunggu mereka. Kelamaan menunggu, anganku jadi terbawa lamun.

Tiba-tiba ada kilatan blitz yang bersumber di sisi kananku. Aku menoleh. Dan ketika kamera itu bergeser, pipiku memanas. Ternyata kak Tyo yang telah memotretku. “Sepertinya kamu lebih cocok jadi foto model deh, Ri. Lihat nih, ekspresimu dapet banget!” ujarnya sambil menyodorkan kameranya padaku.

Aku sungguh penasaran dengan hasil fotonya, tapi entah kenapa tanganku menepisnya. “Ah, apaan sih kak. Aku kan wartawan, bukan artis! Hahaha..” aku tertawa. Tapi dia malah melihatku terus. “Oya kak, aku mau cari Dinda sama Nisa dulu ya! Mereka lama banget sih!” Aku pun meninggalkannya sebelum volume letupan ini mengencang.

15 menit kuhabiskan untuk mencari kedua sahabatku itu. Tapi aku tak menemukannya. Aku pun berjalan pelan kembali ke arah Si Jagur, siapa tahu mereka ke sana. Langkahku terhenti dan berusaha sembunyi dibalik sebuah pilar. Pemandangan di depanku sepertinya penuh ketegangan. Kak Dara, salah satu anggota kami yang juga primadona sekolah, sedang berdiri membelakangiku. Ia tampak serius berbicara dengan kak Tyo yang ada di depannya. Kulihat kak Tyo tersenyum dan menjawab, “Baiklah, aku mau.”

Deg!

Aku menutup wajah dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Entah mengapa dugaan-dugaan tak mengenakkan melayang-layang di otakku. Letupan itu kembali lagi namun dengan perasaan panas yang menyengat. Entahlah. Yang aku tahu aku tak tahu kemana harus melangkah.

24 Juli 2006
Hari ini pemuda berperawakan sedang itu terlihat tampan dibalik tuxedonya. Ah, sebentar lagi namanya dipanggil dan dia akan menerima medali kelulusan itu. Lihat itu, ia telah berbaris dengan wisudawan dan wisudawati lainnya. Aku hanya dapat menatapnya dari sini. Di sudut panggung mini tempat lantunan paduan suara berseru. Entah kenapa, pedih rasanya.

Enam bulan yang terlewat, aku tetap memerhatikan dirinya. Walaupun perih karena yang selalu ada di dekatnya adalah Kak Dara, bukan aku. Bahkan waktu classmeeting sekitar 3 bulan lalu, aku ikut menonton pertandingan catur kak Tyo melawan kak Rus. Padahal aku sangat benci catur, apalagi menontonnya, akan sangat membosankan. Ini semua gara-gara dia menyuruh seluruh anggota klub datang dan memberi semangat untuknya. Entah angin dari mana, selesai pertandingan kak Tyo menghampiriku. Ia berbicara singkat tentang kepergiannya ke luar kota setelah lulus. Dia berharap aku bisa menggantikannya menjadi ketua klub jurnalistik. Berbagai kata “Mengapa…aku?” berkelebat. Tapi tetap kuiyakan. Ah, apakah karena dia meminta sambil tersenyum manis ya? Karena, aku sangat menyukai senyumnya.

Ketika dia naik ke atas panggung untuk menerima medali kelulusan, aku turun panggung mini ini untuk mengambil minum. Alibi? Tidak sepenuhnya. Aku memang haus kok. Ya memang, tak perlu kujelaskan bahwa aku belum rela melihat punggungnya menjauh. Kuambil segelas air, lalu kuminum sambil menghadap panggung. Kak Tyo telah menerima medali dan gulungan ijazah.

Sembari turun, ia melempar pandangan ke hadirin, terutama ke panggung mini di sisi kanan panggung itu. Tampak mencari seseorang. Saat matanya menuju ke arahku, ia berhenti dan tersenyum. Aku juga tersenyum sejenak dan langsung berbalik untuk mengambil gelas kedua. Mendadak tanganku gemetar, dan sebagian air tumpah ke bajuku. Untung air mineral. Lalu sebuah tangan merebut gelas yang kupegang. Ia mengisinya penuh dan memberikannya padaku. Aku menerimanya sambil menoleh ke wajah orang itu. Sedikit tersentak saat kulihat kak Tyo berdiri di sampingku. Ia tersenyum jahil. “Hati-hati, Ri. Nanti kamu berasa nyanyi di kamar mandi lho.” Ia tertawa, tapi aku hanya menatapnya dalam diam. Pemuda di depanku berhenti tertawa, “Sudah. Ayo, kembali ke habitat masing-masing.”

Selesai prosesi penyerahan semua wisudawan, saatnya sesi bebas. Kak Tyo berfoto bersama keluarganya di salah satu sudut. Kulihat pemuda di sebelah kak Tyo yang mukanya mirip tapi sedikit lebih gemuk. Ia terlihat lebih ceria daripada wisudawan berkacamata di sebelahnya. Selesai berfoto, ketua klubku itu menghampiri aku dan beberapa teman klub yang kebetulan jadi panitia juga. Ia menyeret serta pemuda gemuk tadi dan beberapa kakak anggota klub yang juga sudah lulus. Pemuda yang kini tampak mengenakan lensa kontak itu berdehem sebelum bersuara, “Teman-teman, bolehkah aku berfoto bersama kalian? Pertama kalian foto satu-satu sama aku, habis itu kita foto bareng-bareng. Tapi di luar aja ya.”

Dan sesi pemotretan itu berjalan lancar. Aku jadi yang terakhir difoto. Ia menyelipkan sesuatu di tanganku sebelum berpose. Aku hendak mengintipnya tapi keburu dihitung countdown. Dan setelah sampai di rumah, aku baru membukanya. Sebuah bros berbentuk bunga krisan.

----
Rimie Ramadan
21.06.2011
P.S. This post is just temporary and will be deleted in 2 weeks.

brtdy

This is special
I made it for you
Just you


Hey, there you are
Glad to see you
Smiling back to me
With your brightest face

I knew what made you feel so happy
And I am ready to give this sentences

Happy birthday to you
Hope you're always here
standing right beside me

As your age, my love for you
grew more and more
And I wish
it wouldn't disappear

Oh

Telah lama kupendam
Sebuah rasa
Yang tak pernah ada
sebelumnya

Rasa itu tumbuh
Seiring waktu
Penuhi hati
Yang kian memburu

Bintang di angkasa pun tahu
Aku jatuh cinta padamu
Maka hari ini izinkan aku

Oh, jadikanlah aku
Oh, pendampingmu selalu
Oh, di setiap langkahmu
Oh, dan setiap mimpimu, uuh

Ku berjanji kan menjagamu selamanya

---
Rimie Ramadan
21.06.2011

16 Jun 2011

The Heaven is to Be with You - part 3

“Hyaa!! Kau jangan melihatku begitu!!” Ahri menggembungkan pipinya yang bersemburat sewarna tomat. Sepulang dari konser, Kangin menemaninya membeli baju ganti bercorak tie-dye.

Kangin tampak mengerem cekikiknya. “Mianhe, mianhe. Habis kau ini lucu sekali pakai baju itu! Apalagi berada di tempat seperti ini.” Mata Kangin menunjuk atap kafe tempat mereka berada. Tempat itu memang cukup elit.

“Ini semua gara-gara ahjussi aneh itu!! Sialan sekali aku ketemu dia hari ini!!” rutuknya kesal.

“Sudahlah, sudah. Gak usah marah-marah lagi. Ntar cepet tua lho!” pemuda berbadan besar itu mengacak lembut rambut Ahri.

“By the way, makasih ya.” Lanjut pemuda itu lagi, “kamu udah datang ke konserku hari ini. Juga minumannya. Cheongmal gomawayo!”

Ahri menggeleng singkat. “Cheonma.”

Mereka beranjak selesai mengobrol. Sebelum keluar plaza, Ahri seperti melihat seseorang yang ia kenal di toko roti di seberang resto. Gadis itu tampak ragu, dan segera menyusul Kangin.


Jungmo mengantar Rimhee hingga ke depan pintu. Tapi ia agak kaget,dilihatnya gadis di sebelahnya yang juga beraut heran karena lampu rumahnya mati. Ia meminta Jungmo untuk menemaninya mengecek ke dalam terlebih dahulu. Pelan, ia membuka kunci rumahnya.

“Kriiieeet..” deritan pintu tak juga berkompromi.

Satu langkah, tak ada apapun. Dua langkah, tak ada apapun. Jungmo mengikuti di belakangnya. Langkah ketiga, juga tak terdengar apa-apa. Baru ketika dia akan menyalakan lampu, sesuatu tiba-tiba meraih kepalanya dan terdengar bunyi kecupan. Ia tidak dapat memastikan karena gelap tertutupi sesuatu itu.

Lalu lampu menyala. Tampak di depannya, sang kakak ipar membawa sebuah kue. “Saengil chuka hamnida.. Saengil chuka hamnida.. Saranghaneun Jung Rimhee-ssi.. Saengil chuka hamnida..”

Kemudian sayup-sayup suara gitar terdengar. Muncullah oppanya sambil bernyanyi dan bermain gitar diiringi suara istrinya. Rimhee terperangah. Ia menatap dua orang itu terpesona. Setelah lagu habis, Rimhee tersenyum sangat lebar pada keduanya. Tanpa dikomando, ia menghambur memeluk kedua kakak yang ia sayangi itu. “Yonghwa oppa, Seohyun onnie, gomawayo. Cheongmal gomawayo. Saranghaeyo!”

“Ne.. Urido, Rimhee-a.” bisik Seo-onnie.

“Hei, hei, hei. Kau ini, sudah besar tapi tak tahu adab.” Bisik Yonghwa pada adiknya itu. “Kau ini terlalu senang, sampai melupakan temanmu yang dari tadi berdiri itu.”

Rimhee menepuk jidatnya. “Oh iya!! Jungmo-ssi!” Ia menoleh ke arah Jungmo lalu menuntunnya masuk.

Jungmo menuruti gerakan Rimie hingga duduk di sofa bersama Seohyun dan Yonghwa. Wajahnya masih menampakkan keterkejutan. Lalu dirasakannya sentuhan di pundaknya.
“Mianhe, Jungmo-ssi. Aku ganti baju dulu ya. Kau di sini sama oppa dan onnie ya!” Jungmo mengangguk mantap. Rimhee beralih ke Yonghwa dan Seohyun. “Oppa, Onnie. Kalian ngobrol sama Jungmo dulu ya.”

Mata Jungmo masih mengikuti langkah Rimhee hingga seseorang menepuk pundaknya.
“Hey, makasih ya.” Yonghwa tersenyum puas.

“Ah, cheonmaneyo, hyung. Hajiman, buat apa ya?” balas Jungmo dengan tampang babo nya.

“Untungnya kamu ngajak Rimhee keluar hari ini. Dan sepertinya dia benar-benar lupa karena pekerjaannya. Jadi rencana kami berjalan lancar.” Yonghwa berkedip.

“Oh, itu hyung. Aku tidak sengaja kok. Bahkan aku tidak tahu kalau hari ini ulang tahunnya. Hubungan kami kan cuma sebatas rekan kerja.” Jungmo menghela napas. Jungmo pun ikut merayakan ulang tahun Rimhee dan menerima tawaran menginap di rumahnya.

Rimhee benar-benar bahagia malam itu. Hingga ia merasa lelah dan mengantuk. Ia pun undur diri bersama Seohyun yang juga sudah mengantuk. Tinggallah Jungmo dan Yonghwa yang malah adu kepintaran bermain gitar. Yonghwa juga sesekali bernyanyi. Kediaman Jung pun menjadi ramai malam itu.


Jungmo terbangun dan merasa haus. Ketika membuka mata, ia sedikit terkejut karena asing dengan tempat itu. Dengan cepat ingatannya pulih dan segera berjalan ke dapur. Ketika akan menutup pintu kulkas, ia mendengar pintu kamar di lantai atas terbuka. Dilihatnya siluet Rimhee berjalan menuruni tangga, juga menuju dapur.

“Kehausan juga, eh?” sapa Jungmo.

Rimhee yang setengah sadar, terkaget menyadari ada orang di dapur. “A, aah, iya. Aku mau bikin kopi. Kau mau?” tawarnya.

“Hemm, tak perlu. Kau saja silakan.” Jungmo menaruh gelas yang sudah habis airnya ke meja dapur dan bergegas kembali ke kamar.

“Ah, Jungmo-ssi, chakkaman!!”

Jungmo berbalik lagi. “Wae?” Ia menghampiri Rimhee.

“Bisa tolong.. temani aku?” tanya Rimhee malu-malu.

Jungmo menatapnya jahil. “Kau.. takut hantu?”

“Hm.” Angguk arsitek muda itu. Tangannya masih mengaduk kopi siap seduh di cangkir.

“Lebih takut mana, hantu atau berduaan denganku?” matanya jahil menggoda Rimhee. Membuat mata gadis itu terbelalak.

“Takut.. hantu.” Rimhee menjawab ragu sambil meyakinkan diri. Ia memegang erat cangkir kopinya. Menyeruputnya sedikit.

“Yakin takut hantu?” Jungmo mendekatinya. Langkah demi langkah hingga akhirnya berjarak 1 meter di depan Rimhee. Rimhee terlihat merapatkan kakinya. Gugup.

“Ya.” Suaranya dipaksa tegas.

Jungmo semakin mendekat dan mulai memainkan tangannya. Punggung tangannya yang kekar mengusap pipi Rimhee. Rimhee bergidik. "Kau tidak takut padaku?"

Kini ibu jarinya mengusap pipi Rimhee. Dengan satu gerakan cepat Jungmo mendekatkan wajahnya. Rimhee refleks memejamkan mata.



Sudah 3 jam Ahri membolak-balik badannya. Matanya tak kunjung terpejam padahal kantuknya begitu besar. Pikirannya masih terpusat pada kejadian tadi siang. Baju itu, memang bukan yang paling mahal. Tapi itu favoritnya, baru 2 minggu yang lalu ia beli. Pikirannya lalu melayang ke pemuda bermarga Kim.



Kyujong POV

Aku memandangi blackforest yang kubeli tadi sore. Sampai saat ini bentuknya masih belum berubah. Hanya batangan lilin yang ada di atasnya saja yang telah hancur. Ya, hancur. Sepertiku saat ini.

“Yang ke-23 ya? Ah, tak usah heran kalau aku ingat. Kau bahkan mengancamku jika aku lupa jadwal tidur siangmu.” Aku tertawa sendiri. Kalau dia ada, pasti sudah menertawaiku duluan melihat keadaanku.

“Saengil chuka Rimhee-ah. Saranghaeyo, dimanapun kau berada. Ah, iya. Berarti sebentar lagi bukan?” Aku beranjak mendekati bingkai foto berisi wajah wanita yang tak pernah kutemui selama 3 tahun itu. “Targetmu menikah. Apa kau lupa? Kau pernah memberitahuku, bukan? Ah, atau mungkin kau sudah? Siapa pemuda beruntung itu, apa teman kita juga?”

Even if my heart still beating just for you, I really know you are not feeling like I do.. an even if the sun is shining over me, how come I still freeze?

Ah, lagu kakakmu itu takkan kulupa. Apa kau tahu, lagu itu sangat merasukiku. Apalagi saat kita berpisah. Ya, kita memang bersahabat. Hanya bersahabat. Tapi dalam diam, aku menyukaimu. “Apa aku.. masih punya kesempatan?”

---
mianhe, singkat tapi lama updatenya. kalo di FF dipepet Jungmo, aslinya dipepet tugas. Mianheyo, cheongmaleyo. *bow*
semoga menikmati.. don't forget to give a comment :D

5 Jun 2011

White Rose : A Story of Kim Jinyeong and Kyoko Matsumoto

Episode 6-
“Kyoko-chan!” somebody called her. “Mr. Arata.. Mr. Arata!” That girl with curly hair is running towards them.
“Calm down, Dinda-chan. Here, take a seat please!” Louis points a chair beside him. That girl from Indonesia sit beside him. She counts her breath first, but Louis directly asks, “What happen with our Kyoko and Mr. Arata?”
Dinda smiles, showing her bakpao cheeks. “Guess what? Mr.Arata says that you passed into big 50 competitors of Summer Fashion Design Competition, congratulation!!!” Then she hugs Kyoko. The jealousy of th boys getting bigger but they also smiles proudly.
Kyoko seems frozen. Dinda release her up. “What happen with you, dear? Aren’t you happy?”
Come to awareness, she shakes her head, “What did you say? Me? Passed that big 50? Is it a dream?”
Immediately Louis and Dinda pinch her cheeks together. “Auh! You’re so mean!”
“Then you know it’s not a dream, is it Kyo? Congratulation.” Louis reach his palm out. And Kyoko catch it. Still with an unbelieving face.
“Ah. Kyoko-chan.” Called Dinda again. “Mr. Arata, called you to his office. He says that..”
But Kyoko has just running when Dinda doesn’t even finish her second sentence. Dinda, Louis, and all the remain students there just looking at her proudly.
***
Jinyeong have many questions in her head. Today his lecturer all was canceled because the lecturer are overseas and his classmates are getting so many invitation and ask him to go. But the biggest question today is how cheerful a girl beside him is. Is it because of yesterday’s picnic? Ah, you’re so big-headed Jinyeong-a!!
“Hey, Jinyeong-a!!” some voices make him come to nerves. “We come too far. My house is skipped!”
“Ah, yes. I’m sorry.”
They already arrived. Kyoko reach her bag out from back seat. Jinyeong’s eyes keep looking, when suddenly her face come closer and kiss him on cheek. Jinyeong frozen still. Kyoko says goodbye and open the door.
“Kyoko wait!!” That boy shouts her. “Did something happen? You act so weird today!” Kyoko keeps her smile, and now seems more mysteriously.
“I’m passed!” He get more confused til she says, “I want to tell my parents first, then I’ll tell you. Ok?”
***

15 Mei 2011

Ngefans

Dalam persepsiku saat ini, menyukai seseorang yang tidak terjangkau itu lebih mudah daripada menyukai seseorang yang terjangkau. Karena menurutku, orang yang disukai itu tidak akan merasa terusik. Toh, bukan hanya aku seorang saja yang suka, tapi ribuan bahkan jutaan manusia memiliki rasa kagum yang sama terhadapnya. Malah dari kesamaan rasa kagum itu aku dan mereka -yang sama-sama menyukai orang itu- dapat bertukar info, gambar, dan cerita serta sama-sama mendukung orang itu dari belakang.
Sekalipun dia tau bahwa aku menyukainya, ia akan mengenalku sebagai anonim. Karena begitu banyak yang menyukainya, tak mungkin menghafal nama satu-satu. Apalagi penggemarnya ada di setiap jengkal bumi. Jadi kita juga gak peduli mau dia ngeh apa nggak, yang penting kita suka dia, dan dia gak merasa terganggu (lebih tepatnya saya mengganggunya), udah cukup. Terkecuali jika ia tak sengaja jatuh cinta padaku –mimpinyaa. Justru ini yang berbahaya. Walaupun hati senang melayang-layang karena mendapat sesuatu yang spesial dari orang istimewa –minta singkong dikasih keju- tapi siap2 tameng karena bakal dimusuhin fans nya, atau paling tidak, harus menyembunyikan jati dirimu karena akan mengganggu profesinya sebagai seorang artis.
Aku tau sih, kalau “Mengambil Panutan selain Rasulullah” itu kalo nggak haram ya makruh. Tapi sampai sekarang rasanya susah untuk menghindari wajah-wajah manis di layar kaca (baca: laptop), yang kayanya semakin hari semakin produktif dilahirkan ibu-ibu beruntung itu.
Menurutku, rasa cinta dan kagum yang aku ekspresikan antara kecintaan kepada Rasul, orang yang benar-benar kusukai, suamiku nanti dan mereka, akan sangat berbeda. You know why? Karena selama yang kupahami dan alami sendiri, ngefans itu histerianya cuma saat mereka ada dalam jangkauan panca indera ku saja. Yah, memang sih, kadang bayangannya melintas atau membuat kita mengimpikannya. Tapi tetap saja itu kan seolah-olah kita ‘melihat’ lalu histeria itu muncul.
Lalu, kenapa milih Artis Korea?
Hm, sebenarnya gak ada alasan spesifik untuk ini. Mau lokal, barat, Korea, Jepang atau Timur Tengah sekalipun, intinya ngefans kupikir sama aja. Aku lebih milih artis Korea, kenapa ya? Mungkin faktor wajah (siapa suruh terlahir ganteng, manis dan imut). Apalagi sudah jelas dalam Qur’an juga, senjata terlemah manusia adalah mata. Mau laki-laki, atau wanita, sama saja. Nah buat wanita, terutama saya yang penggemar musik dan cerita, faktor lainnya adalah lagu mereka atau karakteristik suara mereka. Kadang lagu yang dibawakan itu kalo bisa bikin saya tergerak (entah joget atau trenyuh), saya akan sangat menyukainya.
Ah intermezzo sedikit, yang ogah baca, abaikan. Waktu beberapa bulan lalu pas KBS Music Bank, dua andalan saya CNBLUE dan K.Will berebut kursi no.1 di chart musik tersebut. Dan akhirnya CNBLUE keluar sebagai pemenang dengan ‘Intuition’nya. Gara-gara si K.Will itu penyanyi ballad, aku langsung memainkan lagunya dalam pikiranku. Huaa, pengen nangis!!
Kadang seorang fans termasuk saya, menganggap mereka gak cuma sebagai pacar khayalan. Tapi juga kakak khayalan, adik khayalan, temen khayalan, ortu khayalan, de el el pokoknya diperlakukan seperti manusia yang kita kenal. Apalagi saya, yang notabene cuma kenal satu cowok paling ganteng di keluarga. Itu pun jarang di rumah. Jadilah kalo ngeliat yg seger-seger gitu langsung ijo lampunya. Haha. Makanya banyak para fans yang mencurahkan keinginan mereka untuk dekat dengan artis2 tersebut dengan membentuk dunia sendiri yang bernama Fanfiction.
Udahan dulu deh ocehan siang ini. Takut meleber lagi kemana-mana. Nanti digendong mbah surip lagi. Hayo, yang ngefans ama mbah Surip, ngacuung!!

Ria R. Ramadan
15.05.2011
PB C5, Yk

24 Apr 2011

An Everlasting Happiness

Sinaran mentari menerobos tirai jendela kamarku. Mengusikku dari buaian tidurku. Kuusap mataku pelan dan mendudukkan badan. Memberi jeda untuk mengaktifkan seluruh indera. Lalu mengingat ini hari apa dan tanggal berapa. Ah, ini dia. Hari yang kutunggu.

***

Kazue berjalan pelan ke kamar mandi dan membuka pintunya pelan. Ia menatap bayangan wajahnya di cermin sebelum mengusapkan air dan facial foam ke wajahnya. Menatap lagi bayangan itu, bayangan yang berbeda dari yang dulu.

Habis dari kamar mandi, ia mengambil segenggam album foto. Hasil jepretannya dulu bersama teman-teman sekolahnya. Sebenarnya tidak ingin sepenuhnya nostalgia. Hanya karena ini adalah harinya.

Ia membuka satu yang dipilihnya. Ia menatap lembar-lembar itu dengan penuh kerinduan. Di sana, di tempat yang sudah lama tak pernah ia singgahi.

***

"Kazue!" panggilan seseorang membuatnya berhenti mengunyah bekalnya. Ia menoleh. Bocah yang memanggilnya tadi terlihat mengatur nafasnya. "Ternyata kau di sini. Ayo, ikut aku."

Kazue menutup bekalnya yang belum habis dan menjawab ajakan bocah itu, "Memangnya kita mau kemana, Takeru?" tanpa bergeming dari tempatnya.

"Kak Kazumi ulangtahun. Dia mau menraktir teman-teman yang dekat dengannya. Termasuk kita. Kau gak mau melewatkannya bukan?"

Kazue tampak ragu. Ia menatap bekalnya yang telanjur terbungkus rapi. Tapi bayangan itu sedikit kabur tertutupi genangan air matanya.

"Ayolah!" Takeru menyeret Kazue tanpa pikir panjang. Dia mengoceh sepanjang perjalanan. "Hei, Kazue-chan. Kalau kau jadi dia, apa kau juga akan pergi?"

Kazue mengangkat kepalanya menatap Takeru. Sedangkan bocah itu tak menengok sedikit pun. Kazue hanya menghela napas pendek. Ia tahu, Kazumi memang sudah lama mengincar beasiswa ke luar negeri itu. Dan ia juga sama seperti Takeru, tak ingin Kazumi pergi. Terlebih ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan pada Kazumi yang tidak ia temukan pada Takeru. "Mungkin saja."

Mereka akhirnya sampai di kantin sekolah. Di sebuah meja, ia melihat Kazumi sudah berkumpul bersama beberapa senior lain. Ia sedikit ragu untuk melanjutkan langkah. Tapi tangan Takeru memandunya. Mereka berdua menghampiri meja Kazumi.

"Selamat ulang tahun brother." ucap Takeru.

"Terimakasih Takeru," Kazumi membalas jabat tangan Takeru mantap. Ia lalu berganti menatap Kazue. Tapi dilihatnya gadis itu menunduk. "Hei, gadis kecil. Apa kau tak mau memberikan ucapan selamat padaku?" Ia mengelus lembut rambut gadis itu.
Kazue mengucek mata pelan dan mengangkat wajahnya sambil tersenyum manis, "Selamat ulang tahun kak. semoga tahun ini lebih baik dan bisa belajar di luar negeri dengan baik." Ia bagai teriris-iris ketika mengucap kalimat terakhir.

Kazumi tertawa kecil dan mengacak pelan rambut sepunggung Kazue. Ia lalu menepuk pundak Kazue. "Terimakasih, gadis kecilku. Aku akan ingat terus kata-katamu ini." Kazumi ikut tersenyum manis. Ia menyuruh kedua sahabat kecilnya itu duduk. Lalu ia melanjutkan dengan pidato singkat dan memberikan semangat pada mereka agar bisa menyusulnya.

"Oya, aku pingin bilang. Kalau ada dari kalian yang gak setuju aku ke luar negeri, aku gak jadi pindah. Karena aku gak mau pergi dengan membawa air mata kalian. Yang gak mau aku pergi, silakan angkat tangan." suruhnya, tapi nampaknya tak ada yang mengacung. "Ok, kalau begitu semua setuju ya." putusnya.

Setelah itu ia menyampaikan pesan untuk teman-temannya dan pesan terakhir untuk kami berdua. "Takeru, tolong jaga Kazue. Maafkan aku karena tidak bisa bermain dengan kalian lagi. Setidaknya untuk 7 tahun ke depan." Takeru bisa melihat senyum pahit yang ada di wajah Kazumi.

Tiba-tiba ia tertawa hampa. "Kok jadi melankolis gini sih? Sudahlah, ayo silakan pesan apa yang kalian mau. Aku bayar semua, seminggu lagi kalian pasti kangen dengan kebaikanku ini."

***

Bandara, 20 menit sebelum keberangkatan.

"Kazue, Takeru. Belajarlah yang baik ya. Saling menjaga satu sama lain. Terutama kau Takeru, sebagai laki-laki kau yang harus lebih banyak menjaganya. Kalau aku pulang nanti, kalianlah yang pertama kutemui setelah keluargaku. Aku janji." Katanya sambil tersenyum.

Kazue sekuat tenaga menahan air matanya. Takeru terus merangkulnya. Tapi ia tak kuat lagi, ia menunduk dan meneteskan air matanya. Tapi Kazumi malah mengangkat wajahnya. Ia mengusap air mata Kazue dengan ibu jarinya. "Sudah kubilang, jangan menangis gadis kecilku." katanya lembut.

Kazue melepaskan tangan Kazumi perlahan. "Ini bukan air mata sedih, kak. Aku bahagia. Aku bahagia bisa melihat kakak meneruskan cita-cita kakak. Aku janji, aku akan belajar dengan baik di sini. Agar bisa menyusul kakak. Ya kan, Takeru?" ia menoleh pada Takeru yang dibalas anggukan.

"Baiklah, kalau begitu. Aku bisa tenang belajar di sana. Sampai jumpa." lalu ia berjalan ke tempat check-in bersama kedua orangtuanya. Kazue dan Takeru hanya sanggup mengantar sampai sini.

Takeru mengeratkan rangkulannya pada Kazue dan membimbingnya pulang. Ia tahu, kalau Kazue berbohong. Ia tahu, bahwa Kazue adalah orang yang paling tidak rela kak Kazumi pergi, lebih dari dirinya. Ia sangat mengerti. Karena selamanya, mata Takeru hanya untuk menatap Kazue.

***

Kazue membolak-balikkan halaman di album itu. Rautnya berubah-ubah setiap melihat lembaran baru yang dibukanya. Ia berhenti pada satu foto, yang diambil sebelum peristiwa itu terjadi.

***

Kazue, Takeru dan Aiko (teman SMA mereka) berjalan pulang bersama karena rumah mereka searah. Aiko mengajak mereka berdua mampir ke sebuah photobooth. Mereka berfoto dan setelahnya menunggu foto itu di luar. Aiko dan Takeru begitu antusias menunggu. Sedangkan Kazue malah mampir ke minimarket di sebrang jalan yang sangat sepi.

Sekeluarnya dari minimarket tersebut, Ia kembali menyebrang jalan dan menghampiri dua temannya itu. Tapi, belum sampai di seberang jalan,kantung belanjanya robek dan beberapa barang jatuh berserakan. Ia memungutinya satu per satu.

Tiba-tiba ada sebuah truk besar yang muncul dengan kecepatan tinggi. Kazue tidak sadar dan terus memunguti barang. Takeru yang tidak sengaja melihat truk itu langsung berlari menyelamatkan Kazue. Ia mendorong Kazue ke sisi jalan dan hendak menyusul.

Tapi terlambat. Truk itu menabrak tubuh Takeru yang posisinya masih setengah di jalan itu. Tubuh Takeru terpental, kepalanya menumbur bagian belakang truk dan terjatuh ke aspal. Darah mengucur dari setiap inci tubuhnya, terutama di bagian kepala.

Truk itu bablas entah kemana.

Kazue dan Aiko terpaku sejenak melihat kejadian itu. Sesaat kemudian mereka sadar, dan menghampiri sosok Takeru yang lemas tak berdaya. Aiko langsung menelpon rumah sakit untuk memanggil ambulan. Sedangkan Kazue terpaku lemas di hadapan tubuh Takeru. Ia mengangkat kepala Takeru dan meletakkannya di pangkuannya. Ditatapnya wajah Takeru. Matanya terpejam. Kazue membelai wajah sahabat kecilnya itu, berharap ia membuka matanya. Airmata Kazue terus mengalir sampai ambulans tiba dan membawa mereka bertiga ke rumah sakit.

Kazue terus menunggui Takeru di rumah sakit. Aiko sudah pulang karena harus mengikuti les bahasa Inggris. Lalu ia melihat bibi Ayame, ibu Takeru, lari tergopoh-gopoh bersama Paman Kazuya menghampirinya. Bibi Ayame bertanya panik lalu Kazue menjelaskan semuanya. Matanya basah lagi, merasa bersalah karena dialah penyebab semua ini. Bibi Ayame memeluknya erat. Paman Kazuya mengusap punggung mereka berdua yang larut dalam air mata.

Ketika hari beranjak malam, orangtua Takeru memaksanya pulang. Karena besok pagi ia harus sekolah. Sesampainya di rumah, ia mencoba menghubungi nomor kak Kazumi, hendak mengabarinya. Tapi berkali-kali ia mencoba tetap tidak diangkat. Akhirnya ia menyerah dan mencoba lagi besok.

Esoknya, tetap nomor pemberian kak Kazumi itu tidak menjawab telponnya. "Baiklah. Mungkin ada sesuatu yang menghalanginya."

Kazue tidak lagi konsen dalam pelajarannya. Matanya hanya tertuju pada bangku kosong di sebelahnya. Secepat bel sekolah berbunyi, secepat itu juga ia berlari meninggalkan sekolah menuju rumah sakit.

Gadis bermata bening itu mencoba memperbaiki mukanya sebelum membuka pintu ruang ICU, tempat Takeru dirawat. Ia masuk dan melihat ketenangan di wajah paman Kazuya. Lalu ia melihat bibi Ayame yang sedang duduk di samping putranya. Ia tersenyum tipis melihat Kazue datang. Dan menoleh lagi pada Takeru. Mata Kazue beralih dan mendapati Takeru memandangnya. Ia mendekat, bibi Ayame bangkit dari kursinya dan keluar bersama paman meninggalkan mereka berdua.

***

Aku duduk di kursi yang tadi ditempati bibi Ayame. Memandang kepada sahabatku yang nampak tak berdaya. Aku menggenggam tangannya, menyalurkan kehangatan padanya. Air mataku mengalir lagi. Tangannya hendak mengusap wajahku, tapi kutahan.

"Jangan menangis." katanya. "Kau kan sudah berjanji pada kak Kazumi tidak akan bersedih lagi. Lagipula kau terlihat bodoh jika sedang menangis." ia tertawa hambar.

Kata-katanya malah membuat air mataku lebih lancar mengalir. "Kau, jangan tinggalkan aku." pintaku. "Kita kan sudah janji untuk menyusul kak Kazumi berdua. Kau dan aku. Kita." air mataku terus mengalir semakin deras.

"Maaf. Maafkan aku. Saat ini aku tidak yakin bisa memenuhi janji itu. Semalam aku mendapat pertanda.." omongan Takeru terhenti karena telunjukku mengunci bibirnya.

"Jangan.. kumohon jangan katakan itu! Kau harus sembuh, kau harus bisa pulih lagi. Kau kan janji akan terus menjagaku. Iya kan?" Takeru hanya bisa diam menatapnya. "Takeru. Take-chan. Jangan tinggalkan aku sendiri. Kak Kazumi sudah tidak di sini. Kalau kau pergi, aku harus bagaimana?" Aku menangis kencang dan menggenggam tangannya erat. Membenamkan wajahku di sisi Takeru.

"Kazue-chan.. Mungkin aku harus memberitahumu sesuatu." Aku mengangkat kepalaku. Menyimak kalimat yang akan dia sampaikan. "Sebenarnya, sejak SMP aku sadar. Aku mencintaimu."

Aku tersentak, tak percaya dengan apa yang sahabatku ini bilang. "Apa? Kau serius?"

Ia mengangguk lemah. "Percayalah. Aku mulai menyadari, ada sesuatu yang berbeda dari sekedar sahabat yang kurasa padamu. Lambat laun aku memerhatikanmu. Wajahmu yang tersenyum yang membuatku bahagia, aku yang ingin menghiburmu saat kau sedih. Dan aku yang menyadari bahwa kau mencintai kak Kazumi. Wajahmu yang tersenyum saat melihatnya, buatku bahagia sekaligus sakit. Tapi kebahagiaan itu mengalahkan rasa sakitku."

Aku mengeratkan genggamanku pada Takeru. Menatap senyumnya. Wajah itu begitu bersinar penuh harapan.

"Aku senang melihatmu bahagia. Maka dari itu, aku tak ingin melihat airmatamu, lebih daripada kak Kazumi. Aku ingin menjagamu semampuku, tapi ternyata takdir berkata lain. Sebentar lagi aku harus pergi. Mungkin ini giliran kak Kazumi menjagamu." Takeru menghela napasnya, tersengal. "Berjanjilah. Setelah aku pergi, carilah kak Kazumi. Minta ia untuk menjagamu, kalau bisa untuk selamanya. Sebab hanya dia yang aku percaya. Belajar yang baik, agar kau bisa menyusulnya."

aku mengangguk. Tak rela melihatnya kecewa.

"Sudah. Mungkin ini saja yang bisa kusampaikan. Bisakah kaupanggilkan orang tuaku di luar?" Ia memintaku halus. Kulihat airmata pun mengambang di mata hitamnya.

Aku mengangguk dan keluar, memanggil orangtuanya. Paman dan bibi masuk, sedangkan aku menunggu di luar. Tak berapa lama, aku mendengar bunyi menyengat dari dalam ruangan Takeru. Aku pun melepas tangiku kencang.

***

Aku menitikkan air mata mengingat kejadian itu. Dan harapanku akan kedatangan kak Kazumi tidak juga terkabul. Bahkan sampai tiga bulan setelahnya, saat dia menelpon ke rumah Kazue. Ia hanya mengucapkan belasungkawa dan bilang tidak bisa datang karena sibuk adaptasi dengan dunia perkuliahan. Dia juga bilang kalau nomor yang waktu itu dikasih dicuri orang. Jadi tidak bisa dihubungi.

5 bulan setelah telpon itu aku mendapat kabar gembira. Aku lulus beasiswa ke Perancis. Aku sangat senang, karena kak Kazumi juga berada di sana. Aku menyiapkannya dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, di sinilah aku berada.

Kututup album foto terakhir itu. Lalu memasukkannya lagi ke dalam laci di bawah rak buku.

Aku beranjak mandi. Karena setelahnya aku hendak berbelanja. Hari ini, 24 April 2011, aku akan memasak makanan yang istimewa.

***

Aku berjalan tergesa-gesa ke basement. Hingga tak sengaja menabrak seseorang di depan Délicafé. Barangku dan miliknya tercecer. Aku memunguti barangku.

"Désolé, tu vas bien? are you okay?" Tanya orang itu.

"Oui. I'm okay." Aku mendongak. Lalu kami terkejut, saling mendapati bahwa kami mengenal satu sama lain. "Kazumi-san?" tanyaku.

"Kazue-san?" balasnya. Kami tertawa kecil. Lalu ia mengajakku minum kopi di Délicafé. Ia membantuku membawa barang.

***

"Gak nyangka deh, bisa ketemu kamu di sini." Kazumi mengajaknya bicara menggunakan bahasa Jepang, agar lebih akrab. "Genki desu ka?"

"Hai. Genki desu. Aku juga gak nyangka bisa ketemu kak Kazumi di sini." Ia menghela napas dan teringat sesuatu. "Oya, kak. Selamat ulang tahun ya!"

Kazumi tertawa keras. "Ternyata kamu masih ingat. Aku saja sudah hampir lupa. Makasih ya. Sebagai gantinya, aku yang bayar."

"Terserah kakak. Hehe." jawabnya bahagia. Percakapan antara keduanya mengalir hangat. Kazue menceritakan peristiwa kecelakaan yang dialami Takeru. Sesekali Kazumi mengungkapkan kesedihannya yang belum bisa mengunjungi makam Takeru. Kazue juga jadi teringat akan sahabat mereka itu. "Seandainya dia ada di sini bersama kita."

"Iya. Itu akan lebih baik." Kazumi menyesap kopi untuk kelima kalinya. "Oya, apa dia sudah bilang padamu?" Ia menatap Kazue serius.

"Tentang apa?"

"Tentang.. perasaannya." wajah Kazumi menyiratkan rasa bersalah.

"Oh, itu. Sudah kak. Dia bilang sebelum dia 'pergi'. Dia jugalah yang menyuruhku untuk berusaha mencari kakak. Dan.. meminta kakak untuk menjagaku."

"Hm, begitu ya? Baiklah kalau sudah begitu. Lagipula, kita tinggal berdua sekarang. Harus saling menjaga."

Kazue sedikit berdebar mendengar kata 'berdua' dan 'saling menjaga' dari mulut Kazumi. Wajahnya merona merah.

"Kazue, kau tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan cantik, ya." Kazumi menatapnya penuh arti. "Hm, rasanya aku benar-benar ingin menjagamu selamanya."

Kazue dan Kazumi merasakan debaran masing-masing. Kazumi mengatur napasnya sebelum melanjutkan.

"Bagaimana kalau, aku menikahimu?" ucap Kazumi gugup. "Would you be my wife, my little girl?"

Debaran hati mereka berdua membuncah mendengar kalimat itu keluar dengan sempurna. Tak perlu pengulangan lagi. Rona merah menguasai wajah keduanya. Dan hawa panas seakan menyelimuti tempat duduk mereka.

Kazue berpikir sejenak. Lalu ia menggeleng.

Kazumi kaget menatapnya, serasa hatinya robek. "Kenapa?"

Kazue menjawab, "Tidak sekarang,kak. Kita masih sekolah. Tunggulah hingga aku lulus. Aku siap menerimamu." jawabnya mantap dengan muka semerah semangka.

Kazumi tersenyum menatap gadis kecil kesayangannya. Gadis itu pun membalas dengan senyuman termanis yang pernah ia berikan. "Arigatou Kazue-chan, my beloved little girl." Ia memeluk Kazue penuh kelembutan. Lalu melepaskannya.

5 tahun kemudian, Kazue lulus dengan predikat Cum laude yang sangat memuaskan. Membuat ayah ibunya bangga dan mengabulkan permohonan gadis itu. Gadis itu hanya meminta izin ayah dan ibunya untuk menikah dengan Kazumi. Kazumi yang lulus dengan predikat yang sama setahun sebelum Kazue dan telah bekerja di sebuah perusahaan di Jepang, juga mengajukan proposal pada orangtuanya. Keempat orangtua menyetujui dengan syarat melangsungkan pernikahan mereka di Jepang. Dan pernikahan itu pun berlangsung dengan khidmat. Tak lupa mereka mengunjungi Takeru di pusaranya.

"Takeru, terimakasih telah menepati janjimu untuk menjaga gadis di sampingku ini. Kalau bukan karenamu, aku mungkin tak bisa bertemu dengannya lagi. Lihatlah, kini ia sudah menjadi gadis yang cantik, dewasa dan cerdas. Dan aku sudah menikahinya. Aku berjanji akan menjaganya sepenuh jiwa raga seperti yang kaulakukan." ucap Kazumi di depan pusara Takeru.

Kazumi mundur dan memberi tempat untuk istrinya. "Takeru, terimakasih dan maaf." sambung Kazue. "Terimakasih telah menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Seandainya kau tak ada di sana, entah aku masih bisa berdiri di sini dan tersenyum padamu. Senyuman bahagia yang kauharapkan, yang membuatmu ikut bahagia." Kazue mulai terisak. "Juga, maafkan aku. Karena aku kau harus menderita. Maafkan aku Takeru, karena kau harus merelakan nyawamu untukku. Merelakan dirimu untuk membuatku tersenyum. Dan maafkan aku, yang tak pernah menyadari bahwa kau mencintaiku sehingga mampu berbuat seperti itu." Kazue mengelus pusara Takeru seakan wajah Takerulah yang ada di sana. Perlahan ia mundur kembali.

"Takeru, semoga kau tenang dan bahagia di sana. Amin." doa sepasang pengantin baru itu.

Kemudian mereka membungkuk hormat dan berjalan meninggalkan pusara Takeru. Takeru menatap mereka dari atas langit dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia berikan.

The End.

---

Rimie Ramadan
24.04.2011

gimana, gimana?? komentarnya yaa.. saya publish di fb juga ding..
makasih dah baca en komen.. :D

23 Apr 2011

The Heaven is to Be with You - part 2



Senyuman tak lepas dari wajah Kangin pagi ini. Ia begitu gembira melihat wajah sepupunya berseri-seri dan sering senyum sendiri. Ia yakin, pasti ada sesuatu yang terjadi antara Jungmo dan wanita yang kemarin ditemuinya. Sekarang Jungmo tampak bersemangat dalam membuat lagu. Kangin bersyukur akan kehadiran Jung Rimhee. Juga temannya waktu itu.

“Jungmo-a.” pria itu menoleh malas tanpa menjawab, merasa terganggu dari keasyikannya. “Apa hari ini kau akan menemui wanita itu lagi?”

“Jung Rimhee-ssi maksudmu?” Kangin mengangguk. “Ya! Sesekali kau sopan sedikit kenapa? Bisa ambigu hanya dengan menyebut ‘wanita itu!’” Bentak Jungmo.

“Ya.. ya.. ya.. ya!! Tumben sekali kau membela seorang wanita begini. Apalagi baru kenal kemarin.” Pria bertubuh besar itu mendekatinya. “Apa karena dia, seorang Jung Rimhee, mampu mengubah Tuan dingin nan apatis terhadap perempuan menjadi hangat dan melindungi seperti ini?” Jungmo memalingkan wajahnya pada gitar kesayangannya.
“Memang apa urusanmu?” ia berusaha menutupi rasa canggungnya.

Lalu terdengar pintu studio terbuka lebar. Heechul dan Jay Kim masuk bersamaan. Lalu Heechul mendekat ke arah Jungmo mesra. Refleks Jungmo menghindar.

“Ya! Gammo the Rock Guitar. Kenapa kau menjauhiku? Kau marah huh?”

Jungmo gelagapan. “A..anni. Aku hanya tidak suka. Tolonglah, Heecchul-a. Berhenti bertingkah begitu padaku, kumohon..” semua tampak heran, kecuali Kangin. Kangin menepuk pundak Heechul.

“Sudahlah hyung! Ayo, kita latihan. Show nya 3 hari lagi kan?” Ia membujuk hyungnya yang kepala superbatu itu. Dengan wajah cemberut, Heechul pun menurut.
Mereka pun mulai menuju alat masing-masing dan mulai berlatih. Mereka dengan serius berlatih, karena tiga hari lagi, debut mereka sebagai Band of Brothers dimulai.

Jungmo nampak berkali-kali mencuri pandang ke jam dinding. Heechul yang sudah kesal dari awal memerhatikan tingkah aneh saudara jauhnya itu, tapi tidak berani mengganggu. Takut kalau-kalau Jungmo benar-benar marah padanya.

Setelah 1 jam berlatih, Kangin meminta istirahat. Ia kelaparan dan haus. Padahal sebelum ke studio dia sudah makan 2 mangkuk ramyeon ditemani Jungmo. Sekarang ia memaksa Heechul menemaninya. Awalnya Heechul ragu, nampak ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan pemuda yang masih sedikit mengutak-atik gitar di sudut. Tapi Kangin terlanjur melingkarkan tangannya di leher putih cinderellaman itu. Sehingga Heechul menurut saja apa kata Kangin.

Beberapa saat setelah mereka pergi, Jungmo tampak buru-buru melepas gitar kesayangannya dan berlari keluar. Jay Kim yang ditinggal sendirian memanggilnya, “Hei, Jungmo! Kau mau ke mana?”

Jungmo tak menjawab. Ia berlari ke luar gedung studio. Ia membungkukkan badannya. Sejenak berikutnya, suara meletup berkali-kali terdengar. “Ah, legaa.” Jungmo menarik napas sambil memegang perutnya yang tidak berat lagi.

Saat ia hendak berdiri kembali, seseorang menepuk pundaknya keras dan napasnya tersengal-sengal. Ternyata Jay Kim. “Hyung. Kenapa kau mengikutiku?”

Jay Kim melepas tangannya dan malah menunjuk-nunjuk Jungmo. “Kau, kau! Berani-beraninya, meninggalkan hyungmu sendirian di tempat seperti itu!”

Jungmo baru ingat kalau hyungnya itu takut dengan alam gaib. Lalu ia tertawa. “Ah, iya hyung. Mianhe, aku lupa. Habis, aku gak tahan lagi.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul 2.15 pm. Tapi sosok yang ditunggunya belum juga datang. Akhirnya gadis itu memutuskan menghampiri pemain piano yang sedang memainkan Minutes Waltz. Sejak kemarin ia tertarik dengan permainan orang itu yang sangat indah dan halus. Tampak menceburkan seluruh jiwanya ke dalam bait-bait nada yang ia mainkan. Ia begitu penasaran, seperti apa rupa pemain piano ini.

Jaejoong yang merasa ada ketukan bunyi yang berada di luar permainannya, membuka kelopak matanya. Ia menatap ke arah gadis yang memandangnya dari sisi panggung. Oh, rekan kerja Jungmo hyung. Gadis itu terus menatapnya. Kagum. Tapi juga, seperti.. rindu? Mungkinkah? Entahlah. Ia tak peduli. Dan Jaejoong mengakhiri lagunya dengan manis, diikuti tepukan gadis itu dan pengunjung lainnya.

***

Jungmo POV

Baru saja aku melangkah masuk ke dalam kafe, tetapi aku merasa menyesal. Ada rasa tak suka saat melihat dia ada di sisi panggung dan terus menatap Jaejoong. Tanpa terasa kepalan tanganku mengeras. Sejenak kemudian Jaejoong mengakhiri lagunya dan disambut oleh tepukan dari penonton, termasuk dia. Aku menghampirinya dan menepuk bahunya.

“Ah, annyeong Jungmo-ssi.” Ia membungkuk pelan setelah melihat wajahnya terkejut melihatku.

“Annyeong, Rimhee-ssi. Sudah lama?”

Ia menggeleng pelan. “Tidak, baru 15 menit yang lalu.”

“Ah, mianheyo. Tadi sedikit ada masalah di studio.”

“Gwenchana Jungmo-ssi. Kalau begitu, mari kita duduk.” Ia mempersilakanku duduk di meja yang dipilihnya. Aku memanggil pelayan dan memesan kopi. Aku tidak menawarinya, karena di meja tadi sudah ada chocolate milkshake yang sudah hilang seperempatnya.

“Begini, Rimhee-ssi.” Aku berdehem. “Sebenarnya hari ini, aku ingin mengajakmu ke lokasi tanahku itu. Bagaimana?”

“Ya. Kurasa itu ide yang bagus. Oya, aku akan menghubungi teman-temanku dulu.” Rimhee mulai membuka tasnya mencari ponselnya.

“Ehm, teman?” tanyaku heran.

“Iya. Begini, kemarin Pak Minho menawariku dua orang asisten beliau untuk menemaniku dalam proyek ini. Karena sejujurnya, aku baru akan menjadi arsitek tim bila lulus ujian kali ini.” Jawabnya polos.

Aku tambah heran. Aku bertanya lagi. “Maksudmu, kau ini bukan arsitek sungguhan? Lalu, ujian itu maksudnya apa?”

“Belum, jangan bilang bukan. Ujiannya ya, proyekmu ini.”

***

“Mwo? Rumah pribadiku mau dijadikan bahan percobaannya?” Aku menatap takut ke arah gadis di sebelahku. Tanganku masih fokus di atas setir Ferrari hitam hadiah dari ayahku ini.

“Tenang saja, Jungmo-ssi. Desain yang kubuat memang tidak sebagus Minho-ssi. Tetapi, menurut beliau ide desainku unik dan segar. Makanya beliau mau mengangkatku lebih cepat daripada periode yang biasa dia berikan pada teman-teman. Percayalah padaku, Jungmo-ssi.”

Kata gadis itu tadi, sesaat sebelum pergi. Lagi,aku menatapnya. “Baiklah, sementara ini aku percaya. Tapi awas, kalau ada yang gak beres, habislah kau.”

Saat ini di dalam mobilku hanya ada kami berdua. Aku menyuruhnya untuk mengsms dua temannya agar menyusul ke lokasi. Tiba-tiba terlintas ide untuk mengerjainya. Kukencangkan sabuk pengamanku, Masukkan kopling, ganti gigi 4, tancap gas, dan memulai Wild Driving andalanku. *inget variety show BoB?

Rimhee tampak kaget dan air mukanya berubah ketakutan. Aku menahan tawa melihatnya. Ia menoleh padaku sekali-kali. Mukanya seperti bertanya padaku, “Kau kesurupan?” tapi aku tak peduli dan terus menatap jalan lurus sepi nan mulus di hadapanku.

***

“Haah..” Rimhee turun dari mobilku sambil menghela nafas. Tubuhnya terlihat tak berdaya.

“Hei, kau baik-baik saja nona?” kataku padanya. Ia hanya mengangguk lemas. “Perlu kuantar masuk ke dalam?” Tawarku sambil memegangi pundaknya. Tapi ia menepisnya.

“Terimakasih tapi tidak perlu, Jungmo-ssi. Aku bisa sendiri.” Tapi, sedetik kemudian tubuhnya terjatuh di tanganku. Ia pingsan.

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya? Apa ini karena Wild Drivingku?” Aku terpaksa menggendongnya menuju pintu depan rumahnya.

Kuketuk pelan pintu rumahnya. Kulihat seorang wanita membukakannya. Ia kaget melihat Rimhee di gendonganku dan menyuruhku membaringkannya di sofa. Lalu wanita itu memanggil seseorang. Dan muncullah seorang pria yang cukup tampan. Nampak lebih muda dariku. Lalu aku menjelaskan semuanya tak lupa memperkenalkan diri.

“Oh, begitu. Jadi kau Kim Jungmo itu? Aku Jung Yonghwa, kakak satu-satunya gadis ini.” Ia menyentuh kening adiknya itu. “Ah, nampaknya dia hanya demam. Seohyun-a, tadi dia tak sarapan dan belum makan siang kan?”

Wanita di sebelahnya menganggukkan kepala. “Iya, dari tadi dia gak keluar kamar deh. Cuma ke kamar mandi aja kuliat.”

Ya Tuhan, apakah dia seperti itu setiap hari? “Mian, lancang. Tapi, apa yang dilakukannya seharian di kamar seperti itu?” aku memberanikan diri bertanya.

“Bekerja, seperti biasa. Ia ingin lulus ujian ini secepatnya. Sudahlah, Jungmo-ssi. Tak usah dipikirkan. Kami akan merawatnya. Paling besok dia sudah sehat lagi. Terimakasih sudah mengantarnya. Kau bisa pulang sekarang.”

Aku pun pamit dan pulang ke apartemen. Dengan penuh rasa bersalah.

Jungmo POV end

***

Di sebuah taman kota tak jauh dari kafe Paradise.

Jung Rimhee tidak percaya dengan apa yang disaksikannya. Dia benar-benar sangsi bahwa salah satu dari empat manusia di atas panggung adalah kliennya. Kemarin, kliennya itu datang ke rumah dan memberinya tiket konser. Tapi pria jangkung itu langsung pergi begitu saja. Dan ia datang ke sini, dengan membawa kertas-kertas berisi konsep desain yang sudah hampir matang. Agar selesai konser ini, ia bisa berdiskusi dengan sang klien.

Mendadak riuh penonton di dekat gadis itu membahana. Dilihatnya seorang gitaris yang sangat ia kenal sedang berjongkok di panggung di hadapannya dan memainkan gitar itu dengan jenius. Seakan memamerkan kemampuannya pada dirinya. Gadis itu terpaku tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah kliennya itu.

Gammo lalu berdiri dan berjalan ke sisi lain panggung. Cengirannya tampak bahagia. “Aku tak lebih buruk dari Jaejoong kan, hah?”

Sementara itu Jaejoong yang berada agak jauh dari panggung menyaksikan kakaknya dan sepupunya hanya tersenyum melihat aksi tadi. Jaejoong berbalik dan mencari toilet terdekat. Selesai dari toilet, ia bertabrakan dengan seorang gadis. Gadis itu terjatuh dan hak alas kakinya patah.

“Aah..” gadis itu meringis. Sepertinya kakinya keseleo.

“Mianhe, agasshi..” Jaejoong hendak menolongnya. Tapi saat ia menatapnya, gadis itu hanya menatapnya kaku. Jaejoong tersadar dan buru-buru menutup mulutnya. Karena gadis itu adalah Jung Rimhee.

Di tempat lain, Lee Ahri yang datang diam-diam hendak mengejutkan Kangin, sejak saat bertemu mereka menjadi akrab seperti sodara, sedang mengantri di kios minuman. Ia sedang menimbang, apakah membeli minuman untuk angin dan dirinya saja, atau sekalian keempat member grup band itu. Kangin sudah menceritakannya beberapa saat lalu.

Kemudian seorang pria yang mengantri di depannya di depannya berbalik dan menyenggolnya. Tanpa sengaja minumannya tumpah dan mengotori baju Ahri. Tapi pemuda itu terus berjalan, tidak menoleh sedikitpun. Ahri geram, tapi melihat pemuda itu berjalan pelan, ia menunggu minumannya selesai dibuat baru melabraknya.

“Ya! Ahjussi!!” bentaknya setelah menghampiri pemuda itu yang duduk di salah satu bangku di luar kerumunan penonton. “Ahjussi!!” matanya menatap sangar.

Pria itu masih santai menikmati minumannya.

Ahri yang sudah habis kesabarannya, membuka gelas minuman miliknya dan menumpahkan sedikit ke kaki pemuda tersebut yang langsung bangkit dan mengusap lututnya yang terkena basah.

“Kau mau cari gara-gara huh?” tanyanya kasar.

Ahri menutup gelasnya kembali dan menyedotnya membelakangi pemuda itu.

“Ya!!” panggil ahjussi itu lagi. “Kau, aku bicara padamu tau!” sambil membalikkan tubuh Ahri.

“Mwo? Kau memanggilku? Oh, baiklah apa maumu, ahjussi aneh?” Ahri menaruh minumannya dan Kangin di bangku. Melipat tangannya dan menatap tajam manusia di depannya.

“Seenaknya kau sebut aku Ahjussi Aneh! Namaku Kim Kyujong! Dan kau, sudah menumpahkan minuman ke celanaku, tau! Kau harus minta maaf!”

“Lho, bukankah itu wajar? Anggap saja karma, kau kan juga melakukan hal yang sama padaku! Lihat ini!” Ahri menunjuk bagian bajunya yang terkena minuman manusia bernama Kyujong itu. Kyujong mendelik melihatnya.

“A.. a.. ah, mi.. mian.. mianheyo. Aku tidak sengaja.” Kyujong gugup dan langsung berbalik pergi.

Ahri tersenyum puas. “Huh, dasar ahjussi aneh. Siapa namanya tadi? Kyu.. jong? Oke, aku akan mengingatnya.” Ia segera mengambil minumannya dan berjalan ke belakang panggung.

***

“Jungmo-ssi!” panggil Rimhee saat konser telah selesai.

Jungmo yang sedang mengepak gitarnya menoleh dan tersenyum. Ia segera menutup tempat gitar dan soundsystem tambahan, lalu berjalan ke arah wanita itu. “Tidak perlu formal seperti itu. Panggil aku Jungmo saja, atau Gammo.” Ia menatap Rimhee.

Rimhee mengernyitkan kening. “Waeyo?” ucapnya polos.

“Pakaianmu. Terlihat lebih asyik.” Rimhee memandang dirinya yang memakai kaos lengan pendek, celana jeans dan sandal, yang baru dibelinya di sekitar situ. “Ayo, kita cari tempat yang enak, baru bicara.”

Mereka duduk di sebuah bangku taman berhadapan. Jungmo mulai membuka percakapan.
“Terimakasih, sudah mau datang ke konser kami.”

“Ah, anni. Aku yang harusnya berterimakasih. Ah, selain itu ada hal yang mau kusampaikan.”

“Apa itu?”

“Tentang proyek itu. Aku sudah hampir menyelesaikan konsepnya, tapi aku ingin mendengar pendapatmu. Bagaimana?” Jungmo mengangguk. Lalu mengalirlah pembicaraan tentang proyek mereka itu. Tanpa mereka sadari, hari sudah semakin sore dan beranjak malam.

Kruyuuuk~

Perut Rimhee berbunyi. Ia menunduk malu. Jungmo tertawa kecil. “Baiklah, kita sudahi dulu diskusinya. Kita makan dulu saja. Aku juga sudah lapar. Kajja!”
Jungmo memilih salah satu restoran yang searah dengan rumah Rimhee. Biar sekalian mengantarnya pulang. Mereka makan tanpa ada obrolan apapun.

“Ah, kenyang. Terimakasih Jungmo-ssi, eh, Gammo-a.” Jungmo menatap puas dengan perut yang terisi.

“Lain kali bilang kalau kamu lapar. Jangan sampai pingsan lagi kayak dulu.” Ucapnya. Mereka berdua tertawa dengan ekspresi berbeda. Muka Rimhee memerah malu.

“Oya, Gammo-a. Apa Jaejoong-ssi, ah maksudku pemain piano di kafe itu adalah sodaramu?”

“Iya. Dia adikku. Memangnya kenapa?” hati Jungmo merasakan sesuatu yang tidak enak.

“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Hanya penasaran aja. Kalian kakak beradik kandung? Tapi kok aliran musiknya beda?” tanyanya polos, tanpa menyadari tatapan lain di mata Jungmo.

“Ya, dia memang lebih suka klasik. Karena eomma yang mengajarinya dari kecil. Sedangkan aku, sedikit muak dengan klasik, sehingga aku beralih ke musik rock.” Rimhee hanya manggut-manggut. “Tapi aku bisa juga lho, mainin klasik, bahkan medley klasik-jazz-rock-blues. Mau dengar?”

“Lain kali saja, Jungmo-ssi. Sudah malam, aku khawatir Yonghwa oppa mencariku.”
“Baiklah, tidak baik juga wanita pergi malam-malam.” Mereka berdua bangkit lalu Jungmo membayar di kasir sementara Rimhee menunggu di luar. Mereka lalu bergegas pulang.

***

How is it? How is it? Ah, mianhe kalo bertele-tele banget bahasanya. Maklum, masih belajar. Hehe.. Komentarnya yaa.. :D

Ria R. Ramadan
23.04.2011

21 Apr 2011

The Heaven is to Be with You

Cast :
1. Jung Rimhee aka Rimie Ramadan
2. CN Blue's Jung Yonghwa as Rimhee’s oppa
3. SNSD's Seohyun as Yonghwa’s wife
4. TRAX's Kim Jungmo as Kim Jungmo
5. TVXQ's Kim Jaejoong as Jungmo’s brother
6. Lee Minho as Rimhee’s boss
7. Lee Ahri as Minho’s sister and Rimhee’s best-friend aka Ari Watanuki
Other cast : Moon Ahyoung(Uti), Krystal(Eka), Suju's Kangin(Kim Youngwoon), Kang Hyesoo(fiktif), TRAX's Jay Kim

Hope you enjoy that!! ^o^

---
Pagi yang cerah mengiringi semangat langkah gadis itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Segera ia menyimpan tasnya dalam laci meja kecil di samping meja gambarnya lalu beranjak ke mesin pembuat kopi. Namun, belum sempat ia menyesapnya, seseorang menepuk pundaknya.

“Ya! Jung Rimhee, kau dipanggil bos ke ruangannya tuh. Chukkae.” Seringai tipis
terbit dari bibir seorang Kang Hyesoo. Laki-laki yang ruangannya tepat di sebelah Rimhee. Hm, mau apa si bos? Tumben dia memanggilku.

Rimhee berjalan ke arah ruangan bosnya dengan wajah penuh tanda tanya. Sesampainya di depan pintu bertuliskan Chief Architect : Lee Minho, ia pun memberanikan diri mengetuk pintu. Suara dari dalam mempersilakannya masuk.

“Bapak memanggil saya?” ia memberi hormat.

“Terimakasih telah datang. Silakan duduk dulu, Jung Rimhee.”

Setelah nyaman duduk, Pak Lee Min Ho mulai bicara, “Nona Jung Rimhee, aku ingin memberi kabar gembira kepadamu.” Ia menyilangkan jarinya dan menarik nafas. “Aku mempertimbangkan kenaikan jabatan untukmu dari drafter menjadi arsitek tim.”

Jung Rimhee berusaha menahan senyumnya. Ia tak mau terlalu gembira, karena kabar itu belum tuntas sepenuhnya. Ia kembali menyimak perkataan bosnya itu.

“Tapi kau tahu sendiri. Aku tidak akan memercayai orang begitu saja. Walaupun kinerjamu selama ini cukup baik, aku belum tahu kemampuan melobimu sejauh apa.” Rimhee mengangguk. “Untuk itu, aku ingin mengetes kemampuanmu. Anggap saja ini sebagai ujian.”

Lee Minho memundurkan kursinya dan nampak mencari sebuah map di antara tumpukan map di mejanya. Setelah ketemu, ia melemparnya dan mendarat tepat di depan Rimhee. Lalu kembali mendorong kursinya ke tempat semula.

Ia menunjuk map yang sedang ditatap bingung oleh gadis di depannya. “Ada seorang klien meminta didesainkan rumah pribadi konsep taman surga. Data-data klien tersebut ada di sini. Dia memintamu bertemu dengannya tiga hari lagi. Jika kau sukses dan ia tertarik dengan gagasanmu, maka kau diterima sebagai arsitek tim sekaligus aku akan menunjukmu langsung untuk proyek ini. Mengerti?”

Wanita itu tersenyum sumringah dan menjawab, “Ya, saya mengerti.”

“Baiklah, kau boleh pergi. Dan jangan lupa, tiga hari lagi di kafe Paradise.”

***

Di tempat lain, sebuah apartemen di kota Seoul.

“Ya! Kangin-a! apa hari Kamis besok kau kosong?.. Kosong? Gimana kalau kau temani aku menemui seseorang?.. Ha? Bukan, bukan kencan! Nanti saja kuceritakan, oke?.. Ah, tidak! Serius, ini bukan kencan. Hahaha. Aku kan tidak sepertimu. Ya sudah, sampai ketemu hari Kamis ya!” Pemuda itu menutup telponnya. Lalu ia beralih ke Kim Jaejoong, laki-laki yang sedang sibuk di depan keyboard.

“Joongie-a. Kau, hari Kamis ada jadwal di kafe nggak?”

Jaejoong mengangguk pelan.

“Aku bisa minta tolong nggak?” Tanya pemuda itu lagi. Kim Jaejoong mengisyaratkan ‘Ada Apa?’ dengan menepukkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya lalu ke dada kirinya.
***
Hari Kamis, di kafe Paradise

Pagi itu, kafe masih sangat sepi. Hanya ada dua meja yang ditempati sepasang muda-mudi dan dua orang pria paruh baya yang sepertinya sedang diskusi. Piano putih di sudut itu pun masih tertutup kain putihnya dengan sempurna. Baru kicauan burung yang memberikan melodi riang saat Jaejoong datang.

Jaejoong ke kamar mandi dulu untuk mematut rupa. Selanjutnya ia bergerak menuju piano putih itu dan membuka penutupnya. Ia merapikannya dan meletakkan di rak khusus yang terdapat juga buku-buku penuh partitur lagu yang cukup lengkap. Beberapa buku ditulis oleh Jaejoong sendiri.

Jaejoong membuka kap dari Grand piano itu agar suaranya lebih menyiratkan pesan yang ingin disampaikan lewat lagunya. Ia lalu menarik kursi dan duduk di atasnya. Ia menarik nafas sejenak. Saat jemarinya mulai menyentuh tuts, dua pria dan sepasang kekasih di kafe tersebut beralih pandang. Fokus pada seorang pemuda yang memainkan piano di sudut sepenuh jiwa. Bahkan pekerja yang ada di tamu itu ada yang memejamkan mata, menikmati.

Selesai lagu pertama, Jaejoong melirik jam dinding di kafe tersebut. Penonton yang sudah mulai bertambah dua meja, bertepuk tangan, tapi tak digubrisnya.

“Kalau ada seseorang yang duduk sendirian, dan tampak mencari seseorang, kau sms aku ya dik!” ia mengingat pesan kakaknya itu dengan seksama, “Bilang juga apakah dia laki-laki atau perempuan.” Jaejoong tersenyum kecil, ia sangat tahu kalau alergi kakaknya terhadap perempuan itu belum sembuh benar. Dan ia mulai memainkan lagu kedua. “Dia akan datang sekitar jam 9.”

Sementara itu, Rimhee baru saja akan berangkat jika tidak mendapat telepon dari sahabatnya, Lee Ahri, yang juga adik semata wayang bosnya. Ahri bosan dan mengajaknya untuk bermain. Tapi Rimhee menolak, malah mengajak Ahri menemui kliennya. Tak disangka, Ahri tertarik. Alhasil, Rimhee harus menjemputnya dulu sebelum ke kafe.

Setelah Ahri duduk di mobil Rimhee, Rimhee mulai menyalakan mesin sambil berkata, “Ahri, kamu boleh ikut. Tapi inget..”

“Jangan bilang-bilang Minho oppa kalau kau mengajakku. Ya kan? Cih, aku sudah hafal.” Ia mendengus kesal. “Yang penting aku keluar dari Sangkar Emas itu. Heerrggh.” Ia menekankan kata sangkar emas, menyindir rumahnya yang dijaga ketat.
Rimhee terkikik geli. Sahabatnya ini memang seorang anak pengusaha terkenal yang punya stok bodyguard lebih banyak dibanding presiden. Dan tampaknya kakaknya mewarisi bakat ‘laku’ ayahnya. Hehe.

Ia terus melaju hingga tiba di tempat yang dijanjikan. Ia dan Ahri pun keluar dari mobil. Sejenak ia mengagumi nuansa putih dengan detail pilar-pilar doric Yunani dan Air terjun di kedua sisi pintu masuk. Kesan terbuka sangat ditonjolkan dalam desain kafe ini. Apalagi dengan atap tenda yang disusun dengan rangka yang ditinggikan dari posisi balok. Istimewa.

“Hei!” Ahri menepuk punggung sahabatnya. “Jangan bengong aja. Udah hampir jam 9 lho. Kalo telat kulaporin Minho oppa, baru tau rasa deh.” Ahri menggerutu kesal. Mereka pun melangkah masuk dengan tangan Ahri bergelayut di lengan Rimhee.

***

Jaejoong sedikit memelankan ritme permainannya sambil mengamati dua wanita yang baru saja masuk ke tempat kerjanya itu. Yang satu nampak riang gembira. Sedangkan yang satunya terlihat kalem tapi juga bingung. Matanya nampak mencari-cari sesosok orang. Jangan-jangan dia? Jaejoong masih terus memerhatikan dua gadis itu yang memilih meja untuk berempat. Ya, pasti dia. Jaejoong mengangguk yakin dan setelah menekan tuts terakhir lagu tersebut, ia berdiri. Sebelum meninggalkan panggungnya, ia berbalik menghadap penonton dan memberi hormat. Ia lalu mengsms kakaknya.

To: Hyungie keren
Hyung, sepertinya orang yang kau maksud sudah tiba. Dia wanita, tapi dua orang, sepertinya temannya. Cepatlah ke sini sebelum kau dicap jam karet. Mengerti? 

From: Hyungie keren
Okay.. Thanks brother. ;)

Jaejoong segera kembali ke pianonya dan melanjutkan pekerjaannya.

***

“I’m sorry miss, may I sit here?” Sapa seorang pria yang baru saja datang bersama temannya.

Rimhee yang mengenali pria itu sebagai kliennya, lalu berdiri dan menyapa, “Ah, Kim Jungmo-ssi. Annyeonghaseo!” ia membungkuk sopan. Pria itu hanya membalas dengan anggukan kepala. “Silakan saja, Jungmo-ssi. Ahri-a, kau bisa pindah ke sebelahku kan?” Rimhee mengedipkan matanya mengancam. Gadis yang baru asyik bercerita tadi langsung menurut. Lagipula, dia kan yang memaksa ikut. Jadi ia tahu diri.

“Ah, gomawo mm..” Jungmo menatap gadis di depannya tajam.

“Jung Rimhee, nice to meet you.” Rimhee mengulurkan tangannya sambil tersenyum formal.

Tapi tampaknya Jungmo sedikit terkesima dengan aura wanita yang sedang menunggu uluran tangannya itu. Ia terdiam beberapa saat sebelum sadar kembali, “Ah, mianhe. Nice to meet you too, Jung Rimhee-ssi.”

Rimhee sedikit menahan tawa melihat pria di depannya yang tersenyum kikuk.

Sedangkan Ahri, ia membalikkan mukanya dan tertawa kecil tanpa sadar seseorang sedang menatapnya sambil tersenyum.

“Ah iya, Jungmo-ssi. Maaf aku membawa seorang temanku, tapi sepertinya ini tidak masalah denganmu.” Rimhee menatap Jungmo dan Kangin bergantian sambil tetap tersenyum.

Jungmo mengangguk. “Tak apa, Rimhee-ssi. Perkenalkan, dia Kim Youngwoon, sepupuku.” Jungmo memperkenalkan sepupunya.

“Annyeonghaseyo, choneun Kim Youngwoon imnida. Kau bisa panggil aku Kangin.” Pria bertubuh besar itu membungkuk sopan ke arah Rimhee dan Ahri.

Tiba-tiba Ahri memperkenalkan diri tanpa kusuruh. “Annyeong Kim Jungmo-ssi, Kangin-ssi. Perkenalkan, choneun Lee Ahri imnida. Adik dari Lee Minho-ssi sekaligus sahabat baiknya. Iya kan Rimhee-a?” gadis centil itu menyentuh bahuku dan menyeringai. Rimhee memberinya tatapan terserah-apa-maumu-lah.

Setelah sesi perkenalan itu, Jungmo dan Rimhee memisahkan diri untuk membahas proyek yang akan mereka kerjakan. Sesekali mata Rimhee teralih kepada pemain piano di panggung kafe itu. Dan Jungmo sedikit terganggu karenanya. Ia selalu mencoba mengembalikan perhatian Rimhee ke proyeknya.

Sedangkan Kangin dan Ahri malah ngobrol sendiri. Mereka sepertinya nyambung satu sama lain. Bahkan sesekali tawa mereka mengencang hingga membuat mata pengunjung menatap tajam dan dua orang yang bertanggung jawab atas mereka mendelik kesal. Dan beberapa menit setelahnya mereka berdua malah jalan-jalan di sekitar kafe.

Kim Jaejoong tersenyum saat tadi mendengar suara kakaknya di kafe itu. Kafe milik ayahnya yang diwariskan kepada kakak yang selisih setahun dengannya itu. Ya, ayahnya memang lebih memercayakan segala hal kepada kakaknya itu. Karena sejak kematian ibu mereka, Jungmo sudah terlatih merawat Jaejoong dan mengurus segala harta benda mereka. Tetapi Jaejoong malah trauma dan tidak mau lagi membuka suara terhadap siapapun, termasuk kakaknya. Namun begitu, ia sangat menyayangi kakaknya.
Sesekali ia melirik ke arah mereka. Ia tersenyum geli saat melihat kakaknya sedikit terpaku melihat rekan kerjanya yang lumayan manis. Tangannya masih setia bergerak lincah di atas piano bahkan hingga kakaknya dan temannya itu pergi.

***

Rimhee POV

Sampai di rumah, aku sibuk merekap data-data tambahan yang kuperoleh hari ini. Aku mencatat semuanya dengan rapi dan teliti. Bahkan tadi aku sempat merekam percakapan mereka melalui recorder yang tersembunyi di balik blazer. *ni cerita arsitek apa detektif ya?

Aku baru saja menelpon bos Lee Minho ahjussi, ketika kudengar pintu kamarku diketuk pelan. Aku pun beranjak membukanya. Lalu Seohyun onnie terlihat di muka pintu. “Ayo turun, makanannya sudah siap.”

“Baik onnie. Aku matikan komputer dulu ya. Onnie tunggu aja di bawah. Okay?” Kakak iparku mengedipkan matanya sebelum beranjak turun. Aku pun segera menyusulnya.

Di ruang makan, yang langsung berhadapan dengan dapur, aku melihat Yonghwa oppa masih sibuk di depan kompor, menaruh masakannya di atas piring. Sejak umma meninggal, Yong oppa memang melepas pekerjaannya dan mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah tangga karena appa yang sering lembur. Untung sekarang ia sudah menikah. Seohyun onnie sungguh hadiah terindah untuk keluarga kami.

“Ya! Rimhee-a, ngapain berdiri terus di situ?” teriakan oppa membuyarkan lamunanku. “Bantu onnie merapikan garpu dan sendok sana!”

“Ne..” aku menepuk dadaku. Berasa jantungku mau keluar aja.

Makan malam itu berjalan khidmat. Sesekali Yonghwa melancarkan sindirannya, seperti ini,

“Rimhee-a, proyek apa yang kaukerjakan sekarang?” tanya Yonghwa oppa.

“Emang kenapa? Mau tau aja.” Jawabku ketus.

“Biarin. Abisnya kamu seharian ini bener-bener gak keluar kamar. Coba kalau Onniemu ini gak manggil, bakal jadi setan buduk kamu di kamar melulu!” Aku langsung mencubit hidungnya. Ia memekik pelan.

“Ya! Oppa, aku di kamar tu kerja ya. Emangnya oppa, mesra-mesraan dalam kamar? Oya oppa, aku ditawarin naik pangkat jadi arsitek tim lho!”

“Oh ya? Wah kabar bagus tu! Trus gimana, kamu terima?”

“Ya iyalah oppa! Tapi aku masih harus jalanin satu ujian dulu. Makanya, tadi aku abis ketemu sama klien. Dia minta dibikinin rumah pribadi. Tau gak oppa, luas tanahnya berapa? 1 hektar!!” teriaknya.

“E buseet? Itu rumah apa sawah?”
“Mantan sawah, calon rumah.” Jawab Seohyun onnie ikut nimbrung. Aku mengacungkan jempol.

Oppa tertawa, lalu mengelus rambut onnie. “Kamu pinter, sayang. Hey dongsaeng-a, sesibuk apapun kamu, jangan lupakan kewajiban cewek. Belajar masak ni, sama onniemu ini.” Onnie hanya tersenyum bangga.

Aku mengangguk malas. Selesai makan dan cuci piring, aku kembali ke kamar dan mulai mengubur diri.

Rimhee POV end

***

Pagi itu Jungmo berangkat ke studio musiknya lebih pagi. Ia ada jadwal bertemu Jay Kim untuk mendiskusikan lagu yang telah ia compose. Ternyata sampai di studio, Jay belum datang. Akhirnya ia duduk di sofa ruang latihan.

Mendadak wajah gadis yang kemarin ditemuinya muncul di benaknya. “Hm, kalau dipikir-pikir sudah lama juga aku tidak berinteraksi dengan wanita. Apakah aku sesibuk itu? Mungkin sih, mengurus semua peninggalan papa : showroom mobil, restoran, toko alat musik dan juga studio musik ini. Hh..” ia menghela nafas panjang.

Lima detik kemudian, ponselnya berdering tanda sms masuk. “Apa itu dia?”
Cepat-cepat ia membuka ponselnya. Dan mukanya langsung lesu melihat Jay Kim yang mengirim sms hanya menanyakan posisinya. Ia membalas dengan malas.

***

“Duduklah, Rimhee.” Lee Minho mempersilakan dengan sopan. “Kudengar kau akan bertemu dengan Kim Jungmo-ssi lagi esok kan?” gadis itu mengangguk. “Aku akan menugaskan dua orang untuk ikut bersamamu kali ini. Orang itu adalah Moon Ahyoung dan Krystal. Bagaimana, apa kau setuju?”

Rimhee tersenyum sumringah mendengar dua nama itu disebut. Matanya berbinar dan menjawab dengan semangat 45, “Ya, saya setuju Pak!”

Lee Minho tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. “Aigoo, aigoo. Rimhee-a, jangan bermuka begitu kalau di kantor. Kau jadi mirip dengan Ahri, bikin aku pingin nyubit pipimu.”

---

Maaf yaa, masih ada part lanjutannya. Tapi belum dibikin. Ini juga gara2 bete belajar malah bikin ginian dari jam 1 mpe jm 4 pagi. Hehe..
Jangan lupa komentar, boleh di sini ato d FB. Makasih..

20 Apr 2011

White Rose : A Story of Kim Jinyeong and Kyoko Matsumoto

Episode 5-
They come with two cars. Jinyeong as the driver in his parent’s car, with his little brother as co-pilot and his parent sit on the back. Behind them, Kyoko’s family car with her parent sit on the front. Today has a bright sun and good air flow. A beautiful morning to go.
They arrive at the botanical garden about 9 am. Kyoko gets off from the car and stands amazedly. Jinyeong who is helping his mom, watch her smoothly.
“Hyung!” called his brother. He faced surprised. “If you’re always looking at her, I can’t take the things inside!”
Jinyeong moves his body. “Sorry bro.”
“Okay, everyone. We’re ready to in!” Mr. Kim leads the group. He walks in front of all. Then he chooses the place under the trees near the lake. It’s a good place, you can see the birds on their nest in front. And in the right side is a path walk leading to other attractions. Then left side, you can see fishes in the lake and feed them.
Kyoko stands up when finished helping set the place. She asks Jinyeong to go with her, to show him something. Her dad feel worries, but his wife calm him and made them promised to back before lunch. And Jinyeong accept it.
Along the path, Kyoko talks about how the botanical garden was at past, It seems not really changed. She talks how her friends almost fall to the lake when they play jokes. And she talks about how amazed she was when first time seeing the tropical flowers bloom.
“And the most amazed me is the Maze Garden.” She said.
Jinyeong watch her seriously.
“When I looked at the location map, I really want to go there. So I took my friends with me. But after we arrived, my friends were doubt about how screamy and high it is. They were scared being lost. So then they took us somewhere else.” She sighs.
Jinyeong grab her hand. “With me, you will never lost. Wanna try?”
Kyoko smiles happy, “Yes!”
They are in the Maze Garden attraction now. The guide is telling them which way to enter and out. “We have an offered here too. It’s for a couple like you. If you enter in separate ways, then you can meet inside and come out together, we’ll give you present.”
“Wanna try this?” Jinyeong asks.
“Yes.”
Then they become separated by the guides. They begin enter the maze. Turns where their heart leads. Again and again, they meet a fork ways, and just listen to their heart. Wherever they walk, It’s just grass all they see.
It’s become dizzies.
Kyoko’s leg suddenly fatigue.
But it’s not far from the center of the maze, where you can sit in the fountain wall. So she afford it. Just to reach the fountain.
She hears Jinyeong shouted her name and tell her he has reached the center. “I’m a bit more!” she shouts back.
As she reaches the fountain, she receives a relieve and happy smile from Jinyeong. “You’re here.”
“Ah!” she grabs her legs. “It hurts.”
Jinyeong comes to her.
The guides who are waiting outside and the people who are waiting for turns feel a bit worry. Because they take a bit long. But it’s come to relief for them. Because in couple seconds, they feel impressed. Because the two of them comes out with Kyoko on his back! And they got applause from audience. The guides give them present, too. As they promised. A couple T-shirt and take a shot together.

15 Mar 2011

Ulangtahun

"Hoaahm.." Mimi menguap lebar. Seketika Momo menutup mulut Mimi sambil berdecak sebal.
"Dasar, kau ini! Sudah berapa kali kuingatkan, kalau menguap tutup mulutmu. Keselek lalat baru tau rasa." omel Momo.
"Iya deh, Mo. Lain kali." Dan selalu begitu jawabannya.

Momo maklum, sahabatnya dari kecil itu hanya memiliki waktu kurang dari 3 jam untuk istirahat. Sisanya ia gunakan untuk bekerja demi kelangsungan nyawanya. Terkadang ia iba pada Mimi. Sebatang kara, hidup di dunia, tak memiliki siapa-siapa. Hanya Momo lah satu-satunya orang yang peduli padanya.

"Mi," panggilan Momo membuatnya terpaksa membuka mata, tanpa bicara. "Malam ini makan bareng yuk. Kamu ke apartemenku. Mau gak? Aku yang traktir."

"Serius? Tar boong lagi kayak kemarin. Aku dah sampai di lobi apartemenmu, ternyata kamu jalan sama si Bunga." responnya malas.

"Kali ini aku gak boong deh, bener! Lagian aku kan udah putus sama Bunga tadi pagi. Yuk, makan bareng yuk, mau ya? Ya?" pintanya.

"Yaudah deh. Asal kamu gak kabur aja kayak waktu itu."

"Gak kok, janji!" katanya sambil mengacungkan kelingkingnya dan disambut kelingking Mimi pelan. "Oke, jam 7 di apartemenku yaa!" Tegas Momo semangat.

Mimi hanya mengangguk lemah. Kantuknya kembali menyerang. "Hoaahm."

***

Momo menatap lekat kotak berbalut sampul hijau di hadapannya. Sambil tersenyum riang, ia mengelus-elus kotak itu dan sesekali membukanya. Sebuah hadiah yang akan diberikannya pada Mimi.
"Kamu pasti cantik memakainya, Mi."

Momo dan Mimi memang berbeda. Momo yang merupakan pangeran, generasi ke tujuh dari seorang konglomerat berdarah biru, Raden Mas Suryo Darmono Kartodiningrat. Yang menguasai hampir 80% saham perusahaan di Indonesia. Dan memiliki cadangan sumur minyak yang tersebar di Asia Pasifik. Tetapi Momo sangat mandiri. Sejak SMP, ia memilih belajar di daerah yang jauh dari orangtua dan diberi tempat tinggal sendiri. Dan saat itulah ia bertemu Mimi.

Tok, tok, tok!

Bunyi yang menyadarkan Momo dari lamunannya. Dia tersenyum sumringah. "Itu pasti Mimi." Ia beranjak membuka pintu.

***
Mimi tak harus menunggu lama. Begitu ia mendengar jawaban dari ketukan pintunya, ia langsung mendengar derap kaki Momo. "Sahabatku satu-satunya itu memang terlalu semangat jika menemuiku." batin Mimi.

"Sudah sampai? Ayo, masuk dulu," sapa Momo begitu kepalanya muncul dari balik pintu. Ia pun membuka pintunya lebar.

Mimi melangkah ke dalam apartemen Momo tanpa rasa canggung. Ia sudah sering ke tempat itu dan menganggap apartemen Momo sebagai rumahnya sendiri. Walaupun untuk kenyataannya itu tidak mungkin.

Tanpa disuruh, ia langsung menuju kulkas Momo. "Mo, aku minta minum ya!" katanya dibalik pintu kulkas. Momo hanya mengangguk sambil berjalan ke balkon. Mimi membawa gelas berisi air putih dingin itu lalu menyusul Momo ke balkon.

***

Momo menarik nafas panjang dan merebahkan pantatnya di ayunan yang ada di balkonnya. Ia menatap langit malam yang kala itu tidak banyak bintang. "Haruskah aku memberitahunya saat ini? Saat yang juga istimewa baginya. Tapi, aku takut dan belum siap. Aku takut kalau dia_" Lamunannya buyar ketika ia merasa ayunan itu bergoyang. Ia memutar kepalanya.

"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya gadis yang baru saja menjadi pemeran utama dalam lamunannya. "Kau jadi sedikit lebih ganteng kalau melamun seperti itu, haha."

Momo mengacak rambutnya. "Hus! Selamanya aku adalah orang terganteng di dunia!" teriaknya pede. Mimi tertawa.

"Ingat ya Mi," ancam Momo. "Selama kamu belum memiliki kekasih, eh, tidak! Bahkan setelah kamu memiliki kekasih pun, aku tetap laki-laki paling tampan yang pernah kau temui. Mengerti?"

Mimi menggeleng. "Ti..dak..Orang yang paling ganteng di hatiku bukan kamu tau.." jawabnya jahil.

Momo kaget dan langsung membantah dengan suara keras tapi nadanya bercanda. "Hah? Siapa laki-laki itu? Berani-beraninya dia mengalahkanku yang satu-satunya paling peduli denganmu?"

"Ayahku." jawab Mimi pendek. Momo langsung mengkeret dan mengerti. Ia hanya membulatkan bibirnya. Mimi terenyum geli melihatnya. "Yah.. walaupun aku tak begitu ingat wajahnya, tapi aku yakin ayahku adalah lelaki yang sangat tampan. Karena paman dan bibiku juga berkata begitu."

Momo hanya bisa membulatkan bibirnya dan tersenyum. "Oke, kalau untuk ayahmu, kuperbolehkan. Tapi setelah ayahmu, tak ada yang lain selainku. Mengerti?"

Mimi mengangguk. "Ya, kuusahakan." Momo geregetan. Ia langsung mencubit pipi Mimi. Membuatnya mengaduh. Lalu melepasnya.

"By the way, kita mau makan di mana nih?" tanya Momo sambil memegang perutnya. Cacing di perutnya mulai protes.

"Terserah deh, ngikut aja. Asal bukan ikan asin aja." ia tertawa.

"Ya, alergimu. Kaupikir aku tak tahu? Apa sih yang tak aku tak tahu tentangmu?" batinnya. Ia berdiri, "kalau begitu, kita berangkat sekarang. Ayo!" Momo mengulurkan tangan yang langsung ditepis Mimi.

"Gak usah sok formal gitu lah.. Ayo!" katanya, bangkit dan berjalan mendahului Momo. Yang ditinggal cuma bisa diam beberapa saat sebelum mengikutinya.

***

Mimi menyambar tasnya yang ia letakkan di atas meja makan Momo dan hendak membuka pintu, ketika ia mendengar Momo memanggilnya. Ia menoleh.

"Tunggu, sini sebentar." perintah Momo yang berdiri di samping kasurnya. Mimi menghampirinya.

"Apa lagi?"

Momo menarik nafas. "Hari ini, aku haramkan kau untuk berpenampilan seperti itu." Ia mengambil kotak bersampul hijau muda di atas kasurnya itu. "Ini. gantilah dulu di kamar mandi. Aku menunggumu di sini."

Mimi membuka isinya. "Ini, apa?" ia menatap Momo bingung.

"Pakailah dulu. Jangan banyak bertanya."

Mimi menurut dan pergi ke kamar mandi. Kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan. "Kenapa Momo jadi bertingkah kayak gini? Pakai memberiku baju aneh begini pula? Pasti harganya mahal."

Selesai memakainya, Momo keluar dengan memakai dress panjang selutut warna hijau dan cardigan putih yang tadi dipakainya. Dress itu tanpa lengan, sehingga membuatnya tidak percaya diri. Disematkannya bros mawar yang tadi ada di dalam kotak bersama dress tersebut. Ia mematut lagi dirinya di cermin sepanjang badan di depan kamar mandi Momo.

***

Momo berjalan perlahan ke arah Mimi. Ia terkagum-kagum dengan penampilan baru Mimi. Tampak anggun dalam dress pemberiannya. Kontras dengan hariannya yang urakan.

"Nah, cantik kan? Kalau sudah, ayo berangkat!" Momo menyerahkan tas Mimi dan menggandeng tangannya. Mimi hanya membalas dengan tatapan malu.

***

13 Mar 2011

White Rose : A Story of Kim Jinyeong and Kyoko Matsumoto

-Episode 4
Day by day goes by and Jinyeong always drive Kyoko school and home and wherever she needs to go. As the time goes by, their relationship is getting closer. A chit chat from being friends isn’t strange anymore. But sometimes, her cheeks still burst when receive compliments from him.
And It’s been Friday in the 2nd week. Jinyeong asks Kyoko for a ‘Family Day Out’ for tomorrow. “It’s an order from my dad, actually.” He’s being honest.
“No problem, whether it’s your family or yourself who asks, I’d like to join. I love recreation. Where will we go?”
“Any idea?”
She quickly smiles and answers, “How about the botanical garden?”
“Hum, I think it’s good. We can breathe much fresh air there.”
“It’s not just trees, you know? It has a maze garden too. And it’s tall enough. About 1.75 meters height.” She looks very excited.
“Ok, I’ll tell my parents. O yeah. Please confirm your family too, okay?”
“Sure! I’ll be glad if we’re going there!” She opens the door as the car stopped. “See you!”
She’s walking to the classroom. And she greets everyone she knows and smile to them. Right before she enters the classroom, she looks her best friend, Louis, stands outside class. His face looked pale.
“Hey you! Your asthma gonna make you die, huh?” she laughs and he laughs back. Consider other people in his square. “What are you thinking about? Are you sick?” She puts her hand on Louis forehead.
Louis takes it off. “No. Don’t. Please don’t do this.” He smiles, “I’m fine. Ah, by the way…”
Rrrrrriiiiiiing….!!!
“Ah, it’s ringing. Let’s enter the class.” Said Louis then he stands up.
“But what is it you’re just talking?”
“I told you later, in the break-time.”
But a voice, which come right before the break, ordered him to go to Student Council room. Then, Louis texts Kyoko to apologize.
“No regrets. It’s your responsibility though, as a leader. ”
“Kyoko,” said Jinyeong when he takes her home. And she just turn her head, “They agree to go to the botanical garden. So, be ready at 7 o’clock. My family will come to your house. Eh..” he feels something touches his hand, it’s Kyoko’s hand. And she looks at him passionately.
“Really? I’m going there again? Ayy, thank you so much Jinyeong..!”

4 Mar 2011

White Rose : A Story of Kim Jinyeong and Kyoko Matsumoto

Episode 3-
Today, the sky is really clear. The wind blow up slowly. It brings smile to all people. The smile of happiness. Because morning is the beginning of all prays and hopes. And so for a Harvard University student named Jinyeong.
Now, he is on the way to Kyoko’s home. But other than watching the road, he look at the informer all the time. Ensure himself that his appearance is handsome enough. Then, he arrives at Kyoko’ house.
It’s a simple classic house. The colour is white and surrounded by green grass. A willow tree with little pond stands at the left side. All the windows are opened to get fresh air inside. “Hm, cute!”
“Hey!” a voice calling. “Are you gonna stand there a whole day?” Kyoko smiles.
Ah, she’s Kyoko. She looks different in uniform. “Ah, good morning Kyoko! I’m sorry. Have you waited so long?”
“Just a couple minutes. Okay then, let’s go!”
The school takes around 20 minutes from her house. So they do a lite chat to kill the time.
“By the way, I don’t see your parents at your home. Are they working together?” Jinyeong asks.
“No. Dad is working and he always go early. But my mom isn’t working. She’s just have something with bank this morning.” She looks at him. “How about you? Is your mom working, or a housewife as my mother?”
“My mom is a housewife like yours, but she does a small business. She makes some cookies and sells it in someone’s shop. Do you know korean traditional rice cakes?”
Shaking her head, she says, “What’s that?”
“It’s made of rice flour. It has various shapes. Someday I will ask mom to make it for you.”
Her eyes sparkling suddenly. “Really? It would be great! Arigatou gozaimasu!”
Jinyeong smiles, “Domu ipputa.”
“Ah, here we are. You can drop me at the corner.” Said Kyoko.
“Understood, your highness!” Jinyeong stops the car. “What time will you finish? So I can pick you up.”
Shaking her head, smiling and she’s saying, “No need. Think I will come home late, I’m going to study at my friend’s apartment.”
“Okay, then give me your cell phone. I’ll put my number in. So you can text me if you need something.” He enters his number and add it to her phonebook. “Here. Alright then, I’ll be going! Bye!”
She waves her hand as replies. Then she turns around and walks to class. But she doesn’t know, one of her friend is looking at her strangely.