21 Des 2025

Memasak dalam perspektif Rimie

 2 jam lalu, aku berbincang dengan pakde dan sepupuku. Sebuah topik tentang memasak muncul saat aku menyajikan bakso hasil Gofood. Lalu aku ingin sedikit mengutarakan suara kecil di otakku di sini.

Ini pandanganku sendiri. Sebagai seseorang yang tidak terlalu akrab dengan dapur di waktu kecil, memasak bukanlah suatu kewajiban dalam rutinitasku sebagai seorang istri. Sehingga sampai saat ini kami masih berdua saja, kurasa memasak seminggu sekali sudah cukup.

5 tahun lalu, awal memulai rumah tangga, kami tinggal dekat dengan pasar. Aku belajar belanja sendiri. Aku mengikuti porsi dan bahan yang ada di resep. Persis, plek ketiplek. Rasanya lumayan. Bisa dimakan lah. Yang bikin patah hati adalah semua makanan itu bersisa sepanci penuh, basi lalu dibuang. Bukan karena tidak doyan. Tapi frekuensi dimakannya tidak sesuai dengan porsi yang ada. Suami yang pulangnya larut. Dan aku yang cepat bosan atau malas makan malam. Alhasil paling hanya berkurang 2 centong sayur. 

Dari situ mulai meraba cara lain. Sekali belanja untuk seminggu. Resikonya sayurnya tetap sama beberapa hari, dengan lauknya variasi 3 T. Tahu, tempe, telur. Masih belum mengubah keborosan ini. Kadang sampai muak dan lemas. Karena yang tadinya bersemangat masak, harus menghadapi bau sayur basi. Ditambah bayangan orang-orang yang kelaparan di luar sana. Rasanya merasa bersalah sekali.

Maka aku sampai pada suatu keputusan diri. Masaklah ketika aku sangat menginginkannya. Sisanya, serahkan pada warung dan gofood. Karena sisi bagusnya aku adalah, ketika aku masak sesuatu yang aku pengen banget, hasilnya akan enak. Kalaupun tidak enak, tidak terlalu kecewa berat. Kuanggap belajar. Tapi, kalau aku masak karena keharusan, tanpa aku suka atau pengin, hasilnya bisa gatot. Gagal total.

Di sisi lain, memasak itu sebetulnya terdiri dari tiga tahap utama: belanja, memasak, dan mencuci piring. Sayangnya tahap terakhir, yang dicuci bukan hanya piring. Tapi ada panci, baskom, sutil, wajan, pisau, sendok, dan lain-lain. Jujur, buat aku tahap satu dan dua bukan masalah. Tahap tiganya yang berat.

Jadi, kuibaratkan masak itu sebuah project. Resep itu dasar teori, undang-undang, dan RAB. Belanja itu tahap persiapan awal dan pembelian material. Memasak adalah merealisasikan cita, imajinasi, dan harapan dari sebuah resep. Dan makan adalah proses menyampaikan rasa yang diolah kepada lidah, yang diserap gizinya oleh tubuh.

Lalu cuci piring di tahap apa? Serah terima kunci? Sepertinya beda jauh.

Maka dari itu, sebagian besar (atau semua) ibu-ibu, istri-istri, di muka bumi menginginkan tahap terakhir ini diambil perannya paksuami. Ibaratnya ini ngunduh acara syukuran kali ya, pasti kan Kepala Keluarga yang disuruh sambutan. Bukan ibunya. Hehehe..

Alhamdulillahnya aku dikasih suami Act of Service kayak Mas Samijo. Dia bersedia mengambil peran itu ketika ia bisa. Dulu, dia sangat rajin mencuci piring. Kalo sekarang, musti ditanya atau diminta tolong dulu. Karena kadang dia tinggal sampai ketiduran. Ujungnya aku cuci esok pagi. Hahahaa.. sama saja.

Tapi di tahun kelima pernikahan ini, alhamdulillah kami udah sama2 ngerti satu sama lain. Sehingga lebih longgar dan gampang berdamai dengan keadaan. Semoga nanti kelak ada momongan pun kami saling pengertian. Aamiin.

The Morula Journey - Post HSG Consultation

 Dunia kesehatan adalah dunia yang dahulu kurasa amat dekat. Hampir hampir rumah sakit seperti rumah keduaku. Mungkin itu pula alasanku tidak suka berdandan. Karena aku sadar biaya kesehatanku cukup mahal. Aku tahu kalau Health cost is more primer than fashion.

Tapi belum pernah aku di titik ini. Mengeluarkan hampir 10 jt dalam sebulan. Hanya untuk program persiapan. Sebelumnya kupikir ini hanya sebatas USG awal-akhir, minum obat, terapi, hubungan intim, lalu voila! Muncullah janin itu di rahimku. Ternyata tak semudah itu, Ferguso!

Kemarin, baru saja kutuliskan hasil jerih payah pemeriksaan sejauh ini.Dimana aku penuh kebersyukuran bahwa rahim ini baik-baik saja. Bahwa "dosanya" ada di bentuk sperma Mas Satria. Faqod. Titik.

Sepertinya karma kesombongan menendangku. Hari ini, USG transvaginal ke 3x. Dan calon sel telurku yang diharapkan membesar, tidak mencapai target ukuran. Pilihan obat minum karena menghindari suntikan, akhirnya kurang berhasil. Aku patah hati. Ditambah rencana ini merusak rencana perjalananku ke Jakarta-Tangerang. Aku harus suntik hormon, mau tak mau. Dan di hari seharusnya aku berangkat bareng mas, qadarullah harus suntik pemecah telur di malamnya. Aku berusaha menutupi airmataku.

Mas Satria pun bermuka bingung. Aku tahu dari wajahnya penuh rasa bersalah dan tanggung jawab memutar otak. Lalu kami berpamitan dengan dokter dan menunggu di lobi. Aku sempat mengalirkan bendung yang tertahan. Setelah semua kubayar, kami menebus obat. Dan sambil nunggu, aku sempat nangis.

Then, Mas Satria tanya gimana kalo pulangnya menyusul. Sedikit mencerahkan hatiku. Tapi masih bingung.

Written on Dec 5th,2025

Late published.

3 Des 2025

The Morula Journey - HSG day

 Hai.

Aku pulang. Lagi lagi jeda yang sangat panjang untuk mendamparkan diriku di pondok ini lagi. Karena di saat semua sosial media terlalu macet dengan arus informasi yang membludak, kurasa blog ini tempat teraman untuk bersembunyi dan merekam semuanya. Terutama di saat karamku.

Sebentar. Airmataku meluncur duluan bahkan sebelumaku mulai bercerita.

Blog ini, timestamp kehidupanku. Maka itu penting untukku menuangkannya di sini.

Sudah seminggu berjalan, aku melakukan program hamil. Aku mengambil program di Morula yang ternyata cukup elit. Di usia pernikahan yang hampir 5 tahun beberapa hari lagi, dengan berbagai pergolakan batin dan tangisanku yang muak dengan usikan sekitar terutama orangtua, alhamdulillah suamiku sudah terbuka hatinya untuk menjalani promil.

Berangkatlah kami. Yang mana yang banyak diobok-obok adalah aku. Suami hanya cukup masturbasi dan analisa sperma. Qadarullah kemarin hasil sperma Mas Satria banyak yang rusak. Sedangkan rahimku, yang aku sudah parno dengan diagnosa Endometriosis/PCOS dua tahun lalu, alhamdulillah malah sehat. Hanya saja ukuran telurku di USG pertama kecil-kecil. Diberikanlah aku vitamin untuk membesarkan sel telur. Kemudian menjalani HSG. Aku siapkan mentalku dengan melihat alatnya di youtube.J uga menonton pengalaman salah seorang influencer yang menjalani IUI. Dia bilang tidak sakit, hanya terasa mulas. Keterangannya sama dengan operator radiologi yang aku datangi. Baiklah, kupikir aku bisa.

Lalu tibalah pagi ini. Hari H pelaksanaan HSG. Aku seperti bunglon. Memasang muka pede, tapi juga degdegan, kadang berganti takut. Sebelum berangkat, aku hanya sarapan eskrim untuk menenangkan diri. Sedikit topping airmata ikut masuk ke mulut.

Sampai di RS AMC Muhammadiyah, langsung diarahkan ke Radiologi membawa kartu antre yang sudah tertera namaku. Panggilan pertama, disuruh tandatangan pernyataan. Tunggu lagi. Panggilan kedua,sudah disuruh ganti baju. Dimasukkan bius lewat dubur dan menunggu dokter.

Dokter datang. Posisiku sudah mengangkang seperti instruksi perawat. Namun ternyata, ketika dokter mau membuka bibir vaginaku saja, aku terlalu tegang dan sensitif. Susah rileks. Ya gimana mau rileks, aku sendiri super sensitif dengan rangsangan kulit. Apalagi area vagina dan dalam tubuh. Dokternya sampai jengkel dan hampir mogok tidak jadi menindaklanjuti. Karena setiap kali alatnya masuk, kakiku menjepit dan pantat terangkat. Membuat serviksku refleks menjauh dari bibir vagina. Aku sudah hampir menyerah. Sudah memilih ditunda atau alternatif pakai anestesi. Tapi ketika itu,malah dokternya mau mencoba lagi.Kali ini dengan alat yang berbeda. Di situ aku mixed feeling. Mau nangis, tapi mau maju tapi mau nyerah juga. Jujur aku sudah terlalu takut untuk lanjut. Tapi mungkin dokternya kasihan. Liat aku sudah sampai sini. Akhirnya dicobalagi. Aku berusaha rileks, baca alfatihah lagi. Tarik nafaslagi, alhamdulillah kali ini berhasil. Ini baru permulaan tapi rasanya sudah berat banget.

Ah, sial. Airmataku keluar lagi.

Proses berlanjut. Dokter memasang kateter dan mulai memompa balon.rasanya mulas seperti PMS. Aku kira itu sudah dimasukkan cairan kontras, ternyata baru balon penyumbat.Lalu mulai disuntikkan cairan kontras.Kata dokter akan sedikit nyeri. Tarik napas panjang,katanya. Yang kurasa nyeri sedikit, diikuti perasaan kembung seperti saat roller coaster menanjak sebelum terjun. Bedanya, ini tidak terjun2. Kalau terjun kan, palingan pusing sebentar, pas selesai lega. Nah ini enggak.

Aku mengencangkan peganganku pada kaki. Belum lagi sakitnya hilang,aku disuruh ngesotkan badanku supaya kaki lurus memanjang. Perlahan sambil pegangan pada tepi bed, akhirnya sampai juga. (Pas ngetik ini berasa lagi kembungnya). Mulailah perawat dan dokter menyuruh aku stay dan mereka lari untuk mengambil foto rontgent. Agak lama, lalu mereka kembali. Kali ini aku diminta agak miring dan kaki menekuk. Seperti posisi tidur meringkuk. Tiba2 dokter menyuntik lagi cairan kontras itu. Kembung lagi dan agak perih. Untungnya,karena nyamping,jadi aku bisa meremas bantal rumah sakit. Aku bersumpah, kalo ini pertama dan terakhir kali aku HSG. Sudah kubuang semua topeng percaya diri tadi pagi. Entah berhasil atau tidak, aku kapok. Huhuhuuuu..

Setelah dokter menyatakan selesai, perawat bilang, boleh tiduran dulu,nanti kalo sudah enakan,baru duduk dan ganti baju. Tahu enggak, untuk bangun duduk pun berat. Bukan pusing, tapi serasa perutmu masih menempel dengan bed. Berat banget. Lalu perlahan keluarlah sisa cairan kontras sembari aku duduk. Setelah kurasa cukup kuat, aku turun.

Aku keluar ruangan setelah berpakaian lengkap. Mas Satria menyuruhku duduk dulu, tapi aku menuju kamar mandi karena kebelet. Sekalian pakai pembalut karena katanya mungkin keluar flek pasca tindakan. I've come prepared. Alhamdulillah.

Keluar kamar mandi, aku duduk samping Mas Satria. Lemas. Lalu dia beranjak ke kantin sebentar. I love his Act of Service. Dia melakukan yang kupesankan. Dia membayar di kasir, dan aku menunggu di sofa. Kuberi tahu saat berangkat, kalau kemungkinan aku lemes setelah tindakan. Aku sangat bersyukur dia pengertian.

Sampai disini dulu ceritanya. Perutku mulas. Tapi kali ini karena lapar. Aku makan dulu ya.

7 Des 2024

Titik

Tak pernah aku sekesal itu pada tanda titik. Bahkan dulu, aku menyukainya. Ia penanda di setiap akhir kalimatku. Seperti ini. Titik.

Tanda titik yang tak pernah menjadi betul-betul selesai bila ku tidak menekan tombol kirim.

Tapi betul, ada satu titik. Titik yang sangat kubenci. Titik yang mengubah gaya pandangku terhadap dunia. Titik yang membuatku benar-benar memisahkan diri ini dengan kalimat dan diksi yang meramu fantasi.

Secara ajaib, titik itu menghapus semua mimpi. Menghapus senyum tulus dalam diriku. Aku masih menyalahkan dunia, dan kedua nahkoda keluarga awalku. Aku masih memikul dendam. Padahal dulu salah satu mereka menyuruhku kirim ke media massa. Namun selalu aku tolak. Aku malu, minder, dan risih membayangkan tulisanku dibaca ribuan mata.

Berujung aku meredam mimpiku. Aku ikut kemudi mereka. Namun di satu dermaga, mereka menurunkanku. Seraya berucap, "Carilah duniamu sendiri. Tugas kami selesai di sini."

Aku terdampar di dermaga kedewasaan. Orang lain mungkin menganggap ku beruntung. Karena mereka masih mengawalku. Tapi bahkan kini, di tengah2 pulau ini, aku masih hilang arah. 

Ada sih penuntun baru, seseorang yang katanya siap menjadi imamku sehidup sesurga. Tapi kadang ia menuntun, kadang membiarkan.

Ternyata jadi dewasa itu lucu ya. Kita bisa memilah, tapi masih belum bisa memilih. Atau itu hanya aku saja? Titik ini, aku harus mencari mimpi baru.

Umurku sudah setengah umur Rasulullah SAW. Tapi belum ada apa-apa yang kutinggalkan bila ku mati.

Padahal aku ingin bersiap. Menuju mati yang bahagia.

12 Feb 2024

Sejumput tentang Genosida di Palestina

 Merayakan kehilangan, idealnya bagi kita adalah kehilangan seorang demi seorang. Dari yang wajar karena umur yang sudah banyak, hingga yang mendadak dijemput seperti ketika tidur atau kecelakaan maut.

Sedikit rasanya membayangkan bahwa kematian kita berada dalam tekanan. Dalam rintihan perang, di antara riuh rendah bom, granat, serangan udara dan senjata api. Seperti yang terjadi di Gaza, Palestina.

Kehilangan sudah bukan lagi orang seorang. Tapi bisa sekeluarga, segedung tempat tinggal, setempat mencari nafkah. Hingga rasanya seperti nyawa tiada berharga.

Sudah 120++ hari, sejak meledaknya kembali genosida di tanah Gaza. Dan kini merambah ke Tepi Barat. Warga yang sudah terpojok di Rafah, masih saja diserang dengan senapan. Segala bantuan dari negara lain ditahan. Bahkan dirampas. Dari bantuan air yang seminggu sekali, hingga saat ini pakai air hujan dan sedapatnya.

Tiada yang lebih kejam dari Zionisme dan genosida yang mereka lakukan. Penghabisan masyarakat non-Zionis dan non-Yahudi seakan membasmi nyamuk dengan obat semprot. Syaithan segala syaithan.

31 Des 2022

Hey Bye 2022

 Long time no see, my old home!

Kinda miss you right now. Been almost three years since the last post. World are now changing into what-called social media and I rather active there.

But you know what, people are now more KEPO and I sorta take some steps back.

Anyhow, how are you? Maybe I left you since COVID outbreak or longer. And I am married in the end of 2020. So, it's already two years. Been much on me and my entire new world. Even though I didn't have baby yet. And that's starting bother me.

Nowadays, I was more touched by people who supports me for who I am. Like why I write in you, my blog, is because I met a senior man, who is a neighbor shop from my husband's apothecary. He asked when we married but when I spill that I didn't have baby yet first, he said, "Ah, don't mind it! God has the best scenario. Just enjoy your marriage first. It's more important for you two to be happy."


Omg, my tears reburst. How glad I am to hear a man who's as older as my dad said that. Never even my dad told me that.

Well, that's all as a closer for 2022. I enjoyed this year, Ya Allah. Thank You for more breather and fresher and warmer words to close the day. Alhamdulillaah.

22 Apr 2019

Sling Shot

I think it's a sling shot.

We flew high. we had fun. in a very short time.

To be fallen again. Slapped hard on the ground zero.

I did not resent you. I don't have the gut.

But in any way, I'm grateful meeting you.

- Rimie Ramadan
Serpong, April 22nd 2019

17 Mar 2019

For I am a broken porcelain
But I know God's still hear me

I beg Him for a beautiful remedy
for a forever friend
To accept and fill in this broken pieces

And He gave me a pair of hand to hold
A dazzling eyes that shines bright as he look at me
A pair of ear to listen
and a huge open arm to hug

and a heart who's forgiving and understanding
and a will, to keep moving to the brighter side

Thank You Allah, may You bless us 'til jannah.

Tangerang, 17 Maret 2019

25 Jan 2019

Hancur

Aku bingung harus mulai darimana lagi. Yang kutahu hanya Allah SWT sesuai niat dan prasangka hambaNya.

Aku bingung harus mulai darimana lagi. Jika pijakan cinta pertama saja justru menghancurkan. Aku harus mencari cinta yang bagaimana.

Terluka, oleh seseorang yang harusnya mengajarkan cinta. Seseorang yang seharusnya menjadi cinta pertama putrinya. Hatiku sudah patah. Hariku sudah tenggelam. Hari ini adalah harinya.

Sampai dimana rasa puas itu? Seberapa tinggi rasa bangga itu? Seberapa jauh lagi aku harus mencapainya? Rasanya tidak berujung.

Judging

"Judging is easy, while listening is not. And more to understanding."

For instance, when you are gaming after a whole hellish day of studying, and what not. That occurs often to students. But how about when you're graduate? Well, the judgement is still stick to the people.

I had a fight this morning with my dad, as for judgement. So far I know, only mom has the Judging part based on her MBTI test. Whether it has immersed to dad, since he retired and being a "house-husband" he started to be judgemental. And i had the worst thing this morning.

I know I used to come home late since Toastmasters days, but last night was different. And his judgement is not contextual as well as not the right time. Last night was raining so hard, so damn hard and continuous since sunset. Me and my visiting friend was in IKEA, and we were done strolling at 8.20 PM. But the sky was full of lightning and hurricane, we decide to wait a little then take our leave. We were leaving at 9.10 as the rain stopped. I took her to the station and rushed to home. I arrived at 10.15 PM. Which is earlier than Toastmasters days. 

And this morning my dad said, "next time, u should be at home by 10 PM."

Should I just come home the next day?

18 Des 2018

Kau-Tahu-Siapa

Baiklah. Mungkin belum cukup, atau mungkin kau lupa.
Apa yang kau perbuat terhadapku. Dan wanita itu.
Sudah cukup kuenyahkan kau, lalu wanita itu menyerangku.
Wanitamu.
Wanita yang terserah kaujadikan apa ia, ku tak peduli.
Yang kuharap kalian saling bahagia.
Tapi lagi, jejakmu berbalik. Bersampul resmi, berkedok profesi.
Tak cukupkah?
Tak cukupkah kaurogoh kocek dari ibuku untuk bisnismu?
Tak cukupkah kaubiarkan istrimu menyeramahiku hanya karena kucing?
Muak aku. Tak lagi bersisa jejak baik darimu.

31 Okt 2018

A Little Throw Back Anger

Somehow, yeah somehow, I threw back while hearing the song.
But somehow, it brought a different feeling on me.

You know, he was the only boyfriend i had. And when I end it up, I give it all to him. I sincerely pray for him to meet a destined beauty that match him. He found not long after, meanwhile I keep myself single. I was happy, sincerely. Yes, to be honest even before we started dating, I have a brotherly friendship with him. And it lasts when we end it.

And that day comes, the wife (yes, legal wife) suddenly messaged me. Just because i repost the news about M* the cat died. I was angry, because I assumed it as my baby. And in fact, I also invested money on buying it. Super angry, she never know and he never tell her as well about the investment. Meanwhile I didn't know what should i do. I was fucked up.

I know she was jealous. But I hate it if I was even forbidden to show it. I hate them both right now. But since I was a masochist, i did nothing.

"Bahagiamu semoga menjadi bahagiaku.."

Sorry bunda Helvy if i ruined this beautiful song. But what if the released happiness suddenly become hate?

-R-

27 Sep 2018

Postingan ke 200

Selamat sudah sampai posting ke dua ratus.
Bukan saya tipikal orang merayakan sesuatu, kecuali dengan keparadoksan.

Saya merayakan dalam kesedihan. Saya merayakan dalam kehilangan. Saya merayakan dalam kekosongan. Saya dan semua yang saya lukai.

Rasanya stok keberuntungan saya sudah lagi habis. Tidak tersisa.

Ini kantor pertamaku. Ini pekerjaan resmi pertama yang kupunya. Yang bukan dengan bantuan siapa-siapa kecuali keinginanku sendiri. Tetapi, giliran aku deal pertama, kenapa bertepatan semua manager di lay off kan?

Aku tidak tahan lagi. Aku ingin pindah.

Di saat bersamaan, Om Ikhsan jatuh sakit. Hatiku sedikit terseret ke Omah Teko. Belumlah beres hati tergerus, ada lagi cobaan. Tapi jika kupandang dari sudut lain, seperti Allah memberiku tanda. Aku dipersilakan memilih. Kembali ke Jogja atau stay di Jabodetabek. Aku, inginnya kembali. Tapi babeh menghendaki cpns. -_-

27 Agu 2018

Meneguk Kesabaran

Aku tak tahu berkat apa aku menulis judul demikian. Aku terkurung lagi dalam kerendahdirian. Aku apa, aku siapa. Aku, benarkah aku berdiri di tempat semestinya? Huft.

Aku ga mau menyesal. Aku ga mau mengeluh. Tapi kenapa makin hari makin sesak?
Haruskah kembali ke sisi yang asri?

aku ingin hilang, aku penat, aku tak lagi bersemangat.


-R

20 Jul 2018

Cita-cita Sederhana

Dulu sekali, aku punya sebuah cita-cita. Cita-cita yang dulu aku pikir itu sederhana tapi sulit. Dalam artian parameternya tidak pasti. Cita-cita itu adalah "mengukir sebuah senyuman di wajah kedua orangtuaku, dan adikku."

Senyuman bukan sembarang senyuman. Jika senyum saja adalah hal yang bisa dan biasa mereka lakukan kapan saja, dimana saja, kepada siapa saja. Tapi yang aku ingin ukirkan pada mereka ialah senyuman bangga atas sebuah prestasi yang kumiliki. Berhubung kuliahku dilanda banyak masalah, jadi kupikir kelulusanku bukanlah sesuatu yang membanggakan buat mereka. Aku tahu, senyum mereka saat itu ialah senyum "lega" ketimbang "bangga". Ngerti kan maksudku?

Namun di hari ini, beberapa menit yang lalu, aku seperti mendapatkannya. Senyuman bangga itu. Hanya karena seporsi Nachos yang kubeli. Antara sengaja dan tidak sengaja sih belinya. Tapi, aku seperti bersyukur sekali aku membelinya, hanya karena Mama bilang, "Wah, aku seneng ini! Makanan darimana tuh? Itali ya?"dengan mata berbinar meskipun tebakannya tidak benar :P

Babeh pun juga. Dia menyukai green tea latte Dum dum yang kubawa. Well, sebetulnya aku harus berterimakasih sama Nisa, adikku. Karena dia yang nyuruh aku mampir beli Dum dum. And i bought one for each of us! So there i was holding four glass of Dum dum and looking for snacks to take away. Awalnya mau Yoshinoya, tapi ga ada yang lauk doang dan ngenyangin. Lalu aku beralih, kok pengen asin2 yaa. Dan berkat mbak waitress yang bagiin flier buy1get1, mampirlah daku ke Carl's Jr. And I'm not disappointed!

Ini pertama kalinya aku agak mellow denger mama bilang hal sepele. Hahahaa.. Yaa, doakan saja ya Ma, anakmu ini bisa membawa kebahagiaan yang lain dan mengukir kembali senyum itu. Amiin..

RRR, 20 Juli 2018

10 Mei 2018

Sepertinya postingan blog saya memang semua tentang hati. Tentang melancholia.

Kali ini saya dipertemukan dengan seseorang yang dikenalkan kepada saya. Tidak seperti manusia manusia sebelumnya, ia menyentak saya. Satu pernyataan yang awalnya abu-abu, tapi ia mendeskripsikannya seakan membaca apa yang sudah saya tutupi. Dia membaca kepribadian saya, dan boom! Saya tertampar.

Sudah itu saja. Tak ingin terlalu banyak. Saya naif dan polos. Terimakasih.

25 Feb 2018

Stain beyond the Curtain

Bantar gebang, i should say.

It already skipped two years, Mi. Your ideal age for marriage. And what made it worse, this year your close friends are holding their marriage. Now I get why happiness cannot spread in the same amount. You cannot make everyone happy. Behind those white curtains, natural fragrant of flowers, people like me tried so hard to hold this stain. To hide behind the shades. A feeling of kinda left behind.

Rim. Shabr. Ikhlas. Tawakkal.

But sometimes i wanna give up this lonely feeling. Huft.

21 Jan 2018

Bertumbuh

Manusia dan makhluk hidup tak bisa mengelak dari perubahan. 'Berubah' adalah kata induk yang anakannya bisa menjadi banyak hal: Berkembang, Bertumbuh, Berpindah, Berbeda.

Aku bingung dan tak paham. Semakin dewasa, justru makin tak paham. Banyak sekali hal yang mengubah cara pandang terhadap sesuatu.

Terpengaruh, mungkin kata sifat yang sesuai untuk bumbu perubahan. Tergantung seberapa dosisnya, maka kau akan makin larut kepadanya.

Aku. Sekitarku.

Dua hal yang saling melarut.

Bedanya, unsur pertama cukup stabil. Unsur kedualah yang dominan.

Begitupun cara pandang terhadap sebuah hubungan. Well, aku memang lahir dan besar di keluarga yang cukup. Cukup terpandang, cukup harta, cukup didikan agama. Yang notabene membuatku selalu menjaga diri. Tapi sayangnya, mereka belum cukup membekaliku.

Sejak SMP, aku mulai bosan dengan keadaan. Aku memutuskan sekolah SMA berasrama di luar kota. Tidak banyak yang buatku berubah. Perkuliahanlah yang sempat buatku jatuh terpuruk dan mengubah pola pikirku.

Saat itu aku takut bicara, aku ragu ada yang mau mendengar. Akhirnya aku mengurung diri dan menelan sakit sendiri. Hingga aku beranikan diri untuk pacaran. Bahkan sempat sentuhan bibir. Aku bukan seperti aku. Aku berubah, aku mengesampingkan agama. Imanku goyah meski hijab tetap di kepala. Aku merasa nista, tapi bahagia. Kenapa bahagia?

Karena ada yang mendengarku, itu cukup. Ada yang berdiri menunggu meski kadang tak berarti solusi. Ada pundak dan tangan yang siap berjaga kala aku jatuh. Rasa itu, rasa bahwa aku dihargai. Sampai saatnya ia harus pergi.

Lagi, aku berubah. Aku mau kembali ke diriku yang menjaga diri. Aku ingin murni, tapi itu takkan mungkin. Hingga kadang aku berpikir sinis, apakah benar ada cinta yang murni? Yang semata tertuju untuk perbaikan nurani? Kadang aku hendak tertawa pada masa polos dulu. Cita-cita untuk menikah dengan orang yang belum kukenal sama sekali. It's impossible!

But hey, it is now happened to my friend! Lalu aku kembali bertanya, apa mereka yakin? apa yang mereka yakini hingga akhirnya mantap menyerahkan hidup barunya, setengah agamanya, anak cucunya kelak, rumah tangganya, kepada orang tersebut? Aku sudah tahu jawabannya, akan tetapi, akibat sempat kelabu, aku ragu. Bukan, bukan sebenar-benar ragu, tapi kan pasti ada faktor lain selain Allah yang membuat mereka yakin? Nah faktor apa yang mereka yakini sedang aku belum mampu seyakin mereka untuk memilih jalan ini lagi? Sedang dulu aku pernah mantap untuk menggapainya.

Aku ragu, apakah aku bertumbuh, atau justru mengering layu.

Lelah

Kau terbiasa menyendiri
Marah pun sendiri
Di saat yang lain berkumpul
Kau berkemul
Dalam kamar terkurung

Bagaimana aku tahu
Kapan sedihmu
Kecewamu
Sukamu

Terlebih
ada waktu yang hilang
yang tak kutahu kau alami
sidang terberat dalam hidupmu

Kini
Kau luapkan semua
Emosi
Dalam setiap media

Kau meraung
Mengumbar pada dunia
Emosi yang seharusnya
Kau tutup rapat
Kau bicarakan baik-baik

Menyebar aib dan cela
Bahkan aibmu sendiri
Menjadi figur terbuka
dengan cara yang keliru

Lagi
Kauperdebatkan agama
Kau remehkan
dengan dalih belum waktunya

Siapa yang tahu akan waktu?
Siapa yang menilai kepantasan?
Pantas itu ada pada diri kita sendiri
Pantas itu berawal dari mata siapa yang kita
inginkan memandang kita

Orang sekitar hanya menjadi pengingat
Hanya mata tertinggi yang berhak menilai
Dia yang sejatiNya pemilik dirimu dari ujung rambut hingga kaki
dari jasadmu, ruhmu, nuranimu

--
Entah kapan dan dimana

11 Jan 2018

White Canvas

is not always
white


I'm not sure what I have to write
Again, I'm wondering if
any idea could fly into this bundle of cellulose

I was rereading my own fiction
Which I had created seven years ago
When I was blinded and just moved within times
But nothing was prepared for the future

There I'd been living in the present
Now I'm taking my reward--late for work chances

Knowing my Toastmasters allies
They are all bright persons
I'm feeling down
They've reached what they wanted
in such a young age

I'm fixing myself
Tempted to get my own business
But seeing them.. uff

Should have been motivated
Yet I am feeling more down

But then
Here in my workplace
I found persons which needs an elevator
to lift them up
to gain knowledge
Though they also have superiority

I am jealous
Even my little sister hates me often
I feel unaccepted
But I want to reach a meaning
for my life in this world
despite the one main order from Allah

---

Now I feel a bit better after writing it.
Since it's been very long to write something like this publicly
And I wanna gain my courage to let this burden go
I wanna be in a positive charge again. Tho still much to go.


Rimie or Ria, whatever.
Loista, 11 Jan 2018