Bagai sepasang penjaga, kita berdua
Dalam satu bingkai purnama
Aku berjaga pada gerbang pembuka
Sedang kau berjaga pada gerbang keluar
Inilah kita, sepasang dewi musim
Bertugas menjaga perjalanan April
serta gerbang musim tropis yang berganti
---
Rimie Ramadan
29.04.2013
29 Apr 2013
Sunyi
Kau duduk di sana. Melamun. Memikirkan hal di luar ruang kita. Pandanganmu menyelusup ke dimensi yang tak pernah kusentuh. Ada ruang dimana kau bercerita, tanpa sepatah kata yang aku pernah punya. Aku diam, membiarkan imajimu melayang.
"Ini masa sulit," katamu. "Kita harus begini dan begitu. Harus mengejar ini dan itu. Tapi modal sudah lagi habis."
Sejak kenal kamu, duniaku berganti. Dunia yang dulu penuh kata dan romansa, menjadi dunia dengan seribu bahasa. Dunia itu bernama sunyi. Walaupun bibirku mencoba beradu, namun sia-sia. Kau tak pernah hiraukan. Sunyi kembali kupilih. Bermain kata dalam imajiku sendiri.
"Ini masa sulit," katamu. "Kita harus begini dan begitu. Harus mengejar ini dan itu. Tapi modal sudah lagi habis."
Sejak kenal kamu, duniaku berganti. Dunia yang dulu penuh kata dan romansa, menjadi dunia dengan seribu bahasa. Dunia itu bernama sunyi. Walaupun bibirku mencoba beradu, namun sia-sia. Kau tak pernah hiraukan. Sunyi kembali kupilih. Bermain kata dalam imajiku sendiri.
22 Apr 2013
Sekarat!!
Risih!
Ricuh!
Bekah!
Bekuh!
Rongga dada menggelegak!
Gigi gemeretak!
Hak tak lagi terbagi
Keinginan tak dihormati
Kesepakatan pun diingkari
Bodoh kau!
Kalau saja kau tak menghitung
Habislah usiamu dalam perdaya orang
Kata hatiku
Muak!
Muaklah aku
Sudah untung aku bersabar setahun ini
Tanpa ada kabar hasil yang memadai
Masih saja kau ganggu aku
di tengah kewajibanku
Bangkai
Bahkan bisa lebih terhormat
daripada diriku yang sekarat
Terserah!
Langkahku tak lagi butuh menujumu
Tanganku bisa melukis dengan lebih baik
bila ku tak di sini
Aku terjerembap
Dan telat membalikkan otak
Kini ku sekarat
Sekarat!
---
22.04.2013
Ria R. Ramadan
Ricuh!
Bekah!
Bekuh!
Rongga dada menggelegak!
Gigi gemeretak!
Hak tak lagi terbagi
Keinginan tak dihormati
Kesepakatan pun diingkari
Bodoh kau!
Kalau saja kau tak menghitung
Habislah usiamu dalam perdaya orang
Kata hatiku
Muak!
Muaklah aku
Sudah untung aku bersabar setahun ini
Tanpa ada kabar hasil yang memadai
Masih saja kau ganggu aku
di tengah kewajibanku
Bangkai
Bahkan bisa lebih terhormat
daripada diriku yang sekarat
Terserah!
Langkahku tak lagi butuh menujumu
Tanganku bisa melukis dengan lebih baik
bila ku tak di sini
Aku terjerembap
Dan telat membalikkan otak
Kini ku sekarat
Sekarat!
---
22.04.2013
Ria R. Ramadan
Labil
Mungkin saya terkena dampak perang pemikiran. Saya mengalami konflik dengan batin saya sendiri. Entah saya harus mengambil dalil yang mana. Yang jelas saya masih berkeyakinan Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan kita dihidupkan untuk menyembahNya. Dialah pemilik segala apa yang ada di langit dan bumi, termasuk jiwa kita. Dialah tempat kembali segala urusan. Ya, saya yakin semua itu.
Sayangnya saya belum benar-benar belajar kapan turunnya setiap ayat dalam AlQur'an. Saya bingung, karena dewasa ini manusia banyak menafsirkan Qur'an dengan ideologi masing-masing. Sehingga saya mengikuti kaidah, "Islam itu gampang, tapi tidak menggampangkan." Rukun Islam wajib dijalankan, rukun Iman wajib dipercaya. Saya mengambil yang pokoknya saja. Dalil cukup dari Qur'an dan Sunnah. Namun satu yang luput, tarikh dari qur'an dan sunnah itu sendiri. Kecuali beberapa yang pernah saya pelajari.
Sebenarnya, apa yang menjadi perang pikiran di sini simpel tapi rumit, yaitu cara mencari nafkah. Oke, kita bisa mencari nafkah dari 2 segi yang dibebaskan Allah, Bekerja dan Memberi Pekerjaan. Keduanya harus halal.
Nah, di sini tafsiran halal pun sudah agak tergolong ke beberapa macam. Pertama, benar-benar bekerja hanya untuk ridhoNya. jadi apapun yang kita usahakan, tidak ada unsur pemaksaan terhadap orang lain. Yang kini populer disebut spiritual company. Intinya lebih kepada merayu Allah dengan segala cara yang dianjurkan agama, Dhuha-Tahajud-Jama'ah5waktu, sedekah, dsb. Lalu kemudian Allah lah yang akan mendatangkan mereka kepadamu.
Kedua, yang dikenal dengan sebutan profesionalisme. Sistem yang lebih dipopulerkan oleh bangsa barat sejak lama. Kerja maksimal, target tercapai, hasil maksimal, konsumen puas. Jadi perusahaan paling top sejagat raya. Semua orang memimpikan bekerja di sana dengan gaji yang menggiurkan.
Sayangnya, kebanyakan spiritual company kurang menjunjung profesionalisme sehingga cenderung berpikir dangkal. Begitu pun sebaliknya, profesionalisme terkadang menuntut kerja terlalu keras sehingga lalai dalam ibadah.
Beberapa perusahaan Spiritual Company yang pernah kumasuki sebagai konsumen, bisa dibilang kurang layak pakai alias kinerjanya mengecewakan. Saya seringkali merasa malu untuk mengakuinya. Mereka muslim, dengan identitas kokoh (celana gantung dan kumis-jenggot, poster nasehat alQur'an dimana-mana) namun manajemen perusahaannya bikin konsumen ngelus dada. Kebanyakan modal nekat juga sih. Jadi sedih, kayak liat pengemis berjilbab di jalanan.
Sayangnya saya belum benar-benar belajar kapan turunnya setiap ayat dalam AlQur'an. Saya bingung, karena dewasa ini manusia banyak menafsirkan Qur'an dengan ideologi masing-masing. Sehingga saya mengikuti kaidah, "Islam itu gampang, tapi tidak menggampangkan." Rukun Islam wajib dijalankan, rukun Iman wajib dipercaya. Saya mengambil yang pokoknya saja. Dalil cukup dari Qur'an dan Sunnah. Namun satu yang luput, tarikh dari qur'an dan sunnah itu sendiri. Kecuali beberapa yang pernah saya pelajari.
Sebenarnya, apa yang menjadi perang pikiran di sini simpel tapi rumit, yaitu cara mencari nafkah. Oke, kita bisa mencari nafkah dari 2 segi yang dibebaskan Allah, Bekerja dan Memberi Pekerjaan. Keduanya harus halal.
Nah, di sini tafsiran halal pun sudah agak tergolong ke beberapa macam. Pertama, benar-benar bekerja hanya untuk ridhoNya. jadi apapun yang kita usahakan, tidak ada unsur pemaksaan terhadap orang lain. Yang kini populer disebut spiritual company. Intinya lebih kepada merayu Allah dengan segala cara yang dianjurkan agama, Dhuha-Tahajud-Jama'ah5waktu, sedekah, dsb. Lalu kemudian Allah lah yang akan mendatangkan mereka kepadamu.
Kedua, yang dikenal dengan sebutan profesionalisme. Sistem yang lebih dipopulerkan oleh bangsa barat sejak lama. Kerja maksimal, target tercapai, hasil maksimal, konsumen puas. Jadi perusahaan paling top sejagat raya. Semua orang memimpikan bekerja di sana dengan gaji yang menggiurkan.
Sayangnya, kebanyakan spiritual company kurang menjunjung profesionalisme sehingga cenderung berpikir dangkal. Begitu pun sebaliknya, profesionalisme terkadang menuntut kerja terlalu keras sehingga lalai dalam ibadah.
Beberapa perusahaan Spiritual Company yang pernah kumasuki sebagai konsumen, bisa dibilang kurang layak pakai alias kinerjanya mengecewakan. Saya seringkali merasa malu untuk mengakuinya. Mereka muslim, dengan identitas kokoh (celana gantung dan kumis-jenggot, poster nasehat alQur'an dimana-mana) namun manajemen perusahaannya bikin konsumen ngelus dada. Kebanyakan modal nekat juga sih. Jadi sedih, kayak liat pengemis berjilbab di jalanan.
27 Mar 2013
Simbah Putri
Wajah berpadu dengan remang cahya
Di sela kau tuliskan sebuah kisah
Tentang dirimu
Di tiap lembarnya
Kau tinggalkan segores nama
seorang wanita
Kau berkata, cantik parasnya
Kau jelaskan, anggun tata lakunya
Kau sematkan, kelembutan tutur katanya
Dan jemarinya
yang tak pernah terpangku
Ada saja yang dia lakukan
untukmu, kebutuhanmu
Tak pernah alpa kau cium
sebelum melangkah keluar rumah
Meski peluh membanjir
Meski keriput menggerus pipinya
yang dahulu ranum dan panen puji
Meski lelah memendam cita-citanya
Dia tahu, bahwa kamu
Kamulah yang akan mewujudkan cita-cita itu
Kamu yang akan berada di garda depan
Dengan ujung tombak terasah tajam
Siap berjuang mengumpulkan ilmu pengetahuan
Itulah yang membuat wajahnya nampak rupawan
Karena ia selalu tersenyum kala menyapamu pulang
Tak lupa menyuruhmu makan dan sembahyang
Menemanimu setiap malam
Demikian hebohnya engkau bercerita tentangnya
Seheboh tangismu kala kepergiannya
Seorang wanita yang merawat dirimu sejak kecil
Seorang nenek yang teramat sangat kau sayangi
Hingga selalu bila kubaca buku itu
Kutemukan bekas air mata
air mata bahagia
Rasa syukurmu pada Tuhan
telah dipertemukan dan dirawat sedemikian rupa
Serta doa yang tak pernah putus
hingga kini kau lulus dan memulai usahamu
Melangkah membuka jendela dunia
RRR. 27.03.2013
Teruntuk dirimu dan wanita terhormat itu
semoga Allah menempatkan beliau di sisiNya
Di sela kau tuliskan sebuah kisah
Tentang dirimu
Di tiap lembarnya
Kau tinggalkan segores nama
seorang wanita
Kau berkata, cantik parasnya
Kau jelaskan, anggun tata lakunya
Kau sematkan, kelembutan tutur katanya
Dan jemarinya
yang tak pernah terpangku
Ada saja yang dia lakukan
untukmu, kebutuhanmu
Tak pernah alpa kau cium
sebelum melangkah keluar rumah
Meski peluh membanjir
Meski keriput menggerus pipinya
yang dahulu ranum dan panen puji
Meski lelah memendam cita-citanya
Dia tahu, bahwa kamu
Kamulah yang akan mewujudkan cita-cita itu
Kamu yang akan berada di garda depan
Dengan ujung tombak terasah tajam
Siap berjuang mengumpulkan ilmu pengetahuan
Itulah yang membuat wajahnya nampak rupawan
Karena ia selalu tersenyum kala menyapamu pulang
Tak lupa menyuruhmu makan dan sembahyang
Menemanimu setiap malam
Demikian hebohnya engkau bercerita tentangnya
Seheboh tangismu kala kepergiannya
Seorang wanita yang merawat dirimu sejak kecil
Seorang nenek yang teramat sangat kau sayangi
Hingga selalu bila kubaca buku itu
Kutemukan bekas air mata
air mata bahagia
Rasa syukurmu pada Tuhan
telah dipertemukan dan dirawat sedemikian rupa
Serta doa yang tak pernah putus
hingga kini kau lulus dan memulai usahamu
Melangkah membuka jendela dunia
RRR. 27.03.2013
Teruntuk dirimu dan wanita terhormat itu
semoga Allah menempatkan beliau di sisiNya
26 Mar 2013
Rimie, Keep Your Head Down!
Hard to say, hard to move.
No words can said. No dreams to wander.
But feeling this i cannot assure.
Sekian hari sudah aktivitas kerja praktekku berakhir. Sekarang aku harus kemana? Next step: Membuat laporan KP. Tapi, aku sedikit terganggu dan malah ketika crossed itu berakhir, kekesalanku memuncak. Mungkinkah, karena selama kemarin aku berusaha menyisihkannya? Dan oh, rupanya karena seonggok kardus ini pula.
Masalah sepele, namun terkadang jika kesepelean itu terus diulang, menimbulkan keraguan orang lain dalam dirimu. Mungkinkah selamanya wanita yang harus ditempatkan dalam hal kepercayaan memegang hal detil? Dan ketika sang wanita penanggung jawab itu harus libur sementara untuk tugas yang lebih penting, masih harus dikejar dengan urusan itu semua? Bahkan dipaksa untuk menyelesaikannya hanya karena semua hal kecil itu dibuat atas nama dirinya?
Aku merasa ditipu.
Apakah aku terlalu polos sehingga mudah ditipu? Ya.
Apakah aku terlalu bodoh dan mudah diperdaya? Ya.
Bagaimana lantas seharusnya ku bersikap? Entah.
Ketika sebuah kepercayaan itu luntur, dan ketika saya merasa ketidakadilan berada di pihak saya, bisakah anda sedikit menurunkan hati dan kepala untuk mendengar dengan legawa apa yang saya utarakan?
"Dunia ini hanya permainan dan senda gurau."
No words can said. No dreams to wander.
But feeling this i cannot assure.
Sekian hari sudah aktivitas kerja praktekku berakhir. Sekarang aku harus kemana? Next step: Membuat laporan KP. Tapi, aku sedikit terganggu dan malah ketika crossed itu berakhir, kekesalanku memuncak. Mungkinkah, karena selama kemarin aku berusaha menyisihkannya? Dan oh, rupanya karena seonggok kardus ini pula.
Masalah sepele, namun terkadang jika kesepelean itu terus diulang, menimbulkan keraguan orang lain dalam dirimu. Mungkinkah selamanya wanita yang harus ditempatkan dalam hal kepercayaan memegang hal detil? Dan ketika sang wanita penanggung jawab itu harus libur sementara untuk tugas yang lebih penting, masih harus dikejar dengan urusan itu semua? Bahkan dipaksa untuk menyelesaikannya hanya karena semua hal kecil itu dibuat atas nama dirinya?
Aku merasa ditipu.
Apakah aku terlalu polos sehingga mudah ditipu? Ya.
Apakah aku terlalu bodoh dan mudah diperdaya? Ya.
Bagaimana lantas seharusnya ku bersikap? Entah.
Ketika sebuah kepercayaan itu luntur, dan ketika saya merasa ketidakadilan berada di pihak saya, bisakah anda sedikit menurunkan hati dan kepala untuk mendengar dengan legawa apa yang saya utarakan?
"Dunia ini hanya permainan dan senda gurau."
13 Mar 2013
Gamang
Aku tahu, ini hanya sekedar keterlambatan pendaftaran KKN. Tapi karena satu dan lain hal, aku benar-benar galau akan hal ini. Bahkan nyaris bunuh diri.
Aku mungkin memang termasuk orang yang sangat sensitif terhadap perasaan yang kumiliki. Terlalu mengambil hati, terlalu kekanakan. Entahlah, namun yang kurasakan ini semua adalah buah. Buah dari didikan ibuku yang selalu membuatku mengalah, pertama terhadap adikku, namun kelamaan, aku menjadi orang yang mudah menyerah. Mudah patah arang, mental pengecut.
Dan juga, didikan ibuku yang jika kuistilahkan, "serba ada". Ya, sedari dulu ibu selalu bilang padaku, "Jangan khawatir, kan masih ada mama." Berkebalikan dengan sahabatku yang ibunya selalu mengingatkan, "Ibu tak selamanya ada, lho."
Mungkin itu sebabnya aku selalu menjadi orang yang sangat mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentinganku sendiri. Karena aku selalu merasa tak berhak, merasa masih ada yang akan memberiku itu. Dan kini, didikan itu berbuah keliru.
Aku menjadi seperti ini. Yang dibilang orang kurang prihatin lah, boros lah, gampangan lah, dan segalanya. Aku selalu takut menjadi pemimpin, meski sudah berkali mendapatkan Latihan Dasar Kepemimpinan ketika sekolah dulu. Karena lagi-lagi aku merasa tak pantas.
Aku yang sekarang, bertambah jauh lebih parah ketimbang dulu. Ditambah rasa malasku yang bermitosis lebih cepat dari yang kubayangkan. Diiringi oleh otakku yang entah mengapa semakin bodoh. Ya, aku memang bodoh. Bodoh, lagi pengecut.
Apa yang bisa kauharap dariku? Kata-kata basi yang tak pernah bisa dijual? Atau angan-angan hampa yang takkan pernah terwujud? Sesuatu yang tak nyata, yang hanya dapat kaujumpai di dunia maya.
Wujud sejatiku adalah bodoh, pengecut yang tiada tandingnya. Ya, inilah aku. Yang lagi-lagi terlambat untuk sesuatu yang seharusnya kucapai.
Aku mungkin memang termasuk orang yang sangat sensitif terhadap perasaan yang kumiliki. Terlalu mengambil hati, terlalu kekanakan. Entahlah, namun yang kurasakan ini semua adalah buah. Buah dari didikan ibuku yang selalu membuatku mengalah, pertama terhadap adikku, namun kelamaan, aku menjadi orang yang mudah menyerah. Mudah patah arang, mental pengecut.
Dan juga, didikan ibuku yang jika kuistilahkan, "serba ada". Ya, sedari dulu ibu selalu bilang padaku, "Jangan khawatir, kan masih ada mama." Berkebalikan dengan sahabatku yang ibunya selalu mengingatkan, "Ibu tak selamanya ada, lho."
Mungkin itu sebabnya aku selalu menjadi orang yang sangat mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentinganku sendiri. Karena aku selalu merasa tak berhak, merasa masih ada yang akan memberiku itu. Dan kini, didikan itu berbuah keliru.
Aku menjadi seperti ini. Yang dibilang orang kurang prihatin lah, boros lah, gampangan lah, dan segalanya. Aku selalu takut menjadi pemimpin, meski sudah berkali mendapatkan Latihan Dasar Kepemimpinan ketika sekolah dulu. Karena lagi-lagi aku merasa tak pantas.
Aku yang sekarang, bertambah jauh lebih parah ketimbang dulu. Ditambah rasa malasku yang bermitosis lebih cepat dari yang kubayangkan. Diiringi oleh otakku yang entah mengapa semakin bodoh. Ya, aku memang bodoh. Bodoh, lagi pengecut.
Apa yang bisa kauharap dariku? Kata-kata basi yang tak pernah bisa dijual? Atau angan-angan hampa yang takkan pernah terwujud? Sesuatu yang tak nyata, yang hanya dapat kaujumpai di dunia maya.
Wujud sejatiku adalah bodoh, pengecut yang tiada tandingnya. Ya, inilah aku. Yang lagi-lagi terlambat untuk sesuatu yang seharusnya kucapai.
22 Des 2012
Teruntuk Ibunda
Terang telah menjadi petang
Seiring datangnya kumandang adzan
Dirimu berbalur wewangian
Cantik terbungkus rukuh yang kaukenakan
Siap menghadap Yang Maha Kuasa
Beralaskan sajadah
Kau tunduk dan pasrah
Menjadi imam bagi kami
Saat ayah ke masjid sendiri
Tak pernah kausebut lelah
Walau seharian tak pernah di rumah
Engkau yang selalu bekerja
Berangkat pagi pulang senja
Bagimu inilah amanah
Pernah sekali aku mengeluh
Karena tak pernah kucicipi masakanmu
Dan tak kutemukan hadirmu di kala jenuh
Tak kurasakan engkau hadir sebagai seorang ibu
Meski begitu aku selalu tersenyum
Saat kau menelpon di sela waktu istirahatmu
Saat kau dan ayah menjejak di depan pintu
Berlomba dengan ayah
Memberikan buah tangan untuk kami
Engkau memang ibu yang langka
Bukan seperti ibu lainnya
Namun engkau selalu setia
Tak pernah lupa pada kami semua
Satu kata yang mungkin belum pernah kuucap padamu
"Terimakasih Ibu"
Kini keluhku sudah terganti
digantikan oleh kekaguman yang kusadari kini
Ketika ku beranjak dewasa
Ketika ku mulai berpijak di kakiku sendiri
Semua usahamu, waktu yang kaukorbankan
Semua untuk kami, hanya kami
Karena kau sayang kami dan ingin kami tuk mandiri
Ibu, maafkan aku sering menzholimimu
dan tak pernah membuatmu bangga
Memilikiku, seakan hadiah terindah bagimu
Kau pertaruhkan nyawamu
Kau cukupkan semua kebutuhanku
Kau sempurnakan semua keinginanku semampumu
Kau menyayangiku, tak pernah luput mendoakanku
Meski ku tak bisa membalasnya
Tak pernah bisa menjadi seorang anak yang sempurna
Kau tetap tersenyum bangga
Ibu, inilah kutuliskan
Kisah kau dan aku
Tentang dirimu di mataku
Yang tak pernah kau tahu
Biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan Allah
Seperti doamu padaNya tentangku
Doa yang telah mengantarku hingga detik ini
Satu kalimat terakhir tuk menutup airmata bahagia ini,
"Terimakasih ya Allah, Ibuku adalah malaikat terindah yang Kau anugerahkan bagiku. Bahagiakan ia, lebih daripada ia membahagiakanku. Karena kutahu, tak ada yang dapat membalas kebaikannya padaku, kecuali Engkau. Aku bersyukur telah terlahir dari rahimnya yang mulia. Terimakasih ya Allah, satu pinta terakhirku, berikan surga Firdaus untuknya. Amin."
Allahumma Shoyyiban Naafi'an, bersama gerimis dan malaikat yang menjaganya,
semoga doa ini sampai ke telingaMu ya Rabbi
-Pogung Baru, 22 Des 2012
Ria R Ramadan
Seiring datangnya kumandang adzan
Dirimu berbalur wewangian
Cantik terbungkus rukuh yang kaukenakan
Siap menghadap Yang Maha Kuasa
Beralaskan sajadah
Kau tunduk dan pasrah
Menjadi imam bagi kami
Saat ayah ke masjid sendiri
Tak pernah kausebut lelah
Walau seharian tak pernah di rumah
Engkau yang selalu bekerja
Berangkat pagi pulang senja
Bagimu inilah amanah
Pernah sekali aku mengeluh
Karena tak pernah kucicipi masakanmu
Dan tak kutemukan hadirmu di kala jenuh
Tak kurasakan engkau hadir sebagai seorang ibu
Meski begitu aku selalu tersenyum
Saat kau menelpon di sela waktu istirahatmu
Saat kau dan ayah menjejak di depan pintu
Berlomba dengan ayah
Memberikan buah tangan untuk kami
Engkau memang ibu yang langka
Bukan seperti ibu lainnya
Namun engkau selalu setia
Tak pernah lupa pada kami semua
Satu kata yang mungkin belum pernah kuucap padamu
"Terimakasih Ibu"
Kini keluhku sudah terganti
digantikan oleh kekaguman yang kusadari kini
Ketika ku beranjak dewasa
Ketika ku mulai berpijak di kakiku sendiri
Semua usahamu, waktu yang kaukorbankan
Semua untuk kami, hanya kami
Karena kau sayang kami dan ingin kami tuk mandiri
Ibu, maafkan aku sering menzholimimu
dan tak pernah membuatmu bangga
Memilikiku, seakan hadiah terindah bagimu
Kau pertaruhkan nyawamu
Kau cukupkan semua kebutuhanku
Kau sempurnakan semua keinginanku semampumu
Kau menyayangiku, tak pernah luput mendoakanku
Meski ku tak bisa membalasnya
Tak pernah bisa menjadi seorang anak yang sempurna
Kau tetap tersenyum bangga
Ibu, inilah kutuliskan
Kisah kau dan aku
Tentang dirimu di mataku
Yang tak pernah kau tahu
Biarlah ini menjadi rahasia antara aku dan Allah
Seperti doamu padaNya tentangku
Doa yang telah mengantarku hingga detik ini
Satu kalimat terakhir tuk menutup airmata bahagia ini,
"Terimakasih ya Allah, Ibuku adalah malaikat terindah yang Kau anugerahkan bagiku. Bahagiakan ia, lebih daripada ia membahagiakanku. Karena kutahu, tak ada yang dapat membalas kebaikannya padaku, kecuali Engkau. Aku bersyukur telah terlahir dari rahimnya yang mulia. Terimakasih ya Allah, satu pinta terakhirku, berikan surga Firdaus untuknya. Amin."
Allahumma Shoyyiban Naafi'an, bersama gerimis dan malaikat yang menjaganya,
semoga doa ini sampai ke telingaMu ya Rabbi
-Pogung Baru, 22 Des 2012
Ria R Ramadan
21 Des 2012
If Only
If only you were here beside me i won't get so lost in my mind
If only you were there to warn me, i won't get them spit my face out
If only you are here now, i'm begging you please be here
And comfort me, and tell me it's gonna be okay
If only
if only
only
you're the only one i need
now
If only you were there to warn me, i won't get them spit my face out
If only you are here now, i'm begging you please be here
And comfort me, and tell me it's gonna be okay
If only
if only
only
you're the only one i need
now
18 Des 2012
Hidup Itu Pilihan
Hidup itu sederhana. Sesederhana kita menghirup oksigen dan
menghembuskan karbondioksida. Sesederhana menikmati tubuh yang sehat dan
tersenyum untuk mensyukurinya.
Hidup juga terdiri dari pilihan-pilihan yang sederhana.
Sesederhana kita benar-benar bangkit saat pertama membuka mata, atau sekedar
berkedip lalu menarik selimut kembali. Sesederhana kita memilih mau makan apa,
ketika kita berada di kafetaria. Sesederhana mensyukuri kesehatan kita, atau
cemburu oleh kecantikan orang lain yang belum tentu alami.
Hidup itu sederhana. Kita sudah diberi suatu tawaran, hanya
tinggal memilih, kemudian menikmati akibatnya. Sesederhana tawaran mengesahkan
KRS, apakah di waktu yang tepat, atau menundanya sambil terus menabung alasan.
Sesederhana apakah kita dapat menjumpai sang dosen di waktu dan kondisi yang
menyenangkan, atau mendapatkan “kejutan” tak terduga.
Bahkan sering kita lupa, jawaban terbaik pun dapat kita
diskusikan dan kita minta. Kepada siapa? Tentu kepada Sang Pemberi Kehidupan. Tuhan
Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Kembali lagi, hidup itu sederhana.
Sesederhana kita mau berdoa dan meminta, atau menghindar dan menyakiti-Nya.
Ketika kita diberi kehidupan saja, sudah merupakan anugerah
yang luar biasa. Walaupun kelihatannya sederhana, tapi terdiri dari suatu yang
juga kompleks. Betapa jika kita tidak bernapas sehari saja, bisa menimbulkan
keributan luar biasa.
Syukur itu sederhana. Sesederhana sebuah senyuman dan doa setiap
hari. Senyuman hangat lagi indah. Syukur itu sederhana lagi indah.
Seindah senyuman bapak dosen sore ini. Hehehe..
30 Okt 2012
once more, I'm fallin' in Love with........... Indonesia.
Pantaslah banyak yang cemburu dengan kita, yg tinggal di negeri surgawi. Lautannya luas berpesisir indah. Buah warna-warni bergelantung menggoda lidah. Rempahnya melimpah, khasanah budayanya pun tak hanya sejarah.
Belanda menjajah karena rempah. Malaysia mengklaim karena keanekaragaman budaya. Bersyukurlah, namun jangan pernah mengambilnya lebih dari yang kau perlu. Jaga negeri, agar tetap cantik, segar dan berseri. Selamat siang, Indonesiaku! :)
17 Okt 2012
Kerajaan yang Tak Ternilai
Keluarga bagaikan sebuah kerajaan.
Ayah sebagai raja, ibu permaisurinya.
dan anak-anak sebagai pangeran dan putrinya.
Di keluargaku, raja dan permaisuri hidup rukun dan bahagia.
Belum pernah ada pertengkaran serius antara keduanya.
Pembicaraan serius pun dilakukan di belakang kami, putri-putrinya.
Raja di kerajaanku tidak terlalu banyak mengambil posisi.
Beliau adalah sang pemberi kebahagiaan, layaknya Sinterklas.
Makanya aku selalu heran kalau mendengar cerita temanku yang dikurung ayahnya.
Ayah sangat sayang kami bertiga. Beliau juga yang paling tampan.
Permaisuri yang bertugas layaknya perdana menteri sekaligus penasehat.
Beliau mengatur semua urusan rumah tangga, dan berjalan sangat baik.
Dulu aku sempat mengeluh tatkala beliau terlalu sering bekerja.
Ya, beliau pun seorang wanita karir yang mandiri.
Kini aku mengakui kekagumanku padanya.
Tak ada yang bisa menandingi kebijaksanaan beliau.
Putri kecil selalu meminta perhatianku. Lebih-lebih kini.
Ia sering bertutur tentang kesehariannya padaku.
Termasuk kisah barunya tentang sang pangeran yang mengoyak hati.
Sabar ya sayang, ku selalu di sini.
Aku sering membayangkan apa jadinya.
Bila kerajaan lain telah mempersunting kami berdua.
Lalu raja dan ratu hanya hidup berdua.
Hilanglah cericit putri kecilnya.
Hilanglah tawa besar putri sulungnya.
Bahkan kini, kerajaan itu saja sudah sepi.
Sekian tahun lamanya aku tidak bermukim di sana.
Hanya singgah, untuk kemudian pergi kembali.
Satu yang pasti, kemanapun kami pergi, kerajaan inilah yang pasti membuka gerbangnya saat kami kembali. Dan kami, adalah representasi dari pusaka kerajaan ini.
RRR-WedNite 2012
Ayah sebagai raja, ibu permaisurinya.
dan anak-anak sebagai pangeran dan putrinya.
Di keluargaku, raja dan permaisuri hidup rukun dan bahagia.
Belum pernah ada pertengkaran serius antara keduanya.
Pembicaraan serius pun dilakukan di belakang kami, putri-putrinya.
Raja di kerajaanku tidak terlalu banyak mengambil posisi.
Beliau adalah sang pemberi kebahagiaan, layaknya Sinterklas.
Makanya aku selalu heran kalau mendengar cerita temanku yang dikurung ayahnya.
Ayah sangat sayang kami bertiga. Beliau juga yang paling tampan.
Permaisuri yang bertugas layaknya perdana menteri sekaligus penasehat.
Beliau mengatur semua urusan rumah tangga, dan berjalan sangat baik.
Dulu aku sempat mengeluh tatkala beliau terlalu sering bekerja.
Ya, beliau pun seorang wanita karir yang mandiri.
Kini aku mengakui kekagumanku padanya.
Tak ada yang bisa menandingi kebijaksanaan beliau.
Putri kecil selalu meminta perhatianku. Lebih-lebih kini.
Ia sering bertutur tentang kesehariannya padaku.
Termasuk kisah barunya tentang sang pangeran yang mengoyak hati.
Sabar ya sayang, ku selalu di sini.
Aku sering membayangkan apa jadinya.
Bila kerajaan lain telah mempersunting kami berdua.
Lalu raja dan ratu hanya hidup berdua.
Hilanglah cericit putri kecilnya.
Hilanglah tawa besar putri sulungnya.
Bahkan kini, kerajaan itu saja sudah sepi.
Sekian tahun lamanya aku tidak bermukim di sana.
Hanya singgah, untuk kemudian pergi kembali.
Satu yang pasti, kemanapun kami pergi, kerajaan inilah yang pasti membuka gerbangnya saat kami kembali. Dan kami, adalah representasi dari pusaka kerajaan ini.
RRR-WedNite 2012
15 Okt 2012
untitled
tiap kali lembar ini terbuka, ketika ku hanya ingin melepas penat, semua ide kabur begitu saja. Apa yang kudapat, laksana hanya tercatat di permukaan, kemudian mengalir lenyap. Apa, apa esensinya? Apa,apa yang bisa melukiskan saat ini di dalam diri.
Kepalaku melayang, sepertinya angin begitu keras menggoyang. Lambungku pun tergerus, berputar, memeras kekosongan yang suci. kekosongan menuju satu impi. mengambil hatiNya, menuju surgaNya. Impian yang saat ini kumulai lagi. Aku terlahir lagi.
Ingin kubuang segala kenistaan, kuganti dengan pupuk kebaikan. Aku ingin nekad, tak lagi minta pada orangtua. Aku hanya ingin kasihMu, keajaiban yang selalu kurindu. Ingin kubuktikan bahwa diriku sanggup, diriku mampu untuk datang ke pelukanMu.
Ya Rabb, ini aku. Sambutlah aku dengan janjiMu. Janji bahwa selangkah ku datang padaMu, Kau akan seribu langkah mendekat padaku.
Kepalaku melayang, sepertinya angin begitu keras menggoyang. Lambungku pun tergerus, berputar, memeras kekosongan yang suci. kekosongan menuju satu impi. mengambil hatiNya, menuju surgaNya. Impian yang saat ini kumulai lagi. Aku terlahir lagi.
Ingin kubuang segala kenistaan, kuganti dengan pupuk kebaikan. Aku ingin nekad, tak lagi minta pada orangtua. Aku hanya ingin kasihMu, keajaiban yang selalu kurindu. Ingin kubuktikan bahwa diriku sanggup, diriku mampu untuk datang ke pelukanMu.
Ya Rabb, ini aku. Sambutlah aku dengan janjiMu. Janji bahwa selangkah ku datang padaMu, Kau akan seribu langkah mendekat padaku.
29 Sep 2012
Cericit Sore
Kuawali dengan kata maaf untuk sore yang begitu menyegarkan ini. Supaya para pembaca pun memaafkanku dengan hati yang lapang, kalau aku pernah melakukan/memposting hal kurang menyenangkan di blogku.
Tujuanku ngeblog sore ini ada dua. Pertama, bercerita tentang perjalanan survey tadi. Biasa, laporan blusuk-memblusuk kayak kemarin. Dan harusnya double chapter, soalnya saya sempet lupa mencatatnya untuk episode yang lalu. Tapi, sepertinya laporan itu bakal saya tulis di postingan berbeda.
Kalau begitu langsung saja yang kedua ya. Sebenarnya yang kedua nih adalah hasil blusukan pemikiranku yang suka menjalar-jalar kayak ular naga. Hehe. Dan sebenarnya adalah disebabkan oleh hal kurang menyenangkan yang kualami beberapa hari ini.
Aku menyimpulkannya sebagai "cinta itu sederhana". Banyak hal yang tidak kita mengerti yang sering terjadi dalam hidup kita. Dalam diriku, fenomena atheis jadi salah satunya. Anda bisa out dari blog saya jika kurang berkenan. Saya sedikit tergelitik akibat tulisan teman saya disini
Atheis, kehidupan tanpa Tuhan. Kehidupan tanpa percaya bahwa ada suatu dzat yang sudah berjasa tak terhingga dalam kehidupan. Dulu saya menganggapnya biasa karena saya tak ingin terjerumus. Tapi kini, jika saya mendengar seseorang tidak percaya lagi dengan keberadaan Tuhan, saya jadi sedih dan takut.
Untuk membayangkan saja sudah ngeri, apalagi menjalaninya. Bahwa ketika kita terlahir ke dunia, kita hanya terlahir begitu saja. Tanpa tujuan dan pesan apa-apa. Lalu buat apa kita hidup? Buat apa kita kenal ayah-ibu, kenal alam sekitar, buat apa kita mencari uang, buat apa kita bertahan hidup? Hiii..
Padahal jika diulur dari awal sebelum kita lahir saja, ada suatu keajaiban yang telah digariskan. Dari sekian juta sel sperma ayah kita, hanya satu yang berhasil menembuas dinding sel telur di rahim ibu kita yang mulia, yang akhirnya menjadi kita. Dari situ, muncul keajaiban lagi. Sel-sel itu membelah menjadi bagian tubuh kita, hingga akhirnya tubuh itu terbentuk sempurna. Kemudian ditiupkan jiwa kita ke dalamnya. Sampai akhirnya kita terlahir ke dunia. Kelahiran kitalah yang membawa kabar gembira bagi dunia. Mustahil jika itu hanya sebuah kebetulan. Pastilah ada yang telah merencanakan. Dari situ kita mengenal Tuhan.
Ketika kita lahir, kelahiran kita bagaikan angin surga bagi orang tua. Tak ada orang tua yang tak gembira melihat kelahiran buah hatinya, se-tak sempurna apapun keadaan bayi itu. Bahkan jika kelahiran kita hanya sebentar.
Maaf, karena sekali lagi ini catatan acak, saya teringat lagu yang pernah saya buat. Kira-kira begini isinya,
"Dunia takkan pernah sama, jika kau dan aku tiada. Dunia takkan pernah sama, jika kau dan aku tak bersua."
Isi lagu itu kurang lebih sama dengan lagu ciptaan Dewi Lestari yang menjadi OST film Perahu Kertas yang isinya kurang lebih seperti ini, "Kubahagia, kau telah terlahir di dunia, dan kau ada di antara milyaran manusia."
Ya, penciptaan kita pastilah suatu kabar gembira bagi dunia. Bahwa kita ada, sudah cukup untuk membawa pengaruh sekecil apapun di dunia ini. Baik atau buruk, itu ada di tangan kita. Yang pasti semua kehidupan kita sebenarnya sudah didikte oleh Sang Pembuat Skenario. Sudah ada petanya. Tapi kita juga diberi pilihan, mau alur cerita seperti apa. Siapakah dibalik itu? Pastilah Dzat yang Maha Berkuasa di dunia. Dialah yang disebut Tuhan.
Cinta itu sederhana, sesederhana Tuhan menciptakan kita ke dunia. Maka cinta yang sederhana itu, harus kita balas dengan hal yang sama. Yaitu mencintaiNya. Dengan cara apa? Berterimakasihlah padaNya melalui ibadah-ibadah yang telah diajarkan melalui wakil-wakilNya.
Dalam agama saya, Islam, ibadah itu sederhana. Yaitu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Salah satu perintahNya adalah solat 5 waktu. Masih banyak muslim yang sering meninggalkan solat. Berbagai alasan dibuat, ada kerjaan lain lah, males lah, kebanyakan lah. Dulu pun saya sering begitu. Tapi begitu sadar bahwa, semalas dan secuek apapun saya terhadap Allah, Allah masih dengan kasih sayangNya yang tak terhingga memberikan saya nafas, membangunkan saya di kemudian hari. Dan saya hanya harus membalas kasih sayang itu, minimal dengan 5 kali solat. Se-ringan itu.
Itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta Tuhan terhadap kita. Yang tetap mencintai kita sebebal apapun kita terhadapNya. Makanya saya menganggap kalau atheis itu orang paling tak tahu diri dan tak tahu terimakasih.
Sejujurnya alasan saya semangat menuliskan ini juga karena saya habis sakit hati. Saya punya kekasih yang seringkali tanpa sengaja menyakiti saya. Hanya dengan kata-kata. Ya, mungkin saya terlalu sensitif sehingga hanya dengan kata-kata atau perilaku dicuekin, saya jadi kesal bukan main. Di situlah saya bercermin, ada cinta yang takkan pernah menyakiti. Cinta yang bahkan membuat kita hidup setiap hari, setiap detik. Walaupun disakiti terang-terangan, tetap mencintai kita tanpa pamrih. Gak senyebelin pacar saya, apalagi sesensitif saya.
Lihat saja hari ini. Saya habis 2 hari kurang tidur dan kerja terus, plus hari ini survey dan nyaris dehidrasi. Saya curhat ke kekasih saya itu, bahwa hari ini saya lelah sekali sampai nyaris pingsan. Lalu dia bilang begini, "Bukannya kamu membonceng? Harusnya lebih capek yang boncengin kamu dong. Apalagi badan kamu besar." Hati saya panas. Niatnya mau curhat supaya lelah itu membaik, justru kebalikannya. Saya tambah sebal.
Lain sekali dengan takdir Allah hari ini. Dia mengerti saya lelah dan memberi tanda dengan lemasnya saya, dehidrasi saya. Lalu ketika saya menolak sebuah agenda dan lebih memilih istirahat, Dia memberikan saya ekstra waktu istirahat dengan cara membatalkan agenda saya yang rencananya setelah ashar hingga maghrib. Dia mengerti, bahwa saya berusaha merawat pemberianNya. Merawat tubuh saya dan Dia menggantikannya dengan tambahan waktu istirahat. Tuh kan, cinta itu sederhana? Sesederhana saling pengertian antara kedua pihak.
:')
Terimakasih ya Allah, Kau telah memberiku kesempatan hari demi hari tuk jalani kehidupan. Menjalani skenarioMu yang indah pada waktunya. Terimakasih untuk keajaiban dan rasa pengertianMu yang agung. Kaulah cinta sejati. :')
Sekian saja cericit sore hari ini, makasih juga buat pembaca yang sudah tahan membaca hingga baris ini. Semoga Tuhan memberikan kalian anugrah sesuai apa yang kalian butuhkan.
:D
Rimie pamit, mau solat Maghrib :D
Tujuanku ngeblog sore ini ada dua. Pertama, bercerita tentang perjalanan survey tadi. Biasa, laporan blusuk-memblusuk kayak kemarin. Dan harusnya double chapter, soalnya saya sempet lupa mencatatnya untuk episode yang lalu. Tapi, sepertinya laporan itu bakal saya tulis di postingan berbeda.
Kalau begitu langsung saja yang kedua ya. Sebenarnya yang kedua nih adalah hasil blusukan pemikiranku yang suka menjalar-jalar kayak ular naga. Hehe. Dan sebenarnya adalah disebabkan oleh hal kurang menyenangkan yang kualami beberapa hari ini.
Aku menyimpulkannya sebagai "cinta itu sederhana". Banyak hal yang tidak kita mengerti yang sering terjadi dalam hidup kita. Dalam diriku, fenomena atheis jadi salah satunya. Anda bisa out dari blog saya jika kurang berkenan. Saya sedikit tergelitik akibat tulisan teman saya disini
Atheis, kehidupan tanpa Tuhan. Kehidupan tanpa percaya bahwa ada suatu dzat yang sudah berjasa tak terhingga dalam kehidupan. Dulu saya menganggapnya biasa karena saya tak ingin terjerumus. Tapi kini, jika saya mendengar seseorang tidak percaya lagi dengan keberadaan Tuhan, saya jadi sedih dan takut.
Untuk membayangkan saja sudah ngeri, apalagi menjalaninya. Bahwa ketika kita terlahir ke dunia, kita hanya terlahir begitu saja. Tanpa tujuan dan pesan apa-apa. Lalu buat apa kita hidup? Buat apa kita kenal ayah-ibu, kenal alam sekitar, buat apa kita mencari uang, buat apa kita bertahan hidup? Hiii..
Padahal jika diulur dari awal sebelum kita lahir saja, ada suatu keajaiban yang telah digariskan. Dari sekian juta sel sperma ayah kita, hanya satu yang berhasil menembuas dinding sel telur di rahim ibu kita yang mulia, yang akhirnya menjadi kita. Dari situ, muncul keajaiban lagi. Sel-sel itu membelah menjadi bagian tubuh kita, hingga akhirnya tubuh itu terbentuk sempurna. Kemudian ditiupkan jiwa kita ke dalamnya. Sampai akhirnya kita terlahir ke dunia. Kelahiran kitalah yang membawa kabar gembira bagi dunia. Mustahil jika itu hanya sebuah kebetulan. Pastilah ada yang telah merencanakan. Dari situ kita mengenal Tuhan.
Ketika kita lahir, kelahiran kita bagaikan angin surga bagi orang tua. Tak ada orang tua yang tak gembira melihat kelahiran buah hatinya, se-tak sempurna apapun keadaan bayi itu. Bahkan jika kelahiran kita hanya sebentar.
Maaf, karena sekali lagi ini catatan acak, saya teringat lagu yang pernah saya buat. Kira-kira begini isinya,
"Dunia takkan pernah sama, jika kau dan aku tiada. Dunia takkan pernah sama, jika kau dan aku tak bersua."
Isi lagu itu kurang lebih sama dengan lagu ciptaan Dewi Lestari yang menjadi OST film Perahu Kertas yang isinya kurang lebih seperti ini, "Kubahagia, kau telah terlahir di dunia, dan kau ada di antara milyaran manusia."
Ya, penciptaan kita pastilah suatu kabar gembira bagi dunia. Bahwa kita ada, sudah cukup untuk membawa pengaruh sekecil apapun di dunia ini. Baik atau buruk, itu ada di tangan kita. Yang pasti semua kehidupan kita sebenarnya sudah didikte oleh Sang Pembuat Skenario. Sudah ada petanya. Tapi kita juga diberi pilihan, mau alur cerita seperti apa. Siapakah dibalik itu? Pastilah Dzat yang Maha Berkuasa di dunia. Dialah yang disebut Tuhan.
Cinta itu sederhana, sesederhana Tuhan menciptakan kita ke dunia. Maka cinta yang sederhana itu, harus kita balas dengan hal yang sama. Yaitu mencintaiNya. Dengan cara apa? Berterimakasihlah padaNya melalui ibadah-ibadah yang telah diajarkan melalui wakil-wakilNya.
Dalam agama saya, Islam, ibadah itu sederhana. Yaitu menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Salah satu perintahNya adalah solat 5 waktu. Masih banyak muslim yang sering meninggalkan solat. Berbagai alasan dibuat, ada kerjaan lain lah, males lah, kebanyakan lah. Dulu pun saya sering begitu. Tapi begitu sadar bahwa, semalas dan secuek apapun saya terhadap Allah, Allah masih dengan kasih sayangNya yang tak terhingga memberikan saya nafas, membangunkan saya di kemudian hari. Dan saya hanya harus membalas kasih sayang itu, minimal dengan 5 kali solat. Se-ringan itu.
Itulah cinta yang sesungguhnya. Cinta Tuhan terhadap kita. Yang tetap mencintai kita sebebal apapun kita terhadapNya. Makanya saya menganggap kalau atheis itu orang paling tak tahu diri dan tak tahu terimakasih.
Sejujurnya alasan saya semangat menuliskan ini juga karena saya habis sakit hati. Saya punya kekasih yang seringkali tanpa sengaja menyakiti saya. Hanya dengan kata-kata. Ya, mungkin saya terlalu sensitif sehingga hanya dengan kata-kata atau perilaku dicuekin, saya jadi kesal bukan main. Di situlah saya bercermin, ada cinta yang takkan pernah menyakiti. Cinta yang bahkan membuat kita hidup setiap hari, setiap detik. Walaupun disakiti terang-terangan, tetap mencintai kita tanpa pamrih. Gak senyebelin pacar saya, apalagi sesensitif saya.
Lihat saja hari ini. Saya habis 2 hari kurang tidur dan kerja terus, plus hari ini survey dan nyaris dehidrasi. Saya curhat ke kekasih saya itu, bahwa hari ini saya lelah sekali sampai nyaris pingsan. Lalu dia bilang begini, "Bukannya kamu membonceng? Harusnya lebih capek yang boncengin kamu dong. Apalagi badan kamu besar." Hati saya panas. Niatnya mau curhat supaya lelah itu membaik, justru kebalikannya. Saya tambah sebal.
Lain sekali dengan takdir Allah hari ini. Dia mengerti saya lelah dan memberi tanda dengan lemasnya saya, dehidrasi saya. Lalu ketika saya menolak sebuah agenda dan lebih memilih istirahat, Dia memberikan saya ekstra waktu istirahat dengan cara membatalkan agenda saya yang rencananya setelah ashar hingga maghrib. Dia mengerti, bahwa saya berusaha merawat pemberianNya. Merawat tubuh saya dan Dia menggantikannya dengan tambahan waktu istirahat. Tuh kan, cinta itu sederhana? Sesederhana saling pengertian antara kedua pihak.
:')
Terimakasih ya Allah, Kau telah memberiku kesempatan hari demi hari tuk jalani kehidupan. Menjalani skenarioMu yang indah pada waktunya. Terimakasih untuk keajaiban dan rasa pengertianMu yang agung. Kaulah cinta sejati. :')
Sekian saja cericit sore hari ini, makasih juga buat pembaca yang sudah tahan membaca hingga baris ini. Semoga Tuhan memberikan kalian anugrah sesuai apa yang kalian butuhkan.
:D
Rimie pamit, mau solat Maghrib :D
25 Sep 2012
Skenario Tuhan
Tuhan, aku kembali
Kembali menggantungkan harapanku pada keputusanMu
pada Engkau Yang Mahaberkehendak
Siapalah aku
tega memberinya kepastian
tanpa ada restuMu disana
Siapalah aku
sok berhak menentukan pilihan
tanpa tahu skenario apa yang Kau berikan
Engkaulah pemilik kami
Seluruh jiwa, raga dan nurani
Engkaulah satu
Yang dapat membolak-balik hati
Ketika kau berfatwa, "Jadilah"
Maka terjadilah
Tak ada yang bisa mencegah
Begitu pula tentang jalan hidupku
Tentang skenario yang tak pernah kutahu
Engkaulah penulis yang Mahaagung
Penulis yang dapat melukiskan kisah sempurna
Se-tak sempurna apapun diri kami
Penulis yang bahkan dapat menegur tiap tokohNya
Melalui adegan singkat nan mudah diingat
Penulis yang tak pernah membenci satu pun tokohNya
Meski mereka sering membenci skenarioNya
Tuhan, maafkan aku
Yang sering menyesali adegan kecil hidupku
Yang sering menertawai kisah orang lain
Yang sering berprasangka buruk tentang bab-bab sesudah ini
Padahal Engkau adalah sesuai prasangkaku
Engkau hanya mengabulkan apa yang terbersit di hatiku, otakku
Menerjemahkannya, mengukirnya menjadi nyata
Segala puji dan syukur kupanjatkan
Untuk setiap alur kisahku
Bahagia maupun duka
Dengan sadarku kini
Kubersaksi
Aku bahagia telah terlahir ke dunia ini
---
Rimie Ramadan
25.09.2012
Kembali menggantungkan harapanku pada keputusanMu
pada Engkau Yang Mahaberkehendak
Siapalah aku
tega memberinya kepastian
tanpa ada restuMu disana
Siapalah aku
sok berhak menentukan pilihan
tanpa tahu skenario apa yang Kau berikan
Engkaulah pemilik kami
Seluruh jiwa, raga dan nurani
Engkaulah satu
Yang dapat membolak-balik hati
Ketika kau berfatwa, "Jadilah"
Maka terjadilah
Tak ada yang bisa mencegah
Begitu pula tentang jalan hidupku
Tentang skenario yang tak pernah kutahu
Engkaulah penulis yang Mahaagung
Penulis yang dapat melukiskan kisah sempurna
Se-tak sempurna apapun diri kami
Penulis yang bahkan dapat menegur tiap tokohNya
Melalui adegan singkat nan mudah diingat
Penulis yang tak pernah membenci satu pun tokohNya
Meski mereka sering membenci skenarioNya
Tuhan, maafkan aku
Yang sering menyesali adegan kecil hidupku
Yang sering menertawai kisah orang lain
Yang sering berprasangka buruk tentang bab-bab sesudah ini
Padahal Engkau adalah sesuai prasangkaku
Engkau hanya mengabulkan apa yang terbersit di hatiku, otakku
Menerjemahkannya, mengukirnya menjadi nyata
Segala puji dan syukur kupanjatkan
Untuk setiap alur kisahku
Bahagia maupun duka
Dengan sadarku kini
Kubersaksi
Aku bahagia telah terlahir ke dunia ini
---
Rimie Ramadan
25.09.2012
22 Sep 2012
Pesanku
Apalah aku, ingin mengirim pesan ke hatimu,
tapi otakku beku, hanya tergambar parasmu
dalam dengkur merdu, di sela bunga tidur itu
Apalah aku, yang terpikir hanya untuk
membekaskan jejak di pipimu
Kau, dalam lamunmu tersenyum
Membalas pesan yang belum terketik
Rimie Ramadan
Yogya 22.09.2012 2:51am
tapi otakku beku, hanya tergambar parasmu
dalam dengkur merdu, di sela bunga tidur itu
Apalah aku, yang terpikir hanya untuk
membekaskan jejak di pipimu
Kau, dalam lamunmu tersenyum
Membalas pesan yang belum terketik
Rimie Ramadan
Yogya 22.09.2012 2:51am
20 Sep 2012
Ijinkan Satu Saja
masihkah
mawar itu merekah merah
seperti saat kau berserah
di hadapku
atau ia telah menghitam
layu ditelan zaman
masihkah
sayap itu mengepak
bersama sayapku
terbang menuju arah yang sama
atau ia telah terluka
tak ingin lagi mengudara
masihkah
lengkung pelangi berwarna
melukiskan rasa kita
dalam tiap halaman kosong
yang biasanya
kita isi berdua
keceriaan ini
seperti sebuah topeng
dibalik tempurung kosong
semua abu, semua menguap
hanya tersisa satu
pintaku,
ijinkan aku merindukanmu
Rimie Ramadan
20.09.2012
Terpikat Olehmu, Negriku
Fajar menyingsing di sudut langit. Menunggu awak negriku menggeliat dari pejamnya. Membasuh dirinya, sebagian bersujud pada Tuhannya, sebagian lagi bersiap menata hari.
Dhuha menganga, menyibak warna terindah dari langitNya. Biru, warna pembangkit kerja, warna penyemangat hari. Lihatlah mereka, dengan caranya masing-masing berkendara menuju tempat kerjanya.
Desa. Sawah menghampar siap digarap. Pepohon hutan menyeruak berlomba menyedot surya. Petani, peladang, penadah getah karet dan penebang pepohon kayu membanjir. Sepeda, motor, dan berjalan. Menyapa hampir seisi desa, menanggap tamu baru yang tersasar. Ramah, penuh senyum hangat. Sehangat teh manis yang mereka sesap waktu sarapan.
Kota. Gedung pencakar langit telah beroperasi. Bahan baku diap diolah. Manajer, Salesman, Office Boy dan Satpam berlalu lalang. Mobil, bus, taksi dan motor. Menghadap gadget masing-masing, bersebelah tapi saling diam. Disapa, berubah masam. Semasam bau keringat mereka ketika pulang kerja.
Bisakah, sinkronisasi nilai positif dari kedua paradoks ini? sebuah tempat dimana karakternya masih sopan dan ramah, namun juga memiliki intelektualitas tinggi. Harga bahan dapur tak terlalu mahal, terjangkau oleh semua. Meski yang satu berjalan dan yg lain bermobil, masih saling sapa, saling kenal, saling menjaga. Dengan begitu identitas Indonesia akan tetap terjaga. Takkan luntur atau diklaim oleh negara lain. This is Indonesia.
"Indonesia, hatiku, rumahku, bangsaku..
Indonesia, banyak pulau dan budaya menyatu..
Dari gunung ke laut wajah tersenyum di mana saja..
Slamat datang di Indonesia, rumahku bangsaku, Indonesiaku..
Indonesia, we love you forever.." -Indonesiaku, populared by Vincent Laghea.
Dhuha menganga, menyibak warna terindah dari langitNya. Biru, warna pembangkit kerja, warna penyemangat hari. Lihatlah mereka, dengan caranya masing-masing berkendara menuju tempat kerjanya.
Desa. Sawah menghampar siap digarap. Pepohon hutan menyeruak berlomba menyedot surya. Petani, peladang, penadah getah karet dan penebang pepohon kayu membanjir. Sepeda, motor, dan berjalan. Menyapa hampir seisi desa, menanggap tamu baru yang tersasar. Ramah, penuh senyum hangat. Sehangat teh manis yang mereka sesap waktu sarapan.
Kota. Gedung pencakar langit telah beroperasi. Bahan baku diap diolah. Manajer, Salesman, Office Boy dan Satpam berlalu lalang. Mobil, bus, taksi dan motor. Menghadap gadget masing-masing, bersebelah tapi saling diam. Disapa, berubah masam. Semasam bau keringat mereka ketika pulang kerja.
Bisakah, sinkronisasi nilai positif dari kedua paradoks ini? sebuah tempat dimana karakternya masih sopan dan ramah, namun juga memiliki intelektualitas tinggi. Harga bahan dapur tak terlalu mahal, terjangkau oleh semua. Meski yang satu berjalan dan yg lain bermobil, masih saling sapa, saling kenal, saling menjaga. Dengan begitu identitas Indonesia akan tetap terjaga. Takkan luntur atau diklaim oleh negara lain. This is Indonesia.
"Indonesia, hatiku, rumahku, bangsaku..
Indonesia, banyak pulau dan budaya menyatu..
Dari gunung ke laut wajah tersenyum di mana saja..
Slamat datang di Indonesia, rumahku bangsaku, Indonesiaku..
Indonesia, we love you forever.." -Indonesiaku, populared by Vincent Laghea.
Blusukan Gamping
Sebetulnya ini bukan hal yang terlalu wow. Hanya saja, saya yang terbiasa di kota selalu saja tertarik bila berada di daerah pedesaan. Baik itu di pegunungan, maupun wilayah pesisir pantai.
Serangkaian blusukan ini diawali oleh tugas studio yang bertema "Kawasan Perumahan Terpadu di Daerah Transisional Desa-Kota" dan bapak dosen pembimbing menyarankan ke daerah Gamping ini.
Awalnya tidak ada yang tahu jalan menuju kecamatan yang terletak di barat kota Jogja ini, kecuali saya. Kemudian, berbekal sedikit pengalaman nge-bus, saya memandu kawan-kawan se-tim yang kemudian sampai di kantor Camat Gamping. Lalu kami diarahkan ke Kelurahan Balecatur yang saat ini memang terkonsentrasi untuk pengembangan perumahan.
Gambaran Geografisnya, Kelurahan Balecatur ini membagi fungsi lahan berdasarkan jaraknya terhadap jalan. yang paling dekat dengan jalan tentu saja kawasan niaga. Kemudian jika kita masuk sekitar 500 meter ke dalam gang, kita menemui pabrik-pabrik yang dikelilingi sawah. Dibekali 3 buah peta yang salah satunya terbentang dan dipegang oleh motor paling depan, kami menyusuri pedesaan dan perbukitan Gamping.
Menemui hutan batu, aneka macam perkebunan, beberapa kumpulan rumah penduduk, kami menjumpai suatu komplek perumahan yang cukup meng-kota. I felt like, "ini persis perumahan dinas PU di Kelapa Dua, Tangerang." seriously.
Tapi yang saya takjub adalah, perubahan kondisi udara. Matahari masih sama teriknya, namun di sini, angin yang berhembus lebih sejuk ketimbang di kota.
Sekian menit kemudian, kami menemui sekelompok bapak-ibu yang sedang berbenah parit. Lalu sang pemegang peta bertanya pada mereka posisi saat itu dan jalan keluar kembali ke jogja. Mereka ganti bertanya tentang asal-muasal kami. Mereka lalu tersenyum mempersilakan ketika kami pamit dan bertolak pulang.
Kesepakatan sebelumnya, bahwa kami hari itu hendak mendetail salah satu desa, jadi bablas karena baru pukul 11 kami berhasil keluar dari rute tadi dan berjumpa dengan Jalan Lingkar Luar Selatan. Dan ternyata, kami sudah ada di kabupaten Bantul sejak bertemu sekelompok pembenah parit tadi.
Info yang dapat kami rekam hanyalah berupa foto-foto seputar tipe rumah, aktivitas penduduk, tempat ibadah, warung dan kantor pemda. Namun sepertinya cukup untuk bercerita kepada pak Toni, dosen pembimbing kami.
Sekian dulu yah, saya mau melanjutkan menafsirkan mimpi. Alias kembali bekerja dengan Corel Draw X4, hehe. Kali ini membuatkan kartu nama untuk seorang Master Distributor wilayah Jogja. Disusul pembuatan kardus packaging. Hehe. Sok sibuk ye saya? Doakan saja nantinya punya anak buah. Amiin :D
Serangkaian blusukan ini diawali oleh tugas studio yang bertema "Kawasan Perumahan Terpadu di Daerah Transisional Desa-Kota" dan bapak dosen pembimbing menyarankan ke daerah Gamping ini.
Awalnya tidak ada yang tahu jalan menuju kecamatan yang terletak di barat kota Jogja ini, kecuali saya. Kemudian, berbekal sedikit pengalaman nge-bus, saya memandu kawan-kawan se-tim yang kemudian sampai di kantor Camat Gamping. Lalu kami diarahkan ke Kelurahan Balecatur yang saat ini memang terkonsentrasi untuk pengembangan perumahan.
Gambaran Geografisnya, Kelurahan Balecatur ini membagi fungsi lahan berdasarkan jaraknya terhadap jalan. yang paling dekat dengan jalan tentu saja kawasan niaga. Kemudian jika kita masuk sekitar 500 meter ke dalam gang, kita menemui pabrik-pabrik yang dikelilingi sawah. Dibekali 3 buah peta yang salah satunya terbentang dan dipegang oleh motor paling depan, kami menyusuri pedesaan dan perbukitan Gamping.
Menemui hutan batu, aneka macam perkebunan, beberapa kumpulan rumah penduduk, kami menjumpai suatu komplek perumahan yang cukup meng-kota. I felt like, "ini persis perumahan dinas PU di Kelapa Dua, Tangerang." seriously.
Tapi yang saya takjub adalah, perubahan kondisi udara. Matahari masih sama teriknya, namun di sini, angin yang berhembus lebih sejuk ketimbang di kota.
Sekian menit kemudian, kami menemui sekelompok bapak-ibu yang sedang berbenah parit. Lalu sang pemegang peta bertanya pada mereka posisi saat itu dan jalan keluar kembali ke jogja. Mereka ganti bertanya tentang asal-muasal kami. Mereka lalu tersenyum mempersilakan ketika kami pamit dan bertolak pulang.
Kesepakatan sebelumnya, bahwa kami hari itu hendak mendetail salah satu desa, jadi bablas karena baru pukul 11 kami berhasil keluar dari rute tadi dan berjumpa dengan Jalan Lingkar Luar Selatan. Dan ternyata, kami sudah ada di kabupaten Bantul sejak bertemu sekelompok pembenah parit tadi.
Info yang dapat kami rekam hanyalah berupa foto-foto seputar tipe rumah, aktivitas penduduk, tempat ibadah, warung dan kantor pemda. Namun sepertinya cukup untuk bercerita kepada pak Toni, dosen pembimbing kami.
Sekian dulu yah, saya mau melanjutkan menafsirkan mimpi. Alias kembali bekerja dengan Corel Draw X4, hehe. Kali ini membuatkan kartu nama untuk seorang Master Distributor wilayah Jogja. Disusul pembuatan kardus packaging. Hehe. Sok sibuk ye saya? Doakan saja nantinya punya anak buah. Amiin :D
13 Sep 2012
A little corner of time i would spend with U
Selamat malam wahai halaman kosong.
Di detik-detik menjelang pergantian hari, ijinkan aku mengisimu.
Apa kabarmu? Lama sudah kita tak bersua. Rindu aku menarikan jemariku bebas di atas potongan-potongan hitam ini. Apakah kau merindukanku juga? Kuharap begitu. Hehe.
Ketika aku menelantarkanmu, bergelut dengan duniaku yang sebenarnya, adakah kau cemburu? Atau malah kau berbahagia, melihatku banyak beraktivitas di jalur yang seharusnya? Syukurlah bila begitu.
Terlalu panjang bergelut dan kini aku membawa setumpuk kisah tuk kubagikan padamu. Pertama adalah tentang liburanku. Liburan, yang mungkin berbeda dari biasanya. Meski sama-sama lebih banyak kuhabiskan di rumah saja, namun liburan kali ini aku memiliki sekian daftar pekerjaan. Sebut saja me-layout buku agder, mendesain pernak-pernik coklat-kuning, lalu projek yang tak kalah besar, yaitu ke panti bersama teman-teman di jakarta. Oh ya, satu lagi. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga selama pembantu mudik. Yah, kira-kira begitu.
Perusahaan itu kini telah menginjak bulan ke-6. Kuakui perkembangannya lambat karena kami belum stabil dalam pergerakan dana. Namun kami sudah mulai eksis di pasaran. Alhamdulillah, semuanya tak lepas dari izin Allah SWT.
Aku masih menjadi perempuan tunggal sementara karena Mbak Kiki bisa disebut "fiktif" untuk saat ini. Tapi beliau masih me-maintain kami. Rapat kami sering mengambil waktu malam hari. Sehingga seringkali Putra khawatir dan mengingatkan akan kesehatanku. Syukurlah, paling banter aku hanya masuk angin. Hehe.
Hobiku untuk menulis dan blogging sementara kusisihkan dulu, duniaku sekarang bergelut dengan coreldraw. Menemukan keasikan tersendiri dalam memadu warna, bentuk dan karakter. Sesuatu yang sampai saat ini masih lemah kukuasai.
Mungkin sekian dulu curhatan dadakan ini, sudah pagi. Selamat malam dan mari berselimut! :D
Di detik-detik menjelang pergantian hari, ijinkan aku mengisimu.
Apa kabarmu? Lama sudah kita tak bersua. Rindu aku menarikan jemariku bebas di atas potongan-potongan hitam ini. Apakah kau merindukanku juga? Kuharap begitu. Hehe.
Ketika aku menelantarkanmu, bergelut dengan duniaku yang sebenarnya, adakah kau cemburu? Atau malah kau berbahagia, melihatku banyak beraktivitas di jalur yang seharusnya? Syukurlah bila begitu.
Terlalu panjang bergelut dan kini aku membawa setumpuk kisah tuk kubagikan padamu. Pertama adalah tentang liburanku. Liburan, yang mungkin berbeda dari biasanya. Meski sama-sama lebih banyak kuhabiskan di rumah saja, namun liburan kali ini aku memiliki sekian daftar pekerjaan. Sebut saja me-layout buku agder, mendesain pernak-pernik coklat-kuning, lalu projek yang tak kalah besar, yaitu ke panti bersama teman-teman di jakarta. Oh ya, satu lagi. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga selama pembantu mudik. Yah, kira-kira begitu.
Perusahaan itu kini telah menginjak bulan ke-6. Kuakui perkembangannya lambat karena kami belum stabil dalam pergerakan dana. Namun kami sudah mulai eksis di pasaran. Alhamdulillah, semuanya tak lepas dari izin Allah SWT.
Aku masih menjadi perempuan tunggal sementara karena Mbak Kiki bisa disebut "fiktif" untuk saat ini. Tapi beliau masih me-maintain kami. Rapat kami sering mengambil waktu malam hari. Sehingga seringkali Putra khawatir dan mengingatkan akan kesehatanku. Syukurlah, paling banter aku hanya masuk angin. Hehe.
Hobiku untuk menulis dan blogging sementara kusisihkan dulu, duniaku sekarang bergelut dengan coreldraw. Menemukan keasikan tersendiri dalam memadu warna, bentuk dan karakter. Sesuatu yang sampai saat ini masih lemah kukuasai.
Mungkin sekian dulu curhatan dadakan ini, sudah pagi. Selamat malam dan mari berselimut! :D
Langganan:
Postingan (Atom)